My Bos CEO

My Bos CEO
97


__ADS_3

Satu jam telah berlalu namun dokter yang menangani Della tak kunjung keluar dari ruangan UGD tersebut. Pihak keluarga Aiden sudah berada disana dan keluarga Della yang kebetulan berada di negara tetangga pun segera terbang menuju Indonesia ketika mendapat kabar dari Airen tadi.


Aiden terduduk lesu disamping Mama Yoona yang terus menangis tanpa henti.


"Kenapa ini bisa terjadi?" Ucap Mama Yoona.


"Tenang Ma. Kak Della sama babynya akan baik-baik saja. Sekarang Mama minum dulu ya biar sedikit tenang," tutur Airen yang terus menenangkan sang Mama.


"Tuhan aku mohon selamat mereka berdua. Aku bersedia menukar nyawaku untuk mereka. Biarkan mereka hidup. Jangan ambil mereka tuhan," batin Aiden yang selalu mendoakan Della beserta bayi yang ada dikandung Della.


Papa Juan mendekati putranya dan menepuk pundak Aiden.


"Percayalah Della orang yang kuat. Ia tak akan menyerah begitu saja. Teruslah berdoa untuk keselamatan mereka berdua," tutur Papa Juan.


"Pa, maaf Aiden gak becus jagain Della sama anak Aiden," ujar Aiden merasa bersalah. Jika saja ia tak pergi keluar negeri mungkin kejadian ini tak akan pernah terjadi. Peristiwa yang sangat-sangat mengerikan, yang tak pernah Aiden harapkan.


"Tak usah menyalakan dirimu sendiri. Ini semua sudah takdir yang tak bisa dielakkan lagi," ucap Papa Juan.


Aiden tertunduk, air matanya kembali menetes tanpa permisi. Ia masih menyesali semua yang ia lakukan sampai harus meninggalkan Della sendirian.


Tak berselang lama, langkah kaki mendekati mereka berdua.


"Gimana keadaan Della?" Tanya Maxime yang sudah berada disana dengan Feo disampingnya.


Semua orang hanya bisa terdiam tak menjawab ucapan Maxime. Maxime pun mendekati Aiden. Ia mencengkram kerah kemeja Aiden.


"Lo bisa gak sih jagain Adik gue. Kenapa bisa jadi begini?" Teriak Maxime yang sudah tersulut emosi.


"Maaf." Hanya itu yang bisa Aiden ucapkan.


Feo mendekati Maxime dan mengelus pundak Maxime lembut.


"Bang jangan gegabah gini. Ini rumah sakit dan Aiden juga gak salah apa-apa," tutur Feo menengahi Maxime.


Maxime melepas kasar kerah kemeja Aiden dan kini mata tajamnya beralih melihat Dion yang tengah menundukkan kepalanya. Maxime mengeram kala melihat darah di baju Dion.


"Dion!" Sentak Maxime. Dion dengan refleks menatap mata Maxime. Tanpa di sangka-sangka Maxime melayangkan tinjunya ke wajah tampan Dion.


"Abang!" Teriak Feo. Namun teriakannya tak berefek sedikitpun. Maxime terus memukul wajah Dion tanpa ampun.

__ADS_1


"Ini semua pasti ulah lo. Mau lo apa lagi hah? Brengsek, sialan." Airen melangkah kakinya untuk memisahkan mereka berdua kalau tidak Dion pasti akan mati ditangan Maxime.


"Bang Maxime stop. Ini semua salah paham jangan main hakim dulu kalau belum tau yang sebenarnya," teriak Airen yang menghalangi pukulan Maxime yang akan mendarat di wajah Dion lagi.


"Abang apaan sih. Kontrol emosi kamu. Please ini bukan saatnya untuk emosi begini. Hah kenapa gue punya Abang keras kepala sekali!" Ucap Feo yang sudah mulai geram dengan sikap Maxime.


Feo menarik kuat tubuh Maxime untuk menjauh dari Dion.


"Duduk!" Perintah Feo tegas. Maxime pun akhirnya menuruti ucapan Feo.


"Doa yang terbaik buat Della bukan malah berantem. Dasar kekanak-kanakan," gerutu Feo.


Maxime pun sedikit tenang dengan meluapkan emosinya kepada Dion tadi. Sedangkan Dion ia berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya karena kepalanya yang sedikit pusing berkat hantaman dari Maxime yang membabi buta tadi.


"Mending kamu ganti baju dulu," ucap Airen.


"Aku boleh minta tolong buat ambilin baju ganti di mobil kebetulan disana ada kaos dan Hoodie. Kepalaku pusing," tutur Dion dan diangguki oleh Airen.


"Kamu duduk dulu disana. Aku akan segera kembali," ucap Airen setelah itu ia bergegas untuk menuju parkiran mobil.


Namun ketika ia tengah memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah sakit tersebut tak sengaja matanya melihat seorang misterius dengan mengenakan topi, hoodie dan masker yang menutup wajahnya. Dan ketika ia mengetahui Airen tengah berjalan kearahnya nampak orang tersebut terburu-buru untuk meninggalkan tempatnya bersembunyi tadi yang ternyata ia tengah memata-matai situsi yang terjadi di ruang UGD tersebut.


"Cepat sekali. Huh kenapa gue tadi pakai heels sih jadinya kan gak kekejar orangnya haish. Lebih baik nanti gue bicarain sama Aiden dan gue curiga dia ada kaitannya dengan kecelakaan Kak Della hari ini," gerutu Airen. Airen akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju tujuan utamanya dan kembali ketika sudah membawa apa yang ia perlukan tadi.


"Pakai dulu," ucap Airen setelah sampai didepan Dion. Dion pun menerimanya dengan tersenyum dan ia segera menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Airen kembali menuju kearah Aiden. Ia mengelus kepala Aiden yang nampak tak berdaya seakan-akan separuh nyawanya kini tak bersama dengannya.


Sedangkan Dion yang sudah selesai dengan berganti pakaian kini ia beranjak menuju kamar rawat yang ditempati nenek tua yang menjadi saksi atas kecelakaan Della saat itu.


Dion mengetuk pintu ruangan tersebut sebelum masuk kedalamnya. Dion berjalan mendekati nenek tersebut dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Gimana keadaan nenek saat ini?" Tanya Dion basa-basi.


"Nenek baik-baik saja nak." Dion menganggukkan kepalanya mengerti.


"Nak, apa boleh nenek saat ini ketemu sama anak cantik tadi?"


"Boleh nek. Kebetulan suaminya ingin bertemu dengan nenek," ucap Dion dengan senyum.

__ADS_1


Dion mendorong tubuh nenek tua itu di atas kursi roda menuju ruangan UGD. Saat sampai disana Dion sudah melihat keberadaan Mommy Geva dan Daddy Geno tak lupa dengan Felix. Dion mengarahkan kursi roda tersebut kedepan Aiden.


Aiden menatap nenek tua yang sudah dihadapannya dengan tatapan kosong.


"Apakah ini suaminya?" Tanya nenek tersebut yang mendapat tatapan dari seluruh orang disana.


"Iya nek dia suaminya," ucap Dion.


Nenek tersebut mengelus tangan bergetar Aiden.


"Aku akan menjadi saksi di kepolisian jika kalian membawa kasus ini dijalur hukum. Aku melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri kronologi kecelakaan tadi yang aku yakin ini ada ungsur kesengajaan dari pihak tertentu. Nenek boleh tanya nak?" Aiden mengangguk kepalanya.


"Apa kamu atau istri kamu punya musuh?" Aiden nampak berfikir. Perasaan dia tak mempunyai musuh satu pun begitu juga dengan Della kecuali pesaing bisnisnya.


"Sepertinya tidak nek," jawab Aiden.


"Kalau tidak ada kenapa seakan-akan kecelakaan tadi sudah direncanakan karena jalanan pada saat itu tampak sepi hanya ada beberapa orang pejalan kaki dan ada beberapa kendaraan bermotor yang lewat saat itu. Dan saat istri kamu membantu nenek menyebrang jalan tak ada hal aneh sedikitpun tapi saat istri kamu menyebrang sendiri nenek lihat ada mobil yang tiba-tiba muncul dengan kecepatan tinggi dan menghantam tubuh istri kamu setelah itu ia terus berjalan tanpa rasa bersalahnya. Kalau itu bukan disengaja tak mungkin orang yang menyetir mobil tersebut tak melihat ada orang yang tengah menyebrang dengan hati-hati dan harusnya mobil tersebut mengerem bukan malah menambah kecepatan pada mobil tersebut. Menurut nenek ini ada yang tak beres," tutur nenek tua tersebut memberikan penjelasan apa yang ada di otaknya dan apa yang ia lihat tadi.


Aiden mengepalkan tangannya. Jika benar kecelakaan ini disengaja ia tak akan pernah melepaskan orang tersebut bahkan ia akan menghancurkan hidupnya. Tunggu saja sampai Aiden mengetahui semuanya.


"Kita harus selidiki ini," ucap Dion. Aiden terus berfikir siapa orang yang berani mengusik hidupnya dan dengan berani menyentuh Della hingga membuatnya berjuang antara hidup dan mati. Seberapa besar nyalinya hingga berani melawannya dan juga keluarga Della. Aiden merogoh ponselnya, menghubungi anak buahnya untuk mencari tau melalui cctv yang kemungkinan berpasangan di dekat kejadian tadi yang akan memudahkan Aiden mencari pelakunya nanti.


*****


30 menit telah berlalu dan akhirnya yang ditunggu-tunggu keluar dari ruangan horor tersebut dengan wajah lelahnya.


Aiden segera beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri dokter yang tengah berdiri di depan pintu.


"Gimana keadaan istri dan calon anak saya Dok?" Tanya Aiden tak sabaran.


Dokter tersebut terlihat menghela nafas sebelum akhirnya angkat suara.


"Maaf tuan. Kita sudah berusaha sebisa mungkin tapi nampaknya tuhan berkehendak lain," ucap dokter tersebut pasrah ketika Aiden mencekram kerah bajunya.


"Apa maksud kamu? Hah jangan berbicara sembarangan," teriak Aiden murka.


Sedangkan Mama Yoona dan Mommy Geva sudah terkulai lemah di pelukan suami masing-masing. Dion menenangkan Airen yang sudah menangis histeris. Felix yang sedari tadi diam nampak menahan amarahnya begitu juga dengan Maxime yang sebisa mungkin memenangkan dirinya dan juga Feo.


"Katakan! Jangan bicara sembarangan lagi bisa saya tuntut kamu nanti!" Teriak Aiden yang benar-benar sudah kalut dengan perasaan campur aduknya.

__ADS_1


__ADS_2