My Bos CEO

My Bos CEO
116


__ADS_3

Selang 1 jam mereka berdua baru keluar dari ruangan dokter Alisa karena Aiden baru bisa berhenti mual dan muntah di jarak yang begitu lama.


"Semoga nanti dirumah tambah parah ya bang muntahnya," ucap Miko yang mengantarkan Della dan Aiden sampai di ambang pintu ruangan dokter Alisa.


Aiden yang nampak masih lemas pun menatap Miko dengan tatapan horor.


"Laknat. Tar kalau kamu nikah sama dokter Alisa semoga saja kamu juga ngerasain apa yang aku rasain saat ini," tutur Aiden. Miko yang mendengar keterkaitan antara dia dan dokter Alisa di dalam ucapan Aiden pun memelototkan matanya tak terima.


"Sudah-sudah, kapan-kapan lagi bertengkarnya," pisah Della yang tak mau melihat Aiden dan Miko terus berdebat.


"Dokter Alisa, terimakasih," tutur Della sembari tersenyum.


"Sama-sama Kak. Hati-hati dijalan dan mending Kak Della aja yang nyetir. Kalau tuan Aiden nanti yang nyetir takutnya hal yang tak diinginkan terjadi," ucap dokter Alisa dan diangguki oleh Della.


"Kita pamit dulu. Sampai ketemu bulan depan dokter cantik. Dan untuk Miko." Miko yang merasa namanya dipanggil pun menoleh kearah Della dengan kerutan di keningnya.


"Jagain dokter Alisa disini, kalau kamu suka buruan di ungkapin daripada terlambat dan ujung-ujungnya galau, nangis, merana, bahkan bunuh diri," sambung Della.


"Sorry ya, adik iparmu ini tak selemah yang kamu pikirkan. Dan mana ada seorang Miko harus mengalami fase dimana sakit hati yang tak ada di kamusku karena tak ada satu pun cewek yang menolak kegantengan seorang dokter Miko," tutur Miko percaya diri.


"PD banget sih. Mana tau dokter Alisa gak mau sama kamu dan dia juga akan menjadi orang pertama yang nolak kamu jadi kekasihnya secara kamu kan ganteng juga gantengan aku, kaya juga kayaan aku," timpal Aiden.


"Heh yang lagi ngidam diam aja tar muntah lagi baru tau rasa kamu," tutur Miko.


"Kurang ajar sekali ya anda tuan Miko," ucap Aiden tak terima.


"Apa hah apa? Mau apa?" Tutur Miko menantang.


"Oke baiklah dengan lapang dada mulai besok kamu gak usah kerja di rumah sakit ini," ucap Aiden yang membuat Miko memelototkan matanya. Ia lupa kalau nyawanya di tangan Aiden saat ini yang sewaktu-waktu bisa Aiden ambil.


"Eh ya gak bisa gitu dong," ucap Miko tak terima.


"Kamu yang nantangin tadi. Jadi sekarang bersiaplah jadi pengangguran. Ayo sayang kita pulang," ucap Aiden sembari menggandeng tangan Della.

__ADS_1


"Ck, gak asik banget sih jadi orang. Kakak ipar bantuin bujuk suami laknatmu ini dong biar gak mecat aku disini," tutur Miko memohon.


Della menggidikkan bahunya tak mau menimpali ucapan Miko tadi. Ia memilih untuk bergegas meninggalkan tempat tersebut.


"Ck, saudara tak berperikesaudaraan, kedokteran dan kemanusiaan," teriak Miko yang masih bisa di dengarkan Della dan Aiden. Aiden yang mendengar teriakkan Miko pun tertawa puas.


"Kamu beneran mecat dia sayang?" Tanya Della. Aiden menggelengkan kepalanya.


"Enggak lah sayang. Kasihan dia nanti kalau di pecat dan jadi pengangguran. Kalau aku mau mecat dia juga pikir-pikir dulu sayang karena sekurang ajarnya dia kalau sama aku, kalau masalah pekerjaan dia bisa di bilang ahli jadi ya mubasir dong kalau aku buang begitu aja," jawab Aiden.


Della menganggukkan kepalanya mengerti. Tak lama dalam perjalanan kaki, akhirnya mereka berdua sampai di depan mobil Aiden. Dan mereka berdua bergegas masuk kedalam mobil tersebut.


Setelah memastikan Aiden dan dirinya aman, Della melajukan mobilnya menuju rumah mereka dengan kecepatan sedang. Sedangkan Aiden di dalam perjalanan ia memilih untuk beristirahat sejenak.


Tak berselang lama akhirnya Della memasuki pelataran rumah mewah mereka berdua. Della menatap Aiden yang masih setia dengan tidurnya. Ia mengelus rambut Aiden sehingga membuat sang empu menggeliat dan perlahan membuka matanya.


Aiden tersenyum kala melihat Della yang juga tengah memberikan senyum termanisnya.


"Turun yuk. Udah sampai nih," tutur Della. Ia segera keluar dari mobil, begitu juga dengan Aiden.


"Kuatlah. Cuma jalan aja masak gak kuat," jawab Aiden.


Mereka berdua pun saling bergandengan tangan hingga sampai di dalam rumah. Namun ketika sampai di ruang tamu mereka berdua dikagetkan dengan orang tua Aiden yang tengah bercanda gurau disana.


"Loh ternyata ada Mama sama Papa disini," ucap Della sembari berjalan mendekati mertuanya.


Kedua orangtua tadi menghentikan aktivitasnya dan mengalihkan perhatian mereka ke pasangan harmonis tersebut. Mama Yoona dengan senang berdiri dan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan hangat dari Della. Della tersenyum saat melihat kode dari Mama Yoona dan ia segera berlari menghampiri Mama mertuanya sehingga tubuhnya berhasil memeluk tubuh hangat tersebut.


"Mama kangen sayang," tutur Mama Yoona sembari membelai rambut Della.


"Della juga kangen Ma," ucap Della.


Aiden yang melihat interaksi antara orangtuanya dengan Della dan mengabaikan keberadaan dirinya pun hanya bisa memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Ck. Kebiasaan kalau udah sama biniku aja lupa sama anak kandungnya sendiri," gerutu Aiden.


Mama Yoona dan Papa Juan yang mendengar ucapan sang anak pun saling adu pandangan seperti sedang berdiskusi lewat tatapan mata dari keduanya. Setelah itu mereka membuang muka dan ucapan Aiden sama sekali tak mereka hiraukan.


"Huwaaaaa ini sebenarnya yang anak kandung kalian siapa sih," teriak Aiden.


Mama Yoona melepaskan pelukannya dari Della. Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju Aiden yang tengah berdiri tak jauh dari mereka. Dan setelah Mama Yoona sampai di depan Aiden, bukannya mendapat pelukan atau ciuman dari sang Mama, Aiden malah mendapat pukulan pelan di kepalanya.


"AW, sakit lah Ma," keluh Aiden sembari memegangi kepalanya.


"Siapa suruh kamu membandingkan dirimu ini dengan menantu Mama. Pada hal udah jelas kalau kamu itu anak kandung Mama sama Papa. Gitu aja masih sok-sokan nanya, sebenarnya anak kandung kalian tuh siapa?" Tutur Mama Yoona yang menirukan gaya bicara Aiden tadi. Sedangkan Aiden yang kena serangan ceramah pun hanya bisa nyengir kuda.


Setelahnya Mama Yoona pergi duduk kembali di ruang tamu. Aiden dan Della yang tujuan awalnya untuk istirahat pun harus menemani Mama Yoona dan Papa Juan. Della duduk di samping Mama Yoona dan Aiden duduk berhadapan dengan Papa Juan.


"Gimana kabar kalian?" Tanya Papa Juan ke Della dan Aiden.


"Alhamdulillah sangat baik Pa," jawab Della.


"Kurang baik," ucap Aiden yang membuat Mama Yoona dan Papa Juan menatapnya.


"Kamu kenapa?" Tanya Papa Juan.


"Kurang enak badan," jawab Aiden santai dan hanya di balas dengan kata "Ow," yang keluar dari mulut Mama Yoona dan Papa Juan berbarengan. Aiden berdecak sebal.


"Baiklah Papa akan ngomong to the point saja," ucap Papa Juan mode serius.


"Ngomong apa Pa?" Tanya Aiden penasaran.


"Jadi gini. Mama sama Papa dan juga orangtua Della telah berdiskusi kalau kalian berdua sebaiknya..." Kata-kata Papa Juan menggantung yang seakan-akan membuat ucapan tersebut menjadi negatif di pikiran Della maupun Aiden.


"Sebaiknya apa Pa?" Tanya Della tak sabaran.


Papa Juan menatap wajah Della dan Aiden bergantian masih dengan ekspresi wajah tak mengenakkan. Sedangkan Mama Yoona menundukkan kepalanya sembari mengelus telapak tangan Della yang sedari tadi ia genggam.

__ADS_1


Papa Juan nampak menghela nafas berat.


"Sebaiknya kalian pisah dulu untuk sementara waktu," ucap Papa Juan yang langsung membuat Della shock dan Aiden ia sudah menggebrak meja kemudian berdiri dari duduknya. Jika bukan Papa Juan yang berkata tadi sudah Aiden pastikan orang tersebut akan habis di tangannya.


__ADS_2