
Kini sore hari telah berganti dengan gelapnya malam hari dan hangatnya matahari terganti dengan dinginnya air hujan yang turun saat ini.
Della yang sudah berhasil menidurkan triplets pun kembali kedalam kamarnya yang sudah ada Aiden disana dengan laptop yang terus menyala dan juga tangganya yang senantiasa menari diatas keyboard laptop tersebut.
Della menghampiri Aiden dan merebahkan tubuhnya dengan kaki Aiden sebagai bantalan kepalanya. Aiden melirik sekilas Della sebelum matanya kembali ke laptop.
"Triplets udah tidur?" tanya Aiden.
"Udah." Aiden menganggukkan kepalanya.
Della yang awalnya menatap langit-langit kamar kini berganti menatap lekat wajah tampan sang suami bahkan disaat serius begini wajah Aiden berkali-kali lipat lebih tampan menurut Della.
"Beb," panggil Della. Aiden yang mendengar panggilan baru dari Della pun mengernyitkan dahinya. Tak biasanya Della memanggil dirinya dengan sebutan beb. Biasanya Della akan memanggilnya dengan sebutan sayang, Chagi, yeobo atau oppa, sama seperti yang biasa Della tonton di drama Korea dan alasan Della memanggil Aiden dengan 4 panggilan tersebut karena Aiden mempunyai darah Korea jadi sebutan itu juga tak terlalu asing bagi Aiden dan dia juga nyaman-nyaman saja. Tapi ada satu panggilan dari Della yang membuat dirinya benar-benar tak menyukai sebut tersebut. Sebutan itu akan muncul saat Della marah atau jengkel kepadanya dan memanggil dirinya dengan sebutan namanya sendiri. Entah alasan apa sehingga Aiden sangat membenci namanya dipanggil oleh Della tanpa embel-embel sayang dan sebagainya.
"Aiden." Aiden mencebikkan bibirnya saat Della mengubah panggilan tadi menjadi panggilan yang ia benci.
"Panggil yang bener ih," geram Aiden.
"Lah emang ini gak bener?"
"Gak!"
"Kan ini nama kamu. Apa yang salah coba?"
"Gak ada yang salah kalau orang lain yang manggil tapi kalau kamu, salah besar."
"Ya udah beb aja deh," ucap Della dan senyum pun mengembang di bibir Aiden.
"Nah gitu juga gak papa. Beb artinya bebeb kan?" Della menggelengkan kepalanya.
"Kalau bukan bebeb terus apa? baby?"
"Kalau baby gak beb lah tapi bab," tutur Della.
"Lha terus apa?" Della tersenyum dan mendudukkan tubuhnya disamping Aiden.
"Kamu mau tau?" Dengan polosnya Aiden menganggukkan kepalanya.
"Beb tuh artinya Bebek hahahaha." Della berlari menghindari amukan Aiden setelah mengucapkan perkatanya tadi.
Aiden kembali terlihat menekuk mukanya namun detik berikutnya ia berdiri dari duduknya dan menyimpan laptopnya setelah itu ia mengejar Della. Mengikuti setiap arah lari sang istri.
"Sini gak," tutur Aiden.
"Gak mau lah ya kali menyerahkan diri ke kandang singa." Della semakin mengencangkan langkah kakinya mengitari kamar tersebut yang cukup luas.
"Kamu bilang apa tadi? Singa? Nakal ya sekarang ngatain suami sendiri. Awas aja kalau sampai ketangkep," ancam Aiden dan tak kalah dengan Della, ia juga mengencangkan larinya.
"Gak bakal ketang..kap."
__ADS_1
"Yes berhasil," ucap Aiden setelah tangannya melingkar indah di perut Della.
"Ish kenapa bisa ketangkap sih," gerutu Della.
Aiden semakin mengeratkan pelukan tersebut hingga dagunya menempel di bahu Della. Nafas mereka saling beradu merebutkan oksigen di sekitar mereka.
"Kamu kurang jago sih larinya," ucap Aiden.
"Bukannya kurang jago tapi kamunya aja yang cepet banget. Emang bener-benar definisi singa yang sesungguhnya," tutur Della.
Aiden memiringkan kepalanya menatap wajah Della dari samping.
"Udah dibilangin aku bukan singa sayang. Yang singa tuh si Azlan. Kalau aku mah prince." Della memutar bola matanya malas.
"Prince apaan coba? gak ada pantas-pantasnya kamu jadi prince, Aiden."
"Coba ulangi sekali lagi kamu manggil aku apa?"
"Aiden." Dengan berani dan penuh penekanan yang jelas, Della mengulangi panggilan untuk sang suami.
"Coba lagi."
"Aiden William Abhivandya, udah ish lepas nih tangan kamu," ucap Della yang sudah terasa engap karena dekapan Aiden saat ini ditambah wajah Aiden sudah berada di leher jenjangnya yang membuat jantung Della sedang tak baik-baik saja alias berdetak lebih cepat bahkan Della merasa jika jantungnya saat ini ingin mencuat keluar.
"Tadi panggil aku dengan sebutan beb yang ternyata singkatan dari bebek, setelah itu ngatain singa dan ini manggil suami sendiri dengan nama. Ck emang nakal sekali istriku ini. Sepertinya harus aku beri hukuman biar kapok dan gak berani manggil suaminya dengan sebutan seperti tadi," bisik Aiden tepat ditelinga Della dan berakhir dengan gigitan gemas di daun telinga sang istri.
Della membeku seketika. Jantungnya terpacu lebih cepat bahkan pikirannya sudah traveling entah kemana.
"Sepertinya kamu sudah tau hukuman apa yang akan aku berikan kepadamu sayang," ucap Aiden menggoda.
Tak menunggu lama lagi Aiden langsung membalikkan tubuh Della. Ditatapnya mata lentik milik Della dan perlahan namun pasti ia mendekatkan bibirnya ke arah bibir ranum Della. Dengan refleks Della menutup matanya.
"Ya ampun udah beberapa tahun kita nikah tapi masih saja kamu gugup sayang. Kan buat aku makin greget jadinya," batin Aiden.
Tangan Aiden menyelipkan rambut Della yang sekiranya menghalangi dirinya nanti. Saat hidung mancung Aiden menyatu dengan hidung Della, ia menghentikan pergerakannya. Tatapan Aiden beralih ke wajah Della. Ia menelisiki seluruh wajah Della dengan teliti. Putih, kulit wajah yang mulu dan cantik. Itulah kata-kata yang keluar dari gumaman Aiden yang tak didengar oleh Della.
Sedangkan Della yang merasa tak ada pergerakan dari Aiden pun membuka matanya kembali dan pada saat itu juga ia bisa menatap manik mata Aiden secara dekat. Tatapan teduh milik Aiden mampu menusuk hingga ulu hati Della.
"Astagfirullah. Nih jantung bisa diam gak. Ini bukan untuk yang sekali lho tapi kenapa masih aja kek dulu sih ah repot banget jadi orang yang punya mental yupi kek aku. Tatap-tatapan sama suami sendiri aja udah mleyot gini," batin Della.
Aiden tersenyum dan mencolek hidung Della yang membuat sang empu tersadar dari perang hatinya. Dan tanpa aba-aba Aiden mengecup lembut bibir Della. Lagi-lagi Della dibuat kaget dan hanya bisa menerima cium dari sang suami.
Setelah cukup lama Aiden melepas ciumannya untuk memberi kesempatan Della mengambil oksigen. Aiden mengulurkan tangannya guna membersihkan sisa cumbuan tadi di bibir Della.
"Rasanya masih manis aja padahal setiap hari aku makan lho bibir kamu sayang," goda Aiden. Della menundukkan kepala saat merasakan wajahnya kini memanas. Sudah bisa ia pastikan jika wajah cantiknya kini telah berubah warna menjadi merah seperti kepiting rebus.
Aiden terkekeh dan mengangkat dagu Della supaya wajah sang istri tak menunduk lagi.
"Ya ampun wajah kamu merah sekali sih sayang." Della mendengus. Sebenarnya Aiden tau jika Della tengah malu namun ia tertantang untuk menggoda istrinya itu.
__ADS_1
"Ish apaan sih," gerutu Della dan memukul dada bidang Aiden sebelum ia beranjak untuk berbaring di tempat tidur.
"AW dadaku sakit lho sayang," ucap Aiden sembari memegangi dadanya dengan kedua tangannya.
"Bodo amat."
"Beneran lho sayang ini sakit banget, aw." Aiden semakin memainkan aktingnya saat sudah duduk disamping Della.
"Ck jangan nakut-nakutin. Orang aku tadi mukulnya gak keras kok," tutur Della yang mulai merasa bersalah.
"Sumpah sayang ini sakit banget aku gak kuat." Della menggigit bibir bawahnya kemudian ia mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ia genggam tadi kearah Aiden.
"Beneran sakit?" Aiden mengangguk.
"Sakit banget?" tanya Della dengan raut muka yang benar-benar khawatir dan pertanyaan tadi hanya di jawab angguk oleh Aiden.
"Coba mana yang sakit?" Aiden menunjuk dadanya yang memang tadi dipukul oleh Della.
Dengan lembut Della mengelus dada bidang Aiden.
"Maaf sayang," ucap Della lirih. Aiden yang melihat kesedihan di mata Della pun akhirnya meraih tubuh Della kedalam pelukannya.
"Tak masalah sayang selagi kamu yang mukul mah aku gak akan kenapa-napa."
"Gak kenapa-napa gimana? orang kamu tadi kesakitan gitu kok."
"Emang tadi dadaku sakit karena mau mengeluarkan sesuatu dari dalam." Della mendangakan kepalanya menatap bingung kearah Aiden.
"Mau lihat apa yang keluar dari dadaku tadi?" Della mengangguk antusias.
"Coba kamu sekarang lihat di dada aku baik-baik." Dengan serius Della menatap dada bidang Aiden bahkan tanpa berkedip sedetikpun. Aiden yang melihat wajah antusias istrinya, membuat dirinya gemas.
"Mana kok gak keluar?" tanya Della tak sabaran.
"Coba hitung 1 sampai 3."
"Ck ngapain harus dihitung segala sih kayak anak TK aja," gumam Della.
"Ya udah kalau gak mau hitung berarti gak akan aku kasih liat." Della berdecak namun setelah itu ia menuruti ucapan Aiden.
"Satu, dua, tiga," ucap Della.
"Taraaaaa," teriak Aiden sembari memberikan finger heart dari tangannya. Della yang tadinya sangat antusias kini berubah datar namun beberapa saat setelah itu membuat Della melebarkan matanya.
...*****...
Hayo lho apa yang buat Mommy Della sampai melebarkan matanyaπ€ Part ini berisi keuwuan kedua orangtuanya triplets yang super duper kece dulu ya π€ yang jomblo jangan iri dengki ya π
Reader jomblo belike : "Thor ngaca Thor ngaca!" π Iya deh iya kita sama-sama iri dengan keuwuan orang-orang. High five dong β
__ADS_1
Dan boleh lah kalian kasih spil asal kalian dari mana? Author gabut nih π
Dahlah Bye sayang-sayangku π