My Bos CEO

My Bos CEO
113


__ADS_3

Baru juga dokter Putra keluar dari rumah tersebut. Aiden sudah kembali harus merasakan mual di perutnya, ia berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan cairan bening. Della yang baru sampai setelah mengantar kepergian dokter Putra pun dengan sedikit berlari menghampiri Aiden yang tengah terduduk di atas toilet duduk yang sudah tertutup.


Della menghampiri Aiden dan tanpa aba-aba Aiden meraih tubuh Della sehingga ia bisa memeluk tubuh sang istri dalam keadaan ia tetap terduduk dan Della berdiri. Della mengelus rambut Aiden.


"Aku ambilin makan ya habis itu minum obat," ucap Della lembut.


Della memapah tubuh Aiden hingga sampai diatas ranjang. Setelah memastikan Aiden berbaring, Della kemudian turun lagi kelantai bawah untuk menyiapkan makanan Aiden dan setelah selesai ia bergegas naik lagi ke kamarnya.


"Sayang," panggil Della yang tak melihat Aiden di atas ranjang.


"Pasti di kamar mandi lagi ini," tebak Della. Ia meletakan piring yang berisi makanan tadi di atas nakas samping kasur tidur dan baru ia menghampiri Aiden yang ternyata tebakan Della benar. Aiden sekarang tengah berada di dalam kamar mandi dengan wajah yang sudah penuh keringat dan juga memerah.


"Kamu punya alergi kah sayang? Tapi kata dokter Putra tadi kamu hanya kecapekan. Anehnya cuma kecapekan saja bisa menyebabkan kamu muntah separah ini?" Ucap Della bingung sembari menenangkan Aiden. Aiden menggelengkan kepalanya tepat di perut Della yang menyebabkan Della geli sendiri.


"Masih mual?" Tanya Della sembari terus mengelus kepala Aiden.


"Sedikit," jawab Aiden lemah.


"Mau kerumah sakit?" Aiden menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah kalau tak mau. Sekarang makan dulu ya," ucap Della. Ia kembali membantu Aiden hingga sampai di atas kasur dan menyuapi Aiden.


Baru juga 3 sendok makan yang masuk ke dalam perut Aiden. Rasa mual itupun kembali menyerang.


"Minum teh hangat ini dulu," ucap Della sembari menyodorkan satu gelas teh hangat kearah Aiden. Aiden dengan sigap meminum teh tersebut yang membuat perutnya sedikit nyaman.


"Udah sayang," tutur Aiden yang sudah tak nafsu menghabiskan makanannya.


"Satu kali lagi ya," bujuk Della dan Aiden pun menurutinya untuk melahap satu sendok makanan.


"Aaaaa sekali lagi," tutur Della. Aiden menggelengkan kepalanya dan menutup rapat mulutnya bahkan ia sampai menutup mulut dengan kedua tangan, layaknya seorang anak kecil yang tengah merajuk dan melakukan mogok makan.


Della menghembuskan nafas pasrah dan akhirnya menyerah untuk memaksa Aiden melahap makanannya hingga habis.

__ADS_1


"Minum obat ini dulu," ucap Della sembari mengambilkan satu butir obat yang diberikan oleh dokter Putra untuk diminum oleh Aiden.


"Gak mau itu pahit sayang," tutur Aiden merengek.


"Ya gak ada obat yang rasanya manis sayang. Kalau mau manis minum obatnya sambil lihatin aku. Aku jamin tar obatnya berubah jadi manis," ucap Della.


"Apa hubungannya?" Tanya Aiden.


"Ya karena aku manis jadinya bisa mempengaruhi rasa pada obat ini. Udah jangan banyak tanya lagi sekarang waktunya minum obatnya dulu dan istirahat." Della memberikan obat tadi ketangan Aiden dan dengan paksaan Della akhirnya Aiden menelan satu pil pahit dan langsung menyambar air putih disampingnya.


"Wlekkk pahit banget," gerutu Aiden. Della tersenyum melihat ekspresi Aiden yang jarang ia lihat.


"Gak papa pahit juga cuma sebentar nanti udah enggak lagi," timpal Della.


"Sekarang waktunya istirahat," sambungnya.


Aiden merentangkan tangannya memberi kode kepada Della. Della yang tak mengerti pun hanya mengernyitkan keningnya.


"Peluk," jawab Aiden manja.


"Aku ganti baju tidur dulu," ucap Della. Ia segera bergegas menuju ruang ganti dan dengan cepat Della mengganti pakaiannya. Setelah selesai ia kembali ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di samping Aiden yang sudah menutup matanya. Della memiringkan tubuhnya hingga menghadap kearah Aiden dan menatap wajah sang suami yang tampak pucat.


"Cepat sembuh sayang," ucap Della lirih. Della mendekatkan bibirnya kearah bibir Aiden hingga bibir ranumnya bertemu dengan bibir Aiden. Namun ketika ia hanya ingin mengecup sekilas bibir Aiden. Tengkuknya sudah ditahan lebih dulu oleh tangan kekar Aiden yang mengharuskan Della stay di posisinya. Ciuman yang awalnya hanya sekilas lama kelamaan menjadi lebih panas.


"Sayang boleh?" Tanya Aiden setelah melepas ciumannya dan menyatukan kedua kening mereka.


Della menjauhkan tubuhnya dari atas tubuh Aiden. Tapi usahanya sia-sia, Aiden lebih dulu mengeratkan pelukannya hingga mengunci pergerakan dari Della.


"Sayang kamu lagi sakit lho," ucap Della.


"Sekarang udah enggak," tutur Aiden yang berubah semangat.


"Minta ginian aja semangatnya tinggi banget tadi aja tepar," gerutu Della.

__ADS_1


Aiden tak menghiraukan ucapan Della, ia lebih memilih untuk mengganti posisi sehingga tubuh Della sekarang tengah berada dibawah kungkungan tubuh Aiden.


"Ini obat penyembuh tau sayang. Boleh ya," ucap Aiden sembari mencumbu leher Della.


"Niatnya sih tanya tapi udah mancing duluan. Kebiasaan," tutur Della yang sudah mulai terpancing oleh cumbuan Aiden dan tanpa bertanya lagi Aiden meluncurkan aksinya dan terjadilah malam panjang bagi kedua pasangan tersebut.


...*****...


Sekitar pukul setengah 5 pagi Aiden harus terbangun dari tidurnya dan kembali merasakan penderitaannya seperti tadi malam dan pergerakannya ternyata juga membangunkan Della yang tengah menatap punggung Aiden perlahan menghilang dari balik pintu kamar mandi.


Della menyalakan lampu utama dan berbenah pada dirinya sendiri sebelum menghampiri Aiden.


"Sayang masih muntah-muntah ya?" Tanya Della sembari mengetuk pintu kamar mandi tersebut.


"Aku buatin teh hangat lagi mau?" Tanya Della lagi. Aiden membuka pintu kamar mandi tersebut dan menyembulkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Della. Aiden mengangguk mengiyakan tawaran dari Della.


"Tunggu sebentar ya," ucap Della.


"Terimakasih sayang," tutur Aiden dan di balas senyuman oleh Della.


Della turun kebawah dan segera membuatkan teh hangat untuk Aiden. Saat sedang mengaduk teh tersebut mata Della tak sengaja menatap kalender yang sengaja ia taruh di dapur miliknya supaya jika ia lupa akan gaji para art, artnya lah yang akan mengingatkannya.


Della meraih kalender kecil tersebut dan mengingat-ingat kapan ia terakhir kedatangan tamu tak diundang karena sejak insiden yang merenggut nyawa Aila dan mengharuskan dia merelakan Aila pergi selama-lamanya sejak itu pula siklus menstruasinya tidak teratur dan bisa telat hingga satu bulan bahkan dulu ia sempat senang sekali saat terlambat datang bulan namun setelah ia check dengan testpack hasilnya tak sesuai yang ia harapkan dan sejak itu Della tak terlalu berharap untuk segera mendapatkan momongan lagi. Mungkin ia belum dipercayai lagi untuk merawat buah hatinya dan ia pastikan suatu saat nanti buah hati mereka akan segera tiba pada saat yang tepat, pikir Della yang sebenarnya untuk menguatkan dirinya sendiri.


"Bentar. Kok telat 2 bulan ya," gerutu Della setelah mengingat terakhir ia mendapatkan tamu bulanannya.


"Apa jangan-jangan? Tapi gak mungkin sih, kan biasanya juga sering telat," ucap Della sembari menaruh kalender tersebut ke tempat semula.


Della tak mau memikirkan hal itu lagi. Jika harapannya tak sesuai dengan realita pasti akan membuat dirinya kembali down lagi dan ia tak mau membuat Aiden yang tengah sakit harus memikirkan tentangnya. Della saat ini lebih memilih untuk kembali ke kamarnya dengan membawa satu gelas teh untuk Aiden.


Della membuka kamar tersebut yang ternyata Aiden sudah duduk manis di atas ranjang dengan membuka laptopnya.


"Jangan kerja dulu kalau masih sakit sayang. Ini tehnya," ucap Della sembari menyodorkan teh tersebut kearah Aiden. Aiden tersenyum dan menerima teh buatan Della dan menyeruputnya perlahan.

__ADS_1


__ADS_2