
Paginya Della baru sadar dari pingsannya. Ia mengerjabkan mata cantiknya untuk memfokuskan pandangan yang semula kabur. Della menatap sekeliling ruangan yang ia yakini adalah kamar rumah sakit. Della mengangkat tangannya yang terpasang infus.
Della menghembuskan nafas panjang. Cuma gara-gara ia memikirkan Aiden yang saat ini tak diketahui keberadaannya sampai ia mengabaikan kesehatan dirinya saat ini sungguh miris jika mengingat itu kembali.
Della mendudukkan dirinya sembari mata indahnya terus menatap setiap sudut ruangan tersebut hingga ia menemukan sepasang suami istri yang tengah tidur di atas sofa. Della tersenyum melihat Tania dan Reiki saat ini. Sungguh bersyukur sekali Della di kelilingi oleh orang-orang baik. Mereka bukan keluarganya tapi rela bermalam di rumah sakit ini cuma ingin menemani dirinya dirawat.
Della mengganti pandangannya kearah sofa lainnya yang ternyata ada Rina dan juga Desi.
"Terimakasih tuhan Della masih dikelilingi oleh orang-orang baik disini walaupun Della jauh dari keluarga saat ini. Namun engkau telah mengganti mereka sebagai layaknya keluarga bagiku," ucap Della bersyukur.
Rina menggeliatkan tubuhnya sembari membuka matanya perlahan hingga sempurna. Rina segera bangkit dari rebahannya dan kini tengah memandang Della yang tengah tersenyum kepadanya. Rina mengucek matanya tak percaya.
"Huwaaaaa non Della udah sadar," teriak Rina yang berhasil membangunkan semua orang yang ada di ruangan tersebut.
"Jangan teriak Mbak Rina. Ini di rumah sakit," ucap Della.
Desi yang nampaknya nyawanya mulai kembali pun bergegas menghampiri Della.
"Kenapa bisa pingsan kemarin? Dan kenapa dua hari kamu gak makan sedikit pun?" Ucap Desi mengintimidasi.
"Ck baru juga sadar gue Des. Udah lo interogasi aja," tutur Della.
"Dan emang kalian gak masuk kerja?" tanya Della kepada tiga orang yang berdiri tak jauh dari dirinya.
"Emang sekarang jam berapa?" Tanya Tania. Reiki pun melihat jam tangannya.
"Jam setengah 8," ucap Reiki santai.
"What? Astaga 30 menit lagi," ucap Desi histeris.
"Ya udah gih kalian mending pulang terus bersih-bersih baru berangkat ke kantor." Mereka bertiga pun bergegas membereskan barang yang tergeletak di ruangan tersebut.
"Kita balik dulu Del," ucap Tania berpamitan.
"Iya, makasih ya udah nungguin gue semalaman disini," ucap Della dan diangguki oleh kedua sahabatnya.
"Jaga makan Del. Jangan banyak pikiran. Kamu istirahat disini dulu beberapa hari kedepan. Dan saya tau kamu kemarin-kemarin mikirin Aiden kan. Sudah jangan di pikir lagi masalah Aiden, sekarang fokuslah dengan kesehatanmu. Saya pamit pulang dulu," ucap Reiki.
"Terimakasih Pak. Maaf kemarin sempat menyusahkan Bapak," ucap Della.
"Tak perlu sungkan. Itu juga sudah menjadi kewajiban saya sebagai atasan kamu." Della pun tersenyum dan Reiki segera keluar dari ruangan Della menyusul dua wanita yang lebih dulu keluar dari sana.
Ruangan tersebut nampak sunyi setelah ketiga manusia baik hati tadi hilang dari pandangan Della.
__ADS_1
"Non Della makan dulu ya," ucap Rina yang telah duduk di samping Della dengan membawa makanan rumah sakit yang paling Della hindari seumur hidup.
"Mbak Rin, bisa gak makanannya di tuker sama burger atau pizza atau kalau gak ayam geprek gitu?" Ucap Della sembari menatap makanan di tangan Rina tak nafsu.
"Gak bisa non," tolak Rina.
"Ya udah deh kalau gak bisa gimana kalau sate, mie ayam atau bakso. Kayaknya enak tuh."
"Gak non."
"Ck kenapa gak bisa sih mbak kan kita beli pakai uang kita sendiri," ucap Della lesu.
"Ya iya sih non tapi makanan ini lebih sehat kata dokter, tapi kalau bubur kayaknya bisa non," ucap Rina yang membuat mata Della berbinar.
"Ya udah bubur ayam aja Mbak." Rina mengangguk dan berdiri dari duduknya.
"Ya udah saya carikan dulu non. Kalau ada apa-apa pencet tombol itu nanti suster akan kesini," tutur Rina.
"Iya Mbak aku tau kok. Beli dua sekalian buat mbak," ucap Della. Rina pun mengacungkan jempolnya dan bergegas mencari bubur ayam di dekat rumah sakit ini.
Della menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang. Tubuhnya masih lemas namun perutnya lumayan tak sesakit kemarin.
Della tak sengaja menatap tas kerjanya kemarin yang ia bawa kekantor. Ia pun segera mengambil tas tersebut dan mencari benda pipihnya siapa tau Aiden sudah menghubungi dirinya.
"Ck gue gak bisa kalau gak mikirin Aiden untuk saat ini," gerutu Della.
"Arkh kemana sih tuh kepala babi main ngilang gitu aja," ujar Della gemas.
Della pun berniat untuk menghubungi Aiden. Untuk yang pertama kali nomor Aiden sedang sibuk. Della mengerutkan keningnya.
"Nomornya sibuk, berarti kan ponselnya udah aktif terus lagi dibuat untuk telfon orang lain. Tapi kenapa gak ngabarin gue kalau tuh ponsel aktif," batin Della.
Della kembali menghubungi Aiden untuk yang kedua namun bukannya diangkat Aiden malah menolak panggilan dari Della.
Tak menyerah begitu saja Della terus menghubungi Aiden hingga panggilan tersebut terjawab.
"Halo," ucap Della.
📞 : "Ya halo," jawab seseorang dari sebrang.
Della diam sejenak apakah ia tak salah nomor saat ini? Kenapa suara Aiden berubah seperti suara cewek?
📞 : "Halo halo," ucapnya lagi.
__ADS_1
"Ah ya, hmmm apakah benar ini dengan nomor Aiden?" Tanya Della was-was.
📞 : "Iya benar," ucap orang tadi. Della mematung mendengar ucapan dari orang tersebut.
"Kalau boleh tau ini dengan siapa ya? Terus Aidennya sedang dimana?" tanya Della gugup.
📞 : "Ah aku Airen. Aiden tengah sibuk sekarang."
Airen siapa dia? Kenapa bisa sama dengan Aiden? Dan dimana mereka sekarang? Pikiran-pikiran negatif terus menghantui otak Della. Della terus terdiam tanpa mematikan panggilannya hingga suara yang nampak familiar masuk kedalam pendengarannya.
📞 : "Nak Airen, makan dulu!" Perintah seorang wanita di seberang sana.
📞 : "Ah iya Tante," jawab Airen.
📞 : "Maaf telfonnya aku akhiri sampai di sini," ucap Airen dari sebrang setelah itu tak lama panggilan terputus. Della merasa lemas kembali.
"Suara tadi kok gue ngerasa familiar banget ya? Terus siapa Airen? Kenapa sama Aiden? Apa dia selingkuh? Arkh kalau Aiden berani selingkuh gue gak akan pernah maafin dia dan gue bakal habisin dia," ucap Della sembari mengepalkan tangannya.
Tak berselang lama Rina masuk kedalam ruang inap Della dengan membawa bubur ayam di tangannya.
Della menetralkan emosinya dan mencoba untuk tersenyum kepada Rina yang sudah disamping.
"Makan dulu biar saya suapin," ucap Rina sembari menyodorkan satu sendok bubur tersebut kearah Della. Namun Della menggelengkan kepalanya.
"Biar Della makan sendiri mbak," tolak Della.
"Biar saya suapin non."
"Gak usah Mbak Rina ku sayang. Tangan Della kan gak sakit dan masih bergerak dengan normal biar Della makan sendiri ya," ucap Della lembut.
"Ya sudah kalau begitu." Rina pun akhirnya menyerahkan satu porsi bubur ayam ke tangan Della.
"Mbak Rina juga di makan buburnya," ucap Della dan diangguki oleh Rina. Della dan Rina pun tak lagi berucap mereka hanya fokus dengan makanan masing-masing hingga makanan tersebut habis tak tersisa.
💜💜💜💜💜
HAPPY READING GUYS 😘
Selamat menjalankan ibadah puasa 🤗 Marhaban ya ramadhan 😚
Jangan lupa LIKE and VOTE, hadiah juga boleh author ikhlas ðŸ¤
Peluk cium dari author absurd 🤗😘 See you next eps bye 👋
__ADS_1