My Bos CEO

My Bos CEO
48


__ADS_3

Malam ini mereka berdua tengah bersiap untuk pergi ke undangan rekan bisnis Aiden. Seperti yang Aiden katakan sebelumnya kalau ia akan berangkat pukul 9 malam dan sekarang baru pukul 8 masih satu jam lagi untuk bersantai dan menikmati cemilannya.


Sedangkan Della, ia sudah ribet dengan atribut yang akan ia kenakan nanti mulai dari baju yang sebenarnya sudah Aiden siapkan, sepatu yang harus ia cocokan dengan gaun yang akan ia pakai, tas yang harus sesuai yang ia inginkan dan masih banyak printilan yang ia siapkan.


"Pak Aiden," teriak Della dari dalam kamarnya. Aiden menghentikan tangannya ketika hendak memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Ia beranjak mendekati kamar Della. Setelah sampai ia membuka pintu sedikit dan memunculkan kepalanya tanpa memperlihatkan tubuhnya.


"Kenapa?" tanya Aiden.


"Sini dulu." Della melambaikan tangannya, memberi isyarat kepada Aiden untuk mendekati dirinya yang tengah terduduk di karpet berbulu yang di sekelilingnya sudah banyak sekali tas dan sepatu yang berjejer rapi.


Dengan enggan Aiden masuk kedalam kamar Della dan mendudukan tubuhnya di kasur.


"Menurut bapak, dari ini semua mana yang pas dengan gaun yang bapak tadi berikan ke saya?" tanya Della antusias.


"Bukannya tadi kamu sudah milih sepatunya Del?" tanya Aiden heran.


"Hehehe tadi itu kurang pas pak. Warnanya agak mencolok dari pada gaunnya," ucap Della dengan cengiran andalannya.


Aiden mengusap wajahnya pelan.


"Astaga, gini amat sih jadi cewek. Ribet banget," gerutu Aiden yang masih bisa di dengar Della. Della berdiri dari duduknya dan menghampiri Aiden yang masih setia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Della menggeplak keras bahu Aiden walaupun ia yakin Aiden tak akan merasakan sakit sedikit pun.


"Saya denger bapak," ucap Della sembari menampilkan wajah garangnya. Namun itu justru membuat Aiden tambah gemas bukannya takut.


"Hmmm iya iya. Jadi kamu mau pakai yang mana?" tanya Aiden kembali.


"Gak tau pak saya bingung ini. Makanya saya tanya pendapat bapak bagusan yang mana," ucap Della berbinar. Aiden berdiri dari duduknya dan menghampiri beberapa sepatu yang sekarang berada di hadapannya.


"Yang ini aja," tunjuk Aiden ke salah satu sepatu berwarna biru langit di hadapannya.


"Ya kali Pak gaunnya kan warnanya merah masak sepatunya warna biru. Jadinya tubrukan dong." Aiden memutar tubuhnya menghadap Della.


"Lah bukannya tadi kamu udah milih gaun warnanya biru langit kenapa ganti lagi?" tanya Aiden.

__ADS_1


"Yang tadi itu terlalu ribet Pak," ucap Della dengan cengengesan. Aiden memutar bola matanya malas.


"Sebenarnya gaunnya itu gak ribet tapi kamunya yang terlalu ini itu," tutur Aiden sembari berjalan keluar dari kamar Della.


"Bapak mau kemana?" tanya Della membuat langkah Aiden terhenti.


"Mau siap-siap udah jam delapan lebih dua puluh menit," jawab Aiden.


"Tapi kan bapak belum ngasih saran sepatu yang mau saya pakai."


"Pilih sendiri dan kita akan berangkat 20 menit lagi, jangan sampai ngaret. Paham," ucap Aiden sebelum benar-benar keluar dari kamar Della.


"Ya kali 20 menit lagi berangkat. Sedangkan gue aja belum ngapa-ngapain ish gimana dong ah elah," gerutu Della frustasi.


Tepat pukul 08:40 waktu London. Aiden sudah rapi dengan stelan jas berwarna hitam di padu padankan dengan kemeja putih di dalamnya serta tak ketinggalan dasi yang melingkar di lehernya namun belum di pakai sama sekali.


Aiden duduk sembari menunggu Della yang entah kapan muncul dari kamarnya. Ia terus menunggu dengan sabar dengan sesekali memainkan game di ponselnya. Hingga suara sepatu high heels mendekat kearah Aiden yang membuat dirinya menghentikan gamenya dan menatap kagum wanita cantik dihadapannya.


"Cantik," gumam Aiden lirih sembari menatap Della tanpa berniat mengedipkan matanya. Sedangkan Della yang di tatap seperti itu nampak salting dan semburat semu merah terpancar di pipinya.


Aiden mengerjabkan matanya berkali-kali dan berdiri dari duduknya.


"Ya udah ayo kita berangkat sekarang." Aiden menggenggam tangan Della dan membawanya keluar dari apartemen.


Kini mereka telah sampai di salah satu hotel ternama yang merupakan tempat diadakan pesta tersebut. Aiden memarkirkan mobilnya, setelah itu ia keluar dari mobilnya dan dengan segera ia menghampiri pintu di sebelah Della. Membukakan pintu tersebut.


"Terimakasih," ucap Della lembut dan segera turun dari mobilnya.


Aiden menutup pintu mobilnya kembali dan ia segera mensejajarkan dirinya disamping Della. Aiden menyenggol lengan Della memberi isyarat agar Della melingkar tangannya di lengan kekar Aiden. Namun yang di beri isyarat tak mengerti apa maksud dari Aiden tersebut ia hanya memincingkan kedua alisnya.


"Gandeng Della," ucap Aiden sembari mengambil tangan Della untuk ia lingkarankan ke lengannya.


"Eh tapi Pak."


"Jangan protes," ucap Aiden yang mampu membungkam mulut Della sementara.

__ADS_1


Mereka segera memasuki pesta tersebut. Banyak pasang mata yang menatap kagum dengan keduanya terlebih para pria yang secara terang terangan menatap Della. Aiden yang merasa bahwa Della lah yang menjadi objek tatapan para pria disana mendengus sebal.


"Pengen gue colok tuh mata," geram Aiden.


"Bapak ngomong apa saya gak denger?" tanya Della berbisik.


"Bukan apa-apa," ucap Aiden cuek.


Mereka terus berjalan hingga sampai di salah satu pria yang merupakan penyelenggara pesta tersebut.


"Hay bro," ucap pria tersebut yang diketahui bernama Gimi.


"Wah dengan siapa ini, cantik banget kenalin dong," ucap Gimi dengan bahasa Indonesianya walaupun sedikit belibet.


"Kenalin calon istri saya," tutur Aiden mantap sembari mengelus telapak tangan Della. Della tampak kaget dengan ucapan Aiden tadi. Berani sekali dia memperkenalkan Della sebagai calon istrinya kepada rekan bisnisnya. Astaga Della hari ini benar benar di buat jantungan oleh Aiden.


"Yah, kirain belum ada yang punya," ucap Gimi yang di buat sedramatis mungkin.


"Sadar, kamu sudah punya istri dan anak. Jangan sakiti mereka dengan tingkah konyol kamu ini," ucap Aiden tegas dan membuat Gimi menggaruk tengkuk kepalanya.


"Saya cuma bercanda, ya kali saya mengkhianati istri saya begitu saja sedangkan saya dulu bela-belain nyamperin dia dari sini ke Indonesia buat yakinin dia dan orang tuannya," ucap Gimi yang malah curhat tentang pengorbanannya.


"Oh ya istri kamu kemana?" tanya Aiden yang sedari tadi tak melihat sosok istri Gimi yang kebetulan dulu sahabat Aiden saat kuliah.


"Dikamar hotel yang sudah aku pesan, dia lagi menidurkan anak saya." Aiden hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ya udah aku tinggal dulu nyapa yang lainnya, kalian nikmatin aja pestanya," ucap Gimi dan berlalu pergi dihadapan mereka berdua.


"Cari tempat duduk yok Pak. Pegel saya berdiri terus," keluh Della yang mendapat persetujuan dari Aiden. Mereka segera mencari tempat duduk yang masih kosong dan segera mengistirahatkan kaki mereka.


💜💜💜💜💜


HAPPY READING GUYS 😘


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE and VOTE, hadiah juga boleh author ikhlas 🤭 karena dengan itu semua kalian sama saja telah meningkatkan kehaluan author 😂

__ADS_1


Peluk cium dari author absurd 🤗😘 See you next eps bye 👋


__ADS_2