My Bos CEO

My Bos CEO
29


__ADS_3

Di dalam perjalanan hanya ada keheningan dari keduanya, Aiden yang terus fokus ke jalanan yang lumayan ramai sedangkan Della ia tengah memainkan ponselnya, menjelajah semua sosmed pribadinya hanya untuk menghilangkan kejenuhannya.


"Turun!" perintah Aiden yang sudah menepikan mobilnya dan tengah membuka seat beltnya. Dengan seketika pandangan Della teralihkan dengan menatap Aiden dengan raut muka bertanya tanya.


"Lho pak kok saya di suruh turun, masa bapak tega sih nurunin saya di sini, please lah pak apartemen bapak masih jauh bisa pegel kaki saya nanti kalau di suruh jalan," ucap Della tak terima enak saja dia di turunkan di tengah jalan begini, udah ngajaknya maksa terus sekarang dengan kurang ajarnya dia di suruh turun dari mobil please lah walaupun Della tau alamat apartemen Aiden tapi dia juga gak mau harus jalan kaki dan di tempat ini sangat sulit mencari taksi kalau mau online dia gak punya aplikasinya ah dasar pikiran Della sangatlah dangkal.


Aiden berdecak, "Siapa yang suruh kamu jalan kaki ke apartemen saya Della astaga pikiran kamu itu benar benar bikin saya emosi, lihat tuh di sebelah ada toko bunga kita beli dulu disana," ucap Aiden sembari menunjuk jarinya kearah toko bunga yang di maksud Aiden tersebut.


"Hehehe ngomong dong pak jadikan saya gak salah paham tadi," tutur Della dengan cengiran di bibirnya dan dengan segera ia melepas seat beltnya dan segera menyusul Aiden yang sudah turun duluan.


Mereka berdua memasuki toko itu dengan seketika mata Della berbinar melihat indahnya beberapa bunga yang berjajar rapi disana.


"Del, bagusnya pakai mawar putih atau merah?" tanya Aiden yang mampu membuyarkan tatapan Della dengan salah satu bunga yang membuatnya terpana.


"Bentar deh pak bentar perasaan tadi saya udah lihat bunga di mobil bapak deh, lah terus ngapain bapak beli lagi buat apa coba?" tanya Della penasaran.


"Ck itu kecil Del cuma pakai 30 bunga mawar aja, saya maunya yang lebih besar kalau bisa 100 mawar yang di pakai nanti buat buket saya," Della melongo dengan ucapan Aiden tadi, please lah Aiden 30 mawar itu juga udah gede dan gimana nanti bawanya coba.


"Astaga pak kalau pakai 100 mawar terus bawanya gimana?, mau ditaruh dimana coba, terus itu yang 30 mau diapain?" tanya Della beruntun.


"Yang 30 buat di sebar aja nanti di lantai," ucap Aiden santai.


"Terserah bapak aja deh, duit duit bapak juga kenapa saya yang ribet," ucap Della pasrah.


"Ya udah jadinya yang mana ini, merah atau putih?" tanya Aiden kembali.


"Dua duanya aja pak biar kayak bendera Indonesia ada merahnya juga ada putihnya," Aiden menganggukkan kepalanya mengerti dan ia segera memesan buket bunga dengan 100 mawar merah dan putih.


Hampir 1 jam lebih mereka berdua menunggu buket yang Aiden pesan jadi.

__ADS_1


"Haish pak ini buketnya kapan sih jadinya, ini udah satu jam lebih lho kita nunggu kayak gini mana ini perut laper pula," ucap Della sebal dan perutnya benar benar tidak bisa diajak kompromi saat ini hingga beberapa kali berbunyi.


"Sabar aja bentar lagi mungkin jadi," ucap Aiden tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang terus ia tatap sedari tadi.


Tak berselang lama salah satu karyawan pun menghampiri mereka dengan buket yang lumayan besar di tangannya.


"Maaf mbak dan mas menunggu lama, ini bucket sudah jadi," karyawan itu memberikannya kepada Della yang berada disebelah dan mungkin ia mengira kalau itu untuk Della.


"Berapa?" tanya Aiden.


"Satu juta sembilan ratus ribu mas," ucap karyawan itu, Della yang tadinya melihat cantiknya bunga bunga yang sudah ditangannya kini beralih menatap karyawan tersebut.


"Hah satu juta sembilan ratus yang bener aja mas," ucap Della yang masih tak menyangka dengan harga yang lumayan lah buat dia.


"Ini mas, makasih ya," ucap Aiden setelah memberikan sejumlah uang kepada karyawan itu dan tanpa menjawab pertanyaan Della ia segera pergi dari hadapan Aiden dan Della yang masih shock dengan harganya tadi.


"Cerewet sih Del, kamu juga saya gaji sekarang jadi diam aja kamu jangan banyak omong," ucap Aiden sembari menjalankan mobilnya kembali.


"Wah beneran pak tapi uangnya satu kali gaji saya ya pak," ucap Della.


"Hmm." Jawab Aiden dengan deheman sungguh Della sudah di beri hati mintanya jantung.


Della tersenyum senang mendengar ucapan Aiden tersebut tidak sia sia dia menuruti Aiden tadi.


Hanya butuh waktu 20 menit mereka sampai di apartemen Aiden, dengan senyum mengembang Aiden turun dari mobilnya meninggalkan Della yang masih kesusahan membawa dua bucket di tangannya, sungguh merepotkan batinya.


"Pak Aiden tungguin ah elah main di tinggal tinggal aja, bantuin kali pak ribet ini," Aiden menghentikan langkahnya dan berbalik badan menghadap Della yang masih lumayan jauh di belakang, dia menatap Della tanpa berniat menghampirinya sampai Della tepat di sampingnya.


"Bawain satu pak," ucap Della sambil menyerahkan kedua bucket di tangannya.

__ADS_1


"Gak mau," ucap Aiden sembari melangkah kakinya kembali.


"Pak kalau kayak gini kan jadinya saya yang mau ngelamar nona Cika bukan bapak," teriak Della yang mampu menghentikan langkah Aiden dan sekarang ia menghampiri Della.


"Ya udah mana," minta Aiden setelah berada tepat di depan Della.


"Pilih aja bapak mau bawa yang mana, mumpung saya baik hati dan tidak sombong," ucap Della dengan pdnya. Aiden memutarkan matanya malas dan segera mengambil buket dengan 30 mawar dari tangan Della dan segera melanjutkan jalanan di ikuti Della di belakangnya.


Ting, lift telah terbuka yang menampakkan Aiden dan Della di dalamnya, ya mereka berdua telah sampai di lantai dimana apartemen Aiden berada. Della melangkahkan kakinya terlebih dahulu keluar dari lift tersebut namun tidak dengan Aiden, ia masih terpatung di dalam lift tersebut.


Della menghentikan langkahnya ketika ia merasa Aiden tidak di sampingnya bahkan di belakangnya, ia pun memutarkan tubuhnya dan benar saja Aiden tertinggal di dalam lift sekarang. Della pun kembali ke arah Aiden.


"Pak, pak Aiden hoy ngalamun mulu kesambet baru tau rasa pak," ucap Della yang berhasil mengembalikan Aiden kedunia nyata.


"Ah ada apa Del?" tanya Aiden.


"Bapak jangan ngalamun gak baik, masak iya orang mau ngelamar pasangan harus kemasukan makhluk astral dulu kan gak lucu."


"Saya ragu Del," ucap Aiden dengan wajah cemasnya.


"Lah kenapa pak, takut di tolak sama nona Cika, tenang aja pak saya jamin non Cika gak akan nolak bapak," tutur Della menguatkannya, ya kali Aiden membatalkan acaranya begitu aja setelah ia sudah mempersiapkan semuanya.


"Bukan itu Della," Della mengerutkan keningnya tak mengerti dengan Aiden sekarang yang tiba tiba ragu.


"Lah terus?" tanya Della kepo.


"Ya pokoknya saya ragu Del gak tau juga kenapa gak tenang aja gitu."


"Itu mungkin efek bapak gugup kali, dah ah yuk jalan lagi yang semangat dong masak yang mau lamaran letoy gini," ucap Della sembari menggandeng tangan Aiden sampai depan apartemen Aiden.

__ADS_1


__ADS_2