My Bos CEO

My Bos CEO
56


__ADS_3

Della mengedikan bahunya yang tiba-tiba merinding. Ia mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruangan tersebut dan memilih untuk melanjutkan rasa penasarannya dengan mencari tau apa yang tadi ia dengar. Persetan dengan sopan bodo amat bagi Della sekarang karena ia sangat lah kepo dengan bantingan tadi.


Della terus berjalan mengitari setiap sisi ruangan tersebut namun usahanya nihil ia tak menemukan apapun disana.


"Gak ada ruangan lain disini. Dikamar mandi pun gak ada orangnya bahkan bendanya pun gak ada yang jatuh sama sekali," gerutu Della.


Karena rasa penasarannya yang masih tinggi Della terus mencari hingga ia menemukan tombol yang menempel pada dinding sebelah lemari buku Aiden.


"Tombol apa ini? Kalau tombol lampu jelas bukan," gumam Della.


"Pencet aja lah dari pada kepo terus," lanjut Della. Kemudian ia memencet tombol tersebut hingga membuat ia membelalakkan mata ketika melihat lemari yang tadinya diam di tempat kini sedikit demi sedikit beralih tempat. Hingga lemari itu berpindah sempurna sehingga memperlihatkan sebuah pintu dari balik lemari tadi.


Della mendekati pintu tersebut dengan mengendap-endap seperti seseorang yang akan mencuri barang berharga.


Della kini telah berdiri di depan pintu tersebut. Menatap nanar dan penasaran dengan isi di dalamnya. Della nampak ragu ketika ingin membuka pintu tersebut.


"Buka gak ya," gumam Della sembari menggigit ujung jarinya.


"Tapi kalau gue buka jatuhnya gak sopan. Tapi gue juga kepo, arkh." Della menggelengkan kepalanya.


"Bodo amat lah, paling nanti cuma kena omelan Aiden doang," sambung Della yang sudah memutuskan untuk membuka pintu tersebut.


Della perlahan memutar kenop pintu rahasia tersebut sedikit demi sedikit. Namun baru saja Della membukanya lebar, seperkian detik selanjutnya ada benda melayang mengarah ke kepalanya dan untungnya Della saat itu dalam keadaan sadar dan siaga. Della berhasil menundukkan kepalanya ketika benda tersebut melewati atas kepalanya.


Prank, benda tadi jatuh tak jauh dari belakang Della hingga membuat benda itu hancur seketika.


Della membelalakkan matanya, "Huh untung gak kena kepala," ucap Della sembari mengelus dadanya dan menatap benda di belakangnya.


Della segera membalikan tubuhnya kembali menghadap kedalam ruangan rahasia tersebut. Della terkejut ketika melihat Aiden terduduk dengan sandaran tempat tidur di belakangnya. Barang barang di dalamnya sudah hancur semua.


Della mencoba mendekati Aiden yang mungkin belum menyadari keberadaan Della. Hingga Della telah sampai di sampingnya. Aiden pun tak melirik sedikitpun kearah Della, Ia hanya memandang kosong kedepan.


Della mendudukkan dirinya di samping Aiden dan menatap tubuh Aiden dari ujung kaki hingga kepala. Della meringis ketika melihat luka yang ada di tangan Aiden.


Della menetralkan ketakutannya, dengan ragu Della memegang pundak Aiden pelan.


"Hay ada apa?" tanya Della yang dapat membuat kesadaran Aiden kembali.


Aiden menatap nanar kearah Della. Dan dengan secepat kilat ia menangkis tangan Della dari pundaknya cukup keras.


"Pergi," usir Aiden serak.


"Kok ngusir?"

__ADS_1


"Pergi!" bentak Aiden yang membuat tubuh Della terperanjat kaget.


"Kenapa?" tanya Della tak mengerti.


"Saya bilang pergi!" Aiden menatap tajam wajah ketakutan Della. Namun Della terus memberanikan dirinya dan mengacuhkan rasa takutnya untuk sekarang.


"Kenapa pakai bahasa formal lagi?," batin Della curiga.


"Pergi!" bentak Aiden sekali lagi. Della menghembuskan nafas panjang.


"Kasih aku alasan, kenapa kamu ngusir aku?"


"Pergi Fredella."


"Oke aku akan pergi dari sini, tapi sini aku peluk kamu dulu baru aku pergi," ucap Della sembari merentangkan kedua tangannya. Berharap dengan pelukannya Aiden bisa lebih tenang lagi. Namun Aiden malah mengabaikan dirinya.


"Peluk dong. Kesempatan langka lho ini," rayu Della.


"Saya gak butuh pelukan dari kamu. Pergi dari sini dan jangan pernah mencampuri urusanku lagi. Urus saja selingkuhanmu itu," ucap Aiden.


Della mengernyitkan dahinya, memproses ucapan Aiden tadi.


"Selingkuh? Siapa? Aku selingkuh? Sejak kapan?" tanya Della polos.


"Jangan banyak alasan dan jangan mengelak. Saya tadi liat dengan mata kepala saya sendiri, kalau kamu selingkuh," tutur Aiden dengan meninggikan suaranya.


Namun bukannya takut Della malah berfikir keras.


"Emang kamu liat aku selingkuh dimana?" tanya Della polos.


Aiden menggeram kesal.


"Jangan pura-pura lupa kamu. Kamu tadi bermesra-mesraan dengan pria lain di rumah kamu sendiri dan kamu dengan beraninya mencium kedua pipi pria tadi di depan mata kepalaku sendiri kalau kamu lupa," teriak Aiden yang sudah mengeluarkan urat urat di sekitar lehernya.


Della terus menyaring ucapan Aiden tadi hingga ia mengingatkan dimana ia manja dengan sang adik di rumah tadi.


Della menepuk jidatnya. Ternyata penyebab Aiden ngamuk semengerikan ini adalah dirinya dan hanya salah paham saja. Astaga.


Della mendekatkan dirinya ke tubuh Aiden yang sudah berdiri sedari tadi.


"Duduk dulu," pinta Della sembari menyentuh lengan Aiden namun seketika ditepis oleh Aiden.


"Pergi, saya gak mau lihat kamu lagi," usir Aiden. Namun tak diindahkan oleh Della yang malah sudah duduk manis di atas kasur tanpa bergerak sedikitpun.

__ADS_1


"Pergi Della sebelum saya melukai kamu."


"Aku akan pergi setelah menjelaskan kesalahan pahaman ini." Della menggambil nafas dalam-dalam.


"Jadi apa yang kamu lihat tadi emang benar adanya kalau aku manja dengan Felix bahkan mencium kedua pipinya. Namun perlu kamu tau jika Felix si pria yang kamu curigai sebagai selingkuhanku tadi. Dia adalah adik kandungku sendiri. Namanya Felix Genoveva anak terakhir dari keluargaku. Kita dari orangtua yang sama dan darah yang mengalir di tubuh kita pun juga sama. Jadi untuk apa aku selingkuh dengan adik kandungku sendiri. Kurang kerjaan kah diriku dan seberapa gilanya aku kalau selingkuh dengan saudara sendiri," tutur Della panjang kali lebar.


Aiden yang mulanya tak mau menatap Della kini ia tengah menatap lebih tepatnya mengintimidasi ucapan Della tadi. Della yang mengetahui tatapan Aiden hanya mendengus panjang.


"Kalau gak percaya aku tunjukkan foto aku dan Felix sewaktu kecil." Della merogoh ponselnya yang sedari tadi di saku celananya. Namun sebelum ia membuka dan mencari foto tadi, ia mendudukkan paksa tubuh Aiden di sampingnya.


Della terus mengotak-atik ponselnya hingga ia menemukan satu folder yang isinya foto keluarganya.


"Nih kalau masih gak percaya," ucap Della sembari menyodorkan ponselnya yang sudah menampilkan foto anak perempuan dan laki-laki yang tengah berfoto dengan gaya lucunya.


"Anak laki-laki itu adalah Felix dan di sebelahnya itu aku," tutur Della menjelaskan sembari tangannya menggeser layar ponselnya ke samping hingga beberapa foto ia perlihatkan ke Aiden.


"Udah kan. Kalau kamu masih gak percaya ya sudah gak papa yang penting aku udah jelasin dan buktiin ucapanku tadi. Aku pergi sekarang," ucap Della sembari bangkit dari duduknya dan mulai melangkah menjauhi Aiden.


Namun ketika ia hendak membuka kenop pintu. Pelukan Aiden dari belakang menghentikan gerakan tangannya.


"Maaf," lirih Aiden sembari menyembunyikan wajahnya di leher Della.


Della menghembuskan nafasnya, "Maaf untuk apa?" tanya Della.


"Untuk semuanya mulai dari aku gak percaya sama kamu dan gak memastikan dulu apa yang aku lihat tadi bahkan gak tanya kamu dulu karena aku takut kejadian masa lalu bahkan kamu tau dan ikut menyaksikan kejadian itu. Aku gak mau itu terjadi lagi. Akan sangat lebih menyakitkan jika itu terjadi diantara kita saat ini." Della paham betul arah ucapan Aiden. Ia pun dulu juga sama dengan Aiden yang mendapatkan luka sangat dalam dari orang yang mereka cintai saat itu.


Della memutar tubuhnya menghadap Aiden yang masih setia melingkar tangannya di pinggang Della.


Della melonggarkan pelukan Aiden dengan segera della menangkup pipi Aiden, melihat wajah Aiden lekat-lekat.


"Lain kali tanya dulu kebenarannya ya. Jangan kayak gini lagi. Cemburu boleh tapi jangan pernah nyakitin dirimu sendiri," tutur Della lembut sembari mengelus pipi Aiden.


Aiden menganggukkan kepalanya mengerti. Della tersenyum dan menyematkan kecupan singkat di kedua pipi Aiden. Kemudian ia memeluk tubuh Aiden yang menegang dengan apa yang Della lakukan tadi.


"Aku obatin dulu lukanya. Keburu tar lebih parah," ucap Della setelah melepas pelukannya dan menyeret Aiden keluar dari kamar rahasia yang sudah seperti kapal pecah.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


HAPPY READING GUYS 😘


Untung Della dalam mood kalem ya, kalau moodnya bar-bar udah gak tau lagi deh author 🀭 Semoga kalian suka eps kali ini πŸ€—


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE and VOTE, hadiah juga boleh author ikhlas 🀭 karena dengan kalian meninggalkan jejak sama saja kalian mendukung author untuk tetap semangat dalam menulis kelanjutan dari cerita ini☺️

__ADS_1


Peluk cium dari author absurd πŸ€—πŸ˜˜ See you next eps bye πŸ‘‹


__ADS_2