My Bos CEO

My Bos CEO
127


__ADS_3

Sesi tanya jawab dengan dokter Alisa pun sudah selesai dan sekarang sepasang suami istri sudah dalam perjalanan pulang menuju rumah mereka. Namun saat Aiden akan membelokkan mobilnya menuju perumahan elit yang mereka tinggali, Della mengintruksikan Aiden untuk menghentikan mobilnya.


"Sayang berhenti sebentar!" Perintah Della.


"Mau ngapain?" Tanya Aiden heran sembari menghentikan mobilnya disisi jalan.


Setelah memastikan mobil tersebut minggir dan berhenti secara sempurna, Della bergegas melepas seat beltnya.


"Mau beli itu," ucap Della yang membuat Aiden mencari dimana penjual yang akan Della beli dagangannya. Namun sayangnya Aiden tak melihat penjual tersebut sedangkan Della ia sudah lolos dari dalam mobil dan dengan langkah pelan menghampiri anak kecil penjual rujak yang tengah berteduh di bawah ruko milik orang lain yang saat itu kebetulan tengah tutup.


"Hai nak. Jualan rujak ya?" Tanya Della basa-basi sembari berusaha mendudukkan tubuhnya disamping anak tersebut. Sang penjual kecil pun tersenyum manis kearah Della. Peluh yang membasahi dahinya ia mengelapnya secara singkat dengan kaos yang ia gunakan.


"Iya Kak. Mau beli?" Tanya penjual kecil tersebut penuh harap.


"Boleh. Kakak ambil semua ya. Kamu total aja sama kalau ada kasih di kantung kresek. Ada kan?" Penjual kecil tersebut nampak tersenyum girang dan mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Della tadi. Setelah itu dengan semangat ia memasukan satu persatu rujak yang ia jual kedalam plastik yang ia bawa.


Aiden yang tengah mengamati istri tercintanya dari kejauhan pun merasa bangga dengan apa yang Della lakukan sekarang.


"Beruntungnya aku dapat istri secantik, sebaik dan selembut kamu sayang," ucap Aiden lirih. Ia memutuskan untuk menghampiri dua orang yang tengah duduk di depan ruko tersebut.


"Wah sepertinya enak nih," tutur Aiden saat ia telah sampai di hadapan penjual kecil dan istrinya tersebut. Ia menjongkokan tubuhnya hingga saat ini ia tengah berjongkok sembari menatap beberapa bungkus rujak di depannya.


"Hehehe iya Kak. Tapi sayangnya ini semua udah habis diborong sama Kakak cantik ini," ucap penjual kecil tersebut.


Aiden merubah ekspresi wajah seakan-akan kecewa karena tak mendapatkan rujak tersebut.


"Yah," keluh Aiden.


"Besok kesini lagi aja deh Kak. Aku selalu disini kok setiap hari," ucap penjual kecil tersebut.


Aiden tersenyum dan beranjak dari duduknya menuju samping bocah penjual tadi sembari mengacak-acak rambutnya.


"Baiklah. Besok Kakak akan kesini lagi," tutur Aiden. Penjual kecil tersebut tersenyum dan memberi hormat kepada Aiden.

__ADS_1


"Oh ya kalau Kakak boleh tau umur kamu berapa?" Tanya Della penasaran.


"Sebelas tahun," jawabnya sembari menyerahkan beberapa bungkus rujak yang sudah ia masukkan kedalam plastik besar.


"Ini Kak rujaknya." Della tersenyum dan menerimanya.


"Berapa semuanya?" Tanya Della.


"Hmmm rujaknya berjumlah 40 dikali 5.000 berarti semuanya 200.000 ribu Kak," ucapnya. Della merogoh dompetnya yang berada di dalam tas kecilnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah setelah itu ia berikan kepada penjual kecil tersebut.


"Lho Kak ini kebanyakan 300.000 ribu," ucapbya sembari memberikan kembali uang yang Della kasih tadi.


"Udah gak papa buat kamu aja." Penjual kecil tersebut matanya tampak berbinar.


"Ini benaran Kak?" Tanyanya tak percaya.


"Iya dong masak Kakak bohong sama kamu. Ambil aja. Ditabung ya uangnya."


"Makasih banyak ya Kak." Penjual kecil tersebut teramat senang sembari mencium telapak tangan Della.


"Kamu gak sekolah?" Tanya Della dengan suara paraunya.


"Sekolah, tapi habis pulang sekolah langsung jualan." Della tambah sesak di dalam dadanya.


Della berdehem sebentar untuk menetralkan suaranya yang ia gunakan untuk menahan air mata. Sedangkan Aiden, ia memalingkan wajahnya bahkan sang CEO tampan itu sudah menitikkan air matanya walaupun tak diketahui oleh Della maupun penjual kecil tersebut.


"Ehem. Emang orangtua kamu kemana?" Penjual tersebut nampak termenung dengan ucapan Della barusan.


"Orangtuaku udah gak ada Kak," tuturnya dengan kepala yang tertunduk.


Della kembali mengelus rambut penjual kecil tadi. Bahkan air matanya perlahan telah meleleh, mengalir begitu saja. Namun Della segera menghapus air matanya.


"Terus kamu dirumah sama siapa?" Tanya Della tambah penasaran.

__ADS_1


"Sama bibi dan om Kak," jawabnya.


"Terus kenapa kamu jualan di jalanan. Bukannya belajar dirumah?" Penjual kecil tadi menatap Della dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kata bibiku biaya untuk memberiku makan gak gratis Kak. Saat aku makan harus membayar dulu sama bibi dan biaya hidup yang bibi keluarkan buat hidup aku mahal. Jadi aku belajar saat malam hari sehabis aku pulang jualan," Ucapnya sembari meneteskan air mata. Della yang hatinya sangat sensitif pun segera meraih tubuh mungil yang hanya berisi tulang dan sedikit daging tersebut. Di dalam pelukan Della anak tersebut menangis sejadi-jadinya begitu pun dengan Della, ia nampak menumpahkan semua air mata yang sedari tadi ia bendung.


Sedangkan Aiden, ia juga mendekatkan diri untuk memeluk dua orang yang tengah berteletubbies dan sesekali menghapus air matanya.


Mereka bertiga terus berpelukan dan kalau dilihat oleh orang yang tak mengenali mereka akan mengira jika mereka berdua baru bertemu oleh anaknya yang telah hilang dan diperbudak sang penculiknya.


Namun pandangan orang-orang yang tengah berlalu lalang di jalan raya tak Aiden maupun Della hiraukan. Dan saat penjual kecil tadi sudah sedikit tenang, perlahan Aiden dan Della melepaskan pelukan mereka.


Della mendongakkan kepala penjual kesulitan tadi dan menghapus sisa air mata di pipi penjual tadi.


"Udah ya jangan nangis lagi. Oh ya Kakak belum tau nama kamu lho," ucap Della.


"Namaku Adam Kak," jawab Adam dan diangguki oleh Della.


"Adam udah makan?" Tanya Aiden. Adam pun menggelengkan kepalanya. Mana bisa makan jika jualan dia baru terjual tadi. Bahkan ia sedari pagi tak makan sebutir nasi. Ia hanya minum hingga kenyang.


"Mau makan sama Kakak?" Adam mengangguk dengan cepat.


"Mau Kak," ucapnya penuh antusias.


Aiden tersenyum dan segera beranjak dari duduknya sembari membawa keranjang yang Adam gunakan untuk menaruh rujak tadi.


"Let's go. Kita makan dulu," ucap Aiden.


Tanpa aba-aba lagi Adam dengan senang berdiri di samping Aiden.


"Keranjangnya biar Kakak bawa," tutur Aiden saat Adam ingin merebut keranjang tadi. Bukan apa-apa hanya saja Adam merasa tak enak jika keranjang tersebut dibawa oleh Aiden.


"Maaf Kak kalau Adam merepotkan," ucap Adam kepada Aiden.

__ADS_1


"Tak ada yang di repotkan anak kuat. Berangkat sekarang aja yuk," ajak Aiden sembari melangkahkan kakinya menuju mobil yang ia parkirkan di tepi jalan.


"Tapi Kak. Kakak cantik gimana kalau kita tinggal?" Teriak Adam. Della tersenyum dan berusaha untuk berdiri. Setelah berhasil berdiri dengan sempurna Della menggandeng tangan Adam dan membawanya mengikuti Aiden.


__ADS_2