My Bos CEO

My Bos CEO
107


__ADS_3

Mereka berempat akhirnya sampai di rumah sakit terdekat dan semua dokter dengan cekatan menangani 3 orang yang terluka dan Aiden harus menunggu sendirian. Anak buah yang ia bawa tadi sudah ia perintahkan untuk mengurus pemakaman orang yang tadi sempat melayang nyawanya di tangan bodyguardnya maupun Aiden sendiri. Hanya tersisa satu untuk menjaga di depan ruang operasi yang menangani Dion saat ini.


Aiden terus berharap-harap cemas dengan kondisi mereka. Hingga suara beberapa langkah kaki mendekatinya.


Mommy Geva dengan gesit langsung mendekati Aiden yang tengah menatapnya.


"Gimana keadaan Della?" Tanya Mommy Geva.


"Aiden belum tau Mom," ucap Aiden.


"Huh, ya sudah tenanglah Della kan anak Mommy harusnya kuat. Iya gak Dad?" Ucap Mommy Geva dengan menyenggol lengan suaminya. Ucapan tadi bukan semata-mata ia tak khawatir dengan kondisi Della melainkan ia hanya memberikan bentengan ke dirinya sendiri dan meyakinkan bahwa Della akan baik-baik saja.


Daddy Geno pun tersenyum dan menepuk pundak Aiden.


"Tak usah tegang begitu," ucap Daddy Geno menenangkan.


"Tapi Dad yang terluka bukan hanya Della tapi Dion dan Airen juga ikut terluka," ucap Aiden yang membuat Mama Yoona memelototkan matanya. Baru saja ia akan bertanya kemana Airen dan Dion berada malah sudah lebih dulu diberitahu Aiden.


"Kok bisa?" Tanya Mama Yoona.


"Panjang ceritanya Ma," jawab Aiden.


"Terus lukanya parah gak?" Tanya Mama Yoona kembali.


"Airen kena tembakan di lengan kalau Dion dia kena tembakan di dada dan kepalanya." Mama Yoona tambah shock mendengar penuturan dari Aiden.


"Astaga," ucap Mama Yoona lirih.


Papa Juan mengelus pundak Mama Yoona untuk memberikan ketenangan pada sang istri dan menyuruhnya duduk bersebelahan dengan Aiden.


Satu jam telah terlewatkan dan baru saja dokter yang menangani Airen sudah keluar dari ruang UGD. Mama Yoona langsung berdiri dan menghampiri dokter tersebut dengan memberikan beberapa pertanyaan beruntun.


"Gimana keadaan anak saya Dok? Apa lukanya parah? Pelurunya sudah keluar dari tubuh anak saya kan Dok? Apa anak saya sudah sadar?" Tanya Mama Yoona yang membuat dokter di depannya bingung mau menjawab mulai darimana terlebih dahulu.

__ADS_1


"Satu-satu Ma kalau tanya tuh. Kasihan dokternya kebingungan jadinya," tutur Papa Juan yang sudah tak heran lagi dengan tingkah kecerewetan sang istri.


"Sttttt. Papa diam dulu deh," ucap Mama Yoona dengan sinis sehingga membuat Papa Juan merapatkan bibirnya.


"Jawab dong Dok," sambung Mama Yoona.


"Begini nyonya dan tuan. Keadaan nona Airen Alhamdulillah baik-baik saja. Peluru yang tadi sempat berada di lengannya kini sudah berhasil kami keluarkan dan nona Airen dalam keadaan sadar sekarang. Setelah ini nona Airen sudah bisa dipindahkan keruang inap," tutur dokter tersebut menjelaskan lebih tepatnya menjawab pertanyaan dari Mama Yoona.


"Huh syukurlah," ucap Mama Yoona lega. Setelah itu dokter tadi pamit undur diri dari hadapan dua keluarga yang masih dilanda kecemasan mengenai keadaan Della dan Dion.


Setengah jam dari dokter yang menangani Airen keluar, akhirnya dokter yang menangani Della pun juga keluar.


Aiden dengan sigap berdiri dan menghampiri dokter tersebut. Namun sebelum Aiden bertanya, sang dokter lebih dulu angkat bicara.


"Tuan dan nyonya tak perlu khawatir mengenai keadaan nona Della karena tak ada luka dalam dan patah tulang ditubuhnya hanya ada beberapa goresan pisau yang syukurnya tak dalam dan juga lebam di sekujur tubuhnya. Untuk kesadaran nona Della butuh beberapa jam lagi karena nona tadi sempat pingsan dan pengaruh oleh obat penenang yang kami berikan karena terlihat dari raut mukanya nona nampak begitu shock atas apa yang ia terima tadi dan saya sarankan setelah nona sembuh sebaiknya tuan membawa nona ke psikolog untuk menjaga mental nona," ucap dokter tersebut dengan ramah.


"Baik Dok. Terimakasih," tutur Aiden yang merasa sedikit lega.


"Dokter, selamat calon menantu saya," teriak Mama Yoona yang membuat dokter tersebut membalikan badannya dan mengacungkan jempolnya kearah Mama Yoona dan di balas hal yang sama olehnya.


Sedangkan Papa Juan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Mama Yoona.


"Astaga bini siapa ini? Kenapa gak dibawa pulang aja sih?" tutur Papa Juan.


"Aku? Kalau aku udah jelas dong. Secara aku kan cantik jadi ya sudah dipastikan kalau aku ini istrinya dokter yang nanganin Della tadi. Udah dokter muda, ganteng, pinter dan sepertinya blasteran bule. Bagus kalau buat memperbaiki keturunan," ucap Mama Yoona yang langsung mendapat pukulan pelan di bibirnya oleh Papa Juan.


"Mulutnya," ucap Papa Juan.


"Lah tadi tanya, giliran dijawab malah gak terima gimana sih," gerutu Mama Yoona tak terima.


Aiden yang menyaksikan adegan perdebatan kedua orangtuanya hanya bisa heran dan menggeleng kepalanya. Bisa-bisanya mereka seperti itu didepan besannya yang juga tengah menatap mereka berdua dengan tatapan geli.


"Ma, Pa udahlah. Apa gak malu dilihatin Mom dan Dad?" Ucap Aiden lirih yang hanya mampu di dengar oleh mereka bertiga.

__ADS_1


"Papa yang cari gara-gara duluan bukan Mama," tutur Mama Yoona.


"Udah Ma udah. Kita belum tau lho kondisi Dion saat ini gimana." Mama Yoona menghembuskan nafas panjang dan akhirnya mau menghentikan perdebatannya.


*****


Beberapa menit telah berlalu. Airen dan Della kini sudah di pindah ke ruang inap dan di temani oleh dua emak-emak. Sedangkan para lelaki tengah menunggu kabar dari dokter yang menangani Dion di depan ruang operasi. Dan setelah menunggu cukup lama akhirnya yang ditunggu-tunggu pun keluar dari ruangan horor tersebut.


"Gimana Dok?" Tanya Papa Juan.


"Alhamdulillah operasi tuan Dion berjalan dengan lancar," ucap dokter tersebut dengan senyum yang mengembang. Semua orang yang ada disana menghembuskan nafas lega. Setidaknya tak ada hal buruk lagi yang menimpa keluarga mereka.


"Alhamdulillah. Terus Dion sudah sadar kan Dok?" tanya Papa Juan.


"Untuk saat ini tuan Dion masih dalam keadaan tak sadarkan diri namun sudah melewati masa kritisnya."


"Apa setelah keluar dari ruangan ini sudah boleh dipindah ke ruang inap Dok?" Tanya Aiden.


"Sudah boleh tuan," ucap dokter.


"Baiklah kalau begitu. Terimakasih Dok," ujar Daddy Geno. Dokter tersebut pun tersenyum dan pergi dari hadapan mereka bertiga. Tak berselang lama Dion sudah dipindahkan ke ruang inap yang hanya bersebelahan dengan Della dan Airen.


Aiden berjalan memasuki ruangan tempat Della di rawat. Saat baru masuk Aiden sudah disambut dengan senyum tulus dari Della walaupun di kedua pipinya tertempel stiker putih khas rumah sakit. Aiden membalas senyuman Della.


"Maaf, aku terlambat menyelamatkanmu dari wanita keji itu," ucap Aiden sembari mencium kening Della yang tampak memar.


"Sudah jangan dibahas lagi," tutur Della. Aiden mengangguk dan memeluk tubuh Della.


Aiden melepaskan pelukannya dan menatap setiap inci wajah Della dan tangan Della yang nampak lebam. Aiden meringis membayangkan betapa kerasnya pukulan dari Cika.


Aiden meraih telapak tangan Della dan menciuminya.


"Cepat sembuh sayang," tutur Aiden sembari menaruh tangan Della ke pipinya yang membuat Della gemas dengan kelakuan Aiden.

__ADS_1


__ADS_2