My Bos CEO

My Bos CEO
96


__ADS_3

Setelah sampai dirumah sakit dan Della tengah ditangani oleh dokter disana, Dion hanya bisa terduduk lemas. Baju yang ia gunakan sudah penuh dengan darah Della.


"Please bertahan Del," gerutu Dion tak tenang.


Dion meraih ponselnya untuk menghubungi Airen dan memberi tahu kecelakaan yang menimpa Della saat ini.


📞 : "Hay baby," sapa Airen.


"Sayang. Kamu harus kerumah sakit sekarang!" Perintah Dion.


📞 : "Kerumah sakit? Emang siapa yang sakit? Atau jangan-jangan kamu yang sakit. Aduh tunggu sebentar sayang aku kesana sekarang juga," ucap Airen dan langsung menutup sambungan telepon dari Dion. Dion hanya bisa bernafas pasrah. Tak heran lagi dengan sikap Airen yang selalu begitu sebelum ia menjelaskan yang sebenarnya.


Di rumah Della, Airen berlari menuruni anak tangga tanpa menghiraukan tatapan penasaran dari para maid disana.


"Mbak. Kalau nanti Kak Della pulang. Bilang ya aku lagi ada urusan penting sebentar," teriak Airen yang sudah berada di dalam mobil. Para maid pun hanya bisa mengangguk mengiyakan ucapan Airen. Dengan segera Airen menancap gas menuju rumah sakit yang tanpa diminta Dion telah mengirimkan lokasinya saat ini.


Dan tak berselang lama Airen sudah sampai di Kusuma Hospital yang kebetulan tak jauh dari kediaman Della. Airen memarkirkan mobilnya setelah itu ia bergegas masuk kedalam rumah sakit tersebut namun ketika ia baru melangkahkan kakinya, dering telepon menghentikan langkahnya. Airen meraih ponselnya dan segera mengangkat panggilan dari Dion.


"Kamu di ruangan mana sayang?" Tanya Airen to the point.


📞 : "Aku lagi di UGD sekarang," jawab Dion.


Setelah mendengar perkataan Dion, Airen kembali menutup sambungan telepon dan melanjutkan langkahnya menuju UGD. Airen berlari kecil hingga ia sampai di depan ruang UGD. Airen menyipitkan matanya ketika melihat sosok Dion yang malah tertunduk lesu di sana dengan pakaian penuh darah. Airen mendekati Dion dengan tatapan bingung.


"Sayang, kamu gak kenapa-napa kan?" ucap Airen. Dion mendangakan kepalanya menatap wajah Airen yang kebingungan.


"Duduk dulu," tutur Dion dan Airen pun menurut begitu saja.


Dion menatap dalam mata Airen.


"Ada apa sebenarnya? Siapa yang sakit? Dan kenapa pakaian kamu penuh darah kayak gitu?" Tanya Airen beruntun. Dion mengambil nafas dalam dan membelai rambut sang kekasih.


"Kakak ipar kamu, Della. Dia sepertinya korban dari tabrak lari. Dan dia saat ini tengah ditangani oleh dokter diruangan UGD," ucap Dion lembut.

__ADS_1


Airen yang mendengar kabar bahwa ternyata Della mengalami kecelakaan pun merasa lemas seluruh badannya dan air mata pun sudah mengalir membasahi pipinya.


"Gimana keadaan Kak Della sekarang?" Tanya Airen khawatir.


"Aku belum tau. Kita tunggu dokter selesai menanganinya baru nanti kita akan tanya keadaan Della. Jangan khawatir dia pasti bisa melewati ini semua. Kita hanya perlu berdoa untuk menguatkan dia," ucap Dion yang sudah memeluk tubuh Airen yang tengah bergetar hebat.


"Dia pasti bisa melewati ini semua. Aku yakin. Karena dia orang yang begitu kuat," batin Dion.


Dion melepaskan pelukannya dan menatap Airen yang tengah sesegukan. Dion perlahan menghapus air mata Airen dan mencoba memenangkannya.


Setelah melihat Airen sedikit tenang, Dion mencoba untuk menyuruh Airen menghubungi Aiden yang saat ini sudah sampai di Indonesia dan tengah menuju ke rumahnya dengan membawa buket bunga yang begitu indah.


"Kamu telepon Aiden sekarang," ucap Dion dan Airen pun segera mencari nomor sang saudara kembarnya.


Sedangkan Aiden yang tengah memperhatikan bunga ditangannya pun harus mengalihkan pandangannya ke ponsel yang tengah berdering. Aiden berdecak ketika melihat Airen yang ternyata menelfon.


"Ada apa?" Tanya Aiden.


📞 : "Kamu pulang sekarang!" Perintah Airen.


📞 : "Aku suruh pulang ya pulang," Teriak Airen sembari terisak.


Aiden mengerutkan keningnya ketika mendengar isakan tangis dari Airen.


"Ck aku udah di Indonesia sekarang tapi jangan bilang Della dulu. Aku mau kasih surprise dia," ucap Aiden.


Airen yang mendengar penuturan Aiden pun hanya bisa bertambah sedih. Bukannya Aiden yang memberi surprise nantinya tapi malah Della yang akan memberi kejutan kepadanya.


"Kamu kenapa sih pakai nangis segala. Diputusin Dion?" Tanya Aiden penasaran.


📞 : "Kak Della, Aiden."


"Della? Emang kenapa sama bini ku?" Tanya Aiden mulai tak tenang.

__ADS_1


📞 : "Dia kecelakaan dan sekarang dia tengah dirumah sakit," ucap Airen yang sebenarnya tak sanggup mengatakan itu semua kepada Aiden.


Bagaikan di sambar petir tanpa hujan. Aiden merasa tubuhnya tak lagi memiliki tulang, benar-benar lemas.


"Jangan bercanda Airen," ucap Aiden yang antara percaya dan tak percaya.


📞 : "Aku gak bercanda Aiden. Buat apa aku bercanda dengan menaruhkan nyawa seseorang hah. Buruan kamu kesini aku kasih alamatnya lewat pesan," ucap Airen dan segera memutuskan panggilannya.


Aiden tak menyangka kepulangan dan rencananya memberi surprise ke Della malah di putar balikkan. Kini ia yang di beri kejutan yang sangat memilukan. Aiden masih terbengong dan bergetar. Pikirannya kini hanya dipenuhi oleh Della. Hatinya begitu resah hingga notifikasi pesan mengembalikan kesadaran Aiden.


Aiden memerintahkan sopir menuju rumah sakit. Dan dengan kecepatan tinggi akhirnya Aiden sampai di lokasi Della berada. Ia berlari hingga tiba di depan ruangan UGD. Airen yang sadar akan kehadiran Aiden pun mendekatinya. Ia memeluk tubuh Aiden yang menegang berusaha memberi ketenangan pada Aiden saat ini. Aiden melepaskan pelukan Airen dan berjalan mendekati pintu UGD tersebut.


"Kenapa bisa begini?" Ucap Aiden lemah sembari terduduk diatas lantai dan pintu UGD tersebut ia buat sandarannya.


Airen mengelus pundak Aiden lembut.


"Kamu harus tenang. Kita berdoa semoga Kak Della dan babynya bisa diselamatkan," ucap Airen. Aiden tertunduk. Menumpahkan seluruh air matanya. Ia tak akan sanggup bila kehilangan dari salah satu mereka.


"Kita duduk di kursi ya." Airen menuntun tubuh Aiden dan mendudukan tubuhnya disamping Dion. Aiden mengalihkan pandangannya kearah Dion dengan tatapan membunuh. Namun sebelum Aiden bertindak untuk menghabisi Dion. Dion lebih dulu memberi penjelasan kepada Aiden.


"Jangan salah paham dulu. Gue tadi rencananya mau pergi sama Airen tapi ditengah jalan ada banyak orang yang bergerombol dan karena jalan yang akan gue lewatin terhalang oleh mereka. Alhasil gue turun dan melihat situasi disana. Dan yang gue lihat Della tengah terkapar di tengah kerumunan orang-orang tersebut dengan nenek tua yang memeluknya," ucap Dion.


Aiden menjambak rambutnya frustasi. Darah yang ia lihat di baju Dion menambah pikiran negatif di otaknya.


"Kemana nenek itu?" Tanya Airen yang mewakili Aiden karena ia tau kalau Aiden pasti akan bertanya itu nantinya.


"Beliau tengah berada di ruang inap karena tadi sempat pingsan karena syok," ucap Dion.


"Gue rasa nenek itu tau kronologi kecelakaan yang menimpa Della," sambung Dion yang membuat Aiden menatapnya kembali.


"Jangan biarkan nenek itu pergi dari sini. Sebelum gue tau gimana kronologi yang sebenarnya," ucap Aiden dengan tatapan marahnya.


Dion menepuk pundak Aiden.

__ADS_1


"Gue akan bantu lo buat mengungkapkan kecelakaan ini," tutur Dion.


__ADS_2