
Saat ini triplets sudah nampak semakin segar setelah mandi pagi. Mereka bertiga melangkahkan kakinya menuju meja makan yang sudah ada kedua orangtuanya dan juga Airen, Dion tak lupa baby Zelfix yang tengah duduk di kursi khusus baby.
"Huwaaaaa triplets aunty kangen," sorak Airen sembari menghampiri triplets yang tengah mengernyitkan dahi masing-masing.
Tubuh triplets kini dipeluk oleh Airen secara bersamaan sehingga membuat triplets terhimpit.
"Aunty aku gak bisa nafas," tutur Edrea yang memang berada di tengah-tengah Azlan dan juga Erland.
"Eh. Maaf maaf." Airen kini melepaskan pelukannya.
"Aunty Mommynya baby Zelfix?" tanya Erland. Airen pun mengangguk dengan senyum yang tak pernah luntur terpancar dari wajahnya.
Mereka bertiga dengan kompak membeo setelahnya triplet melangkah kembali dan duduk di kursi makan mereka masing-masing meninggalkan Airen yang masih berjongkok di posisinya tadi saat memeluk triplets.
"Buwahahaha," tawa Aiden sudah tak bisa tertahan lagi kala melihat ekspresi melongo Airen saat triplets sedikit mengacuhkan dirinya.
Airen mencebikkan bibirnya. Kemudian ia kembali duduk di kursi makannya tadi.
"Ck gak bapak gak anak sama saja menyebalkan. Ini nih definisi pohon jatuh tak jauh dari buahnya," gerutu Airen.
"Hahahaha sejak kapan ada peribahasa yang seperti itu," ucap Aiden.
"Udah dari dulu kali. Kamu aja yang gak tau peribahasa itu," tutur Airen tak mau disalahkan.
"Setahuku ya yang ada tuh peribahasa kayak gini nih dengerin baik-baik! Buah jatuh tak jauh dari pohonnya tuh yang benar, kalau tadi tuh kebalik. Stupid dari dulu kok dipertahanin," ucap Aiden.
"Kamu tuh yang stupid. Jelas-jelas peribahasa kamu yang salah dan kebalik kok malah ngatain aku." Della dan juga Dion menghela nafas melihat pertengkaran antara saudara kembar beda jenis kelamin itu. Sedangkan triplets mereka sudah menikmati makanan sembari menonton perdebatan didepan mereka.
Dion mengelus rambut Airen untuk menenangkan sang istri supaya mensudahi pertengkaran tak mutu tersebut.
"Sayang udah ih. Gak malu apa dilihatin triplets tuh. Udah ya sekarang makan dulu gak baik berantem di depan makanan kayak gini," ujar Dion.
"Tapi dia yang salah sayang mana ngatain aku stupid lagi," adu Airen.
"Hmmm tapi ya sayang yang di ucapkan Aiden itu yang benar dan peribahasa kamu tadi yang salah." Airen membelalakkan matanya.
"Kamu bela Aiden?" Dion melongo dibuatnya. Mana ada ia mengatakan yang sebenarnya terus dituduh telah membela Aiden begitu saja.
"Ya ampun sayang. Aku gak belaiin Aiden sama sekali. Ahhh sudahlah lupakan saja," ucap Dion yang lama-lama juga geram dan gemas dengan tingkah Airen. Rasanya ia ingin memakan istrinya itu sampai habis.
__ADS_1
"Daddy, Aunty, dan Om kalau mau bertengkar mending diluar saja deh. Kita mau makan aja sampai gak tenang gini. Kalian bertiga seperti anak kecil saja bahkan kita bertiga ditambah baby Zelfix aja akur tuh gak ribut. Malu ah sama kita," tutur Erland yang sudah muak dengan pertengkaran para orang dewasa.
Mereka bertiga nampak langsung menutup mulutnya rapat-rapat tak ada yang bersuara lagi. Ucapan Erland tadi nampaknya mampu membungkam mulut mereka bertiga sehingga mereka semua yang ada di meja makan tersebut menjadi khusyuk dengan makanan mereka masing-masing.
Tak berselang lama mereka telah selesai dengan acara sarapan pagi dan kini dua keluarga kecil tersebut tengah bersantai bersama di ruang keluarga sembari menemani anak-anak mereka untuk bermain.
Edrea menatap Airen yang tengah bermain bersama dirinya.
"Kenapa sayang?" tanya Airen saat mengetahui tatapan Edrea.
"Aunty."
"Iya kenapa?"
"Aunty tadi pergi ke rumah mbah akung?" Airen memincingkan alisnya tak mengerti.
"Enggak tuh emang kenapa sayang?"
"Kalau aunty gak kerumah Mbah akung berarti aunty tadi bercocok tanam dimana?" tanya Edrea dengan polosnya.
Aiden yang tengah meneguk air putih pun langsung menyemburkan air tersebut begitu saja sedangkan Della ia tengah terbatuk tersedak air liurnya sendiri.
"Anjir. Ini muka stupid. Astagfirullah pengen hajar tapi ada anak-anak," geram Dion sembari mengelap wajahnya yang tengah basah menggunakan baju anaknya.
"Weelah baju Zelfix jadi basah lah sayang kalau kamu buat lap kayak gitu," semprot Airen.
"Basah dikit lah gak papa, gak bakal masuk angin juga. Anak Daddy Dion kan kuat, tahan banting. Iya kan sayang," ucap Dion sembari mencium pipi baby Zelfix. Airen memutar bola matanya malas saat mendengar ucapan Dion.
"Aunty belum jawab pertanyaan Rea tadi."
"Ya ampun sayang. Aunty tadi gak kemana-mana dan gak bercocok tanam dimana-mana," tutur Airen yang nampaknya belum paham dengan kode bercocok tanam yang sebenarnya.
"Tapi kata Dad sama Mom tadi aunty dan om lagi bercocok tanam jadinya baby Zelfix harus ditinggal sama Mom dan Dad tadi." Kini Airen telah paham apa yang dikatakan oleh Edrea yang sebenarnya. Ia menatap Kakak dan Kakak iparnya itu yang sekarang tengah memalingkan pandangannya dari Airen. Airen yang geram pun melemparkan balok mainan kearah keduanya dan tepat mengenai kepala Della.
"AW," rintih Della.
"Ish aunty kenapa lempar balok itu ke Mommy. Rea gak mau main lagi sama aunty. Aunty jahat buat Mommy kesakitan," ucap Edrea sembari mendekati Della.
"Mommy gak papa?" tanya Edrea.
__ADS_1
"Mom gak papa sayang. Sekarang Edrea main lagi aja ya." Edrea menggelengkan kepalanya.
"Gak mau. Nanti kalau Mom di lempar pakai balok lagi sama aunty siapa yang akan jagain?" Della tersenyum sembari mengelus rambut Edrea dengan lembut.
"Tenang sayang kan ada Daddy. Tar kalau aunty nakal sama Mom biar Dad yang balas oke," ucap Aiden. Edrea pun mengangguk dan sebelum kembali bermain ia mengecup kepala Della yang tadi kena lemparan balok.
"Aduh anak bontotku sweet banget sih. Gak tahan nih Mommy nak," gemas Della saat Edrea sudah menjauhi dirinya.
"Ck lebih sweet Daddynya," tutur Aiden tak mau kalah.
"Kamu sweet? kapan?"
"Setiap hari lah."
"Ck gak ada. Kamu tuh sweet kalau lagi ada maunya aja apalagi kalau mau minta jatah buehhh sweetnya ngalahin gula mana pakai disogok pula." Aiden menggaruk pelipisnya.
"Gak gitu juga ih sayang. Aku tuh selalu sweet sama kamu tau hanya saja saat tak ada maunya sweet ku itu tak bisa kamu lihat."
"Ck alasan," gumam Della. Mereka berdua terus bermesraan sampai mengabaikan Airen yang tengah menatap mereka untuk meminta penjelasan mengenai ucapan Edrea tadi.
"Hoy kalian jangan mesra-mesraan dulu. Kalian masih punya hutang penjelasan ke aku," sela Airen.
"Penjelasan apa sih?" tanya Aiden pura-pura tak tau.
"Aku gampar ya kalau kalian masih pura-pura gak tau," ancam Airen.
"Kamu gampar kita tangan kamu duluan yang akan patah," kini Aiden yang membalas ancaman dari Airen.
"Ck bodoamat deh. Buruan jelasin apa yang dimaksud dengan ucapan Edrea tadi tentang bercocok tanam?" Della menatap Aiden untuk menjelaskan kepada Airen mengenai hal tersebut.
"Kamu beneran mau tau?" Airen dengan polosnya mengangguk.
"Bercocok tanam tuh berhubungan suami istri." Airen membelalakkan matanya dan langsung menggeplak lengan Aiden.
"Astagfirullah. Terus kenapa Edrea tau tentang itu?"
"Edrea gak paham tentang itu anjir. Dia pahamnya cuma kalian berdua lagi bercocok tanam seperti di sawah yang dia sering lihat di desa. Lagian sih kamu tadi nitipin Zelfix ke kita dan hal itu membuat si triplets ngambek. Dan saat aku sama Della mau balikin triplets ke kalian eh malah kalian lagi enak-enakan berdua bikin adik buat Zelfix. Ya udah karena triplets tadi juga tanya kemana orangtua Zelfix maka mau tak mau aku bilang kalau kalian lagi bercocok tanam di sawahnya Mbah akung," jelas Aiden.
"Jadi kalian tadi. Ah bentar-bentar jangan bilang kalau kalian tadi," ucap Airen menggantung.
__ADS_1
"Tenang kita belum sampai lihat cuma dengar desahan kamu sama Dion aja." Wajah Airen kini nampak memerah menahan malu pastinya dan ia memilih untuk mendekati Dion yang masih sibuk bermain dengan Zelfix dan juga triplets. Sedangkan Della maupun Aiden tengah tertawa saat melihat wajah Airen yang nampak seperti kepiting rebus. Untung saja bukan mereka berdua yang kegep tengah melakukan hubungan tersebut dengan orang lain kalau sampai terjadi didiri mereka berdua sudah dipastikan muka Aiden maupun Della akan jauh lebih parah dari muka Airen tadi.