
"Pak buruan," teriak Della yang sudah rapi dengan baju santainya. Mereka saat ini akan berangkat menuju salah satu boutique di negara itu.
"Kamu tau gak kunci mobil saya letakan dimana?" tanya Aiden setelah sampai di depan Della. Della mengernyitkan alisnya.
"Lah kan selama ini mobil selalu dipakai bapak bukan saya. Saya mana tau kunci dimana," tutur Della heran.
"Ck saya lupa naruhnya dimana Della," geram Aiden.
"Bapak udah cari dimana aja?" tanya Della. Nampak Aiden berpikir sejenak.
"Kayaknya udah di setiap sudut ruangan apartemen ini sudah saya geledah Del dan hasilnya tetap gak ada tuh kunci."
"Masak sih Pak? Bapak udah cari di laci-laci belum?" tanya Della tak percaya.
"Udah Della," tutur Aiden yang sudah mulai frustasi.
"Hmmmm gini aja deh Pak, kita cari lagi bareng bareng siapa tau nyempil di suatu tempat." Aiden menjawab dengan anggukan kepala.
"Ya udah kita mulai cari di kamar bapak dulu kalau nanti gak ketemu baru di ruangan lain." Della berjalan dulu memasuki kamar Aiden dan mulai mencari di setiap inci ruangan tersebut.
Sedangkan Aiden ia sudah pasrah dan memilih duduk di atas kasur sembari memperlihatkan gerak gerik Della yang tampak serius itu.
Tak berselang lama Della mendekati Aiden yang tengah enak enaknya duduk sembari memainkan ponselnya.
"Bapak tadi yakin udah cari di seluruh ruangan ini?" tanya Della yang sudah berdiri di depan Aiden yang masih saja menghiraukan dirinya. Aiden hanya menjawab dengan anggukan singkat yang membuat Della mendengus kesal.
"Terus ini apa?" Della mengajukan tangannya yang tengah menggenggam kunci mobil yang baru saja ia temukan di salah satu laci. Aiden mendongakkan kepalanya menatap tangan Della.
"Kamu dapat ini dari mana?" tanya Aiden yang sudah membangkitkan tubuhnya ikut berdiri berhadapan dengan Della.
"Di laci nakas tuh," ucap Della sembari menunjuk nakas yang terdapat di salah satu sisi kasur Aiden. Aiden mengikuti arah jari telunjuk Della.
"Tadi saya udah cari disana tapi gak ada tuh," ucap Aiden.
"Ck bapak tadi kayaknya carinya pakai mata kaki jadinya gak kelihatan," tutur Della sembari melangkah kakinya keluar dari kamar Aiden. Aiden pun segera mengikuti langkah Della sampai mereka di parkiran.
Mereka memasuki mobil dan Aiden segera menjalankan mobil tersebut perlahan.
"Nanti berangkatnya jam berapa pak?" tanya Della memecah keheningan antara mereka. Aiden menengok sekilas kearah Della kemudian menatap lagi kearah jalanan.
"Jam sembilan." Della menganggukan kepalanya dan terjadilah keheningan kembali selama perjalanan mereka hingga akhirnya mereka berdua sampai di salah satu boutique yang saat ini lumayan ramai oleh pengunjung.
__ADS_1
Della membelalakkan matanya menatap setiap gaun yang terpajang rapi disana.
"Tunggu di sini," tutur Aiden.
"Lah bapak mau kemana?" tanya Della penasaran harusnya kan yang di suruh nunggu Aiden bukan Della dan Della harusnya mencari gaunnya sendiri sesuka hati tapi kenapa ini malah terbalik.
"Jangan bawel. Duduk disini jangan kemana-mana! Paham." Della menganggukan kepalanya sembari mengerucutkan bibirnya beberapa senti kedepan. Aiden segera beranjak kearah kasir yang tak jauh dari Della.
Tak berselang lama Aiden kembali dengan membawa enam paper bag di tangannya.
"Pulang," ucap Aiden singkat.
"Lah kok pulang Pak. Saya kan belum belanja," ucap Della memelas.
"Belanjaan udah di tangan Della. Pulang sekarang," tutur Aiden tegas, membuat Della sedikit takut apalagi di tambah tatapan tajam dari Aiden.
Della berjalan keluar sembari menghentakkan kakinya sebal sampai ia memasuki mobil dan menutup pintu mobil sangat keras.
Tak berselang lama Aiden pun juga memasuki mobil di bagian kemudi tanpa bersuara sepatah kata pun dan segera menjalankan mobilnya.
Della menatap tajam Aiden yang tengah fokus memperhatikan jalanan dengan raut wajah sebalnya dan tak ketinggalan bibir yang maju beberapa senti kedepan.
"Tau ah," ucap Della sewot sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Aiden melirik Della sebentar dan segera menepikan mobilnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Della.
"Lah kenapa kamu manyun gitu?" bukannya menjawab Aiden malah bertanya balik ke Della membuat Della tambah memanyunkan bibirnya.
"Serah saya dong. Mau manyun kek, mau enggak kek ini bibir juga bibir saya hak milik saya. Jadi terserah saya dong mau saya apain," tutur Della menggebu-gebu.
"Ck, saya tau kamu marah sama saya gara-gara kamu gak bisa milih sendiri gaun yang mau kamu pakai nanti malam kan?" tutur Aiden sembari menetralkan emosi ketika mengingat kejadian di boutique tadi.
"Tuh bapak tau, kenapa masih nanya lagi?"
"Hmmm ya udah saya minta maaf," ucap Aiden mengalah.
"Bodo amat," ucap Della ketus. Aiden menghembuskan nafas panjang dan segera menjalankan mobilnya yang tadi sempat terhenti sebentar.
"Kamu tau gak Del," belum sempat Aiden meneruskan ucapannya sudah di serbut lebih dulu dengan suara Della.
__ADS_1
"Gak," tutur Della singkat.
"Saya belum selesai ngomong Della."
"Bodo amat."
"Dengerin dulu Della," tutur Aiden yang mulai geram namun ia tahan.
"Kamu tau tadi ada cowok yang ngelihatin kamu tanpa berkedip sedetik pun," ucap Aiden lembut. Della menenggok ke arah Aiden dengan tatapan tak mengerti.
"Ya kan dia punya mata, gunanya mata kan buat lihat. Jadi terserah dia dong kalau mau lihatin siapa aja yang menurut dia menarik perhatiannya, kan itu hak dia. Mata juga matanya dia bukan bapak. Dan juga saya yang di lihatin kenapa bapak yang sewot, toh dia juga gak ganggu saya." Ucap Della enteng sedangkan Aiden sudah mengeluarkan asap cemburu di dadanya.
"Saya gak suka Della," tutur Aiden lantang.
"Bapak gak suka siapa?" ucap Della bodoh.
"Saya gak suka kalau kamu di lihatin cowok lain seperti itu," ucap Aiden tegas dan kembali menepikan mobilnya. Ia tak mau terjadi apa-apa ketika Aiden menyetir dalam keadaan emosi seperti ini. Apalagi saat ini ia bersama dengan seseorang yang entah kapan telah berhasil merebut hatinya.
"Emang bapak siapanya saya. Pakai ngelarang kayak gitu segala."
"Saya calon suami kamu," tegas Aiden yang membuat Della ternganga. Della pun dengan secepat kilat menetralkan kekagetannya tadi.
"Ck sejak kapan bapak jadi calon suami saya? Ngelamar saya aja gak pernah bahkan nyatain perasaan aja bapak belum pernah." gerutu Della santai walaupun jantungnya sudah berdisko ria di balik dadanya.
"Sejak saat ini saya jadi calon suami kamu," tutur Aiden mantap.
"Heh apa-apaan, gak ada gak ada. Jangan ngadi ngadi deh Pak. Canda mulu jadi orang," ucap Della.
"Ya kali ngelamar orang kek ngajak beli cilok. Yang romantis gitu kek. Bikin surprise yang wah. Dan yang tentunya di kenalin dulu sama keluarganya, dan ngomong dulu sama keluarga gue bukan kayak gini. Gak banget tau," gerutu Della lirih namun masih bisa di dengarkan Aiden.
"Pulang dari sini kamu saya kenalkan dengan keluarga besar saya dan tunggu pembuktian saya," ucap Aiden lantang sembari mengelus puncak kepala Della. Sedangkan Della ia sudah gelagapan dengan ucapan Aiden tadi. Ah jangan sampai Della tak bisa tidur lagi karena memikirkan ucapan Aiden yang entah hanya bercanda atau benar adanya. Kita tunggu saya pembuktian dari ucapan Aiden tadi.
πππππ
Ehem ehem tes satu dua tiga. Yuhu adakah yang penasaran dengan cerita selanjutnya. Kalau ada sama dong sama reader yang lain. Kalau author sih enggakπ€£ wkwkwk canda. Pokoknya pantengin terus cerita author absurd ini sampai end ya. Sayang kalian banyak banyakπ½
HAPPY READING GUYS π
Jangan lupa LIKE and VOTE, hadiah juga boleh author ikhlasπ€ karena adanya kalian dengan meninggalkan jejak untuk author. Kalian sama aja sudah membangun tingkat kehaluan author dan author bisa nulis dengan tenang π dah lah bacot mulu dari tadi. Maapin yak π
Peluk cium dari author absurd π€π See you next eps bye π
__ADS_1