
Tak berselang lama mereka telah sampai di kantor Aiden. Aiden menghentikan mobilnya di salah satu parkiran yang memang di peruntukan orang penting di kantornya. Ia kembali menatap wajah tenang Della, rasanya ia tak ingin berpaling dari Della sedikitpun.
"Del," ucap Aiden pelan sembari mengelus rambut Della.
"Bangun Del udah sampe," tutur Aiden kembali namun bukan Della namanya kalau bukan kebo ketika tidur. Jangan kan suara Aiden, suara petasan yang dinyalakan di samping kupingnya pun ia akan tetap terlelap.
Aiden berdecak sebal, mau tak mau ia harus menggendong Della kembali kedalam kantornya. Dengan segera Aiden membuka pintu mobilnya dan melepaskan seat belt Della, lalu membopong tubuh Della hingga ruangannya. Untung saja di parkiran ada lift yang langsung menuju ke ruangannya. Dan untungnya lagi di lantai 18 hanya ada ruangannya dan juga tangan kanannya jadi tak banyak orang tau dengan kelakuannya ini.
Setelah sampai di ruangannya lebih tepatnya di kamar yang kebetulan ada di dalam ruangannya. Ia merebahkan tubuh Della perlahan dan segera menyelimuti Della.
"Dasar kebo," umpat Aiden sebelum keluar dari kamar itu dan mulai berkutat dengan beberapa berkas yang sudah menumpuk di mejanya.
Pukul 10 Della baru tersadar dari tidur cantiknya. Matanya mengerjap, membuka secara perlahan hingga terbuka sempurna. Ia meregangkan otot ototnya sembari mengumpulkan nyawanya sedikit demi sedikit hingga ia benar benar sadar, dengan seketika ia mengernyitkan dahinya, menatap ruangan yang asing baginya.
"Lah gue dimana ini? terus kenapa kok gue bisa disini?" tanya Della dengan makhluk astral disana mungkin karena ia hanya sendirian di kamar itu.
"Astaga gue tadi ketiduran di restauran tadi, arkh apa gue sekarang lagi di culik? arkh enggak mungkin jangan sampai tapi kalau iya gimana. Gue harus keluar dari sini secepatnya," Della turun dari ranjang king size tersebut, melirik setiap inci ruangan guna memastikan tak ada orang di sana. Aman tak ada siapa siapa, dengan secepat kilat Della berlari keluar kamar tersebut.
Sedangkan Aiden yang tengah serius dengan pekerjaannya terpaksa terhenti ketika melihat Della berlari kencang hingga ia menabrak sofa di depannya.
Brak bruk
"AW," rintih Della yang sudah tersungkur ke lantai. Aiden yang melihat itu pun hanya bisa menertawakan Della sembari menghampirinya.
"Lho Pak Aiden kok ada disini?" ucap Della yang baru menyadari Aiden di ruangan tersebut.
"Lah kamu ngapain lari larian kayak tadi?" tanya Aiden. Della berdecak bukannya menjawab pertanyaannya malah di tanya balik oleh Aiden.
"Kirain tadi saya di culik makanya saya lari," tutur Della yang masih duduk di lantai.
"Pikiran kamu tuh kenapa negatif mulu sih Del, sekali kali positif gitu lho."
"Gimana gak negatif coba kalau saya tadi bangun di tempat asing seperti itu."
"Stop ketawa Pak, bantuin bangun ih," ucap Della sebal mendapati Aiden yang terus menertawakan kelakuannya tadi sampai ujung matanya berair. Aiden segera membantu Della berdiri tanpa berniat menghentikan tawanya.
__ADS_1
"Puas puasin ketawanya Pak, lanjuti aja sampai besok," ucap Della cemberut.
"Hah udah puas saya," ucap Andien sembari memegang perutnya yang sedikit kram.
"Bodo amat," Della bergegas berjalan hendak keluar dari ruangan tersebut namun lagi lagi suara Aiden menghentikan langkahnya.
"Mau kemana kamu?" ucap Aiden yang kembali tegas.
"Pulang."
"Emang kamu tau arah pulang dimana?" tanya Aiden sembari menyilangkan kedua tangannya. Della menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu menampilkan senyum bodohnya.
"Enggak," jawab Della.
"Walaupun kamu tau pun saya gak akan izin kan kamu pulang lebih dulu dari saya. Mulai kerja sekarang!" perintah Aiden dan Della pun hanya bisa pasrah mengikuti perintah atasannya.
Waktu perlahan telah berlalu, kini langit berubah jadi malam hari. Yap sekarang tepat pukul 19:00 waktu London, kini Aiden dan Della tengah bersiap untuk pulang. Rasa lelah dan juga lapar menyelimuti diri Della sekarang bahkan sempat beberapa kali perutnya berbunyi.
"Pak buruan ah lama banget sih, laper nih," tutur Della yang sudah lebih dulu keluar dari ruangan tersebut sembari bergelayut manja pada pintu tersebut.
"Dah yuk," ajak Aiden yang berjalan menuju Della.
"Makan dulu ya Pak," rengek Della di sela sela mereka berjalan dan hanya mendapat anggukan kepala oleh Aiden.
Setelah sampai di parkiran tanpa aba aba Della berlari kecil mendekati mobil Aiden dan segera masuk kedalam tanpa di persilahkan oleh Aiden. Aiden? jangan tanya dia gimana ia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanak kanakkan Della.
"Please lah Del jangan kaya gitu, guenya lama lama gak sanggup pengen nikahin jadinya," batin Aiden tanpa sadar.
Aiden segera menyusul Della, duduk di kursi kemudi dan segera menjalankan mobilnya membelah jalanan London yang nampak ramai.
"Mau makan apa?" tanya Aiden memecah keheningan.
"Apa aja deh Pak yang penting enak," Aiden hanya mengangguk kepalanya tanpa mengalihkan pandangannya ke arah jalanan.
Tak berselang lama ia mereka sampai di salah satu restoran yang kebetulan tak jauh dari kantor Aiden tadi. Setelah memarkir mobilnya Aiden dan Della segera memasuki restoran yang cukup padat pengunjung.
__ADS_1
"Pak, bapak kalau cari restoran yang sepi dikit kek jangan yang ramai mulu, susah cari tempat duduknya kan jadinya," gerutu Della frustasi melihat sekeliling tak ada satupun meja yang tersisa.
"Ikut saya!" Aiden menyeret tangan Della menuju salah satu meja yang kebetulan baru saja di tinggalkan oleh pengunjung lain.
"Duduk di sini, jangan kemana-mana saya pesan dulu," ucap Aiden dan segera pergi untuk pesan makanan mereka tanpa bertanya kepada Della lebih dulu.
"Ish main nyelonong aja gak tanya gue mau makan apa gitu dasar," gerutu Della sembari melihat Aiden yang tengah antri memesan makanan.
Tak perlu menunggu lama, Aiden sudah kembali dengan membawa beberapa makanan di atas nampan di tangannya.
"Wah, ada muffin," ucap Della antusias setelah Aiden meletakan beberapa makanan dibantu oleh pelayan disana. Ketika Della hendak mengambil muffin tadi, tangannya dengan tiba-tiba di pukul Aiden pelan.
"Itu punya saya." Della mengerucutkan bibirnya.
"Ck bapak nantikan bisa pesan lagi."
"Gak ada, kamu lihat tuh antrian panjang banget. Kamu aja yang pesan sendiri," tutur Aiden yang tak mau kalah. Enak aja dia disuruh-suruh seperti babu.
"Pelit," ucap Della sembari memasukan makanan pokok kedalam mulutnya dengan bibir yang manyun ditambah manyun lagi karena makanan yang ia masukan ke mulutnya kebanyakan.
Sedangkan Aiden tak menimpali lagi ucapan Della tersebut. Ia memilih melanjutkan makannya dari pada berdebat dengan orang yang bawelnya melebihi mamanya itu.
"Nanti mampir ke mini market dulu, cari bahan makanan dan cemilan buat besok," ucap Aiden setelah selesai dengan aktivitas makannya.
Della mendongakkan kepalanya dan mengangguk tanda setuju dengan Aiden.
πππππ
Spoiler dikit ah buat eps besok π€ besok Della bakalan ketemu sama seseorang di masa lalunya, siapa tuh. Penasaran gak kalau gak ya udah byeπ
HAPPY READING GUYS π
Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE and VOTE, hadiah juga boleh author ikhlas π€ biar author giat nulisnyaπ
Peluk cium dari author absurd π€π See you next eps bye π
__ADS_1