
Reiki menghampiri Desi dan Tania yang tengah asik ribut karena Desi tak terima dengan semburan di wajahnya tadi dan Tania yang selalu membela dirinya sendiri, sampai deheman Reiki menghentikan keributan mereka berdua.
Desi menatap cengo Reiki yang masih berdiri disamping mereka sedangkan Tania ia tambah mengerucutkan bibirnya yang membuat Reiki tambah gemas ingin sekali mengecup bibir ranum Tania, eh lah kok.
"Lho ada pak Reiki," ucap Desi setelah sadar dari cengonya. Reiki hanya tersenyum menjawab ucapan Desi tadi.
"Silahkan duduk pak," sambungnya yang di turuti oleh Reiki, ia berjalan mendekati tempat Tania berada. Desi yang melihatnya pun sempat berfikir sama dengan Della tadi kalau mereka berdua ada hubungan spesial.
Tak berselang lama Della sudah bergabung dengan mereka bertiga dengan membawa minuman baru serta cemilan yang nambah banyak lagi tentunya. Ia memilih duduk di sebelah Desi yang terus menatap kedua orang di seberangnya.
"Bengong aja lo," ucap Della sembari menyenggol lengan Desi.
Desi mengalihkan tatapannya ke arah Della dan meminta penjelasan dari Della walaupun Della sendiri pun juga tidak tau ada hubungan apa Tania dengan Reiki.
"Gue gak tau," ucap Della setengah berbisik.
"Tapi gue lihat mereka kok kayak ada hubungan lebih dari sekedar sekertaris dan atasan," tutur Desi yang juga berbisik takut jika Reiki mendengarnya kalau Tania mah mereka mana ada yang takut.
"Nanti tanya langsung aja sama Tania," balas Della yang juga tak sabar mendengar jawaban Tania nanti.
Mereka terus bercengkrama satu sama lain tidak ada kecanggungan diantara mereka dan sesekali Desi menggoda Tania yang membuat sang empu tambah cemberut, hingga dering telepon milik Della menghentikan pembicaraan mereka.
Della menatap nama penelpon yang sudah mengganggu acaranya menggoda Tania, dia berdecak sebal setelah mengetahui siapa pengganggu tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Aiden, entahlah akhir akhir ini Della sering di teror oleh bosnya itu sampai sampai ia pernah mengganti nomor teleponnya untuk menghindari Aiden. Della meletakkan kembali ponselnya diatas sofa di belakangnya tanpa berniat mengangkatnya.
"Berisik Del, angkat aja kenapa sih," tutur Tania sewot.
"PMS lo Tan? Sewot mulu dari tadi," ucap Desi yang mendapat tatapan tajam dari Tania.
"Mending angkat aja Del, siapa tau penting," tutur Reiki dan di angguki oleh Della. Della mengangkat teleponnya tanpa berpindah tempat sedikit pun.
"Halo," ucap Della.
📞:"Kenapa lama ngangkatnya?" tanya Aiden sinis dari sebrang.
"Terserah saya dong, mau saya angkat kek mau enggak kan ini hp punya saya yang gak hak saya lah," jawab Della yang ikut sinis sedangkan Tania, Desi dan Reiki menatap Della penasaran.
__ADS_1
"Siapa Del? Kalau itu sekiranya penting mending..." belum sempat Reiki melanjutkan bicara Della sudah memotongnya.
"Gak penting kok cuma orang iseng aja," ucap Della, sedangkan yang di sebrang Aiden tengah menahan emosinya ketika mendengar suara laki laki bersama Della sekarang.
📞:"Dimana?"
"Siapa?" tanya Della balik.
📞:"Kamu sekarang dimana Della," geram Aiden.
"Ih kepo banget sih jadi orang," ucap Della santai.
📞:"Fredella!" panggil Aiden dengan tegas yang membuat Della menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Ah elah ngegas mulu, saya lagi dirumah sama..." tut tut tut sambungan diputus oleh Aiden begitu saja membuat Della mencebikkan bibirnya, "Gak jelas banget jadi orang," kesalnya.
Sedangkan di tempat lain Aiden bergegas mengambil jaket serta kunci mobilnya berniat untuk pergi kerumah Della. Ia sudah tau jika Della dirumah hanya sendirian dengan satu orang pekerja rumah tangganya , ia benar benar khawatir sekarang pikirannya sudah berkelana membayangkan hal buruk yang terjadi dengan Della, hmmm sungguh lebay sekali kau tuan Aiden.
"Mau kemana kamu?" tanya mama Aiden penasaran, tidak seperti biasanya anaknya ini kalau libur keluar rumah, keluar kamar saja jarang bahkan makan pun kadang kadang diantar ke kamarnya karena ia terlalu sibuk dengan pacarnya ya siapa lagi kalau bukan laptop dan berkas berkas yang memenuhi kamarnya.
Dengan kecepatan diatas rata rata Aiden membelah jalanan yang untungnya sedang senggang hari ini, hingga tak butuh waktu 30 menit ia sudah sampai di depan rumah Della ia membuka pintu gerbang sendiri karena tidak ada satpam di rumah Della dan dengan segera ia menaiki kembali mobilnya dan memarkirkannya tepat di belakang mobil Reiki setelah itu ia keluar dari mobilnya dan segera menutup kembali gerbang tadi.
Aiden menyipitkan matanya kala ia melihat mobil yang berada di depannya saat ini.
"Kok kaya kenal mobilnya," batin Aiden dan ia pun segera menuju pintu, menekan bell dan sesekali mengetuknya.
Sampai akhirnya sosok perempuan yang ia khawatir muncul di balik pintu itu tanpa senyum sedikit pun, Aiden bernafas lega Della baik baik saja namun ia kembali emosi kala ia mendengar suara tawa laki laki yang tak jauh dari mereka. Tanpa aba aba dan sebelum di persilahkan sang tuan rumah untuk masuk, Aiden nyelonong begitu saja membuat Della berdecak sebal.
Della menutup kembali pintu rumahnya dan mengikuti langkah Aiden menuju sahabatnya dan Reiki yang tengah bercanda gurau, jangan tanya Tania gimana dia sudah tidak masam seperti tadi, Tania itu tipe orang yang kalau moodnya hancur gampang untuk pulih beda dengan Della kalau moodnya hancur sangat sulit untuk kembali selain dengan coklat tentunya.
"Lho Reiki ngapain lo kesini?" tanya Aiden yang mendapat Reiki disana.
"Lah lo sendiri ngapain kesini?" tanyanya balik. Aiden menggaruk tengkuknya yang di pastikan itu tidak gatal sama sekali.
"Lo ya di tanya malah nanya balik," ucap Aiden sembari duduk di sebelah Della di karpet sama seperti yang lain.
__ADS_1
"Gue nemenin cewek gue lah," ucap Reiki dengan santai membuat Desi dan Della serta Aiden membelalakkan matanya tak percaya sedang Tania ia sudah menggeplak paha Reiki dengan keras.
"Cewek lo siapa? Tania apa Desi? Kalau Della gak mungkin dia suka sama lo," ucap Aiden yang mendapat tatapan tajam dari Della.
"Sok tau banget sih," geram Della.
"Tenang aja, cewek gue disamping gue kok," ucap Reiki dengan mengedipkan sebelah matanya ke Tania.
"Bentar bentar ini bener pak Reiki yang jadi tangan kanannya pak Aiden kan ya, kok beda sih di kantor sama di luar," ucap Della asal nyeplos.
"Dia itu emang gitu Del kalau di kantor sok cool tapi kalau di luar cih alaynya luar biasa," ucap Aiden sembari merebut gelas yang ada di tangan Della dan segera meneguknya sampai habis.
"Ish pak itu minuman bekas saya lho, main ambil ambil aja kalau bapak mau buat sendiri," tutur Della kesal.
"Biasa aja kali tuh mulut Del gak usah sok di monyong monyongin gitu, tar saya buatkan lagi yang baru," ucap Aiden sembari menaruh gelasnya di depannya.
"Hmmmm nyamuk oh nyamuk temenin gue dong, kalau bisa jadi pacar gue yuk biar gue gak dianggurin kayak gini, hiks nasib jomblo," ucap Desi sok dramatis.
"Gue juga jomblo kok," ucap Della dan Tania berbarengan.
"Tapi kan kalian ada yang nemenin di samping kalian masing masing lah di samping gue kosong melompong," ucap Desi sambil mengibaskan tangannya ke samping tubuhnya.
"Kamu mau saya carikan pasangan?" tanya Aiden yang mendapat tatapan berbinar dari Desi dengan cepat tanpa berfikir kedepan Desi pun mengangguk kepalanya. Aiden tersenyum dan mengalihkan tatapannya ke Reiki.
"Telfon dia Rei, suruh kesini," ucap Aiden dan di angguki oleh Reiki. Reiki segera beranjak dari duduknya guna menelpon seseorang yang di maksud Aiden tadi dan tak butuh lama ia sudah kembali bergabung.
"Paling satu jam lagi dia sampai gak papa kan nunggu sebentar," ucap Reiki sembari mendudukkan tubuhnya kembali. Desi hanya mengangguk kepala tak sabar menunggu kehadiran seseorang yang akan menemani ia jadi obat nyamuk nantinya.
💜💜💜💜💜
HAPPY READING GUYS😘
Jangan lupa LIKE and VOTE, kasih hadiah juga boleh author ikhlas 😂
peluk cium dari author absurd 🤗😚 See you next eps bye 👋
__ADS_1