
Setelah selesai memeriksa kandungannya dan mengetahui usia kandungannya yang masih 5 minggu dan dengan kondisi yang sehat, Della akhirnya bisa bernafas lega begitu juga dengan Aiden. Aiden terus menggenggam tangan Della keluar dari ruang periksa dan menghampiri Miko yang terbengong dengan pikirannya sendiri.
Dengan jahilnya Aiden mengebrak meja Miko yang membuat Miko terperanjat kaget.
"Sialan," umpat Miko sedangkan Aiden tertawa tanpa dosa.
"Ngalamun mulu tar kesambet baru tau rasa. Apa ngalamun gara-gara meresapi perkataan gue tadi yang masalah karma?" Goda Aiden.
"Gak ada. Gue gak ada niatan mikirin apa yang lo bilang, buang-buang waktu gue," ucap Miko. Aiden mengedikan bahunya dan menghampiri Della yang tengah mengobrol dengan dokter Alisa.
"Sayang kita pulang yuk," tutur Aiden sembari merangkul pinggang Della.
"Dokter Alisa terimakasih atas waktunya dan untuk seterusnya istri saya akan selalu periksa rutin dengan dokter. Bisa kan?" Ucap Aiden.
Dokter Alisa pun tersenyum dan mengangguk kepalanya.
"Baik tuan dan terimakasih atas kepercayaan yang anda dan kak Della berikan kepada saya," tutur dokter Alisa.
"Ya udah kita pamit dulu ya dokter cantik. Semangat kerjanya dan kalau Miko mulai terpikat sama kamu lapor aja ke kita," ucap Della sembari melirik Miko yang sudah memelototkan matanya sedangkan dokter Alisa hanya bisa tersipu malu.
"Pulang sana kalian berdua," usir Miko dan tak mendapat respon dari pasutri tersebut.
"Sampai ketemu bulan depan calon adik ipar," ucap Della dan Aiden berbarengan. Mereka berdua pun akhirnya meninggalkan rumah sakit tersebut.
__ADS_1
Di dalam perjalanan Aiden banyak berucap masalah kandungan dan memperingatkan Della untuk terus menjaga kandungnya dan Aiden berniat untuk mencari art.
"Pokoknya kamu gak boleh kecapekan dan aku harus mencari art buat bersihin rumah. Ini udah keputusanku dan gak boleh diganggu gugatan oleh siapapun termasuk kamu," ucap Aiden.
"Terserah kamu lah," tutur Della pasrah.
Mobil Aiden terus berjalan hingga mobil itu sampai di pekarangan rumah mewah mereka berdua. Aiden melirik Della yang ternyata sudah terlelap dalam tidurnya. Aiden berjalan menuju pintu mobil disamping Della dan membukanya. Dengan perlahan Aiden membopong tubuh Della, membawanya masuk kedalam rumah.
"Ya ampun kamu tambah berat badan berapa kilo sih sayang. Kenapa sekarang tambah berat aja," ucap Aiden sembari menaiki anak tangga satu persatu hingga akhirnya ia berhasil sampai di tangga terakhir dan dengan pelan tapi pasti Aiden melangkahkan kakinya menuju kamar. Setelah perjuangan yang sungguh berat, Aiden sampai didalam kamar mereka berdua dan Aiden segera meletakan tubuh Della perlahan.
Aiden mendudukkan tubuhnya disamping Della. Menatap wajah damai istrinya. Aiden mengelus pipi Della yang semakin mengembang.
"Entahlah aku harus berterimakasih dengan cara bagaimana lagi sama Allah yang udah mengirimkan sosok bidadari seperti kamu didalam hidupku dan sebentar lagi akan ada malaikat kecil yang akan melengkapi keluarga kita. Sebegitu baiknya sang maha pencipta kepadaku dan jika aku menyia-nyiakan bidadari secantik dan sebaik kamu sungguh aku sangat lah orang yang kurang bersyukur dan tak tau malu. Tapi sebisa dan sekuat tenaga walaupun nyawa taruhannya akan aku lakukan demi melindungi kamu dan anak-anak kita kelak. Terimakasih sayang sudah mau menerima suamimu ini yang masih banyak kekurangan dan dengan senang hati kamu melengkapi kekurangan itu hingga menjadi sempurna. Terimakasih My Queen," ucap Aiden dan diakhiri dengan mengecup dahi Della. Kini Aiden berpindah mengelus perut Della.
Paginya Della baru bangun ketika sang mentari sudah memancarkan sinarnya. Ia menyipitkan matanya karena sinar matahari menusuk matanya melalui jendela kamar yang sudah terbuka. Della melihat kesampingnya ternyata Aiden sudah tak ada di sana.
"Jam berapa ini?" Gerutu Della dan melihat jam di dinding kamar tersebut yang ternyata jarum jam tersebut sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Della dengan refleks memelototkan matanya.
"Ya ampun kenapa bisa bangun jam segini sih. Aiden pasti udah berangkat kerja. Arkh kasihan dia gak sarapan dong tadi," gerutu Della menyesal. Ia pun memutuskan untuk membersihkan tubuhnya dan ia akan memasak dan menyusul Aiden kekantor nanti untuk memberikan sarapan kepada suaminya.
Namun ketika ia ingin beranjak dari kasur matanya menatap piring di atas nakas tak jauh darinya. Della pun mendekati nakas tersebut. Ia tersenyum ketika melihat piring tersebut berisi nasi goreng dan satu gelas susu hamil yang kemarin mereka beli, tak lupa juga beberapa vitamin yang dokter Alisa kemarin berikan kepadanya. Di sampingnya terdapat secarik surat.
Della mengambil surat tersebut dan membacanya.
__ADS_1
"Pagi sayang. Jangan lupa sarapan, minum susu dan minum vitaminnya ya. Btw nasi goreng itu aku yang buat sendiri lho, susunya pun juga aku yang buat. Jangan khawatir karena aku udah sarapan tadi. Oh ya nanti akan ada art yang datang dan akan bantu keperluan kamu nantinya. Jangan capek-capek sayang. Istirahat yang cukup, segala cemilan dan buah-buahan udah aku beliin. Kalau mau apa-apa bilang, sebisa mungkin akan aku turutin. I Love you my queen." Bunyi surat dari Aiden yang membuat Della tersenyum bahagia.
"Sweet juga suami gue," ucap Della. Ia pun segera menatap kembali piring yang berisi nasi goreng tersebut dan dengan mantap Della menyendok nasi goreng tersebut dan merasakan masakan Aiden pertama kalinya.
"Lumayan," ucap Della menilai masakan Aiden.
Della terus memakan sarapannya setelah itu ia meminum susu dan vitamin yang juga sudah disiapkan oleh Aiden. Setelah itu Della bergegas untuk membersihkan dirinya. Dan tak butuh waktu lama Della sudah siap dengan daster yang melekat pada tubuhnya. Sangat sederhana bahkan jika ada orang yang tak tau kalau ia kaya raya pun akan menganggap dirinya orang biasa saja karena Della sangat suka dengan kesederhanaan walaupun dikelilingi dengan harta yang melimpah.
Della keluar dari kamarnya menuju dapur. Ia tak heran lagi kalau dapur sekarang sudah seperti kapal pecah, ia yakin ini ulah sang suami untuk membuatkan sarapan pagi untuknya. Della tak akan marah kali ini karena tindakan Aiden tadi membuat mood paginya meningkatkan. Della dengan senang hati membersihkan dapur tersebut hingga bersih seperti semula.
Disaat Della baru selesai dengan urusan dapur. Mulai dari membersihkan kekacauan yang dibuat Aiden hingga memasak untuk makan siang nanti. Bunyi bel rumahnya berbunyi. Dengan sigap Della pun membukakan pintu tersebut dan betapa terkejutnya dia saat melihat 20 orang wanita tengah berdiri didepannya dengan tersenyum. Della yang nampak bingung pun akhirnya membalas senyuman 20 wanita didepannya.
"Maaf cari siapa ya?" Tanya Della.
"Kenalin nyonya kami yang sudah diutus tuan Aiden untuk mengurusi rumah ini dan membantu nyonya dirumah," ucap salah satu wanita paruh baya yang mungkin seumuran Mommy Geva atau Mama Yoona.
"Semua?" Tanya Della masih tak percaya.
"Iya nyonya," jawab wanita itu lagi.
Della memijat pangkal hidungnya, tak habis pikir dengan Aiden yang memperkerjakan 20 art untuk membantunya padahal satu saja sudah cukup bagi Della. Della membukakan pintu lebar dan menyuruh semua art tersebut masuk. Setelah memastikan semuanya masuk Della menutup kembali pintu tersebut.
"Bentar ya saya keatas dulu. Kalian silahkan duduk," ucap Della dan ia segera bergegas menuju lantai atas untuk menghubungi Aiden.
__ADS_1