
Aiden tetap mengabaikan setiap ucapan Della. Ia hanya menjawab iya atau tidak bahkan ada beberapa yang ia jawab dengan deheman.
"Sayang," rengek Della yang sudah tak tahan lagi dengan sikap Aiden. Bahkan Aiden terus menatap layar laptopnya dari pada Della yang biasanya tak luput dari tatapan Aiden setiap harinya tapi hari ini setelah adegan panjat memanjat. Aiden nampak menghiraukan keberadaannya.
"Ish sayang," rengeknya sekali lagi namun tetap saja diabaikan oleh Aiden.
Della mengerucutkan bibirnya. Ia merapatkan tubuhnya hingga menempel di lengan Aiden. Kemudian Della menangkup kedua pipi Aiden dan memiringkan kepala tersebut hingga mereka saling berhadapan.
"Kenapa cuek banget sih hari ini?" Protes Della.
"Biasa aja," jawab Aiden santai.
"Ish sayang ih. Jangan gitu. Aku minta maaf," ucap Della dengan mata yang mengeluarkan jurus jitu puppy eyesnya dan jurus tersebut membuat hati Aiden tak tega namun ia harus tetap berakting supaya Della nanti tak ngidam yang aneh-aneh lagi. Jangan sampai ia disuruh manjat tiang listrik bisa berabe nantinya.
"Maafkan aku sayang."
"Maaf? Buat apa?" Tutur Aiden dingin.
"Maaf karena aku ngerasa bersalah sama kamu. Aku tau kamu marah gara-gara aku ngidam yang aneh-aneh dan nyuruh kamu manjat pohon kelapa tadi." Della menundukkan kepalanya dan melepas tangan yang tadi ia tempelkan di pipi Aiden.
"Aku janji gak akan ngidam yang aneh-aneh lagi. Walaupun aneh nanti aku akan usaha sendiri buat dapetin apa yang aku mau tanpa bantuan dari kamu. Sekali lagi aku minta maaf," tutur Della lirih. Ia sebenarnya dari tadi merasa tak enak dengan Aiden namun entahlah rasa inginnya menguasai Della untuk terus mendorong Aiden segera memanjat pohon kelapa tadi.
Aiden menghela nafas dan memilih untuk menyudahi aktingnya ini.
"Jangan nunduk gitu. Coba sini lihat aku," ucap Aiden kembali lembut. Della menggeleng, ia takut jika Aiden akan menatapnya dengan tatapan marah yang tadi sempat terpancar dari matanya.
Dengan segera Aiden memegang dagu Della dan mengarahkan wajah Della menghadap dirinya.
"Aku sebenarnya gak marah hanya sebal saja disuruh naik ke pohon kelapa yang tinggi banget belum lagi harus memacu adrenalin. Dan kamu tak perlu minta maaf karena ini juga bukan sepenuhnya salah kamu. Tak perlu merasa bersalah lagi, tapi aku mohon kalau ngidam jangan nyuruh manjat lagi, yang lain saja," tutur Aiden sembari tersenyum.
Ia sebenarnya tak masalah Della mengalami masa ngidam dan dengan sekuat tenaga ia juga akan menuruti apa yang Della mau karena bayi yang dikandung Della juga perbuatannya maka dari itu ia harus dengan sukarela ikut andil dalam menuruti keinginan Della tapi jika ngidam Della masih wajar-wajar saja dan tak membahayakan dirinya seperti tadi. Ia harus melawan phobia ketinggiannya untuk menuruti permintaan sang istri dan untungnya ia selamat sampai kembali menginjak tanah lagi.
__ADS_1
Della yang melihat senyum hangat Aiden kembali terpancar pun akhirnya menghambur kepelukan Aiden.
"Aku janji gak akan ngidam nyuruh kamu buat manjat. Maaf untuk tadi." Aiden tersenyum dari balik tubuh Della sembari mengelus rambut panjang sang istri.
"Sudah tak apa tapi jangan diulangi lagi. Kalau kamu ngulangin lagi bisa hancur nih tangan." Della melepas pelukannya dan menatap Aiden tak mengerti.
Aiden yang mengerti dengan tatapan mata Della pun segera memperlihatkan kedua tangannya yang belum sempat ia obati. Della memelototkan matanya kala melihat luka yang ada di tangan Aiden.
"Kenapa bisa begini?" Tanya Della khawatir.
"Ya karena aku manjat pohon dan karena gak tau cara turun yang benar akhirnya aku merosot gitu aja dan merelakan tangan sama kakiku luka seperti ini," jawab Aiden. Della tak menanggapi ucapan Aiden. Ia bergegas untuk mengambil kotak P3K.
"Mau kemana?" Teriak Aiden saat Della mulai menaiki tangga.
"Ambil kotak P3K," jawab Della.
"Kamu jangan kemana-mana dulu. Duduk manis disitu sampai aku kembali lagi!" Della kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari kotak P3K dikamarnya.
Sedangkan Aiden, ia menuruti ucapan Della untuk tetap duduk di tempatnya hingga tak berselang lama Della kembali dengan kotak putih ditangannya. Della menghampiri Aiden dan setelah sampai di samping sang suami, ia mendudukkan dirinya. Kemudian Della membuka kotak tersebut dan mencari obat yang akan ia buat untuk mengobati luka Aiden.
"Tahan, bentar lagi selesai sayang," ucap Della dan benar saja tak ada lima menit Della sudah selesai mengobati luka Aiden. Ia sekarang tengah meniup luka tersebut untuk mengurangi rasa pedih yang ditimbun obat tadi.
Aiden yang tengah mengamati tingkah Della pun tersenyum gemas. Niat jahil pun terlintas dalam pikirannya.
"Sayang," Della mendangakan kepalanya menatap Aiden.
"Kenapa? Masih sakit? Atau ada yang lain lukanya?" Tanya Della bertubi-tubi.
"Ada luka lain yang harus kamu obati," jawab Aiden.
"Katakan mana yang sakit? Akan aku obati segera." Aiden memajukan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa senti lagi dari wajah Della. Setelah itu Aiden menggerakkan jarinya hingga menempel ke bibir seksinya membuat Della bingung.
__ADS_1
"Bibir aku sakit," tutur Aiden. Della yang tak merasa curiga sama sekali langsung memeriksa bibir bagian luar Aiden. Dan setelah ia periksa ternyata bibir Aiden tak kenapa-napa.
"Bibir kamu gak kenapa-napa sayang. Gak ada yang luka," ucap Della.
"Masak sih?" Della menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Aiden.
"Coba lebih dekat lagi periksanya." Della kembali mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi dari pada tadi dan tak membuang-buang waktu lagi Aiden langsung mencuri ciuman Della dan menekan tengkuk Della hingga ciuman Aiden semakin dalam.
Ciuman tersebut berlangsung hingga beberapa menit dan membuat Della kehabisan pasokan oksigen ditubuhnya. Della memukul dada milik Aiden namun tak mengurungkan Aiden melepas tautan bibirnya. Hingga Aiden merasa puas dan untuk mengakhiri ciumannya, Aiden sengaja mengigit bibir bawah Della. Setelah itu ia baru melepas bibirnya.
Della berdesis saat bibirnya terasa perih dan mengeluarkan darah. Sungguh tega sekali suaminya itu.
"Yah, kenapa jadi bibir kamu yang luka sayang," tutur Aiden sembari tersenyum.
"Sini-sini biar aku sembuhin." Della memelototkan matanya ketika bibir Aiden kembali menyatu dengan bibirnya. Tapi ciuman tadi tak selama tadi.
"Lukanya udah sembuh sayang. Aku istirahat dulu bye bye sayangku," ucap Aiden sembari berlari menghindari amukan dari Della.
"Dasar mesum," teriak Della.
Aiden yang mendengar teriakkan Della pun tertawa puas. Kurang baik gimana coba saat perbuatan Della yang menyiksanya tadi cuma dibalas dengan ciuman oleh Aiden.
"Aku mesum gini tapi kamu menikmatinya kan sayang," jawab Aiden tak kalah dengan teriakan Della.
"Tapi aku belum puas sayang. Gimana nanti malam kita teruskan saja?" Ucap Aiden yang kembali memunculkan dirinya di atas anak tangga.
"Gak ada terus-terusan," tolak Della.
"Menolak ajakan suami sama saja kamu dosa sayang dan apa kamu mau malaikat melaknat kamu?" Della memutar matanya malas kalau sudah dengan ancaman itu Della hanya bisa pasrah.
"Jangan lupa nanti malam sayang. Aku pastikan kita akan lembur sampai pagi." Della memelototkan matanya.
__ADS_1
"Kamu harus ingat kalau aku saat ini tengah hamil," teriak Della.
"Tenang saja sayang. Anak kita tuh pengertian sama Daddy dan Mommy saat sedang membuka jalan untuk mereka nanti keluar," ucap Aiden terlalu fulgar. Untung saja para art tengah bersantai di belakang rumah karena memang Della yang menyuruh mereka tadi untuk ikut menikmati buah kelapa hasil panennya Aiden. Setelah mengucapkan tadi Aiden menghilang dari pandangan Della dan menuju kamar untuk beristirahat sebentar sebelum nanti benar-benar akan menikmati malam yang panjang dengan Della.