
Setelah makan, Della memutuskan untuk kembali ke ruangan ternyamannya yap kamar tidur pastinya, bermalas malasan sambil memainkan ponselnya. Di tengah kesibukannya bermain di media sosial, ponsel della berdering.
"Hallo."
📞:"Del pergi yuk," tutur Desi dari seberang telepon.
"Males ah Des," Della merebahkan dirinya ke kasur empuknya.
📞:"Ayolah Del, gue suntuk ini, gak kasian apa sama gue yang lagi ngenes ini."
"Kan setiap hari hidup lo ngenes terus," canda Della sembari cekikikan.
📞:"Ih lo mah gitu, ayo lah Del please," bujuk Desi.
"Ogah ah, mager gue."
📞:"Della ayo lah, gue traktir deh apapun yang lo mau," bujuk Desi.
"Yakin nih mau traktir gue apapun."
📞:"Iya gue traktir, apapun mau lo gue beliin."
"Oke, gue siap siap tapi jangan nyesel ya nanti," Della bangkit dari tidurannya.
📞:"Iya iya yang penting lo nemenin gue jalan."
"Kalau gue pengen tas Gucci keluaran terbaru lo mau beliin."
📞:"What? Ya gak itu juga kali Del, bangkrut gue bisa bisa."
"Lah katanya tadi apapun," Della tersenyum tanpa dosa.
📞:"Ya iya tapi gak itu juga Del, gue aja belum punya," titah Desi.
"Ya lo mau gak beliin gue itu, kalau gak mau ya udah gue gak mau pergi," canda Della.
📞:"Hmmm ya udah deh gue beliin puas lo," Desi mendengus dengan pasrah menuruti kemauan sang sahabatnya itu dari pada dia berdiam diri dirumahnya.
"Ikhlas gak nih, kelihatannya sih gak ikhlas," Della beranjak dari kasurnya menuju lemari dan mulai memilih baju yang akan ia kenakan.
📞:"Ikhlas gue ikhlas Del ikhlas se ikhlas ikhlasnya," tutur Desi.
"Hahaha temen gue emang rich, gue siap siap dulu satu jam lagi gue sampai kalau gak macet, bye cantik muach," Della menutup sambungan telepon dengan senyum kemenangan kapan lagi bisa melorotin sahabatnya itu.
__ADS_1
Della itu kaya tapi kalau ada yang gratis kenapa gak walaupun itu juga maksa buat gratisnya untung Desi juga anak orang kaya dia kerja cuma buat ngisi waktu luang kayaknya tapi ngisinya dengan hal positif sih gak papa ya gak.
Dengan cepat kilat Della selesai dan berjalan menuruni anak tangga.
"Mbak Rina aku pergi dulu," teriak Della setelah sampai lantai bawah rumahnya.
"Ya Allah, jangan teriak teriak kenapa sih, kasian mbak Rina kalau ada apa-apa sama telinganya," pungkas seseorang dari arah ruang televisi. Della menoleh ke arah sumber suara, betapa terkejutnya dikala Della melihat seorang perempuan cantik sedang duduk melihat televisi rumahnya.
"Kak Feo," teriak Della lagi dan berhambur kedalam pelukan Feo kakak kedua Della.
"Astaga," kaget Feo ketika Della memeluk erat tubuhnya.
"Kangen tau."
"Iya iya tau gue emang ngangenin, dah ah lepasin engap gak bisa napas gue," Della melepaskan pelukannya.
"Haish, lo kapan sampai sini kak, perasan tadi gue makan belum ada lo," tanya Della.
"Kemarin malem jam 11, lo keknya udah molor dan gue baru bangun tadi hehehe."
"Pantesan gue gak liat lo, sampai kapan mau disini kak?" Tanya Della antusias.
"Gak tau, selain kerja gue kesini mau liburan juga."
"Udah gue taruh kulkas, jangan makan coklat mulu dek, sakit gigi baru tau rasa lo," perintah Feo pasalnya Della sangat suka dengan coklat apapun jenisnya, ketika Della dulu disana pasti nyetok coklat di dalam freezer bahkan ada kulkas khusus yang di belinya untuk menyimpan coklat kesukaannya itu.
"Benarkah," Della tidak menghiraukan ucapan Feo dan segera berlari menuju kulkas, dibukanya freezer terpampang jelas tumpukan coklat didalamnya. Dengan wajah yang berseri-seri Della mengambil tiga bungkus coklat dan kembali ke tempat Feo, ia memeluk dari belakang dan mencium pipi sang kakak tanpa henti.
"Basah sudah pipi gue dek, stop," Feo mendorong jidat Della supaya menjauh dari pipinya.
"Thanks kakak gue yang paling cantik," puji Della dan segera duduk disebelah Feo, membuka bungkus coklat dan memakannya.
"Ow iya, lo mau kemana dek rapi amat, mau kencan ya hayo lho kenalin dong sama kakak, ganteng gak orangnya, kaya gak, kerjanya apa, punya mob..." Belum selesai Feo ngomong sudah di putus Della.
"Ya ampun kak, kenapa gak ngingetin gue sih ah, telat nih gue, gue berangkat dulu bye kak," Della mencium pipi kakaknya dan segera keluar rumah.
"Gue belum selesai ngomong dek dan lo utang penjelasan sama gue kalau lo punya pacar," teriak Feo dari dalam rumah.
Della buru buru memasuki mobilnya tanpa menghiraukan ucapan Feo, tancap gas langsung berangkat menuju rumah Desi.
"Lama banget sih lo, sampai lumutan gue," protes Desi ketika Della sudah sampai di rumah Desi.
"Hehehe ya maaf, tadi ada kakak gue di rumah ya jadi ngobrol dulu sebentar, dan nih oleh oleh dari kakak gue," Della menyerahkan tiga bungkus coklat.
__ADS_1
"Hais, oke lah gue maafin, ya udah yuk berangkat sekarang."
Cuma butuh beberapa menit untuk sampai di mall, mereka terus berjalan tanpa tujuan.
"Ish Des, lo mau sebenarnya mau beli apaan sih muter muter mulu dari tadi," keluh Della.
"Gue juga gak tau mau beli apa hehehe," desi cengengesan menampilkan deretan gigi yang rapi.
"Ya Allah gini amat punya temen."
"Ya udah beli pesanan lo dulu deh sambil mikir gue mau beli apaan tar."
"Lo jadi mau beliin gue tas?" tanya Della masih tak percaya.
"Lah gimana sih kan lo tadi yang minta ogap dan lo juga udah nemenin gue, udah lah yuk dari pada jalan gak jelas arah tujuan," Desi menggandeng tangan Della menuju toko barang branded.
"Ada yang bisa saya bantu kak?" tanya pramuniaga sesampainya mereka di toko tersebut.
Dan dengan entengnya Desi menjawab, "Hmm mbak mau tanya ada tas keluaran terbaru gak?"
"Ada kak, mau yang modelnya gimana mari saya antar," Desi dengan muka santainya masih menggandeng tangan Della.
"Ini keluaran terbaru semua kak silahkan di pilih."
"Pilih tuh, terserah lo mau yang mana." ucap Desi.
"Yakin lo Des, gue gak mimpi kan?" dengan entengnya Desi mencubit lengan tangan Della dengan sekuat tenaga.
"Aw sakit ogep."
"Kalau sakit berarti lo gak mimpi pabo."
"Lo tuh yang pabo gue tuh smart."
"Terserah lah, pilih cepetan ah lama, gue juga mau milih nih."
"Ya kalau lo mau milih ya milih aja lah susah amat jadi orang."
"Tangan gue masih lo gandeng gini mana bisa milih gue."
"Eh kutu lalat, mana ada gue gandeng lo yang ada tangan lo tuh yang gandeng gue mulu, mau nyebrang neng ah elah."
"Eh iya ternyata tangan gue hehehe," pramuniaga yang melihat kesomplakan dua sahabat ini hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tetap tersenyum manis.
__ADS_1