
Saat ini Della tengah duduk santai di belakang rumahnya menikmati udara segar pagi ini di temani dengan secangkir teh hangat serta cemilan di atas meja. Ia berniat untuk tidak kemana mana hari ini karena kedua curut siapa lagi kalau bukan Desi dan Tania, mereka berdua akan kerumah Della untuk yang pertama kalinya, awalnya Della menolak tapi karena paksaan dari mereka dan setelah Della pikir pikir kenapa tidak sahabatnya itu datang kerumahnya toh mereka juga tidak bakal menghancurkan isi rumahnya kan.
Tak berselang lama suara bel rumahnya berbunyi dan dengan segera Rina membukakan pintu untuk tamu mereka.
"Cari siapa ya non?" tanya Rina yang sudah membukakan pintu.
"Owh kenalin saya Desi teman kantornya Della mbak, Dellanya ada kan?" jawab Desi dengan senyum ramah.
"Temennya non Della toh, silahkan masuk, non Dellanya lagi di taman belakang, saya panggilkan sebentar, non duduk saja," ucap Rina sebelum pergi dari hadapan Desi.
Desi menatap setiap sudut bahkan setiap inci isi rumah tersebut, rumah dengan gaya Eropa dengan perabot yang tidak terlalu glamor namun elegan.
"Kedip Des, tar kelilipan baru tau rasa," ucap Della yang sudah di belakang tubuh Desi saat ini.
"Mana ada kelilipan kalau rumah lo kayak gini, gue rasa debu aja enggan untuk nempel di sini," ucap Desi sembari mencebikkan bibirnya.
"Mau minum apa?" tanya Della.
"Apa aja yang penting gak ada racunnya."
"Tenang stok racun gue dah habis lupa mau beli, kalau lo mau, gue beli sekarang juga gak papa," ucap Della santai sembari meninggalkan Desi yang terduduk di sofa sembari menyalakan televisi di hadapannya.
Tak berselang lama Della keluar dengan membawa dua gelas jus dan kue kering di atas nampan.
"Silahkan diminum nyonya," ucap Della sembari menaruh gelas kehadapan Desi.
"Terimakasih babu," jawab Desi dengan cekikikan.
"Sumpah lo udah cocok jadi babu gue tau gak Del," sambung Desi yang langsung mendapat tatapan tajam dari Della.
"Enak aja gue cantik cantik gini jadi babu lo mau lo bayar berapa pun gue juga ogah," ucap Della sinis.
"Pindah aja yuk jangan di sini," pinta Desi ke Della yang sedang duduk di sebelahnya.
"Terus kemana?" tanya Della tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi yang sedang menayangkan kartun Doraemon kesukaan dia.
"Kemana kek, kalau disini entar ada tamu lain kan malu gue," Della mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Please lah Des, gue dirumah cuma sama mbak Rina, abang gue udah balik ke Rusia," ucap Della.
"Lah bang Maxime udah balik, yah gak jadi ketemu deh," sesal Desi.
"Jadi lo kesini cuma mau ketemu sama bang Maxime doang?"
"Awalnya sih iya, siapa tau bang Maxime tertarik sama gue terus ngajak gue nikah dan gue jadi kakak ipar lo," ucap Desi sembari membayangkan dirinya bersanding dengan Maxime nantinya namun lemparan kue kering di muka Desi menyadarkan lamunannya.
"Halu lo, gue gak sudi punya kakak ipar kaya lo," ucap Della sembari berdiri dari duduknya dengan membawa gelas minumnya.
"Mau kemana lo?" tanya Desi heran.
"Katanya tadi mau pindah jangan di ruang tamu gimana sih," ucap Della sewot dan hanya di jawab cengiran oleh Desi. Mereka pun bergegas ke ruang santai keluarga.
Setelah sampai di ruang keluarga Della, mereka berdua asik berdebat tentang drama Korea yang rencana akan mereka tonton saat ini.
"True Beauty aja lah Del," tutur Desi sembari duduk di bawah hanya beralaskan karpet saja, meja yang awalnya ada di tengah ruangan tersebut Desi singkirkan bahkan benda apa saja yang sekiranya menghalangi pandangan Desi, ia tak segan segan untuk memindahkannya.
"Gak, bagusan The Penthouse tau Des," tutur Della tak mau kalah.
Sudah 3 jam Desi di rumah Della dan sudah berbagai aktivitas yang ia lakukan mulai dari nonton drama, ikut masak Della dan Rina dan sekarang ia tengah berbaring di atas karpet tebal yang sedari tadi menemani Della dan Desi duduk di situ sembari menunggu Tania yang tak kunjung datang sampai mereka berdua terlelap menelusuri alam mimpi masing masing.
Ting tong ting tong
Della terusik dari tidurnya ketika ia mendengar bel rumah yang sedari tadi berbunyi dan kebetulan Rina tadi izin keluar ketemu gebetan katanya.
Della bergegas menuju pintu dan segera membukanya. Di depan pintu sudah ada Tania yang menekuk mukanya masam.
"Muka lo Tan, udah jelek eh malah tambah jelek," ejek Della.
"Ck bodoamat, minggir gue mau lewat," Tania mendorong pelan tubuh Della dan segera masuk kedalam membiarkan Della kebingungan dengan sikap Tania.
Della mengedikan bahunya acuh dan ketika ia hendak menutup pintu kembali tak disangka ia melihat Reiki yang tengah keluar dari mobilnya yang sudah terparkir cantik dihalaman rumah Della. Della mengerjapkan matanya tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Ia terus melihat Reiki sampai orangnya tepat di depan Della.
"Hay Del," sapa Reiki yang mampu menyadarkan Della jika yang di lihatnya itu nyata.
__ADS_1
"Eh ada pak Reiki, silahkan masuk pak," ucap Della dan dijawab anggukan oleh Reiki.
Disisi lain Tania tengah berjalan mendekati Desi yang masih setia dengan mimpi indahnya dengan perasaan sebal Tania memukul wajah Desi dengan bantal yang di sampingnya.
"AW," teriak Desi kaget.
"Bangun lo, molor mulu."
"Biasa aja dong banguninnya kalau gue kaget terus kena serangan jantung gimana, lo mau tanggung jawab," tutur Desi tak terima.
"Bodoamat," ucap Tania sembari menyambar minuman yang tak jauh dari posisinya sekarang.
Desi menatap lekat wajah Tania dengan menyipitkan matanya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Tania. Tania yang kaget dengan tingkah Desi refleks menyemburkan minuman yang sudah didalam mulut ke wajah Desi.
"Tania jorok ih," teriak Desi yang menggema keseluruhan ruangan bahkan Della dan Reiki yang duduk di ruang tamu pun ikut mendengarkan teriakan Desi tersebut. Della meringis malu dengan tingkah sahabatnya itu yang tak tau situasi saat ini.
"Maaf pak, maklum orang orang yang kurang otak satu ons," ucap Della canggung dan di jawab dengan anggukan oleh Reiki.
"Oh iya ada perlu apa ya pak Reiki sampai meluangkan waktu untuk datang ke gubuk saya ini?" tanya Della penasaran.
"Oh tadi saya hanya mengantar Tania saja kesini," Della membelalakkan matanya mendengar ucapan Reiki tersebut. Ada apa dengan Tania dan Reiki sebenarnya, hmmm Della mencium bau bau pdkt ini, batin Della dengan senyum manisnya.
"Ya udah pak, bapak sekalian aja gabung sama kita sampai Tania nanti pulang, kasian pak kalau dia nanti pulang sendiri kalau numpang sama Desi kan gak mungkin secara rumah mereka kan beda arah," ucap Della dengan semangat.
"Boleh?" tanya Reiki memastikan.
"Tentu saja boleh, bapak gabung aja sama mereka di ruang keluarga saya buatin minum dulu," Reiki menganggukkan kepalanya dan segera beranjak dari duduknya menghampiri Tania dan Desi yang ribut sendiri, sedangkan Della ia bergegas membuatkan minum untuk kedua tamunya yang baru saja sampai.
πππππ
Author absurd mau tanya dong, Kalian bosen gak sih sama cerita absurd author ini? dah itu aja yang mau author tanyakan ke kalian hehehe geje banget ya kan kek cerita yang di buatπ dah lah gak mau bacot lagi byeπ
HAPPY READING GUYS π
Jangan lupa LIKE and VOTE, kasih hadiah juga boleh author mah ikhlasπ€
See you next eps bye π
__ADS_1