My Bos CEO

My Bos CEO
42


__ADS_3

Paginya seperti yang Della katakan kemarin bahwa ia bersedia untuk menjadi babunya Aiden selama tinggal di apartemennya, jadi untuk sekarang Della sudah siap bertempur dengan sapu, pel dan alat lainnya yang sekiranya dibutuhkan.


Sedangkan Aiden ia masih tertidur di kamarnya tanpa peduli dengan suara di sekitarnya.


Butuh waktu satu jam Della berhasil membereskan pekerjaan rumahnya dan kini ia bersiap untuk memasak di dapur namun nyatanya di kulkas maupun di tempat persediaan bahan makanan kosong tak ada satu pun yang tersisa.


Della mendengus kesal pasalnya ia harus menunda lagi makannya sungguh menyebalkan sekali.


Della terduduk disalah satu kursi makan dengan wajah yang tertekuk, sedangkan Aiden ia baru bangun dari tidurnya dan menghampiri Della di dapur.


"Pagi," sapa Aiden sembari membuka kulkas untuk mengambil minuman dingin didalamnya namun seketika matanya memicing karena tak mendapati setetes pun minuman di dalamnya.


"Kok gak ada isinya?" tanya Aiden yang kini sudah duduk di depan Della.


"Bapak nanya saya? terus saya nanya siapa sedangkan bapak yang punya apartemen ini," kesal Della.


"Ck biasa aja kali Del, masih pagi ini darah udah naik aja," tutur Aiden yang mendapat pelototan dari Della.


"Bodo amat," jawab Della singkat tanpa merubah ekspresi wajahnya.


"PMS kamu Del?"


"Saya lapar bapak ah gak peka banget sih jadi orang," ucap Della lantang.


"Ngomong dong dari tadi, ya udah siap siap sana kita makan di luar sebelum berangkat ke kantor," ucap Aiden sembari berdiri dari duduknya dan meninggalkan Della yang tengah berbinar senang ketika mendengar ucapan Aiden tadi, kesempatan makan yang enak dan tak perlu bayar tentunya, dasar Della tak tau malu sedikit pun, apa lagi jaim, jangan harap itu semua ada di diri Della.


Kini mereka tengah berada di dalam mobil menuju salah satu restoran yang sangat populer di negara ini. Namun Della di buat terkejut ketika semua karyawan disana menundukkan kepalanya ketika Aiden dan dirinya memasuki restoran yang sudah mulai ramai walapun masih pukul 8 waktu London.


Mereka di giring kesalah satu meja yang terdapat pada lantai dua, lantai yang biasa di duduki oleh orang orang yang mempunyai kartu VIP dari restoran tersebut.


"Mau pesan apa?" tanya Aiden.

__ADS_1


"Samain aja pak," ucap Della tanpa mengalihkan pandangannya dari depannya bukan melihat wajah tampan Aiden melainkan melihat keindahan yang sudah beberapa tahun ini tak ia lihat lagi, tampak tak sedikit yang berubah dari negara ini masih tetap indah sama seperti dulu ketika Della tinggal sementara waktu di sini hingga kejadian itu yang membuat dia harus meninggalkan negara ini.



"Pak kok gak ngajak saya kesini malem aja sih," ucap Della sembari menatap Aiden yang tengah sibuk mengotak atik ponselnya.


"Pak," panggil Della sekali lagi namun tak di indahkan oleh Aiden.


"Astaga punya bos muda tapi ternyata bolotnya minta di cukil gendang telinganya," gerutu Della.


"Saya dengar Del," ucap Aiden sembari menaruh ponselnya diatas meja.


"Kalau dengar kenapa gak jawab tadi saat saya panggil bapak?"


"Tadi fokus saya banyak di hp Della bukan di kamunya," ucap Aiden yang hanya mendapat deheman dari Della untuk menjawab ucapannya.


Aiden mengedikan bahunya bodo amat, dia sedang tidak ingin bertengkar di depan umum begini apalagi di dalam restoran miliknya ini sungguh tak patut di contoh kalau beneran ia bertengkar dengan Della mau di taruh dimana sosok tegas Aiden selama ini apalagi jika ia sedang beradu mulut bahkan argumen pasti yang memenangkan Della, dia hanya bisa pasrah begitu saja.


Pikiran mereka buyar ketika beberapa pelayan menghampiri mereka dengan membawa beberapa makanan di atas nampan mereka masing masing dan mulai menyajikan di atas meja Aiden dan Della. Pelayan itu pun segera pergi menjauh dari tempat Aiden tadi, tentunya setelah Aiden memberi isyarat kepada mereka.


Mata Della tanpak berbinar mendapati beberapa makanan di depannya saat ini.


"Wah pak ini kok banyak banget, kita kan cuma berdua saja, mana bisa habis kalau segini banyaknya," ucap Della yang masih tak percaya.


"Kalau gak habis ya di bungkus lah Del, buat makan nanti siang mubasir kalau di buang," tutur Aiden yang sudah mulai memasukan sedikit demi sedikit steak kedalam mulutnya.


"Buruan makan jangan di lihatin mulu, ini makanan semua gak akan masuk sendiri kedalam mulut kamu itu," Della mengerucutkan bibirnya, bisa tidak sih bosnya ini tak mengganggunya sedetik saja. Dasar menyebalkan, batin Della. Ia pun dengan segera mengambil beberapa makanan kedalam piringnya, bodo amat deh kalau orang lain lihat dan ia di katain rakus, yang penting perut dia kenyang dan nanti bisa kerja dengan tenang.


Aiden yang melihat porsi makan Della seperti kuli, tiba tiba ia merasa kenyang.


"Kamu beneran bisa habis segitu Del?" tanya Aiden penasaran dan hanya di jawab anggukan kepala oleh Della pasalnya sekarang mulutnya sudah penuh oleh makanan.

__ADS_1


"Ya udah terusin makannya, saya mau ke toilet dulu," ucap Aiden dan segera pergi menuju toilet.


Aiden bukannya ketoilet melainkan ia menuju ruangannya pribadi, mengecek beberapa dokumen tentang pengeluaran dan pemasukan serta laba rugi dan untungnya usaha yang ia buat ini. Hingga tak terasa ia hampir setengah jam meninggalkan Della sendirian.


"Astaga lupa, gue tadi bawa orang disini," Aiden segera bergegas menyusul Della. Sesampainya di tempat tadi Aiden melihat Della tengah merebahkan kepalanya di meja makan dengan kedua tangan sebagai bantalnya, sedangkan makanan yang tadi di atas meja sudah tak ada disana.


Aiden mendekati Della perlahan.


"Maaf lama," ucap Aiden namun tak ada jawaban dari Della ia masih setia di posisinya tanpa bergerak sedikitpun.


"Del," panggil Aiden namun sama saja tak ada respon.


Aiden mendekatkan dirinya lebih dekat lagi dan menatap wajah Della yang tertutup oleh rambut lurusnya. Aiden menyibakkan rambut Della dan menyelipkan di kuping Della.


"Astaga ternyata nih anak tidur, bisa bisanya tidur di sembarang tempat kayak gini," ucap Aiden yang tak berpaling menatap wajah Della.


Tanpa pikir panjang dan tak mau menganggu tidur nyenyak Della, Aiden akhirnya menggendong Della ala bridal style menuju mobilnya. Setiap orang yang dia lalui bahkan karyawannya pun menatap Aiden dengan banyak tanda tanya, ada pula yang kagum dengan Aiden dan berfikir negatif tentangnya pun juga ada.


Sesampainya di mobil, Aiden mendudukan Della di samping kemudi, memakaikan seat belt dan tak lupa menatap sesuka hatinya wajah Della yang hanya bisa ia lakukan ketika Della tidur di hadapannya, beda lagi kalau ia menatap Della dalam keadaan sang empu membuka matanya pasti akan jadi ricuh. Aiden mengelus rambut Della dan menoel hidung mancung Della, gemes batin Aiden, ia segera menuju kursi kemudi dan menjalankan mobilnya menuju kantor bukan apartemen.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


HAPPY READING GUYS 😘


Bosen gak sih kalian sama cerita absurd ini? kalau gak bosen boleh dong LIKE and VOTE nya biar author absurd makin semangat lagi dan bisa double up hehehe 😁


Peluk cium dari author absurd πŸ€—πŸ˜˜ See you next eps bye πŸ‘‹


Yang mau ngepoin Ig author atau silaturahmi kuy lahπŸ˜‚


Nih Ignya : @yeni_erlinawa08

__ADS_1


__ADS_2