
Setibanya disekolah triplets merubah sifat hangat mereka menjadi dingin kecuali si bontot yang malah berjalan dengan genitnya.
"Good morning Miss Gea," sapa Edrea dengan senyum manisnya. Orang yang disapa pun menatap tubuh mungil didepannya tak lupa senyum juga ia terbitkan untuk membalas senyuman Edrea.
"Morning princess Edrea," sapanya kembali.
"Morning Miss." Kini giliran Azlan dan Erland yang menyapa.
"Morning prince." Kedua anak laki-laki tersebut segera menghampiri Miss Gea untuk melakukan high five yang biasa mereka lakukan sebelum masuk kedalam kelas. Tanpa basa-basi lagi kedua prince tadi langsung masuk meninggalkan Edrea yang masih memandangi wajah Miss Gea dengan kedua tangan berada di belakang badannya tak lupa senyum manis di bibirnya.
Miss Gea yang tau maksud dari anak muridnya yang satu ini langsung mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Edrea.
"Edrea cantik banget sih hari ini lebih cantik dari kemarin," puji Miss Gea yang membuat Edrea berbinar.
"Benarkah?" Miss Gea pun mengangguk. Setelah mendapat pujian Edrea langsung memeluk tubuh Miss Gea.
"Thank you Miss," ucapnya.
"Your welcome." Edrea melepaskan pelukannya. Miss Gea yang merasa gemas pun mengelus kepala Edrea sebelum gadis kecil tersebut masuk kedalam. Dan melakukan aktivitas belajar mereka hingga waktu pulang nanti.
Sedangkan di sisi lain Aiden tengah bergelut dengan lembaran kertas dihadapannya. Sejak tadi pagi hingga siang hari tumpukan kertas tersebut nampak hanya sedikit berkurang. Aiden menghela nafas sejenak sebelum kembali fokus ke kertas berikutnya namun ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.
"Masuk!" perintah Aiden dan tak berselang lama 2 orang laki-laki masuk kedalam ruangan Aiden dan tanpa di perintah mereka duduk di sofa ruang Aiden. Aiden memutar bola matanya malas ketika mengetahui siapa gerangan yang datang mengganggu ketenangannya.
"Ada apa?" tanya Aiden to the point.
"Tak ada apa-apa," jawab mereka berdua kompak.
"Terus kenapa kalian kesini? Pulang sana!" usir Aiden kepada dua sahabatnya. Kalian masih ingat dengan Rino? Laki-laki yang sempat menggoda Della saat dijepang dan yang dihajar Aiden ketika ia memperingati sang sahabat untuk menjauhi Cika yang saat itu jadi kekasih hati Aiden. Nah dia adalah tamu yang berkunjung kekantor Aiden dan satu laki-laki yang sekarang bersamanya adalah Lino kembaran Rino yang juga tak pernah pulang ke tanah kelahirannya.
"Lo ngusir kita?" tanya Lino.
"Udah tau nanya. Bego kok dipelihara." Bukan Aiden yang menjawab melainkan Rino.
Aiden memijat pangkal hidungnya sebelum beranjak menghampiri mereka berdua.
Aiden mendudukkan dirinya di depan mereka berdua dan menatap twins cogan secara bergantian.
"Kita kesini tuh cuma gabut aja. Niatnya pulang kerumah buat istirahat eh malah kena omelan emak disuruh nikah mulu heran gue," tutur Rino menjerumus jadi curcol dan diangguki begitu saja oleh Lino.
"Ya nikah aja sih. Gitu aja ribet," ucap Aiden.
"Ck belum ada cewek yang cocok dihati gue dan niatnya tadi kesini mau gebet sekertaris lo eh taunya malah sama-sama pisang," keluh Rino. Aiden tertawa mendengar ucapan Rino diakhir kalimat.
__ADS_1
"Gak papa coba aja dulu deketin sana," ucap Aiden.
"Ck gue masih normal gak belok. Masih doyan jeruk. Kalau pisang gue udah punya sendiri gak mau nambah lagi," ujar Rino.
"Cariin gadis lah Den biar gue gak jomblo lagi dan kalau bisa yang langsung cocok gitu," sambungnya.
"Jangan mau Den. Tar kalau lo cariin beneran gue jamin belum ada 1 bulan aja udah putus. Banyak cewek diluar sana jadi korbannya Rino dengan alasan gak cocok lah, ini lah, itu lah padahal dianya bosen sama mereka. Kurang ajar emang nih semprul. Mana lenjeh banget jadi cowok. Templok sana templok sini cih." Rino memukul kepala Lino tak terima dengan ucapan yang dikeluarkan oleh saudara kembarnya itu.
"Sakit bangsat," geram Lino. Dia membalas pukulan kearah Rino dan terjadilah perang antar saudara terjadi. Aiden yang sudah terbiasa dengan pertengkaran mereka berdua pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Twins cogan tadi seketika mengingatkan Aiden dengan triplets yang sejak tadi tak sempat ia pantau. Aiden beranjak dari duduknya untuk mengambil tabletnya namun baru saja ia ingin membuka akses pengawasan, suara dobrakan pintu mengkagetkan dirinya beserta Rino dan Lino.
Ketika pintu tersebut terbuka lebar, suara nyaring pun ia dengar.
"Daddy," teriak Edrea sembari berlari kearah Aiden yang sudah siap merentangkan tangannya menyambut putri kecilnya tersebut.
"Ck lebay," gumam Erland yang mulai berjalan memasuki ruangan Aiden bersama dengan Azlan dan juga Della dibelakangnya.
Erland dan Azlan terpaku saat netra matanya melihat adegan Rino dan Lino yang tengah menatapnya tanpa mengganti posisinya yang tengah memeluk satu sama lain.
"Mereka kenapa?" bisik Erland ke telinga Azlan.
"Entahlah. Sangat mengerikan," ucap Azlan dengan gidikan ditubuhnya.
Rino dan Lino yang masih tak sadar dengan posisinya pun hanya saling tatap tak paham dan beberapa detik kemudian mereka berdua membelalakkan matanya sembari mendorong tubuh satu sama lain.
"Uhhhh keponakan Uncle," ucap Rino. Ketika dirinya ingin memeluk kedua prince, tubuhnya malah terhuyung kedepan dan hanya angin yang ia perlukan.
Rino mencebikkan bibirnya ketika membalikan badannya dan melihat Azlan serta Erland yang nampak menggeser posisi berdiri mereka tadi saat dirinya ingin memeluk tubuh mereka berdua.
"Ck peluk Uncle dong," pinta Rino dan hanya diacuhkan oleh keduanya. Two prince tadi berjalan menuju sofa dan sekilas mengamati Lino yang tengah tertawa menertawakan saudara kembarnya.
"Kasihan banget sih lo ditolak anak kecil," ejek Lino. Kemudian ia menghampiri Azlan dan Erland yang tengah sibuk dengan dunia mereka sendiri. Lino duduk di tengah-tengah mereka berdua dan tiba-tiba merangkul bahu two prince tersebut.
Azlan dan Erland yang merasa kegiatannya terganggu pun menatap tajam kearah Lino yang membuat Lino seketika merasakan hawa dingin disekitarnya. Setelah itu ia melepaskan tangannya dari pundak mereka berdua dan kembali duduk di tempatnya semula.
"Gila anaknya Aiden tatapannya kek bapaknya dulu saat masih muda," bisik Lino dan diangguki oleh Rino.
"Mana cueknya sama lagi. Ngeri gue bayangin gimana gedenya nanti. Jangan sampai kayak bapaknya," balas Rino.
Aiden yang mendengar bisikan dari keduanya tampak berdehem.
"Gue denger," ucap Aiden.
"Mereka anak gue ya harus sama kayak Daddynya lah. Kalau gak kayak Daddynya kan perlu dipertanyakan," sambung Aiden yang mendapat tatapan tajam dari Della.
__ADS_1
"Jadi kamu gak percaya sama aku gitu?" Aiden nampak gelagapan dengan ucapan Della. Ia pun menurunkan Edrea dan memeluk tubuh istrinya namun ditepis oleh Della.
"Gak gitu sayang. Maksudku tadi tuh anu."
"Anu apa?" Belum sempat Aiden menjawab teriakan twins cogan menggelegar.
"Tega banget sih lo Den masa gak percaya sama bini sendiri sampai kalau anak yang benar-benar darah daging lo tak sama sifatnya dengan diri lo harus dipertanyakan. Ck tega banget, padahal Della menyerahkan segenap jiwa dan raganya hanya untuk lo," kompor Rino.
"Parah sih si Aiden," kini Lino yang menimpali.
Aiden menatap mereka berdua dengan tatapan horor. Bukannya takut mereka berdua malah cekikikan.
"Udah, cerain aja Aiden, Del terus nikah sama gue deh yang lebih setia dan selalu percaya sama bininya nanti." Aiden melayangkan bolpoin yang tadi bertengger di saku jasnya kearah Rino. Dan lemparan tersebut tepat mengenai bibir Rino.
"Sakit njir," umpat Rino tanpa melihat sekitarnya.
Plak
"Ada anak kecil bego," ucap Lino.
Plak
Rino membalas pukulan Lino.
"Lo juga ngomongnya dijaga," tutur Rino.
"Kelepasan. Kalau sama lo bawaannya emang berucap kotor mulu."
"Diam!" Rino dan Lino menutup mulutnya rapat ketika mendengar teriakan dari Della.
"Rasain," ujar Aiden mengejek kedua sahabatnya tadi. Setelah itu ia menatap kembali ke arah Della dengan senyum mengembang berharap sang istri luluh hatinya. Namun tatapan Della mampu membuat Aiden kesusahan menelan salivanya.
"Nanti malam tidur diluar!" titah Della yang membuat Aiden melongo. Tak tau aja hari ini mood Della berubah-ubah dan mode senggol bacoknya sedang aktif karena tamu bulannya datang.
"Gak ada alasan!" sambung Della sebelum Aiden membujuknya.
"Pfffff," tawa twins cogan menggelegar kala melihat Aiden yang tunduk dengan Della. Baru kali ini ia melihat orang yang dulunya badas kini seperti anak kecil yang dimarahin oleh ibunya.
...*****...
Gimana-gimana? udah ya Extra Partnya dua aja 🤠otak author tiba-tiba blank ilang imajinasinya 😂 Bahan halunya kurang jadi mau nulis loadingnya lama bet kek siput 🙄 Dah ah curhatan gak pentingnya.
Happy reading zeyengnya author 🤗 Jangan lupa Like, Vote, kasih hadiah kalau gak awas aja aku hih tar gak deng canda. Dan jangan lupa baca YOUNG MOTHER!!!! 📢
__ADS_1