
Della terduduk gelisah di sofa ruang tamunya menunggu Aiden yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya padahal jam yang melingkar cantik di pergelangan tangan Della telah menunjukkan pukul 07:45. Yang berarti jam kerja kurang 15 menit lagi dimulai.
Felix yang baru saja selesai dari mandinya menghampiri Della yang tengah menghubungi nomor Aiden yang tidak aktif hingga Della merasa frustasi dan melempar ponselnya begitu saja di samping tubuhnya.
"Kenapa belum berangkat?" tanya Felix heran.
Della yang merasa pertanyaan Felix tadi untuknya, ia mendongakkan kepalanya menatap sang adik yang berdiri di sampingnya dengan wajah yang begitu segar.
Della mendengus kasar, "lagi nungguin seseorang yang entah tuh orang dimana sekarang," tutur Della dengan memperlihatkan raut wajah tak bersahabat.
"Mungkin lagi dalam perjalanan," ucap Felix sembari mendudukkan tubuhnya disamping Della.
Della tanpa basa-basi langsung merebahkan kepalanya ke bahu lebar Felix. Begitulah Della ketika ia bersama dengan Felix maupun Maxime ia akan begitu manja bahkan jika orang lain tak tau bahwa mereka saudara pasti akan menganggap mereka tengah berpacaran atau bahkan lebih. Tak berbeda dengan Della, sang kakak perempuannya atau Feo, ia juga akan bersikap seperti itu dengan kedua saudara laki-lakinya namun ia lebih dekat dengan Maxime dari pada Felix yang lumayan jauh usianya darinya.
"Emang masuknya jam berapa?" tanya Felix memecah keheningan sejenak yang melanda mereka tadi tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi di depannya.
"Jam delapan," ucap Della yang enggan merubah posisinya.
"Bentar lagi dong." Della menganggukan kepalanya untuk menanggapi ucapan Felix tadi.
"Ya udah sih berangkat pakai mobil sendiri aja. Kalau nungguin orangnya keburu telat tar," ucap Felix memberi arahan.
"Ck tapi kakak udah terlanjur setuju kemarin kalau dia mau jemput kakak," tutur Della frustasi.
"Terserah kakak kalau gitu," ucap Felix final.
Della mendenguskan nafasnya ketika melihat jam ditangannya, kurang lima menit lagi pukul delapan tepat.
"Arkh," teriak Della membuat Felix terperanjat kaget.
"Bisa gak sih gak teriak di depan kuping gue," tutur Felix sembari mengelus kupingnya yang sudah mendengung karena ulah Della tadi.
"Sebel," teriak Della lagi yang membuat Felix langsung membekap mulut Della dengan satu tangannya dan satu tangan yang lain ia lingkarankan ke leher Della.
"Sebel ya sebel gak usah pakai teriak-teriak sega..." Belum sempat Felix selesai bicara suara lelaki memutus ucapannya.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Aiden memasuki rumah Della yang kebetulan tak dikunci dan pintu rumah terbuka lebar.
Aiden membelalakkan matanya ketika melihat Della yang tengah di peluk laki-laki lain selain dirinya. Aiden mengepalkan tangannya, rasa cemburunya sudah memuncak sampai ubun-ubun sekarang.
Felix yang melihat raut muka Aiden pun segera melepaskan tangannya dari tubuh Della. Sedangkan Della ia mengusap mulutnya dengan punggung tangannya.
Aiden masih mematung di tempatnya tanpa berencana mendekati Della atau pergi dari tempat itu.
"Kenapa lama sekali?" tanya Della tanpa melihat kilatan cemburu dari Aiden.
Aiden tak menjawab ucapan Della ia hanya terus menatap Felix dengan tatapan membunuh.
Della yang merasa di abaikan pun, segera beranjak dari duduknya. Namun sebelum pergi dari hadapan Felix, Della menyempatkan untuk berpamitan kepada adiknya itu tak lupa ia mengecup salah satu pipi Felix yang membuat Aiden sudah tak tahan lagi melihat pemandangan di depannya. Ia segera pergi keluar rumah Della dan memasuki mobilnya disusul Della yang setengah berlari mengejar Aiden.
Della mendudukkan dirinya disamping Aiden yang tengah memegang setir mobil dengan kuat hingga urat-urat ditangannya kelihatan semua.
Tanpa berucap Aiden menancapkan gas dengan kencang menuju kantornya membuat Della menggenggam erat seat beltnya.
"Pelan-pelan bisa gak sih, aku belum mau mati," teriak Della yang tak dihiraukan Aiden. Aiden terus melajukan mobilnya dengan kecepatan luar biasa dan untungnya lagi jalan raya saat ini tak terlalu ramai seperti biasa. Kalau kondisi jalanan padat, Della bisa pastikan kalau ia tak akan baik-baik saja saat ini.
Tak berselang lama mereka sudah sampai di area basement dan Aiden segera memarkirkan mobilnya. Setelah mobil terparkir sempurna Aiden keluar dari mobilnya dan meninggalkan Della yang masih dalam keadaan lemas di kedua kakinya begitu saja. Tak seperti biasanya Aiden akan membukakan pintu untuk Della namun hari ini Aiden mengacuhkan Della.
Della menekan tombol lift menuju lantai teratas gedung itu dan setelah pintu lift terbuka Della segera masuk ke dalam lift tersebut hingga tak lama pintu lift terbuka kembali. Della pun bergegas menuju ke ruangannya untuk memulai aktivitas hari ini tanpa memikirkan Aiden yang tengah mengobrak-abrik isi kamar pribadinya yang berada di dalam ruangan kerja CEO dan ruangan itu hanya diketahui beberapa orang kepercayaannya saja.
"Arkh, baru juga kemarin gue ngelamar lo Del, tapi kenapa lo udah nyakitin gue secepat ini," teriak Aiden meluapkan emosi, sembari sesekali meninju dinding sebagai sasaran emosinya hingga membuat tangan Aiden mengeluarkan darah.
📖📖📖📖📖
Penampilan Aiden sekarang benar-benar kacau hanya karena salah paham dan tak berniat bertanya dulu dengan Della.
Sedangkan di ruangan berbeda, Della tengah khusyuk mengerjakan dokumen di depannya. Hingga ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.
"Masuk," ucap Della tanpa beranjak dari duduknya.
Pintu pun bergerak terbuka menampilkan Airin yang tengah tersenyum manis ke Della.
__ADS_1
"Pagi menjelang siang kak," sapa Airin.
Della tersenyum melihat Airin membawa tumpukan kertas di tangannya yang sudah Della pastikan jika Airin akan memberikan tumpukan kertas tersebut kepadanya untuk meminta tanda tangan Aiden.
"Pagi menjelang siang juga dek. Ada yang bisa kakak bantu?" tanya Della sebagai formalitas.
Airin terkikik sebelum menyerahkan keras di tangannya kepada Della.
"Pasti kakak udah bisa menebak dari tadi kan?" tanya Airin.
"Iya, bahkan sebelum kamu membuka pintu pun kakak udah tau maksud dan tujuan kamu menghampiri kakak," ucap Della bergurau.
"Hehehe maaf ya kak."
"Itu udah kerjaan kakak dek," jawab Della.
"Ya udah aku balik ya kak takut di omelin Pak Bisma," tutur Airin yang mendapat anggukan dari Della. Airin pun segera melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Della.
Della yang sebenarnya enggan menemui Aiden untuk saat ini karena ulahnya tadi yang sudah menghancurkan moodnya di pagi hari mulai dari menunggu hingga telat masuk kantor dan Aiden yang seakan-akan mengajaknya untuk bertemu malaikat tadi. Dengan terpaksa ia harus melakukan sebagai profesionalitas kerja.
Dengan langkah malas Della menuju ruangan Aiden dengan beberapa dokumen di tangannya. Della mengetuk pintu ruangan Aiden namun tak ada jawaban dari dalam.
Della yang sudah mulai lelah berdiri dengan membawa tumpuk kertas di tangannya pun memutuskan untuk membuka ruangan tersebut. Della mengedarkan pandangannya ke setiap sudut namun ia tak melihat batang hidung calon suaminya.
Della menaruh dokumen di atas meja kerja Aiden. Memutuskan untuk bodo amat namun perasaan tak bisa berbohong ia sekarang tengah memikirkan kemana Aiden berada sekarang. Della terus berfikir positif, mungkin Aiden sedang di kamar mandi atau pesan makanan atau buat kopi karena tak mau menggangu kerjanya tadi.
Della ragu ketika ia ingin melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Aiden. Della menghembuskan nafas untuk menghilangkan rasa khawatirnya.
Della kemudian memutuskan untuk keluar saja dari ruangan Aiden. Namun ketika dia hendak membuka pintu untuk keluar, ia di kaget kan dengan bunyi yang sangat keras seperti bantingan benda di dalam salah satu ruangan tersembunyi di sana.
💜💜💜💜💜
HAPPY READING GUYS 😘
Cieee ada yang ngamuk😂 semoga kalian suka eps kali ini dan jangan bosen baca cerita absurd ini oke😚
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE and VOTE, hadiah juga boleh author ikhlas 🤠karena dengan adanya kalian meninggalkan jejak sama saja kalian telah mendukung author dan membangun semangat di diri author wasekkk 😂
Peluk cium dari author absurd 🤗😘 See you next eps bye 👋