
Rumah yang dulunya ramai kini tambah ramai lagi sejak seminggu terakhir karena kehadiran si triplets dan juga semua keluarga Aiden maupun Della tengah bermalam di sana kecuali para orangtua yang tengah sibuk berbulan madu untuk yang kesekian kalinya. Mereka selalu berantusias merawat baby triplets secara bergantian dan itu membuat Della benar-benar bersyukur karena tak merasakan kerepotan yang luar biasa. Seperti saat ini ketika ia tengah menyusui baby Azlan, kedua baby yang lain tengah dijaga Feo dan Airen.
"Belum 1 bulan lho kamu lahir baby tapi kenapa pipi kalian makin hari makin gembul jadi makin gemes ante," ucap Airen sembari mengecupi pipi baby Edrea.
"Padahal cuma minum asi lho," timpal Feo dengan menimang-nimang baby Erland.
"Justru ASI itu yang bikin baby makin berisi," timpal Della.
"Iya kah?"
"Masak sih?" ucap mereka berdua serentak. Della menggedikkan bahunya.
"Mungkin iya," jawab Della.
"Kok mungkin?"
"Ya kan aku cuma ngarang jadi kemungkinan yang aku katakan tadi ada benarnya," ucap Della yang mendapat decakan sebal dari Feo maupun Airen yang sudah siap memasang pendengarannya untuk menyaring ucapan Della tadi untuk masa depan mereka eh taunya yang menyampaikan informasi hanya karangan Della saja.
Della tertawa melihat wajah kedua perempuan di sebelahnya. Namun tawanya terhenti ketika teriakan Aiden menggema di rumah tersebut.
"Sayang!" teriak Aiden.
"Tuh suami kamu minta di kasih ASI juga kayaknya," tutur Feo. Della memelototkan matanya.
"Astaga Kak. Fulgar banget sih," tegur Della. Setelah itu ia beranjak dari kamar triplets dan menghampiri kamar utama yang bisa dilalui dengan menggunakan pintu dalam kamar tersebut yang menghubungkan antara kamar utama dan kamar triplets.
"Ada apa?" tanya Della setelah sampai dihadapan sang suami.
"Kamu tau gak dasi yang kamu kasih saat ulang tahun aku tahun lalu?" tanya Aiden. Della mengalihkan pandangan yang dari baby Azlan ke arah suaminya. Ia menatap dari bawah sampai atas penampilan Aiden saat ini.
"Ya ampun sayang kenapa tampilan kamu sekarang kayak gak keurus istri gini sih," tutur Della heran pasalnya ia baru pertama kali melihat penampilan kacau seorang Aiden terkecuali dulu saat Aiden tengah mengamuk karena salah paham dengan Della.
__ADS_1
"Ya kan emang gak keurus sekarang karena istri aku lebih fokus ke triplets daripada suaminya," ucap Aiden dengan ekspresi sedih yang ia buat. Sebenarnya penampilannya saat ini hanya untuk memancing Della supaya memperhatikannya lebih. Padahal setiap hari tanpa Aiden ketahui Della telah memperhatikan sang suami seperti dulu saat mereka belum mempunyai triplets.
"Jadi kamu cemburu sama anak kamu sendiri?" tanya Della dan diangguki oleh Aiden. Della memutar bola matanya malas. Ia segera mendekati Aiden dan setelah sampai di depan sang suami ia dengan sengaja mencubit pipi Aiden. Gemas rasanya ia saat ini dengan tingkah Aiden.
"AW. Sakit sayang," gerutu Aiden manja.
Della tak menanggapi ucapan Aiden. Ia memilih untuk meletakkan baby Azlan ke atas kasur dan meletakkan bantal dikedua sisinya sebelum ia melayani sang suami.
"Sayang." Della memutar tubuhnya dan kembali menghadap Aiden.
"Bentar sayangnya aku. Aku mau cariin dasi buat kamu. Tolong jaga baby Azlan sebentar oke," ucap Della lembut. Aiden pun menganggukkan kepalanya dan Della segera masuk kedalam ruangan ganti mencari dasi yang Aiden mau tadi.
Aiden menatap baby Azlan dan ia ikut membaringkan tubuhnya disamping sang anak pertama. Ia memainkan jari mungil tersebut.
"Kamu kapan gedenya sih nak. Daddy kan mau manja-manja lagi sama Mommy," ucap Aiden sembari mengganti posisinya yang kini tengah telungkup. Baby Azlan hanya terdiam, menatap Aiden dengan tatapan gemasnya.
"Kenapa kamu lihatin Daddy kayak gitu sih baby? Senyum gitu lho." Baby Azlan tetap dengan ekspresinya.
Aiden berdiri dari rebahannya dan bersiap untuk dipakaikan dasi oleh Della. Della segera memakai dasi tersebut sampai sempurna. Setelah itu ia memakaikan jas juga untuk sang suami.
"Dah selesai," ucap Della sembari memukul pelan dada bidang Aiden. Aiden tersenyum dan memeluk tubuh Della. Rindu rasanya walaupun setiap malam ia tidur dengan memeluk sang istri namun itu tak cukup baginya.
"Terimakasih sayang," tutur Aiden sembari melepas pelukannya. Della menganggukkan kepalanya sembari tersenyum dan ketika Aiden berniat mencium bibir Della, tangis baby Azlan menghentikan Aiden. Della bergegas menggendong baby Azlan dan berusaha menenangkan sang anak.
Aiden berdecak baru juga ia ingin bermesraan dengan Della harus diganggu dengan malaikat kecil mereka dan saat sudah di gendongan Della, baby Azlan terdiam dari tangisannya. Aiden mendekati Della dan menatap baby Azlan yang tengah tersenyum.
"Kamu sengaja ngerjain Daddy ya," tutur Aiden sembari mencolek pipi baby Azlan yang masih tertawa.
"Anak nakal. Gak boleh gitu lagi baby. Kalau baby ganggu moments romantis Daddy sama Mommy tar baby dosa lho," sambungnya.
"Ya kali sayang ada bayi yang baru kemarin sore lahir harus menanggung dosa," ucap Della terkekeh.
__ADS_1
"Ya siapa tau aja. Karena baby Azlan ngerjain Daddynya dengan sangat tega. Huh menyebalkan," tutur Aiden sembari mencium pipi baby Azlan gemas hingga berulang kali dan membuat baby Azlan menangis lagi.
"Sayang ih. Nangis lagi kan jadinya. Dah ah sana berangkat udah jam 8 kurang 15 menit tuh, buruan sana gih tar telat lho."
"Aku bosnya sayang. Telat juga gak akan jadi masalah," tutur Aiden santai.
"Haish kebiasaan. Jangan gitu ih kasih contoh yang ba..." ucapan Della harus terpotong dari perkataan Aiden.
"Baik, biar karyawan kamu juga mencontoh atasannya yang selalu mentaati peraturan. Ck gak ada yang lain kah sayang kata-katamu itu-itu terus sampai aku hafal," tutur Aiden dengan menirukan aksen bicara Della.
"Gak ada. Makanya kalau gak mau denger ucapanku yang itu-itu terus, kamu juga jangan mancing aku buat keluarin perkataan membosankan itu dong," ucap Della.
"Ck iya-iya," tutur Aiden pasrah.
"Tunggu bentar. Aku taruh baby Azlan ke kamar dulu habis itu aku antar kamu sampai depan." Aiden tersenyum dan menganggukkan kepalanya semangat.
Tak berselang lama Della telah kembali dari kamar baby triplets dan tangisan dari baby Azlan pun juga sudah tak terdengar.
"Baby Azlan udah gak nangis lagi?" tanya Aiden sembari berjalan beriringan dengan Della menuruni anak tangga satu persatu.
"Dia udah gak nangis karena saingannya mau berangkat kerja." Aiden berdecak mendengar ucapan Della.
Mereka terus berjalan hingga di depan pintu utama. Seperti biasa sebelum Aiden beranjak, Della menyempatkan diri untuk mencium tangan Aiden dan Aiden akan membalasnya dengan menciumi seluruh wajah Della tanpa terlewat seinci pun.
"Hati-hati sayang. Semangat kerjanya," ucap Della.
"Siap komandan," ucap Aiden sembari memberi hormat kearah Della.
"Aku berangkat dulu. Assalamualaikum," sambung Aiden sembari mencium bibir Della sekali lagi sebelum akhirnya beranjak dari depan pintu tersebut.
"Waalaikumsalam. Jangan ngebut, kalau ada apa-apa segera telfon aku atau orang rumah," teriak Della sembari melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Siap My Queen," ucap Aiden tersenyum dan segera masuk kedalam mobil. Sebelum melajukan mobilnya Aiden membunyikan klakson untuk berpamitan lagi dengan Della dan tak berselang lama mobil mewah Aiden perlahan namun pasti menghilangkan dari hadapan Della meninggalkan pelataran rumah mewah miliknya.