My Bos CEO

My Bos CEO
130


__ADS_3

Seharian penuh keluarga Reiki dan Tania berkunjung dirumah Della dengan anak semata wayangnya yang berumur 3 tahun lebih dan anak itu sekaligus mengingatkan Aiden maupun Della dengan sosok Aila yang mungkin jika dia masih berada di dunia umurnya tak akan jauh dari umur Farel saat ini.


"Sayang," ucap Della disamping Aiden yang tengah memperhatikan setiap gerak gerik Farel di depannya sedangkan kedua orangtua kandungnya malah mengungsi ke taman belakang rumah untuk berpacaran.


Aiden mengalihkan pandangannya sehingga dirinya saat ini menatap wajah Della.


"Kenapa hmmm?" Tanya Aiden sembari mengelus pipi mulus Della.


"Aku tiba-tiba rindu sama Aila," ucap Della jujur. Aiden menghela nafas. Ia tau bagaimana perasaan Della saat ini.


"Mungkin kalau dia masih ada umurnya sama ya sama Farel saat ini dan paling dia juga udah pinter ngoceh," sambungnya.


"Mungkin sayang. Tapi kamu harus ingat kalau semua yang kita punya di dunia ini hanya titipan dan kapanpun Allah akan mengambilnya dari kita maka tugas kita hanya mengikhlaskannya saja. Dan yakinlah Aila saat ini tengah bahagia di surga," ucap Aiden diakhiri dengan kecupan di puncak kepala Della.


"Gak boleh sedih lagi. Udah jangan nangis lagi kalau kamu nangis, baby yang ada diperut kamu itu juga akan bersedih," sambung Aiden sembari mengelus perut Della dan direspon dengan tendangan oleh babynya.


"Tuh kan baby kita aja setuju."


"Iya Mommy cekalang gak boleh cedih lagi," ucap Aiden dengan menirukan suara anak kecil yang berhasil membuat Della menarik ujung bibirnya membuat sebuah senyuman manis.


"Haish kamu itu ada-ada aja sih sayang," ucap Della sembari memukul pelan lengan Aiden.


"Jangan nangis lagi oke." Della menganggukkan kepalanya setuju.


Mereka berdua terus bermain dengan Farel di kamar Aila hingga sore hari tiba. Dan pada saat itu mereka berdua harus berpisah dengan anak menggemaskan itu.


"Kenapa kamu harus pulang sih Farel?. Kan Ante masih mau main sama Farel," tutur Della sedih.


Farel yang ditanya pun langsung menghadap kearah sang Mama seolah dia meminta persetujuan darinya.


"No sayang. Kapan-kapan lagi kita kerumah Ante dan kamu boleh main sepuasnya," tutur Tania.


"Maaf Ante. Arel halus pulang. Arel esok kecini agi cama Mama, Papa." Della mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Farel yang masih cadel.


"Ya udah deh. Tapi janji ya besok main kesini lagi," ucap Della sembari mengarahkan jari kelingkingnya kearah Farel dan disambut dengan cepat olehnya.

__ADS_1


"Janji Ante," ucap Farel dengan imut.


Setelah berjanji, Della mengusap rambut hitam legam milik Farel dan setelahnya kedua orangtua Farel berpamitan untuk undur diri.


"Aku pulang dulu sayang," pamit Tania sembari memeluk tubuh Della.


"Hati-hati dijalan." Pelukan mereka pun terlepas.


"Kita pulang dulu bro," ucap Reiki kepada Aiden.


"Hati-hati gak usah pakai emosi kalau nyetir mobil. Ingat ada anak sama istrimu," tutur Aiden yang sudah hafal dengan Reiki.


"Tenang kalau sama nyonya besar gak berani ngebut," ucap Reiki dan disambut gelak tawa oleh Aiden dan Della.


Setelah cukup berpamitan keluarga Reiki pun perlahan menjauh dari hadapan Aiden dan Della sampai masuk kedalam mobil mereka. Sebelum mobil itu melaju Reiki menyempatkan diri untuk membunyikan klakson mobilnya dan mendapat anggukan oleh dua pasangan sultan tersebut sembari melambaikan tangannya.


Dan saat mobil Reiki sudah menghilangkan tiba-tiba Aiden mengangkat paksa tubuh Della yang membuat sang istri terkejut.


"Astaga. Kalau mau gendong tuh ngomong ih," gerutu Della.


Namun baru saja di pertengahan anak tangga Aiden sudah menarik nafas dalam. Bahkan nafasnya sudah semakin menipis.


"Masih kuat kan?" tanya Della.


"Suamimu ini pria terkuat kalau kamu mau tau. Buktinya aja aku bisa buat kamu punya perut besar dua kali," ucap Aiden. Della mencebikkan bibirnya. Mana ada begituan dan masalah angkat mengangkat disamakan.


Aiden terus menapakkan kaki hingga akhirnya sampai di tangga paling atas.


"Udah sampai sini aja!" perintah Della tak tega melihat raut wajah Aiden yang sudah mulai memerah.


"Jangan bawel. Kamu cukup diam dan jangan bawel." Della mendengus sebal. Setelah itu ia menuruti ucapan Aiden. Kita lihat saja sampai mana Aiden berhasil menggendongnya.


"Berat juga badan Della," keluh Aiden didalam hati. Dia pun tetap memaksakan diri untuk terus melangkah hingga sampai di depan pintu kamar mereka berdua.


Aiden dengan perlahan menurunkan tubuh Della dan saat tubuh Della turun dengan sempurna, Aiden langsung meregangkan otot-otot tubuhnya. Hal itu tak sengaja tertangkap mata Della dan membuat sang istri menahan tawanya.

__ADS_1


"Apa aku berat sayang?" tanya Della menjebak. Aiden menghentikan aktivitasnya dan bersikap cool kembali.


"Enggak lah. Berat badan kamu tuh masih sama kayak dulu saat aku pertama kali menggendong kamu," ucap Aiden.


"Benarkah?" Aiden mengangguk dengan cepat.


"Uhhh terimakasih sayang. Sini cium dulu," ucap Della. Aiden dengan antusias sedikit membungkukkan badannya.


Namun saat Della ingin mencium pipi Aiden malah Aiden dengan sengaja menolehkan kepalanya hingga kecupan yang seharusnya mendarat di pipi kini beralih di bibir Aiden. Dan saat Della ingin menarik bibirnya, Aiden lebih dulu menahan tengkuk Della hingga menuntut ciuman lebih dalam lagi.


Ciuman pun semakin lama semakin dalam hingga mereka tak sadar jika ada art yang tak sengaja melihat adegan mereka secara live dan memilih untuk turun lagi ke lantai bawah.


Della memukul dada bidang Aiden ketika pasokan oksigen disekitarnya habis dan pada saat itu juga Aiden langsung melepas bibirnya dari bibir Della. Sehingga Della bisa menghirup oksigen sebanyak mungkin.


"Masih manis kayak biasanya," ucap Aiden sembari membersihkan sisa salivanya yang berada disekitar bibir Della.


"Manis sih manis tapi ya harus pakai celah juga dong. Kebiasaan banget bikin orang engap," gerutu Della yang membuat Aiden tertawa kecil.


"Tapi kamu juga menikmati kan?" Della memutar bola matanya malas.


"Ck. Dahlah jangan dibahas," ucap Della malu dan segera masuk kedalam kamar disusul dengan Aiden dibelakangnya.


"Kamu yang mandi dulu atau aku?" tanya Della. Aiden pun mendekati dirinya dan memeluk tubuh Della dari belakang.


"Mandi berdua aja gimana?" bisik Aiden.


"Kalau mandi berdua yang ada nantinya gak jadi mandi malah ngelakuin hal-hal yang kamu sukai," tutur Della.


Aiden berdecak saat pikirannya mampu ditebak oleh Della.


"Mandi sana gih. Habis itu baru aku!" perintah Della. Aiden menggelengkan kepalanya dan malah menciumi pipi Della membabi buta.


"Ish sayang. Jangan gitu ih, aku belum mandi lho. Nanti aja kalau udah mandi." Aiden tersenyum kala mendengar ucapan Della yang akan membuatnya menang banyak.


Aiden melepaskan pelukannya dan mengambil handuk kimono dari tangan Della. Tapi sebelum dirinya pergi ke kamar mandi, Aiden masih sempat mencuri kecupan singkat di bibir Della. Setelah itu ia baru berlari menuju kamar mandi dan menguncinya.

__ADS_1


"Haish dasar kebiasaan. Tapi kebiasaan yang bikin candu," gumam Della pelan sembari tersenyum malu.


__ADS_2