
Della memainkan jari jemari tangannya. Ia kepo dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan keterlambatan datang bulannya hingga dua bulan lebih namun rasa takutnya akan hasil yang ia terima nanti membuat dirinya dilema.
Aiden yang tengah mengerjakan pekerjaannya karena tak bisa ditunda lagi dan mau tak mau harus ia kerjakan walaupun kondisinya saat ini tak memungkinkan. Ia sesekali melirik Della. Aiden dengan segera menyelesaikan pekerjaan hingga tak sampai 30 menit akhirnya pekerjaan selesai. Ia menutup laptopnya dan memandang Della yang tengah gelisah.
Aiden merapatkan duduknya hingga ia bisa memeluk tubuh sang istri yang membuat Della terperanjat kaget.
"Ada apa hm?" Tanya Aiden sembari memeluk tubuh Della dari samping. Della ragu ingin mengatakan apa yang sebenarnya ia pikirkan ke Aiden.
"Katakan saja sayang!" Perintah Aiden. Della mengambil nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.
Ia menatap mata Aiden yang tengah menatapnya juga.
"Ayo katakan. Jangan dipikir sendiri kalau ada masalah atau apapun yang membuat kamu terusik," tutur Aiden.
"Sayang," ucap Della.
"Hmm," jawab Aiden sembari menaikkan satu alisnya.
"Aku tadi saat buatin kamu teh hangat tak sengaja melihat kalender disana," ucap Della.
"Terus?" Tanya Aiden penasaran.
"Kamu tau kan kalau siklus menstruasiku sejak kehilangan Aila berubah jadi gak teratur?" Aiden menganggukkan kepalanya.
"Nah aku tadi saat ngecek kalender, ternyata aku udah telat 2 bulan lebih yang biasanya hanya telat paling lama 1 bulan. Aku mau check pakai testpack tapi aku takut hasilnya nanti akan mengecewakan," tutur Della. Aiden tersenyum dan mengelus kedua lengan Della.
"Jangan takut sayang. Kalau mau check ya lebih baik kamu check aja daripada kamu penasaran dan kepikiran terus. Apapun hasilnya kita serahkan yang diatas," ucap Aiden menguatkan.
"Jadi lebih baik aku test ini?" Tanya Della memastikan.
__ADS_1
"Lebih baik begitu. Masih punya testpacknya kan?" Della mengangguk. Setelah itu ia beranjak dari kasur dan mencari testpack yang selalu ia simpan di laci meja riasnya. Della mengambil satu buah alat testpack dan bergegas masuk kedalam kamarnya. Sebelum ia benar-benar masuk, Della menyempatkan melihat kearah Aiden yang tersenyum dan memberikan semangat kepada dirinya.
Della menutup pintu tersebut dan dengan ragu ia memulai tahap demi tahap penggunaan testpack. Della mengambil nafas panjang dan membuangnya secara perlahan sebelum memasukkan testpack tersebut kedalam urinnya.
"Bismillahirrahmanirrahim," batin Della sembari menaruh testpack tersebut sampai beberapa detik dan mengeluarkannya kembali. Della meletakan testpack tersebut diatas wastafel dan ia tengah terduduk menantikan hasil yang akan dikeluarkan oleh testpack tersebut.
"Semoga saja ya Allah," ucap Della lirih. Setelah menunggu beberapa menit dan Della telah merasa siap untuk melihat hasilnya, Della pun mengambil testpack tersebut dan mengamatinya. Della tak percaya dengan hasil testpack tersebut dan akhirnya ia memilih untuk melakukan pengecekan lagi yang kedua kalinya.
Della membuka pintu kamar mandi tersebut dan hanya menonggolkan kepalanya.
"Sayang!" Panggil Della yang membuat Aiden langsung menoleh kearah Della.
"Tolong ambilin testpack lagi dong," sambung Della dengan cengiran di bibirnya. Aiden mengangguk dan segera beranjak menuju penyimpanan alat testpack.
"Berapa?" Tanya Aiden.
"Satu aja." Aiden mengambil acak satu testpack dan segera menyodorkan ke Della.
"Gak papa. Cuma takut rusak aja jadinya pakai dua deh," jawab Della dan diangguki oleh Aiden.
Della kembali menutup pintu kamar mandi dan membiarkan Aiden menunggunya di depan pintu tersebut. Beberapa menit telah berlalu dan saat ini Della baru juga keluar dari kamar mandi tersebut dengan muka masamnya. Aiden yang melihat ekspresi Della pun merasa tak tega dan segera memeluk tubuh sang istri.
"Sudah gak apa-apa. Belum rejeki. Suatu saat pasti di kasih kok hanya butuh waktu yang tepat aja," ujar Aiden disela-sela pelukannya. Ya walaupun dirinya juga sangat menginginkan buah hati namun jika belum di percayai mau bagaimana lagi. Ia hanya bisa berdoa dan berusaha.
Della memberontak saat dipeluk oleh Aiden sehingga pelukan tadi terlepas dan membuat Aiden mengernyitkan keningnya tak mengerti dengan sikap Della.
"Sayang kenapa sih?" Tanya Aiden kembali mendekati Della.
Della menatap wajah Aiden dan perlahan air matanya menetes. Aiden yang tak suka melihat Della bersedih pun menangkup kedua pipi Della dan menghapus air matanya dengan sentuhan lembut.
__ADS_1
"Sudah jangan nangis lagi ya," ucap Aiden menenangkan. Bukannya berhenti Della malah tambah menangis.
"Kenapa tambah nangis? Udah dong sayang. Udah ya jangan nangis lagi," tutur Aiden.
"Hiks gak mau pokoknya mau nangis aja hiks," ucap Della seperti anak kecil.
"Jangan dong. Sabar aja sayang nanti juga bakalan dikasih kok jika waktunya udah tepat," tutur Aiden kembali memeluk tubuh Della.
"Hiks tapi ini hasilnya yang bikin nangis."
"Iya tau hasilnya gak sesuai dengan yang kita harapkan, maka dari itu kita perlu sabar aja atau gimana kalau kita sekarang melakukan usaha biar cepat dapat babynya." Della mencubit pinggang Aiden yang berhasil membuat Aiden meringis dan melepaskan pelukannya.
"Hiks itu mah maunya kamu hiks. Ini lihat hasilnya," tutur Della sembari menyerahkan dua testpack tadi kearah Aiden yang langsung di sambar olehnya. Aiden dengan teliti melihat hasil testpack tersebut yang menunjukkan garis dua di testpack satu dan yang satunya menunjukkan gambar emoticon senyum yang tandanya Della tengah berbadan dua.
"Ini serius?" Tanya Aiden tanpa mengalihkan tatapannya.
"Enggak tau juga. Tapi kalau di testpacknya nunjukin kalau udah ada baby di perut aku," jawab Della sembari menghapus air matanya. Aiden yang mendengar penuturan dari Della pun berjingkrak kegirangan.
"Yesssssss Alhamdulillah, akhirnya!" teriak Aiden.
Della tersenyum melihat tingkah Aiden yang kembali ia lihat setelah dulu ia memberitahu kehamilan pertamanya. Aiden mendekati Della dan memeluk tubuh Della. Della mengelus punggung sang suami yang tengah bergetar. Aiden menangis terharu akhirnya setelah kehilangan Aila kini ia telah di karuniai lagi seorang calon baby lainnya di perut Della walaupun harus menunggu jangka waktu yang lumayan lama.
"Terimakasih," ucap Aiden dengan suara seraknya.
"Jangan terimakasih ke aku tapi ke yang mempunyai seluruh alam semesta beserta isinya," tutur Della. Aiden pun melepaskan pelukannya dan bersujud syukur atas nikmat yang Allah berikan kepadanya. Setelah itu ia berjongkok hingga kepalanya sejajar dengan perut Della. Aiden mengelus perut tersebut.
"Hay baby. Ini Daddy sayang, sehat-sehat di dalam perut Mommy ya dan harus jadi anak yang kuat, jangan nakal di dalam," tutur Aiden setelah itu ia mencium beberapa kali perut Della dan kembali berdiri berhadapan langsung dengan Della.
"Sehat selalu Mommy. Kita nanti kerumah sakit buat memastikan ya," ucap Aiden dan diangguki oleh Della. Aiden pun tersenyum dan mengecup kening Della.
__ADS_1
Ia nanti akan menyerahkan pekerjaannya ke Reiki karena ia hari ini akan menemani Della pergi kerumah sakit dan sudah dipastikan ia akan di rumah seharian nantinya menemani sang istri dan juga badannya masih sedikit lemas karena seringnya mual yang selalu melanda dirinya dan ia sekarang yakin jika rasa mualnya itu disebabkan oleh rasa ngidam yang seperti dulu waktu Della hamil Aila. Aiden juga yang akan mengalami mual dan muntah sedangkan Della, ia lebih mengalami ngidam yang bisa dibilang enak karena biasanya ia ngidam dengan berbagai makanan yang akan ia makan dan itu juga harus melibatkan Aiden yang senantiasa mencarikan makanan yang diinginkan oleh sang istri dengan senang hati.