
Aiden membuka box tersebut yang ternyata isi didalamnya berupa box lagi dengan ukuran lebih kecil dari yang pertama. Dengan tingkat kesabaran yang masih penuh Aiden terus membuka box tersebut hingga beberapa box sudah ia buka namun masih kunjung tak menemukan titik pencahayaan.
"Kamu ngerjain aku?" Tanya Aiden yang sudah sebal.
"Enggak kok. Coba aja buka lagi," ucap Della dan Aiden pun menurutinya hingga ada box kecil terakhir dengan semangat Aiden membukanya namun ia malah menemukan satu pasang kaos kaki.
"Please lah sayang jangan bercanda," ucap Aiden sembari merebahkan dirinya.
"Kaos kaki sekecil ini mana bisa aku pakai," gerutu Aiden yang masih belum peka dengan kode-kode Della. Namun bukan Della kalau harus menyerah begitu saja. Kini dia bangkit dan membawa 4 box lagi dengan beda warna untuk ia serahkan ke Aiden.
"Ini apa lagi," ucap Aiden.
"Buka aja. Tapi mulai dari box warna putih," ucap Della sembari memberikan satu persatu box kearah Aiden.
"Kalau kamu ngerjain aku lagi. Awas aja nanti malam aku pastiin kamu gak bisa jalan paginya," ancam Aiden.
Aiden pun membuka kembali box tadi namun tak seperti yang pertama yang harus melewati beberapa box didalamnya hanya untuk melihat isinya. Kali ini hanya ada satu box dan ia sudah bisa melihat isi didalamnya.
"Sepatu?" Ucap Aiden sembari menenteng sepatu mini.
"Buka lagi sampai bagian ini yang terakhir." Aiden dengan patuh membuka satu persatu.
"Topi. Ini gak muat di kepalaku sayang," ucap Aiden sembari memaksa topi itu masuk ke kepalanya.
"Stop, nanti sobek. Sekarang buka lagi aja," ucap Della.
"Sayang please lah. Kalau mau beliin aku tuh yang bener gitu lho, ya kali aku disuruh pakai celana kecil segini. Cuma muat di tanganku ini," gerutu Aiden. Della membungkam mulut Aiden yang sejak tadi hanya protes protes dan protes saja tanpa henti.
"Aku gak mau buka itu. Isinya pasti juga sama. Kecil semua mana bisa aku pakai," tolak Aiden.
"Jangan protes. Buka!" Perintah Della garang. Akhirnya Aiden pun membuka box terakhir.
"Tuh kan isinya baju kecil," gerutu Aiden yang kembali membaringkan tubuhnya disamping Della tanpa menyentuh baju itu.
"Lihat dulu lah," ucap Della sembari berusaha membangunkan tubuh Aiden untuk kembali duduk.
Dengan terpaksa Aiden pun mendudukkan dirinya dan meraih baju tersebut. Betapa terkejutnya dirinya ketika melihat testpack yang bersembunyi dibalik baju tadi.
Aiden mencermati testpack tersebut dan tulisan baju itu bergantian.
"Serius?" Tanya Aiden tak percaya dan diangguki oleh Della.
"Yes akhirnya," ucap Aiden sembari berjingkrak kegirangan.
__ADS_1
Aiden terus melompat-lompat di atas kasur sembari sesekali menciumi baju kecil tersebut.
"Jangan loncat-loncat ih kayak anak kecil," protes Della. Aiden menghentikan aksi lompat-lompatnya dan kini berganti memeluk Della hingga membuat tubuh Della terhuyung ke belakang.
"Thanks sayang," ucap Aiden sembari mencium pipi Della berkali-kali.
"Kok terimakasihnya sama aku harusnya tuh sama sang maha pencipta dong," tutur Della dan Aiden pun bergegas untuk sujud syukur kepada sang pencipta.
Setelah melaksanakan sujud syukur. Aiden membenarkan duduknya dan kini menghadap tubuh Della yang sudah kembali terduduk. Aiden mencondongkan tubuhnya kearah perut Della dan dengan perlahan ia mengelus perut itu lembut.
"Hay baby. Ini Daddy sayang. Sehat-sehat didalam perutnya Mommy ya," ucap Aiden yang sudah meneteskan air mata bahagia.
Aiden menyibakkan baju Della sehingga perut polos sang istri terlihat. Aiden menciumi perut tersebut. Sedangkan Della yang melihat Aiden begitu bahagia pun tersenyum sembari mengelus rambut sang suami.
"Udah kedokteran?" Tanya Aiden tiba-tiba.
"Belum," jawab Della jujur.
"Kenapa belum? Aku mandi dulu habis itu kita kedokter," ucap Aiden sembari menghapus air matanya dan bergegas menuju kamar mandi tanpa membawa pakaian ganti bahkan handuk pun ia tak membawa.
"Ini kan udah sore. Emang dokter kandungannya masih ada?" Teriak Della.
"Ya masih lah. Kalau gak masih aku nanti cariin dokter nomor satu seIndonesia kalau perlu," jawab Aiden yang hanya memunculkan kepalanya yang sudah penuh dengan sampo.
Della hanya bisa pasrah kalau sang kepala rumah tangga sudah berucap A berarti ia hanya bisa mengikutinya tanpa membantah lagi karena walaupun ia membantah juga tak ada gunanya.
"Sayang," teriak Aiden yang masih didalam kamar mandi. Della bergegas untuk mendekati kamar mandi tersebut supaya tak terlalu berteriak menjawab ucapan Aiden.
"Ada apa?" Tanya Della. Aiden pun membuka pintunya sedikit sehingga menampilkan wajahnya saja dan menatap Della sembari tersenyum.
"Ambilin handuk dong. Aku lupa bawa tadi," ucap Aiden.
"Tunggu sebentar," ucap Della. Ia pun bergegas untuk mengambil handuk Aiden tak lupa juga pakaian ganti yang sudah ia siapkan sedari tadi.
"Ini," ucap Della sembari menyodorkan apa yang Aiden minta tadi.
"Terimakasih sayang," ucap Aiden dan ia pun menutup pintunya kembali. Tak berselang lama Aiden sudah rapi dengan stelan santainya dan ia sekarang berjalan menuruni anak tangga untuk menghampiri Della yang lebih dulu turun kebawah.
Della masih tak sadar dengan keberadaan Aiden ia hanya fokus dengan layar televisi di depannya dan tangannya aktif mencomot makanan ringan untuk ia masukan kedalam mulut. Aiden memeluk tubuh Della dari belakang.
"Bumilku ngemil mulu sih," ucap Aiden.
"Biarin lah. Ini juga maunya anak kamu bukan aku," tutur Della.
"Oh iya kah?" Goda Aiden.
__ADS_1
"Udah lah jangan bahas lagi. Kita langsung berangkat aja," ucap Della sembari beranjak dari duduknya tanpa menaruh cemilan keatas meja.
"Cemilannya gak ditaruh dulu?" Tanya Aiden.
"Enggak. Udah jangan banyak tanya dan protes lagi," ucap Della dan Aiden pun hanya menurut. Mereka berdua pun langsung masuk kedalam mobil dan segera membelah jalanan yang nampak sedikit senggang.
Butuh waktu 20 menit untuk mereka sampai di rumah sakit yang namanya tak asing bagi Della.
Della masih tertegun sembari membaca tulisan rumah sakit itu secara lebih detail lagi.
"Turun!" Perintah Aiden yang sudah membukakan pintu untuk Della. Della mengalihkan pandangannya yang sekarang menatap wajah sang suami.
"Kenapa?" Tanya Aiden yang mendapat tatapan tak biasa dari Della.
"Ini rumah sakit kamu?" Tanya Della karena rumah sakit itu bernama A'abhivandiya hospital yang merupakan nama belakang dari suaminya dan mungkin huruf inisial di depannya itu menunjuk pada nama Aiden yang juga memiliki huruf awalan A.
"Iya ini rumah sakit yang bangun aku tapi dijalankan sama sepupu aku," ucap Aiden. Della pun menatap suaminya takjub.
"Gila gak nyangka gue punya suami yang terlalu tajir kayak gini. Beruntungnya diriku," batin Della.
"Aku lebih beruntung punya kamu sayang," ucap Aiden seakan-akan mengerti kata batin Della tadi.
"Udah yuk tuan putri. Silahkan keluar terlebih dahulu," ucap Aiden lembut. Della pun tersenyum dan segera turun dari mobil.
Mereka berdua pun menuju dokter kandungan untuk melakukan pemeriksaan. Aiden tanpa permisi langsung membuka pintu salah satu dokter yang bernama Miko yang membuat sang dokter terperanjat kaget.
"Permisi dulu bisa gak sih," ucap Miko yang ternyata adalah sepupu dari Aiden yang merupakan pengawas atau bisa disebut manager di rumah sakit itu sekaligus sebagai dokter kandungan.
"Permisi," tutur Aiden yang sudah duduk di depan Miko dan Della yang juga sudah duduk disamping Aiden.
"Telat," ucap Miko.
"Ada apa kesini? Kalau mau nanya ada masalah gak, akan aku jawab sejauh ini masih aman gak ada masalah yang berat," Sambung Miko. Aiden menggelengkan kepalanya menjawab ucapan Miko.
"Owh kesini bukan tanya soal itu. Terus kalian kesini mau ngapain?" Tanya Miko bodoh.
"Main gundu. Ya periksa lah," ucap Aiden sedikit membentak.
"Hehehe santai bos. Mau periksa kandungan? Wah siapa nih yang hamil? Kalau lo yang hamil gak mungkin kan karena lo cowok atau jangan-jangan Kakak ipar yang hamil," ucap Miko.
"Udah tau kalau cowok gak bisa hamil kenapa masih nanya? Heran gue sama lo, bisa-bisanya orang sebodoh lo ini bisa lulus kuliah dan jadi dokter," ucap Aiden mulai kesal.
"Ck, gue gak bodoh ya. Itu tadi cuma buat basa-basi doang," ucap Miko tak terima.
"Kakak ipar kan yang mau periksa?" Della pun mengangguk. Miko berdiri dari duduknya dan menghampiri Della.
__ADS_1
"Kalau gitu. Let's go kita mulai," ucap Miko penuh semangat.