
Siangnya Della beserta keluarga Aiden telah siap untuk menghadiri acara pernikahan Tania dan Reiki dan kemungkinan acara tersebut sampai malam di selenggarakan.
Della keluar dari kamar Aiden dengan mengenakan dress berwarna pink dengan aksen bunga merah di bagian dadanya. Rambut panjangnya ia gulung, menyisakan poni dan sedikit rambut yang ia keluarkan dari gulungannya tadi di kedua sisi poninya.
Aiden menatap kagum pada sosok bidadari di depannya ini. Benarkan perempuan dihadapannya adalah Fredella Genoveva, calon istrinya? batin Aiden.
"Ada yang salah sama penampilanku?" tanya Della.
Aiden menyadarkan pandangannya tadi.
"Gak ada sayang. Kamu hari ini perfect, cantik banget," puji Aiden yang membuat Della malu-malu meong.
"Ya udah yuk turun. Mama sama Papa udah nungguin di bawah." Aiden mengisyaratkan lengannya untuk Della gandeng dan Della yang mengerti pun mengikuti keinginan Aiden.
Mereka berjalan menuruni anak tangga layaknya seorang pangeran dan putri kerajaan.
Hingga mereka sampai di ruang tamu tempat dimana Mama dan Papa Aiden menunggu dua sejoli tadi.
Mama Yoona berbinar melihat Aiden yang nampak serasi dengan Della. Membuat dirinya sudah tak sabar lagi ingin melihat anaknya menikah dengan Della. Mama Yoona menghampiri mereka berdua dengan tatapan tak lepas dari Della. Hingga Mama Yoona sampai di depan Della, ia mengelus wajah Della lembut.
"Cantik banget sih anak Mama," tutur Mama Yoona kagum. Della yang lagi-lagi mendapat pujian pun tersenyum malu.
"Mama juga cantik banget melebihi Della," balas Della yang mendapat senyuman dari Mama Yoona.
"Emang selera Aiden tuh gak pernah salah Mama," ucap Aiden menimpali.
Mama Yoona memutar bola mata malas mendengar ucapan anaknya tadi.
"Ck gak pernah salah apaan. Buktinya yang kemarin yang di bela-belain sampai gak mau dengerin orang lain dan lebih memilih orang itu. Hallo apa kabar tuan muda Aiden? Masih mau ngomong gak pernah salah lagi," sindir Mama Yoona sembari menghampiri Papa Juan dan menggandeng tangan suaminya.
"Ck yang itu Aiden khilaf Ma," jawab Aiden tak mau kalah.
"Khilaf kok sampai dua kali."
"Ck ya udah lah. Itu juga udah masa lalu Aiden jangan dibahas lagi," ucap Aiden.
"Mangkanya kalau di bilangin orang lain apalagi orangtua tuh di dengerin."
"Udah-udah bertengkar mulu kapan berangkat kalau gitu," ucap Papa Juan menengahi.
Mereka pun keluar dari manson keluarga Aiden dan segera masuk kedalam mobil mereka masing-masing. Mama Yoona satu mobil dengan Papa Juan, sedangkan di mobil lainnya Aiden dengan Della berdua saja karena Aiden memilih untuk mengendarai mobil tersebut tanpa bantuan sopir.
Dua mobil tadi melaju membelah jalanan menuju hotel mewah yang akan diadakan acara pernikahan Reiki dan Tania.
Butuh waktu 30 menit baru mereka sampai di hotel tersebut. Nampak beberapa tamu sudah hadir di sana. Mama Yoona dan Papa Juan lebih dulu memasuki gedung tersebut disusul Aiden dan Della berada di belakangnya. Banyak pasang mata yang melihat keluarga yang namanya sering muncul di televisi bahkan koran. Tak terkecuali Della yang juga tak luput dari tatapan mereka dan banyak sekali bisikan-bisikan yang menanyakan ada hubungan apa dirinya dan keluarga Abhivandya. Namun Della seakan menulikan pendengarannya saat ini. Membiarkan semua orang bertanya-tanya dalam otaknya.
"Aku nyamperin Tania dulu ya," ucap Della setelah Aiden duduk disalah satu kursi tamu disana.
__ADS_1
"Ngapain?" tanya Aiden heran.
"Mau jahilin dia sebelum nanti ada pawangnya yang jagain dia," ucap Della.
"Ya udah sana gih. Sukses jahilinnya sayang," tutur Aiden.
Della pun bergegas menuju kamar yang buat persembunyian Tania saat ini. Sebelum itu Della sudah lebih dulu meminta izin ke Mama Yoona dan Papa Juan.
Setelah sampai di kamar yang ia tuju. Della membuka perlahan pintu kamar itu, kemudian ia masuk begitu saja tanpa permisi. Membuat Tania dan Desi disana kaget dibuatnya.
"Bisa gak sih pakai permisi dulu kalau mau masuk tuh," cerocos Desi.
"Hehehe ya maaf," ucap Della sembari nyengir kuda.
Della menatap pengantin yang sudah cantik dengan riasan wajah natural dengan kebaya putih yang melekat indah di tubuhnya. Namun ketika Della mengamati raut wajah Tania yang terus komat kamit seperti dukun sedang baca mantra pun mengerucutkan dahinya.
"Lagi baca mantra buat nanti malam ya neng," tutur Della yang langsung mendapat pelototan mata dari Tania.
"Ck diem Del," tutur Tania sembari mengatur nafasnya dan melanjutkan komat kamitnya.
Ketika Della ingin menimpali ucapan Tania, namun suara pembawa acara lebih dulu terdengar. Della merapat bibirnya dan mengurungkan niatnya tadi ketikan mendengar pembawa acara tersebut mulai membacakan detail urutan yang akan di selenggarakan hari ini.
Tak lama acara ijab kabul pun dimulai. Della memegang pundak Tania untuk menguatkan sang pengantin dari kegugupannya.
"Tenang ambil nafas buang, ambil nafas lagi buang," ucap Desi yang berada di depan Tania.
"Selama Kakak ketemu gedeku, sekarang udah sah menjadi nyonya Reiki," ucap Della terharu.
"Hiks gak nyangka gue. Ini beneran kan, gue gak mimpi." Desi mencubit kuat tangan Tania.
"Sakit ogep," teriak Tania.
"Lah katanya tadi lo gak percaya sama kenyataan saat ini. Ya udah gue sadarkan diri lo pakai cubitan," ucap Desi tak mau disalahkan.
"Udah-udah ribut mulu. Sekali lagi selamat ya sayangku, jangan lupa segera buat ponakan buat gue." Tania memukul pelan tangan Della yang berhasil membuat mukanya merah merona.
Mereka bertiga berpelukan satu sama lain. Hingga pintu kamar tersebut terbuka menampilkan Mama Tania dan Mama Reiki dibaliknya.
"Anak Mama sekarang udah besar. Udah punya suami sekarang hiks." Mama Tania berhambur kepelukan anak gadisnya tak lupa dengan tangis bahagia.
"Kita turun dulu yuk nanti lagi pelukannya," ucap Mama Reiki sembari mengelus pundak menantunya.
Tania menganggukkan kepalanya. Ia pun segera turun menuju tempat acara dilaksanakan. Tania menggandeng tangan Mamanya dan mertuanya di sebelahnya. Sedangkan Della dan Desi berada di belakang.
"Gue kapan nikahnya ya Del?" bisik Desi.
"Semoga aja secepat," ucap Della.
__ADS_1
Mereka terus berjalan hingga sampailah mereka berlima di tempat acara tersebut. Della bergegas menuju keluarga Aiden kembali sedangkan Desi ia lebih memilih berkumpul dengan teman-teman kantornya yang kebetulan juga di undang di acara tersebut.
"Gimana acara jahilinnya berhasil?" tanya Aiden antusias.
"Enggak. Aku malah ikut deg-degan tadi," ucap Della jujur.
"Ya udah gak papa. Kita bisa coba ngerjain mereka berdua nanti malam atau paginya gimana?" Aiden menaik turunkan alisnya.
"Hah, gila kamu." Della menggelengkan kepalanya tak setuju.
"Ck sekali-kali ngerjain orang lagi malam pertama toh ini juga biar mereka ada kenangan di masa depan dan bisa nyeritain keanak cucunya nantinya," ucap Aiden menyakinkan.
"Gak punya kerjaan banget mereka kalau sampai nyeritain ke anak cucunya nanti karena aksi unfaedah kamu ini," tutur Della.
"Tapi kalau di pikir-pikir seru juga. Baiklah kita akan coba tapi aku ajak Desi juga dan kamu ajak Pak Bisma," sambung Della semangat.
"Oke siap sayang. Tapi kita nanti malam nginap di sini. Nanti aku pesan 3 kamar buat kita yang sebelahan dengan kamar mereka," tutur Aiden.
"Oke, aku kirim pesan ke Desi dulu." Della merogoh ponselnya dan segera mengetik pesan ke Desi.
Setelah selesai dan Desi juga setuju, Della kembali memasukan ponselnya kedalam tas kecilnya.
Namun ingatanya tiba-tiba memutar ucapan Aiden. Della menatap Aiden yang tengah cengar-cengir sendiri dengan tatapan kedepan.
"Bentar deh. Kamu tadi ngomong 3 kamar buat aku, kamu, Desi dan juga Pak Bisma?" tanya Della memastikan. Aiden mengangguk mantap.
"Tapikan kita berempat. Kamarnya kurang satu dong," ucap Della.
"Siapa bilang kurang satu. Itu udah pas lho."
"Pas apanya, jelas-jelas kurang."
"Kan kita satu kamar jadinya pas. Gak akan kurang maupun lebih," ujar Aiden santai yang langsung mendapat pukulan dari Della bertubi-tubi tanpa memperhatikan sekitar yang sudah menatap dirinya dengan tatapan berbeda-beda.
"Iya-iya enggak jadi. Aku pesan empat kamar dah pusa." Della menghentikan pukulan dan tersenyum manis ke Aiden.
"Nah gitu dong dari tadi kan gak bakal ada acara pukul-pukulan," tutur Della sembari mengelus tangan Aiden yang kena pukulannya walaupun Aiden tak merasakan sakit sama sekali.
πππππ
HAPPY READING GUYS π
Ketika pasangan absurd yang sama-sama jahil bertindakπ semoga kalian suka eps kali ini dan jangan bosan-bosan bacanya π
Dan jangan lupa untuk meninggalkan jejak LIKE and VOTE, hadiah juga boleh author ikhlas π€ dan author ucapkan terimakasih buat kalian yang udah baca cerita absurd, yang udah ninggalin jejak buat author. Thanks guys, sayang kalian banyak-banyak π
Peluk cium dari author absurd π€π See you next eps bye π
__ADS_1