
Paginya Della sudah sampai di kantor pukul setengah delapan, seperti biasa ia menyempatkan untuk mengobrol dengan Tania dan Desi jikalau mereka berdua sedang tidak sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Mereka bertiga duduk manis di kantin kantor,
dengan meminum minuman mereka masing masing tanpa memesan makanan satu pun.
"Liburan yuk," ucap Tania tiba tiba yang berhasil membuat kedua sahabatnya menatap dirinya secara bersamaan.
"Yuk, kemana?" ucap Desi antusias.
"Hmmm kemana ya," tutur Tania sembari menaruh jari telunjuknya di dagu berlagak berfikir keras.
"Lagak lo pada mau liburan segala, hari libur aja gak ada di kalender kita, sadar hoy sadar," ucap Della menimpali.
"Ck iya juga sih, tanggal merah juga tetap ada aja kerjaan," ucap Desi lesu.
"Tapi gue suntuk tau gini gini aja perasaan gue hidup gak ada warnanya sama sekali, pak Reiki juga gak ada otak, tanggal merah masih aja di kasih kerjaan ya walaupun di gaji juga tapi ya nih otak perlu riversing tau," keluh Tania.
"Refreshing Tania," ucap Della membenarkan ucapan Tania tadi.
"Dasar kang typo," timpal Desi yang mendapat tatapan tajam dari Tania.
"Ya pokoknya itu lah, intinya butuh penyegaran otak gue," tutur Tania sembari menyesap jus di depannya.
"Gimana kalau kita ambil cuti aja," ide Desi tiba tiba.
"Ck lo enak kalau mau ambil cuti langsung di kasih pasti, lha gue boro boro mau di kasih yang ada malah di ceramahin sama pak Aiden, telat 1 menit aja gue di ceramahin tiga hari tiga malam gak berhenti apalagi ini minta cuti dan alesannya buat liburan beh pasti gue di ceramahini satu bulan penuh," ucap Tania lesu.
"Hah lo pernah telat Tan?" tanya Della kaget, pasalnya Tania setau dia itu anaknya on time gak suka ngaret apalagi soal kerjaan dia nomor one sudah di kantor sebelum karyawan yang lain datang, sampai Della pernah berfikiran kalau Tania menginap di kantor sekalian jaga malam tambah tambah penghasilan kan lumayan.
Tania menganggukkan kepalanya malas, mengingat kembali kejadian itu membuat kupingnya pengang seketika.
"Masa sih, perasaan lo itu kalau dateng mesti on time dan selalu nomor one sampai di sini," ucap Della tak percaya.
__ADS_1
"Ish gue telatnya gak pas ke kantor," tutur Tania sebal.
"Lha terus?" kepo Desi.
"Waktu itu gue udah siap bahkan udah di jalan terus tiba tiba pak Reiki telfon gue suruh ke bandara karena kita ada tugas ke Jerman dan lebih parahnya take-offnya tinggal 30 menit lagi, gak sempet siap siap juga bawa baju aja enggak cuma baju yang gue pake doang dan untungnya paspor gue bawa kemana mana gak pernah lepas dari tas gue, mana waktu itu jalanan macet parah ketambahan sopir taksinya ribet banget harus berdebat dulu setelah gue sampai di bandara," tutur Tania panjang lebar.
Desi mengernyitkan dahinya penasaran, "Emang lo sama sopir taksi waktu itu debat soal apa?" tanya Desi.
"Soal uang kembalian, gue bilang kalau gak udah di kembaliin buat bapaknya aja eh dianya gak mau dan jadilah kita saling lempar uang kembalian tadi sampai pak sopir ngalah dan mau ngambil uang itu," ucap Tania polos.
Della dan Desi menghembuskan nafas jengah, mereka sudah tau benar kelakuan Tania yang kadang kadang absurd gak jelas dan pastinya kang typo yang sudah sering kali terjadi.
"Terus?" tanya Della yang ingin mendengar lebih lanjut cerita Tania.
"Ya terus gue telat deh kesana padahal cuma satu menit lho berasa telat dua bulan hamil di luar nikah terus ketauan sama orang tua gue terus di ceramahin panjang kali lebar kali tinggi deh dan kelar hidup gue amit amit," Tania bergidik ngeri setelah mengucapkan kata yang keluar dari mulutnya sendiri.
"Kenapa jadi ngomongin hamil diluar nikah sih astaga pikiran lo Tan," Della menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan sahabatnya yang satu ini.
"Kawin sama ngelakuin yang ada plus plusnya itu sama aja Des harusnya tuh nikah dulu baru kawin," tutur Tania ngotot.
Della memutar bola matanya jengah melihat dan mendengar pembicaraan dua makhluk aneh cipta yang maha kuasa di depannya saat ini.
"Udah lah kalian tuh ngapain sih ngomongin begituan, ada anak kecil lho disini belum pantas mendengar apa yang kalian ucapkan," tutur Della yang dapat menghentikan perdebatan gak berfaedah kedua sahabatnya itu. Mereka menatap Della dan melihat sekelilingnya, tidak ada anak kecil satu pun di sekitar mereka.
"Buta mata lo Del, gak ada anak kecil di sekitar sini," tutur Desi.
"Iya ih gak ada tau Del, coba deh lihat lagi di sekeliling lo gak ada kan?" ucap Tania menimpali.
"Ada tau."
"Mana?" tanya mereka berdua serempak.
"Kompak amat mbak jadi so sweet deh, ah iri aing," ucap Della menggoda.
__ADS_1
"Jijay, gue masih normal ya," tutur mereka berdua yang lagi lagi berbarengan, Della tertawa terbahak bahak melihat wajah kedua sahabatnya itu.
"Dahlah lupakan, gue mau masuk dulu bye," ucap Desi masam sebelum meninggalkan kantin menuju ruangannya.
"Gue juga bye," tutur Tania sembari mencebikkan bibirnya dan pergi meninggalkan Della yang masih setia dengan tawanya.
"Hahaha ngambek tuh dua makhluk," ucap Della sembari menyeka air matanya yang sempat keluar sedikit karena kebanyakan tertawa.
"Astaga kenapa gue punya sahabat kek gitu sih bentukannya sebelas dua belas sama gue tapi masih normalan gue sih di banding mereka," ucap Della sendiri setelah meredakan tawanya tadi, Ia sangat bersyukur punya sahabat seperti mereka selain buat mood dia naik kembali mereka juga selalu ada kalau Della butuh sesuatu bahkan ketika Della senang pun mereka ada. Ya iya lah mana ada orang saat waktu seneng di tinggalin yang ada malah banyak yang deketin.
Della sekarang sudah berkutat dengan berkas berkasnya yang sudah sedari tadi menunggu antrian untuk ia kerjakan. Hingga bunyi sambungan interkom dari resepsionis yang mampu mengalihkan fokusnya. Della segera mengangkatnya.
"Iya ada apa?" tanya Della.
"Mbak Della ada orang yang cari pak Aiden," ucapnya dari sebrang.
"Pak Aiden kayaknya gak berangkat hari ini mbak Ela karena saya dari tadi gak lihat pak Aiden dateng ke kantor sampai sekarang coba nanti saya hubungi pak Aiden berangkat atau tidaknya dan mbak Ela tolong tanyakan sama orang yang mau ketemu sama pak Aiden apa ada hal penting yang mau di sampaikan bisa di titipkan ke saya aja mbak," ucap Della. Hening seketika sampai Ela kembali berbicara.
"Katanya gak ada yang terlalu penting mbak jadi tamunya udah pergi sekarang," tutur Ela menjelaskan.
"Owh ya udah mbak makasih ya," ucap Della ramah dan segera menutup sambungan tersebut.
Tiba tiba saja Della kepikiran dengan Aiden sekarang. Kemana bosnya saat ini? Apa dia baik baik saja setelah Della meninggalkan dia sendirian kemarin di apartemen Aiden? Atau jangan jangan Aiden mencoba bunuh diri dan sekarang mayatnya tergeletak begitu saja di apartemen yang kemarin hanya gara gara mengetahui Cika selingkuh sampai hamil, dan masih banyak lagi pertanyaan yang sekarang tengah memenuhi otak Della. Della menghembuskan nafas kasar, dia segera meraih ponselnya berniat menghubungi Aiden yang entah sekarang dimana, dengan siapa, semalam berbuat apa (bacanya jangan sambil nyanyi ya guys, gak lucu ya, oke gak lucu baiklah lanjut).
💜💜💜💜💜
Lanjutnya di eps berikutnya woke guys😙
Begitulah kira kira gambaran kalau tiga cecunguknya AWA group ngumpul, selalu melenceng dari awal tema pembicaraan mereka. Biarlah selagi mereka bahagia author juga ikut bahagia 😌
Sekian perbacotan dari author absurd, HAPPY READING GUYS 🤗
Jangan lupa LIKE and VOTE, kasih hadiah juga boleh hihihi😁 Peluk dan cium dari author absurd 😚 See you bye👋
__ADS_1