My Bos CEO

My Bos CEO
64


__ADS_3

3 hari setelah pernikahan Reiki dan Tania. Kini Della harus lebih bekerja keras lagi karena pekerjaan Tania di alihkan kepadanya untuk sementara waktu selama Tania pergi untuk honeymoon.


Della terus berkutat dengan beberapa lembar kertas dihadapannya dan juga laptop yang senantiasa menyala tak lupa juga jari jemari lentiknya menekan tombol keyboard laptop tersebut. Hingga ia tak menyadari bahwa Aiden saat ini sudah duduk di sofa ruangannya dan ia tengah Memandangi wajah serius Della.


"Ehem," dehem Aiden untuk menyadarkan Della yang masih tak menyadari keberadaan dirinya. Aiden menghela nafas berat kemudian ia berdiri dari duduknya dan menuju Della.


Aiden berdiri tepat di belakang tubuh Della. Ia segera menyondongkan tubuhnya hingga kepalanya tepat berada di samping kepala Della.


"Makan dulu. Nanti lagi kerjanya," ucap Aiden lembut sembari memandang wajah Della dari samping. Della terperanjat kaget dan refleks ia menengok ke arah samping yang menyebabkan hidung mancungnya berbenturan dengan hidung Aiden. Untuk beberapa saat Della terdiam dengan posisi kedua hidung saling menempel satu sama lain.


Aiden mendekatkan wajahnya hingga hampir sedikit lagi bibirnya bertemu dengan bibir Della. Namun Della menggagalkan aksinya. Della segera sadar dari keterkejutannya dan segera menjauhkan wajahnya dari Aiden.


Aiden mengerucutkan bibirnya. Kurang dikit lagi ia akan merasakan bibir ranum Della. Namun usahanya sia-sia, Ah sepertinya untuk saat ini kau kurang beruntung tuan Aiden.


"Hemm," Della berdehem untuk menetralkan detak jantungnya saat ini.


"Kamu tadi bilang apa?" tanya Della sebisa mungkin menyembunyikan kegugupannya.


"Makan dulu. Kerjanya nanti lagi. Ini udah jam 3 sore dan kamu sama sekali belum makan dari tadi pagi kecuali sarapan," ucap Aiden sembari melangkahkan kakinya menuju sofa kembali. Della menganggukkan kepalanya dan segera menyusul Aiden kemudian ia mendudukkan dirinya di sofa sebelah Aiden.


"Terimakasih," ucap Della setelah menerima satu box makanan yang Aiden pesan untuknya.


Tak menunggu lama Della pun melahap makanan tadi dengan nikmat. Sedangkan Aiden ia menatap Della dengan senyum yang mengembang.


Della yang menyadari tatapan Aiden pun mengalihkan pandangannya kearah Aiden.


"Kenapa?" tanya Della. Aiden menggelengkan kepalanya tanpa menghilangkan senyumnya.


"Kamu gak makan?" tanya Della lagi.


"Tadi siang udah," jawab Aiden.


"Terus kenapa lihatin aku terus?" tanya Della penasaran.


"Emang gak boleh kalau aku ngelihatin calon bidadari surgaku kelak?" Della mengalihkan wajahnya kesamping kanannya berusaha menyembunyikan wajah yang ia yakini sekarang sudah merah seperti tomat.


"Kenapa malah lihatin kesana? Lihat sini dong. Kalau lihat sana akunya gak bisa mandangin wajah bidadariku jadinya," ucap Aiden sembari menahan tawanya. Sungguh sangat menyenangkan saat ia bisa menggoda Della seperti ini.


"Gak mau," ucap Della. Aiden berdiri dari duduknya dan beralih ke depan Della. Ia menjongkokan tubuhnya tepat di hadapan Della. Hingga ia bisa melihat wajah tomat Della saat ini.


"Wajah kamu kok merah gitu sih," tutur Aiden walaupun ia tau jika Della tengah malu karenanya.


Della dengan segera menaruh box makanannya di samping tubuhnya. Setelah menaruh box tadi Della segera menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa sekarang malah di tutup?"


"Please lah jangan jahil jadi orang tuh," ucap Della dari balik tangannya.

__ADS_1


"Siapa sih yang jahil?"


"Kamu lah. Siapa lagi kalau bukan kamu?"


"Emang aku jahil gimana?" tanya Aiden yang tambah membuat Della bersemu merah.


"Ah udah lah. Jangan di bahas lagi. Sana ih balik lagi ke ruangan kamu. Selesai kerjaan kamu saat ini dari pada keluyuran gak jelas gini," ucap Della tanpa membuka tangannya sama sekali.


"Kamu lupa sayang kalau aku ini yang punya perusahaan. Dan kamu dengan beraninya memerintah aku yang notabenenya saat ini bos kamu. Kurang ajar sekali," ucap Aiden bercanda.


"Ya justru itu. Karena kamu yang punya perusahaan ini dan atasan semua karyawan disini maka harusnya kamu memberi contoh yang baik buat mereka," jawab Della.


"Ck baiklah aku akan pergi. Berdebat denganmu percuma karena pada akhirnya aku juga yang kalah," ucap Aiden namun ia belum juga beranjak dari posisinya saat ini.


"Ya udah kalau mau pergi kenapa masih disini?"


"Buka dulu tangan kamu baru aku pergi," ucap Aiden.


"Gak," jawab Della singkat.


"Baiklah kalau gitu aku gak jadi pergi," ucap Aiden yang malah mendudukkan dirinya di lantai dan menjadikan paha Della sebagai bantalan kepalanya.


"Ish kenapa malah makin parah sih nih calon suami, pakai paha gue buat sandaran kepalanya lagi. Gak tau apa kalau wajah gue udah panas gini, jantung juga lari maraton terus. Slow bisa gak sih," batin Della. Butuh beberapa detik Della memikirkan untuk membuka atau tidak dan pada akhirnya ia memilih membuka saja tangannya dari wajah cantiknya kalau dia tak segera membuka ia pastikan Aiden akan tambah menjahili dirinya saat ini juga.


Aiden mendongakkan wajahnya ketik tangan Della mengelus kepala Aiden yang membuat Aiden membuka matanya. Karena ia tadi sempat menutup matanya lebih tepatnya ingin tidur di pangkuan Della.


"Nah gitu dong dari tadi. Tapi beri aku waktu 5 menit untuk menatap wajah kamu," ucap Aiden.


"4 menit," tawar Aiden.


"Enggak."


"3 menit deh."


"Gak."


"Ya udah 1 menit kalau gitu," ucap Aiden terus berusaha.


"Tetap gak." Aiden berdecak sebal. Kemudian ia bangkit dari duduknya dan mencondongkan tubuhnya yang berhasil mencuri kecupan di pipi Della singkat sebelum ia berlari meninggalkan ruangan Della. Namun ketika ia sudah keluar dari ruangan tersebut, Aiden malah kembali masuk kedalam lagi lebih tepatnya kepalanya saja yang ia perlihatkan dari balik pintu.


"Apa lagi?" tanya Della garang.


"Galak banget sih calon bini. Aku cuma mau bilang semangat kerjanya sayang dan habisin makannya dulu. Jangan sampai sakit," ucap Aiden.


"Iya ih bawel banget," jawab Della.


"Bawel gini juga cuma sama kamu. Dan kamu juga suka kan sama si bawel ini," ucap Aiden sembari menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Ck udah ih sana pergi," usir Della kembali.


"Oke oke sayang, aku pergi sekarang bye," ucap Aiden tak lupa ia memberikan flying kiss untuk Della dan setelah itu ia benar-benar meninggalkan ruangan Della.


Della tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


"Dasar, untung sayang. Kalau gak, mungkin tadi laptop itu udah melayang di kepalanya," tutur Della sembari melahap makanannya kembali hingga tuntas dan ia pun segera melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.


📖📖📖📖📖


"Beberapa hari kedepan kamu bawa mobil sendiri ya," ucap Aiden. Mereka berdua tengah berada didalam mobil saat ini menuju ke rumah Della.


"Emang kamu mau kemana?" tanya Della dengan menatap Aiden intens.


"Gak kemana-mana. Cuma mungkin beberapa hari nanti aku akan lebih sibuk dan gak bisa antar jemput kamu lagi bahkan mungkin aku juga menginap di kantor nantinya. Kan kamu tau sendiri kalau gak ada Reiki kerjaan aku bertambah beberapa kali lipat dari sebelumnya," ucap Aiden mencoba memberikan penjelasan kepada Della.


"Ya udah kalau gitu. Yang penting kamu jangan sampai sakit karena kecapekan. Kerja harus sesuai dengan takarannya," tutur Della mencoba mengerti keadaan Aiden yang dia sendiri juga merasakannya saat ini.


"Maaf ya sayang," ucap Aiden.


"Kenapa malah minta maaf?" tanya Della heran.


"Ya karena aku gak bisa antar jemput kamu lagi," ucap Aiden sembari memegang erat tangan Della.


"Ini juga buat sementara kan. Bukan selamanya, toh nanti kalau Pak Reiki udah balik kerja lagi kamu bisa antar jemput aku seperti biasanya kan," ucap Della.


"Tentunya," jawab Aiden sembari mencium tangan Della. Menghirup aroma wangi tangan calon istrinya cukup lama.


Mereka berdua terus mengobrol hingga tak terasa mobil Aiden sudah sampai di depan rumah Della.


"Kedalam dulu," ucap Della sebelum keluar dari mobil Aiden.


"Besok-besok aja sayang. Aku harus kembali kekantor lagi. Biar cepat selesai kerjaannya, " ucap Aiden.


Della menganggukkan kepalanya mengerti sembari membuka seat beltnya. Dan tanpa Aiden duga, Della mengecup singkat pipinya sebelum ia benar-benar keluar dari mobilnya. Aiden mematung untuk sesaat sampai ia mengerjabkan matanya untuk menyadarkan dirinya kembali.


Aiden menurunkan kaca mobilnya sehingga dapat melihat Della yang masih berdiri disamping mobilnya. Della menundukkan tubuhnya untuk menatap wajah tampan Aiden.


Aiden tersenyum kala melihat senyuman manis Della saat ini.


"Hati-hati di jalan sayang. Jangan sampai begadang. Kesehatan nomor one kerjaan nomor sekian oke," ucap Della.


"Siap laksanakan my queen. Ya udah gih masuk dulu sana," ucap Aiden. Della pun segera melangkahkan kakinya menuju pintu rumahnya. Saat ia sudah berada di depan pintu tersebut, Della memutar tubuhnya kembali menghadap ke mobil Aiden sembari melambaikan tangan. Aiden pun memberi klakson sebelum melajukkan mobilnya bukan untuk kembali ke kantor seperti yang ia katakan ke Della melainkan ia melajukan mobilnya ketempat lain.


💜💜💜💜💜


HAPPY READING GUYS 😘

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE and VOTE, hadiah juga boleh author ikhlas 🤭 dan author ucapkan terimakasih kepada kalian yang udah meninggal jejak untuk karya author 🤗 sayang kalian banyak-banyak 😚


Peluk cium dari author absurd untuk para reader setia cerita ini 🤗😘 See you next eps bye 👋


__ADS_2