My Bos CEO

My Bos CEO
74


__ADS_3

Paginya Della sudah siap dengan balutan baju berwarna hitam tak lupa juga jaket denimnya. Rambut panjangnya dia biarkan tergerai cantik ditambah dengan make-up natural diwajahnya, sungguh paras yang hampir sempurna bagi kaum Adam.


Della pun menunggu di ruang tamu bersama dengan Feo yang tengah mengotak atik ponselnya. Sedangkan keluarganya yang lain entahlah Della pun juga tak tau.


"Kak, yang lain kemana sih kok sepi banget?" Tanya Della.


"Gak tau mungkin lagi ke tempat buat acara nikahan kamu minggu depan," jawab Feo tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Owh gitu," balas Della dan tak ada lagi perbincangan keduanya hingga ketukan pintu membuat Della segera bangkit dari duduknya dan menghampiri tamu di balik pintu rumahnya.


"Hai, udah siap?" Tanya Aiden sembari tersenyum manis.


"Udah. Yuk sekarang aja," ucap Della namun ketika mereka berdua hendak masuk kedalam mobil Aiden, teriakan Feo menghentikan langkah mereka.


"Bentar!" Feo berlari kecil menuju Aiden dan Della.


"Kenapa?" Tanya Della heran.


"Kalian mau sovenir buat nikahan kalian yang mana?" Tanya Feo sembari menunjuk beberapa contoh sovenir pernikahan dari ponselnya. Ternyata sedari tadi ia memperhatikan benda elektronik itu hanya untuk mencari sovenir pernikahan Della, hm benar-benar Kakak yang baik.


"Terserah Kakak aja deh, yang menurut Kakak bagus tapi gak norak," ucap Della.


"Kalau gitu centong nasi aja gimana murah meriah dan gak norak," tutur Feo.


Della memutar bola matanya malas.


"Yang penting bermanfaat," ucap Della dan segera masuk kedalam mobil Aiden.


Mobil pun segera berjalan meninggalkan pekarangan rumah Della dan Feo yang masih memikirkan perihal sovenir.


"Ya kali di kasih centong nasi sedangkan yang diundang banyak rekan bisnis Aiden dan Daddy belum lagi orang-orang ternama. Centong nasi dirumah mereka banyak kali, arkh tau ah nanti tanya Mommy aja," ujar Feo final.


Sedangkan di jalan tepatnya didalam mobil, Aiden dan Della tak ada yang berbicara satu sama lain seakan-akan mereka tengah kalut dalam pikiran mereka masing-masing.


"Yang masalah aku ngundurin diri jadi kan?" Tanya Della tiba-tiba yang memecah keheningan diantara mereka.


"Ya jadi, kan bentar lagi kamu juga jadi istri aku dan lebih baik kamu dirumah aja. Kalau bosen dirumah jalan-jalan atau mau ikut kekantor juga gak papa asal jangan kerja lagi," ucap Aiden sembari mengelus rambut Della.


Della pun mengangguk mengerti. Ya gimana pun juga ia akan berusaha menjadi istri yang patuh pada suaminya nanti selagi itu masih di tahap yang wajar.


Tak lama mobil Aiden pun memasuki parkiran butik tersebut. Della dan Aiden bergegas untuk masuk kedalam dan ketika ia baru melangkah masuk kedalam ternyata sudah ada satu karyawan butik tersebut yang akan melayani mereka berdua.


"Selamat datang di Sila boutique. Apa benar dengan Tuan Aiden dan Nona Della?" Tanya karyawan tersebut.


"Iya," jawab Aiden singkat.


"Perkenalkan saya Sila. Desainer sekaligus pemilik butik ini dan kebetulan saya yang diutus oleh nyonya Yoona untuk menyiapkan gaun Nona Della," ucap Sila dan hanya diangguki oleh Aiden.


"Mari saya tunjukkan gaunnya. Nanti nona dan tuan tinggal memilih mana yang cocok." Mereka bertiga pun berjalan kesalah satu deretan gaun yang sangat cantik dan indah dipandang mata.

__ADS_1


"Ketiga gaun ini yang saya rancang khusus untuk nona. Silahkan dicoba, saya akan membatu nona." Della pun mengangguk dan di giring kedalam ruang ganti yang ternyata sudah ada dua karyawan didalamnya.


Sedangkan Aiden ia memilih untuk duduk manis dengan memainkan game di ponselnya. Butuh waktu beberapa menit, Della keluar dari ruang ganti baju dengan memakai gaun yang pertama.


Gaun yang terlihat pres di badan namun anggun ketika dikenakan oleh Della.



"Gimana?" Tanya Della yang membuat Aiden mengalihkan pandangannya kearah Della.


Aiden menatap Della dari atas sampai bawah. Memperhatikan setiap inci gaun di tubuh Della tersebut.


"Ganti. Terlalu ketat," ucap Aiden dan Della pun menuruti ucapan Aiden tanpa protes sedikitpun.


Hingga beberapa saat Della kembali keluar dengan memakai gaun yang berbeda.


"Gimana?" Tanya Della lagi.


Aiden kembali memperlihatkan Della.


"Tangan kamu kenapa di dada terus?" Tanya Aiden heran.


"Coba tangan kamu singkirkan dulu!" Perintah Aiden dan Della pun menyingkirkan tangannya yang sedari tadi ia gunakan untuk menutupi salah satu asetnya yang sedikit terlihat. Aiden melebarkan bola matanya.



"Gaun apaan ini. Ganti," ucap Aiden lagi. Della pun kembali keruangan tadi.


Sudah dua jam lebih mereka di butik tersebut namun tak kunjung Aiden merasa cocok dengan semua gaun yang kalau di total 10 gaun yang Della coba padahal sang desainer hanya menyiapkan 3 gaun saja. Banyak alasan yang terlontar dari mulut Aiden misalnya terlalu ketat lah, terbuka lah, ini lah itu lah dan masih banyak lagi alasan yang membuat Della geram.


"Ini gaun terakhir," tutur Della ngegas.


"Ck tapi pundak kamu kelihatan. Ganti lagi masih banyak gaun disini," ucap Aiden yang menambah emosi Della memuncak.


"Gak ada, pokoknya ini yang terakhir," ucap Della sembari berjalan menghampiri Aiden dan duduk di sebelahnya.


"Ganti Della. Pundak kamu kelihatan lho," tutur Aiden tak mau kalah.


"Cuma pundak Aiden. Tolong lah ini udah gaun yang kesekian. Apa kamu pikir ganti gaun segitu banyaknya gak capek." Emosi Della kini tak bisa terbendung lagi. Ingin rasanya Della melempar Aiden ke kandang singa sekarang biar habis manusia menyebalkan seperti Aiden ini, namun ia masih berpikir kalau ia berbuat seperti itu berarti dia tak jadi menikah dong dan persiapan yang sudah mengeluarkan uang yang lumayan banyak akan terbuang sia-sia. Jadi lebih baik Della mengurungkan niatnya dari pada uangnya hilang percuma.


"Ya tapi kan," belum juga Aiden menyelesaikan kalimatnya, Della sudah lebih dulu menyaut.


"Ya udah gini aja deh. Kamu besok yang pakai gaun ini sedangkan aku pakai tuxedo kamu gimana? Kan gak ada yang bisa lihat pundak aku kalau kamu yang pakai gaun ini dan aku gak keberatan kalau cewek lain lihat pundak kamu," saran Della.


"Ya kali aku jadi pengantin wanitanya. Gak, gak ada," tutur Aiden menolak.


"Ya udah kalau gak mau berarti ini gaun yang akan aku pakai nanti gak ada acara ganti ganti dan ganti lagi. Cukup ini gak yang lain," ucap Della tak bisa dibantah lagi. Aiden pun akhirnya menyetujui ucapan Della dari pada ia yang akan memakai gaun saat pernikahannya nanti, membayangkannya saja sudah sangat memalukan apalagi sampai kejadian mau ditaruh dimana muka tampannya itu.


Della pun bergegas untuk mengganti baju yang tadi ia pakai. Kini giliran Aiden yang harus mencoba tuxedo yang akan ia kenakan nanti.

__ADS_1


Hanya butuh beberapa menit saja tak selama Della tadi, Aiden kini sudah berdiri di depan Della.


"Waktunya pembalasan," batin Della dengan menyeringai jahilnya.


"Ganti. Masak tuxedo kamu warnanya biru dongker, gak serasi sama gaun aku. Harusnya tuh warna tuxedo kamu hitam," ucap Della santai.


Dan tanpa curiga Aiden pun menuruti perintah Della.


"Gimana kalau yang ini. Ini udah hitam pasti cocok sama gaun kamu," ucap Aiden. Namun Della malah menggelengkan kepalanya tak setuju.


"Aku pikir-pikir lagi. Lebih bagus kalau putih deh." Aiden mengerutkan keningnya. Ia sudah curiga kalau Della hanya mengerjai dirinya.


"Kamu mau ngerjain aku?"


"Enggak, kan aku ngasih saran aja. Dan kalau di pikir-pikir emang putih warna yang cocok." Aiden mengembuskan napas panjang dan segera berganti lagi sedangkan Della ia sudah tertawa kecil melihat ekspresi Aiden tadi.


"Udah ini warna putih kalau kamu gak buta warna," ucap Aiden dengan menekankan kata buta warna.


"Ck bagusan yang hitam deh. Ganti lagi aja," ucap Della. Aiden menganggukkan kepalanya dan ia membalikan badannya untuk menuju ruang ganti lagi dan lagi. Namun ia urungkan ketika mendengar suara tawa kecil Della dibelakangnya.


"Owh jadi balas dendam ceritanya," ucap Aiden yang sudah berbalik arah menghadap Della kembali. Sedangkan Della ia menetralkan kembali ekspresi wajahnya ke semula.


"Enggak sayang."


"Masak sih," ucap Aiden sembari mengangkat satu alisnya. Della pun menganggukkan kepalanya.


"Oke kalau gitu," ucap Aiden namun bukannya ia kembali ke ruangan ganti, Aiden malah berjalan kearah Della dan menggelitiki tubuh Della tanpa ampun.


"Stop. Hahaha geli tau," ucap Della sembari mencoba menghindari tangan Aiden dari tubuhnya.


"Mangkanya jadi calon istri itu jangan jahil," tutur Aiden tanpa menghentikan aksinya.


"Oke oke oke aku nyerah maaf," ucap Della dengan wajah memelasnya. Aiden yang melihat ekspresi wajah Della pun luluh dan menghentikan aksinya.


"Tunggu di sini. Aku ganti baju dulu habis ini kita disuruh Mama buat ketempat yang akan kita pakai buat acara pernikahan kita," ucap Aiden sembari mengelus pipi Della.


"Siap bos," ucap Della yang mendapat cubitan gemas di pipinya oleh Aiden.


Aiden pun beranjak dari duduknya untuk kembali mengganti pakaian biasa, setelah itu mereka akan melanjutkan perjalanan mereka ke lokasi kedua.


*****


HAPPY READING GUYS 😘



Dapat salam dari Fredella Genoveva calon istri Aiden William Abhivandya 🤭 Katanya jangan lupa untuk LIKE and VOTE, hadiah juga dong tentunya biar author semangat nulisnya 🤭


Selamat menjalankan ibadah puasa 🤗 Marhaban ya ramadhan 🙏

__ADS_1


See you next eps bye 👋


__ADS_2