My Bos CEO

My Bos CEO
106


__ADS_3

Aiden tengah gusar menunggu Dion yang tak kunjung datang. Airen yang sudah mulai mendingan pun juga khawatir dengan keadaan Della saat ini.


Tak berselang lama deruman beberapa mobil pun menghampiri mobil Aiden. Dion segera keluar dari mobilnya dan mengetuk kaca mobil Aiden. Aiden yang mengerti isyarat dari Dion pun turun dari mobilnya.


"Kenapa ini bisa terjadi?" Tanya Dion.


"Jangan tanya itu dulu. Nyawa Della sekarang lebih penting," ucap Aiden.


"Ya sudah kita mulai lagi pencariannya," tutur Dion final. Namun ketika Dion ingin kembali kedalam mobilnya tiba-tiba tubuhnya dipeluk erat oleh Airen yang membuat Dion menghentikan langkahnya.


Dion memutar tubuhnya menghadap kearah Airen yang tengah menangis.


"Lho kenapa kamu juga ada disini sayang?" Tanya Dion khawatir.


"Kamu gak kenapa-napa kan?" Sambung Dion sembari memutar tubuh Airen untuk memastikan sang kekasih tak terluka namun ia menggeram kesal ketika melihat lebam di tengkuk Airen. Berani-beraninya orang itu melukai tubuh Airen.


"Aku gak papa. Tapi Kak Della dia sekarang tengah dalam bahaya," ucap Airen bergetar.


"Tenang lah. Kita akan menemukan Della hari ini juga," ujar Dion menenangkan.


"Tapi kita harus mencarinya kemana? Kita saja kehilangan jejak."


Benar juga kata Airen mereka akan mencari kemana sedangkan mereka semua yang ada disana tak tau Della dibawa kearah mana. Mereka semua pun berfikir keras dan saat kesunyian melanda komplotan Aiden. Bodyguard yang tadi diperintahkan oleh Aiden menghampiri mereka semua.


Bodyguard tersebut menghadap Aiden yang sudah menatap mereka berdua dengan tatapan membunuh.


"Maaf bos kita layak untuk mendapatkan hukuman," ucap salah satu bodyguard tersebut.


"Jangan dulu ngasih hukuman ke mereka Aiden, sekarang bukan saatnya," peringatan Dion kepada Aiden. Aiden yang tadi hendak menghajar dua bodyguardnya pun mengurungkan niatnya.


"Arkh," teriak Aiden frustasi sembari menjambak rambutnya.


Ditengah ke frustasian orang-orang disana. Ponsel Airen berdering dan tanpa pikir panjang Airen menerima telepon dari sang Papa.


"Halo pa," ucap Airen.


πŸ“ž : "Kalian sekarang ada dimana? Papa dengar Della dalam bahaya?" tanya Papa Juan.


"Iya Pa. Kak Della diculik dan ini kita juga lagi cari keberadaan Kak Della Pa. Tapi gak tau mau cari dimana karena kita kehilangan jejak penculiknya," tutur Airen.


πŸ“ž : "Apa Aiden tak memasang kamera pengintai di tubuh Della? Atau semacam GPS tracker?"


"Enggak Pa. Makannya kita bingung mau cari dimana."


πŸ“ž : "Dasar Aiden bodoh. Untung Papa sempat pasang GPS tracker di ponsel Della. Huh sekarang Papa kasih lokasi Della saat ini. Kalian segeralah kesana. Papa nanti nyusul dengan Daddy," ucap Papa Juan dan sambungan ponsel pun akhirnya terputus. Tak lama ponsel Airen kembali berdering. Airen segera memeriksakan pesan dari Papa Juan.


"Aku tau Kak Della sekarang ada dimana," ucap Airen yang membuat Aiden berbinar dan ketika Aiden ingin bertanya, suara Airen menghentikannya.


"Jangan tanya dulu. Kita harus segera kesana," ucap Airen dan segera masuk ke mobil Aiden dan di ikuti yang lainnya yang juga ikut masuk kedalam mobil masing-masing.


Sedangkan di tempat lain Della sudah lemah disiksa oleh Cika tanpa ampun. Muka yang penuh dengan darah. Sayatan-sayatan yang ia terima memenuhi tubuh putihnya. Dan kini ia harus menerima cambukan menggunakan gesper yang sangat tebal membuat tubuh Della serasa mati rasa. Namun Della harus sekuat tenaga untuk membuat dirinya tetap tersadar walaupun matanya telah sayu.

__ADS_1


Cika menjongkokan tubuhnya didepan Della yang tengah terkapar di lantai dengan posisi tubuh masih terikat dengan kursi.


"Sakit ya. Hmmm kasihan. Tapi ini belum seberapa Della," ucap Cika dengan kejamnya.


Cika memerintahkan anak buahnya untuk membenarkan posisi Della hingga Della kembali dengan posisi duduknya.


Cika meminta satu buah pistol kepada anak buahnya dan dengan gesit pistol tersebut sudah berada ditangan Cika. Dengan senyum meremehkan Cika menodongkan pistol tersebut kedagu Della yang membuat wajah Della mendongak menatap Cika didepannya.


"Setelah lo lenyap dari dunia ini. Aku akan menggantikan posisi kamu sebagai nyonya muda Abhivandya," bisik Cika tepat di telinga Della.


"Cih jangan harap," ucap Della walaupun dengan suara lemahnya.


"Itu bukan harapan tapi bakal kenyataan," tutur Cika penuh percaya diri sembari menjambak rambut Della.


"Arkh," desis Della.


"Sudah cukup kita main-mainnya. Kini saatnya lo ngucapin selamat tinggal pada dunia dan juga suami lo. Gue akan kirim lo ke neraka nemenin anak lo yang sedari tadi nungguin lo." Cika menarik pelatuk pistol tersebut dan setelah itu ia mengarahkan ke kepala Della. Della memejamkan matanya. Jika benar hari ini adalah hari terakhir dia didunia maka Della akan meminta kepada Tuhan untuk menjaga Aiden dari wanita licik dan picik seperti Cika.


"Bye bye Della," ucap Cika. Della hanya terdiam tak menjawab ucapan Cika tersebut dan tak berselang lama suara tembakan pun terdengar namun Della tak merasakan sakit ditubuhnya. Ia membuka matanya dan betapa terkejutnya dia ketika melihat pistol yang Cika gunakan tadi malah jatuh kelantai.


"Shit. Siapa yang berani-beraninya mengecohkan rencana ku," teriak Cika geram.


Dan pada saat itu juga dobrakan pintu yang digunakan untuk mengurung Della akhirnya terbuka yang menampilkan Aiden, Dion, Airen beserta beberapa bodyguard di belakangnya.


"Astaga Della," ucap Aiden yang melihat tubuh Della penuh dengan darah. Della yang melihat keberadaan Aiden pun tersenyum.


"Aku yakin kamu pasti kesini," batin Della.


"Hay sayang. Lama gak jumpa. Aku rindu tau sama kamu dan ku kira kamu tadi akan mati karena kecelakaan mobil," ujar Cika tanpa mendekati tubuh Aiden. Airen membelalakkan matanya ketika mendengar penuturan dari Cika.


"Jadi tadi orang suruhan lo yang sabotase mobil Aiden?" Ucap Airen.


"Pintar sekali Adik ipar ku ini. Tapi sayang kamu menggagalkan rencanaku tadi dan aku harus repot-repot menculik Della kesini dan menyiksanya terlebih dahulu. Tapi tenang nyawa Della akan segera melayang dan akan segera menemui anak kalian di neraka. Kalian semua akan menjadi saksinya." Cika tersenyum licik dan kembali mengarahkan pistolnya kearah Della. Aiden meremas tangannya ia sekarang tau dalang dalam kecelakaan Della itu ternyata ulah Cika dan bangkai mobil yang Cika gunakan untuk mencelakai Della baru saja ditemukan di dasar jurang oleh polisi yang Aiden kerahkan untuk menyelidiki nomor plat mobil pelaku penabrakan Della. Dan dengan cekatan bodyguard yang dari kubu Aiden pun semua juga mengarahkan pistol kearah Cika beserta anak buahnya.


"Kita lihat sayang. Peluru bodyguard kamu yang akan sampai duluan ketubuh anak buah aku atau peluru yang berada di dalam pistolku ini yang akan lebih dulu bersarang ke kepala Della," ucap Cika. Ia sudah kembali menarik pelatuk pistolnya dan tanpa pikir panjang Cika melepas pelatuk tersebut dan tembakannya berhasil mengenai tubuh seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Dion yang sempat memanfaatkan situasi ketika Cika dan Aiden tengah berbincang hingga tak diketahui oleh Cika. Dion dengan sigap menarik kursi Della dan memberikan tubuhnya sebagai tameng karena jika ia memberi perlawanan waktunya tak akan cukup. Peluru pun akhirnya mengenai punggung sebelah kiri Dion yang membuat Dion berharap jika peluru tersebut tak menembus kejantungnya.


Pada saat itu pula para bodyguard Aiden melancarkan aksinya dengan mengintai musuh dan tanpa pandang bulu membunuh anak buah Cika. Cika yang melihat tak ada satu pun anak buahnya yang tersisa masih bisa tersenyum dengan tampang tanpa bersalahnya.


"Uh ada superhero dari mantan rupanya," ucap Cika sembari bertepuk tangan.


"Airen, Aiden apa kalian tau kalau sebenarnya mereka berdua orang yang kalian cintai dulunya adalah sepasang kekasih," sambung Cika.


"Maksud lo?" Tanya Airen.


"Owh ternyata kalian belum tau mengenai hubungan mereka berdua. Kalau mau tau sini dong mendekat dan akan aku kasih tau semuanya ke kamu nantinya adik ipar." Airen mengepalkan tangannya. Karena rasa keponya yang sudah mendarah daging, Airen akhirnya melangkahkan kakinya mendekati Cika.


"Jangan terkecoh Airen," ucap Aiden sembari mencekal tangan saudara kembarnya namun Airen malah mengabaikan ucapan Aiden dan menghentakkan tangan Aiden hingga terlepas dari lengannya.


"Dasar bodoh," batin Cika.


"Katakan!" Perintah Airen.

__ADS_1


"Lebih dekat kesini dong." Airen tambah mendekatkan dirinya hingga sekarang berhadapan dengan Cika dan tanpa pikir panjang Cika menyandera Airen dan kini Airen lah yang akan jadi tameng buat Cika jika Aiden akan mencelakainya.


Sedangkan Dion yang masih merasakan nyeri pun merasa geram dengan ulah Cika.


"Suruh anak buah kamu untuk meletakkan pistolnya atau kalau gak peluru yang tersisa di pistolku akan membuat nyawa Airen melayang," ancam Cika.


"Kenapa disaat yang seperti ini kamu masih saja bodoh Airen," batin Aiden. Aiden pun akhirnya memerintah bodyguardnya untuk meletakan senjata mereka.


"Kamu puas. Sekarang lepaskan Airen," tutur Aiden.


"Baik aku akan melepaskan Airen tapi akan aku beritahu dia apa yang Dion dan Della jalanin di masa lalu."


"Kamu tau adik ipar bahwa Kakak iparmu dan kekasihmu itu dulu saling jatuh cinta dan menjadi pasangan kekasih sampai beberapa tahun bahkan banyak yang mengira jika hubungan mereka akan terus awet dan pada saat mereka akan menikah ternyata Dion mengkhianati Della dengan menjual tubuh Della kepada salah satu bos terkaya di London," cerita Cika yang membuat Airen maupun Aiden terpaku.


"Jangan mengarang cerita jalang," teriak Aiden.


"Aku gak pernah mengarang cerita sayang. Kalau gak percaya kamu tanyakan saja ke istri kamu itu dan kamu Airen ucapkan selamat tinggal kepada saudaramu, Kakak iparmu dan kekasihmu. Sampai ketemu di neraka Airen," ucap Cika dan segera melepaskan pelukan pistol tersebut kearah Airen yang sudah siap menerima konsekuensinya. Dion yang melihat Airen diambang bahaya pun tak menghiraukan rasa sakitnya. Ia berusaha keras untuk meraih satu buah pistol yang berada di tangan anak buah Cika yang sudah tak bernyawa dan tanpa ragu, Dion membidik dan menembakkan peluru tersebut hingga berhasil melumpuhkan kaki Cika yang membuat peluru Cika melesat walaupun masih mengenai lengan Airen.


"Arkh sial," teriak Cika. Airen pun dengan memegangi lengannya berlari dibalik tubuh Aiden. Cika yang masih memegangi pistol pun menembakan lagi ke tubuh Dion hingga mengenai kepalanya.


"Dion!" Teriak Airen histeris. Aiden mengepalkan tangannya.


"Kau yang meminta ini semua Cika," geram Aiden. Ia sudah tak tahan lagi dengan semua yang diperbuat oleh Cika dan akhirnya dengan emosi yang memuncak Aiden membalas tembakan demi tebakan ketubuh Cika. Dan ini lah sifat gelap seorang Aiden William Abhivandya yang sudah lama tak ia perlihatkan, hingga saat ini Cika hadir dan mengganggu keluarga Aiden yang dengan sekuat tenaga, apapun caranya Aiden akan melindungi mereka. Prinsip seorang Aiden, jika orang tersebut telah mengusik ketenangannya bahkan melibatkan keluarganya maka dia sama saja telah menyerahkan nyawanya ke tangan Aiden.


"Tembakan pertama mengenai dada sebelah kanan kamu untuk membalas dendam dengan menyiksa Della hari ini," ucap Aiden sembari berjalan mendekati Cika.


DOR


"Tembakan kedua tepat diperut kamu karena kamu sudah menyiksa bayi yang ada dikandungan Della," tutur Aiden tambah garang. Kini dia sudah tepat di depan Cika.


Suara kembali terdengar dan tebakan yang ketiga tak nanggung-nanggung lagi peluru tersebut mengenai dada sebelah kiri Cika yang membuatnya terkapar tak berdaya dengan nafas tersengal-sengal.


"Tembakan didada kamu untuk membalas dendam anakku yang kamu renggut nyawanya dan."


DOR


Peluru terakhir mampu membuat nyawa Cika melayang ditangan Aiden.


"Tembakan terakhir ini untuk membalas dendam ku karena kamu sudah mengganggu keluargaku dan membuat Della sampai koma. Nikmatilah kehidupanmu dineraka," ucap Aiden dengan garangnya.


"Urus semua jenazah yang ada disini!" Perintah Aiden ke arah bodyguardnya. Dan jika ia harus bertanggung jawab ke kepolisian karena tindakan pembunuhan, Aiden akan menjawab jika tadi ia hanya melakukan upaya perlindungan diri dan sebelum itu pistol yang Aiden gunakan tadi sudah Aiden sabotase dengan sidik jari Cika.


Setelah bodyguard Aiden mengurus jenazah Cika. Aiden bergegas menghampiri ketiga orang yang selalu ia lindungi. Airen sudah menangis menatap tubuh pucat Dion. Dan Della sebelum menutup mata lelahnya ia sempat tersenyum kearah Aiden yang membuat Aiden tambah panik. Aiden segera melepaskan tali yang Cika gunakan untuk mengikat tubuh Della dengan pisau yang ia bawa dan dengan cepat Aiden membopong tubuh Della untuk dibawa ke rumah sakit terdekat dan dibelakangnya Dion dibantu bodyguard pribadinya beserta Airen yang juga dipapah menuju mobil.


...----------...


Cukup sekian pertunjukan actionnya πŸ˜‚ maaf kalau kurang greget karena author gak jago buat genre kayak giniπŸ˜‚


Dan kalian tau eps ini panjang banget huh harusnya bisa buat dua eps tapi ya sudah berhubungan author absurd ini baik hati dan gak mau kalian memikirkan cerita ini hingga terbawa mimpi (lebay banget author mah). Maka dari itu konflik mengenai Cika udah selesai. Ya iyalah orang Cikanya aja udah endπŸ˜‚ Tapi lebih tepatnya author nulis part ini khilaf sih, jadi gak ngeh kalau udah banyak 😌 Awas aja kalau kalian gak ninggalin jejak, vote dan hadiah author hih lho🀭 Dah lah author cerewet mulu.


Terimakasih yang sudah setia sama cerita author absurd ini. HAPPY READING GUYS and SEE YOU NEXT EPS BYE πŸ‘‹

__ADS_1


__ADS_2