My Bos CEO

My Bos CEO
83


__ADS_3

2 bulan telah berlalu dan mereka berdua pun juga sudah kembali ke Indonesia. Aiden sudah menjalani aktivitas seperti biasa menjadi CEO di perusahaannya sendiri namun sekertarisnya bukan Della sekarang karena sang istri sudah berhenti beberapa minggu yang lalu sesuai dengan kesepakatan pengunduran dirinya satu bulan sebelumnya. Dan kini Della sudah menjadi istri rumah tangga yang akan melayani sang suami dirumah karena sejak Della pindah kerumah yang sudah di sediakan Aiden untuk keluarga kecil mereka, Della sengaja tak memakai jasa maid dirumah itu.


Awalnya Aiden tak menyetujui apa yang Della pikirkan. Namun bukan Della kalau ia akan kalah dalam perdebatan dengan Aiden. Apalagi ia tau kelemahan sang suami yang menjadikan ia leluasa dalam melakukan apa yang ia mau tanpa di kekang oleh Aiden tapi dia juga tau mana yang harus ia lakukan dan baik untuk rumah tangganya bukan melakukan hal negatif yang akan menghancurkan semuanya. Walaupun terkadang ia repot mengurus Aiden dan membersihkan rumah yang luasnya dua kali lipat rumahnya yang dulu tapi ia senang dengan perannya saat ini.


Seperti saat ini ketika Della tengah memasak makanan untuk sarapan mereka berdua, tiba-tiba Aiden merengek untuk di pasangkan dasi dan juga jasnya.


"Sayang, pasangin dulu. Masaknya nanti lagi," ucap Aiden sembari memeluk tubuh Della dari belakang.


"Tunggu sebentar," ucap Della.


Aiden pun menurut namun tak menyingkirkan lengannya dari tubuh Della.


"Meluknya nanti lagi bisa gak sih. Kalau kayak gini yang ada gak selesai-selesai masaknya dan kamu bakal telat kerja," ucap Della yang sudah mulai darah tinggi.


"Telat juga gak ada yang marahin kan aku bosnya." Della memutar bola matanya malas dan dengan sengaja ia memukul pelan kepala Aiden dengan sepatula yang membuat rangkulan Aiden akhirnya terlepas.


"Sakit lho sayang, tega banget sama suami sendiri," gerutu Aiden.


"Bodo amat," ucap Della cuek.


Dan tak berselang lama pun makanan sudah siap disajikan. Mereka menikmati sarapan dengan tenang tak ada satu pun yang berbicara. Namun ditengah-tengah makannya Aiden merasakan perutnya yang seakan di aduk-aduk hingga membuat dirinya berlari menuju wastafel di dalam dapur tersebut dan memuntahkan semua makanan yang ia makan tadi.


Sedangkan Della yang melihat suaminya tak seperti biasanya pun menghampirinya dan memijat tengkuk Aiden.


"Kalau sakit gak usah kerja ya," ucap Della setelah mutahan Aiden mereda.


"Enggak bisa. Hari ini ada meeting penting yang harus aku hadiri," ucap Aiden lemas.


"Serahkan aja sama Reiki," ucap Della tak tega.

__ADS_1


"Gak bisa. Karena perjanjian dari awal harus aku yang hadir sendiri tanpa perwakilan orang lain," ucap Aiden sembari merobohkan tubuhnya kearah Della. Untungnya Della siap siaga menerima tubuh Aiden yang lemas itu.


"Gak usah kerja ya please. Kamu sakit gini lho. Jangan di paksain," tutur Della sembari mengelus pundak Aiden. Aiden menggelengkan kepalanya tak setuju. Della memejamkan matanya kalau sifat keras kepalanya Aiden kambuh mau gimana lagi dia hanya bisa menuruti Aiden.


"Ya udah kalau gitu. Tapi janji kalau tambah parah telfon aku dan istirahat. Kamu duduk dulu aku buatin teh manis hangat buat meredakan rasa mual kamu. Habis itu aku telfon Bisma buat jemput kamu. Tak ada bantahan sedikitpun,"ucap Della final dan diangguki oleh Aiden.


Tak berselang lama mobil Bisma pun akhirnya datang dan sang empu tanpa permisi langsung masuk begitu saja di rumah Aiden layaknya ia sedang masuk kerumahnya sendiri.


"Bisma ganteng datang. Kalian ada dimana?" Teriak Bisma yang menggema di seluruh ruangan tersebut.


"Ini dirumah gue bukan hutan. Kalau mau teriak-teriak jangan disini," ucap Aiden yang sudah berjalan mendekati Bisma tak lupa Della yang berjalan disampingnya.


"Hehehe ya kan biar kalian dengar. Dan siapa suruh rumah segede gaban kek gini cuma di tinggalin dua orang dong. Apa kalian gak ada niatan buat adopsi adik gitu? Kalau ada gue mau," ucap Bisma.


"Lo jadi Adik gue? Ogah gue walaupun dikasih gratis juga gak mau. Gak ada manfaatnya punya Adik kayak lo," ucap Aiden.


"Udah-udah jangan pada berantem," tutur Della menengahi perdebatan mereka berdua.


"Ish Kakak ipar jangan panggil aku pakai embel-embel Pak lagi dong kan berasa akunya tua. Panggil Bisma aja atau kalau gak Mas Bisma, bang Bisma atau sayang Bisma juga boleh," ucap Bisma bercanda yang malah mendapat tatapan tajam dari Aiden.


"Gue bunuh lo. Kalau berani rebut istri gue," ucap Aiden.


"Canda kali Aiden, gitu aja di tanggepin dengan ancaman yang mengerikan sungguh terlalu dirimu wahai tuan Aiden William Abhivandya," tutur Bisma dramatis.


"Udah ih berantem mulu. Berangkat sana tar telat lagi," ucap Della.


Della pun mengantarkan mereka berdua sampai depan pintu utama. Namun sebelum masuk kedalam mobil Aiden menyempatkan diri untuk melakukan ritual pagi dengan Della. Ia membalikan tubuhnya dan dengan segera Della mengecup tangan Aiden setelah itu Aiden mencium setiap inci wajah Della yang berakhir dengan kecupan manis di bibir Della. Bisma yang melihat ritual itu pun hanya bisa melongo di buatnya.


"Ya Allah gini amat nasib jomblo. Kapan gue nikahnya hiks gue juga pengen kayak gitu emak," ucap Bisma meratapi nasibnya.

__ADS_1


Aiden yang sudah berada di dekat Bisma pun tertawa kecil dan memukul pelan bahu sahabatnya.


"Mana bisa nikah kalau lo aja jomblo gini. Buruan cari cewek sana," ucap Aiden dan segera masuk ke dalam mobil milik Bisma tanpa menghiraukan sumpah serapah dari Bisma. Bisma pun segera menyusul Aiden masuk ke dalam mobil dan segera melanjutkan mobilnya menuju kantor Aiden.


Sedangkan Della ia masuk kembali kedalam rumah untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya dan setelah itu ia baru bisa santai-santai di depan televisi di temani dengan teh hangat dan berbagai cemilan tak lupa dengan Drakor yang akan menemaninya menghabiskan waktu satu hatinya nanti.


Disisi lain Aiden tengah memimpin meeting hari ini dengan kolega-kolega besarnya namun ketika di tengah-tengah rapat. Perutnya tiba-tiba kembali merasakan mual yang lebih parah dari pada tadi pagi dan tanpa sepatah katapun Aiden keluar dari ruang meeting menuju kamar mandi yang tak jauh dari ruangan tadi. Semua kolega-koleganya hanya bisa menatap heran dengan Aiden tak terkecuali Reiki yang juga ada diruangan tersebut.


Reiki yang melihat situasi didalam tak kondusif pun akhirnya meminta maaf dan menyuruh untuk kolega-kolega tersebut menunggu Aiden sebentar. Dan untungnya mereka semua memaklumi dan mencoba untuk setuju dengan Reiki. Reiki pun berpamitan undur diri untuk menyusul Aiden yang sudah terduduk lemas di dalam kamar mandi.


"Astaga Aiden. Heh bangun kenapa malah duduk di sini," ucap Reiki dan segera membatu tubuh lemas Aiden untuk berdiri.


"Lo sakit? Kalau sakit tadi gak usah masuk kerja nyusahin orang aja kan jadinya," sambung Reiki namun hanya dianggap angin berlalu oleh Aiden.


"Kita kerumah sakit sekarang," tutur Reiki yang sebenarnya khawatir dengan kondisi Aiden.


"Jangan. Kita selesaikan dulu meetingnya," ucap Aiden lemas.


"Meetingnya kita undur besok aja. Kesehatan lo lebih penting sekarang," tutur Reiki.


"Gak usah. Jangan ditunda lagi. Anterin gue balik ke ruangan meeting sekarang," ucap Aiden yang tak bisa di ganggu gugat lagi dan mau tak mau Reiki pun menuruti ucapan Aiden dengan membawanya ke ruangan tadi.


*****


HAPPY READING GUYS 😘


Semangat puasanya, marhaban ya Ramadhan 🙏


Jangan lupa LIKE and VOTE, hadiah juga tentunya 🤗

__ADS_1


Salam hangat dari author absurd 🤗😘 See you next eps bye 👋


__ADS_2