
Miko yang baru sadar dengan tatapan Aiden pun nyengir kuda.
"Canda bang canda. Gitu aja udah ngeluarin aura iblis apalagi kalau benar aku pegang perut Kakak ipar," ucap Miko tapi tanpa menyingkirkan tangannya dari perut Della.
Aiden yang mendengar perkataan Miko tak membuat dirinya mengalihkan pandangan mata tajamnya kearah sang adik sepupu.
Miko sudah bodoamat dengan tatapan Aiden. Ia lebih memilih untuk bercakap-cakap dengan baby yang berada dikandungan Della dan sang calon Mommy pun membiarkan Miko untuk bercengkrama.
"Hay baby. Kenalin aku adalah samchon kamu. Sehat-sehat didalam perut Mommy Della ya keponakan samchon. Jangan nyusahin Mommy kamu. Tapi kalau nyusahin Daddy kamu lebih baik jangan berhenti. Teruskan saja jangan kasih kendor," tutur Miko yang membuat Aiden memelototkan matanya tambah lebar lagi. Dan pada saat perkataan terakhir Miko, sang baby bergerak seperti memberikan jawaban setuju dari ucapan Miko.
"Wah lihatlah babynya setuju sama aku. Emang ya keponakan samchon the best. Lanjutkan sayang," sambung Miko yang langsung mendapat geplakan dari Aiden yang mendarat tepat di kepalanya.
"AW sakit ogep," umpat Miko sembari memegang kepalanya.
"Rasain. Siapa suruh ngajarin anakku yang gak bener walaupun belum lahir. Lancang sekali kau pak dokter," ucap Aiden.
Della dan dokter Alisa yang melihat kembali suasana ribut di depan mata pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Jangan ribut lagi kalian berdua bisa gak sih. Setiap ketemu kerjaannya bertengkar gak ada habisnya. Huh untung telinga aku ini buatan Allah kalau buatan manusia pasti udah rusak gara-gara denger suara ribut lagi, lagi dan lagi dari mulut kalian berdua," protes Della yang sudah merasa jengah dengan tingkah laku kekanak-kanakan dua pria dewasa tersebut.
"Kamu sayang. Apa gak malu sama dokter lain yang denger keributan yang kamu hasilkan. Apalagi kamu tuh yang punya rumah sakit ini. Setidaknya kasih contoh kemereka hal yang positif bukan negatif. Dan ini tuh dirumah sakit yang notabenenya butuh ketenangan bukan keributan," tutur Della.
"Tuh dengerin," timpal Miko.
"Dan kamu juga Miko. Yang aku ucapin tadi itu berlaku juga buat kamu bukan hanya Aiden aja. Kamu tuh sama aja tangan kanannya Aiden untuk ngurus rumah sakit ini. Dan kamu juga wajib ngasih contoh yang bagus dong dengan dokter lainnya dan juga suster-suster disini. Jangan mentang-mentang kalian berdua punya jabatan disini jadi seenak udel kalian ngelakuin apa aja yang kalian mau. Dan Miko apa kamu gak malu dilihat dokter Alisa setiap kali kamu berantem kayak anak kecil seperti tadi?" Miko memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Kenapa harus malu? Kan aku cuma mencari pembelaan diri supaya tak di bully," jawab Miko.
"Hah terserah kalian lah. Tapi kalau mau ribut mending di lapangan sepakbola atau kalau gak di area parkir sana," usir Della.
Aiden menggeleng dengan cepat. Setelah itu ia duduk disebelah Della dengan memegang erat tangan istrinya.
"Ngapain duduk? Kan aku tadi udah bilang buat ngelanjutin berantemnya."
"Gak. Udah selesai berantemnya," tutur Aiden.
"Kenapa udah selesai sih? Harusnya dilanjutkan aja!" Sindir Della.
"Ck. Udah lah sayang jangan dibahas lagi," ucap Aiden. Della mencebikkan bibirnya menanggapi ucapan Aiden.
"Bibirnya biasa aja sayang jangan kayak gitu nanti kalau aku lepas kendali bibir kamu itu bakal aku habisin," bisik Aiden yang membuat rona merah di pipi Della menyembul keluar. Dan untuk menghilangkan rasa malunya Della mencubit kuat lengan Aiden.
Della mengikuti arah pandang dokter Alisa dan saat ia mengetahui kemana pandangan itu jatuh, Della tersenyum.
"Owh ternyata begitu," batin Della yang masih senyum-senyum sendiri dan membuat Aiden memicingkan mata.
"Kenapa senyum-senyum sendiri sih sayang? Lagi ngebayangin apa yang aku katakan tadi?" Tanya Aiden. Della yang tadinya tersenyum kini berubah ekspresi ketika mendengar ucapan Aiden.
"Haish itu mah pikiran kamu bukan aku."
"Lha terus kamu senyum-senyum kenapa? Lagi mikirin siapa ngaku!" Ucap Aiden yang sudah memberi peringatan siaga 1.
__ADS_1
"Ck pikiran kamu tuh ya sayang negatif mulu," geram Della. Ingin rasanya saat ini juga Aiden ia tukar dengan sapi yang nantinya bakal ia jual. Lumayan kan dapat uang jutaan.
"Coba kamu lihat dokter Alisa. Arah pandangan dia kemana?" Aiden menuruti ucapan Della. Ia menatap dokter Alisa yang masih dalam posisi seperti saat Della melihatnya. Aiden ikut menelusuri pandangan dokter Alisa saat ini.
"Owh ternyata," ucap Aiden pelan.
"Udah lihat kan?"
"Udah. Aku rasa dokter Alisa suka sama Miko." Miko yang mendengar kata terakhir Aiden pun menyimpan ponselnya kembali kedalam saku celananya. Setelah itu ia mendekati Della dan Aiden yang masih saling bergosip di depan orangnya langsung. Bahkan suara mereka cukup pelan lebih tepatnya berbisik satu sama lain. Miko yang sudah berada di belakang mereka pun ikut nimbrung.
"Ehem. Ikut gosip dong," bisik Miko ditengah-tengah Aiden dan Della.
"Astaga. Ngagetin aja sih jadi orang. Awas aja kalau anakku sawan gara-gara kamu," tutur Aiden akan memulai kembali keributan mereka. Namun untungnya Della lebih dulu memisah mereka.
"Jangan mulai lagi kalau masih mau disini," tutur Della tegas. Aiden dan Miko sama-sama angkat tangan dengan kompak.
"Kunci mulut kalian. Jangan ada yang bersuara," sambungnya. Mereka menganggukkan kepalanya setuju. Setelah memastikan kedua pria tadi sudah tenang Della tersenyum.
"Nah gini kan adem," ucap Della sembari memberikan kedua jempolnya ke Aiden dan Miko.
Dokter Alisa yang sudah sadar kembali di dunia nyata pun hanya bisa tersenyum tanpa ingin ikut campur dan masuk kedalam candaan mereka. Ia sadar jika ingin bercanda kepada mereka bertiga yang statusnya jauh diatasnya bukanlah hal yang wajar, apalagi Aiden dan Miko adalah atasannya saat ini.
Della mengalihkan pandangannya kembali kearah dokter Alisa sembari tersenyum.
"Maaf ya dokter cantik. Kalau ngomongin mereka gak pakai otot tuh gak akan mempan cuma terbuang sia-sia," tutur Della.
__ADS_1
"Tak apa Kak dan tak perlu minta maaf."
"Baiklah. Tapi aku berpesan sama kamu. Kalau kamu nanti ketemu sama dua orang ini jalan berdua atau lagi di sini berdua dan sedang bertengkar. Pisahin aja. Gak perlu takut tapi aku ingatkan sekali lagi, bicaranya harus pakai otot dan tenaga dalam." Dokter Alisa yang mendapat petuah dari Della pun tersenyum malu sembari mengangguk.