
Hari ini tepat H-1 pernikahan Reiki dan Tania akan di laksanakan. Banyak kesibukan yang telah mereka kerjakan dari beberapa hari terakhir dan tak lupa sahabat dari pasangan yang akan berbahagia itu juga membantu mempersiapkanya. Contohnya sekarang ini Della dan Desi tengah berada di rumah sahabatnya itu untuk menguatkan Tania yang mereka yakini sekarang tengah dag dig dug menanti hari esok.
"Ambil nafas buang," ucap Desi menenangkan.
"Sumpah gue gugup banget sekarang," ucap Tania.
"Ck ini belum dimulai acaranya lho Tan. Gimana lo besok pagi saat Pak Reiki ngucap Ijab Kabul," saut Della yang duduk sembari memakan cemilan di samping Tania.
"Kayaknya bakal pingsan dulu sebelum dimulai Del. Habis itu gak jadi nikah deh gara-gara ngurusin mempelai wanitanya," canda Desi.
"Ih mulutnya. Amit-amit jangan sampai. Gue dapetin Reiki tuh susah payah tau walaupun gue gak ngapa-ngapain sih buat dapetinnya," tutur Tania.
"Oh ya gue mau tanya. Sejak kapan lo sama Pak Reiki pacaran?" tanya Desi kepo.
"Gue gak pacaran sama Reiki. Dia awalnya cuma tanya, gue udah punya pacar atau calon belum gitu. Terus gue jawab belum karena emang gue belum punya eh taunya dia ngomong lagi gini." Tania menggantung ucapannya sejenak.
"Mau gak kamu nikah sama saya. Gitu ngomongnya," sambung Tania.
"Terus?" tanya Della.
"Awalnya gue gak percaya lah sama dia. Kalian tau sendiri kan gimana saingan gue yang bening-bening gitu, tajir pula kalau di bandingin sama gue ya gak ada apa-apanya dong guenya. Gue cuma ketawa sinis jawab ucapannya tadi. Tapi kalian tau gak," ucap Tania antusias.
"Enggak," jawab Della dan Desi kompak.
"Ck gue belum selesai ngomong Juleha, kebiasaan." Tania memukul kedua kepala sahabatnya yang kebetulan berada di samping dirinya semua.
"Sakit anjim," umpat Desi.
"Mulutnya," ucap Tania sembari melotot.
"Udah-udah. Nanti lagi berantemnya, lanjut cerita," ucap Della melerai.
"Tiba-tiba Reiki ngasih gue cincin gitu aja terus paginya dia kerumah sama orang tuanya dan ya gue dilamar secara resmi sama dia dan dia minta kalau nikahnya dua minggu setelah lamaran itu. Keluarga kita setuju semua dan terjadilah pernikahan yang akan di laksanakan besok," tutur Tania menyelesaikan ceritanya.
"Kok alur cinta lo enak banget sih, lurus gitu aja," ucap Desi.
"Ya mungkin udah jodohnya kali Des. Jadinya di permudahkan begitu aja sama yang maha kuasa," tutur Della.
"Iya juga sih. Tapi gue juga pengen punya kisah cinta yang lurus gak belok-belok," ucap Desi lesu.
"Ya yang sabar aja nanti juga bakalan lurus kalau lo udah nemuin yang benar-benar untuk lo dan orang yang tepat." Desi menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Tania tadi.
Mereka bertiga terus mengobrol sembari menenangkan Tania yang semakin gugup. Hingga dering ponsel Della mengalihkan mereka bertiga.
"Bentar ya gue angkat dulu." Della menjauh dari kedua sahabatnya itu dan segera mengangkat telepon dari Aiden yang sebenarnya sedari tadi sudah meneror dirinya dengan puluhan pesan yang Della sengaja tidak balas maupun ia baca.
"Assalamualaikum," ucap Della.
π : "Waalaikumsalam, kemana aja kok gak balas WhatsAppku?" tanya Aiden to the point.
Della memutar bola mata malas.
"Aku lagi dirumah Tania. Gak denger ada notifikasi WhatsApp tadi."
π : "Oke baiklah, terus pulangnya kapan?"
"Bentar lagi pulang. Emang kenapa?"
π : "Aku jemput. Mama mau ketemu kamu."
"Emang Mama mau ngapain ketemu aku?" tanya Della.
π : "Gak tau. Katanya kangen sama anaknya,. Ya udah aku otw sekarang."
"Ya udah hati-hati."
π : "Siap My Queen laksanakan. Assalamualaikum calon bini."
"Waalaikumsalam calon suami," balas Della sembari tersenyum geli. Sambung telpon pun terputus dan Della segera mendekati sahabatnya lagi.
"Stres lo Del, senyum senyum sendiri kek gitu," tutur Desi yang sedari tadi melihat gelagat Della.
__ADS_1
"Sembarangan kalau ngomong. Gue lagi murah senyum hari ini karena sahabat gue besok bakalan berubah nama," tutur Della sembari memeluk Tania.
"Hah ganti nama? Gue gak ada rencana buat ganti nama lho Del," ucap Tania bingung.
"Maksud gue berubah nama jadi nyonya Reiki," ujar Della sembari menaik turunkan alisnya.
"Ck bisa aja," ucap Tania yang mulai merona di kedua pipinya.
"Cieee ada tomat Del di pipinya sampai merah gitu hahahaha," tutur Desi menimpali. Sedangkan Tania ia sudah menutup mukanya dengan kedua tangan.
Mereka semua saling bercanda lebih tepatnya Della dan Desi yang selalu menggoda Tania. Hingga notif di ponsel Della berbunyi. Ia segera meraih ponselnya dan membaca pesan yang ternyata dari Aiden.
"Tan, gue balik dulu ya. Udah malam juga. Lo buruan tidur gih biar besok lebih seger dan gak ada mata panda," ucap Della sembari memasukan barangnya yang sempat keluar dari tas kecilnya.
"Kirain lo mau nginep disini juga kayak Desi," tutur Tania kecewa.
"Emang Desi mau nginep disini?" tanya Della.
"Iyalah, ngelonin dia duluan sebelum besok dia di kekep sama Pak Reiki," ucap Desi santai yang membuat Tania kembali malu-malu tikus.
"Udah ah jangan godain gue mulu. Ya udah kalau mau pulang hati-hati salam buat Mbak Rina," ucap Tania.
"Eh Del bentar. Lo tadi kesini kan sama gue. Berhubungan gue mau nginep disini. Lo pakai aja nih mobil asal besok balik lagi ke gue," tutur Desi sembari mengulurkan kunci mobilnya.
"Gak usah. Gue udah di jemput."
"Siapa?" tanya Desi dan Tania serempak.
"Abang grap." Della segera berdiri dari tempatnya dan segera berpamitan kepada kedua sahabatnya dan bergegas keluar menemui Aiden yang sudah menunggunya di dalam mobil.
Della memasuki mobil Aiden dengan tersenyum manis dan di balas dengan senyuman pula oleh Aiden.
Aiden segera menancapkan gas pergi dari pekarangan rumah Tania dan membelah jalan yang tak begitu ramai. Tak ada obrolan selama perjalanan karena Della ia sudah terlelap dalam tidurnya.
Butuh waktu 1 jam untuk mereka sampai di mansion keluarga Aiden.
"Sayang bangun dulu," ucap Aiden lembut sembari mengelus pipi Della.
"Bangun dulu. Nanti di sambung didalam lagi tidurnya." Della mengangguk kepalanya dan perlahan turun dari mobil dengan tangan yang di genggaman Aiden posesif.
"Mau aku gendong aja?" tanya Aiden yang melihat jalan Della yang lemas dan sempoyongan. Namun dengan segera Della menggelengkan kepalanya.
Aiden terus menggenggam tangan dan merangkul pinggang Della dari samping. Hingga mereka sudah masuk kedalam mansion.
"Lho lho lho anak mama kenapa?" tanya Mama Yoona khawatir. Della yang mendengar ucapan Mama Yoona pun berusaha untuk mengembalikan nyawanya yang belum terkumpul sempurna.
Mama Yoona mendekati Aiden dan Della, "Kamu gak di apa-apain sama Aiden kan?" tanya Mama Yoona sembari memutar tubuh Della mengecek setiap inci tubuh Della.
Aiden yang mendengar ucapan sang Mama pun hanya memutarkan bola matanya malas.
"Dia habis bangun tidur Ma. Negatif mulu sama anak sendiri," gerutu Aiden.
"Ya udah kamu tidur lagi ya sayang, mau pakai kamar yang mana? Entar mama suruh pelayan buat bersihin kamar yang mau kamu pakai." Mama Yoona membawa tubuh Della untuk duduk di sofa ruang tamu dan segera mendudukkan dirinya dan Della disana, meninggalkan Aiden yang masih mematung di tempat.
"Gak usah Ma, nanti aku pulang kok," ucap Della dengan suara khas bangun tidurnya.
"Ini udah jam 9 malam lho. Nginep disini aja ya," pinta Mama Yoona.
"Tapi besok pagi Della ada acara Ma."
"Acara pernikahan Reiki kan?" Della mengangguk.
"Mama juga besok datang kesana karena kebetulan Reiki itu anak dari temen Mama yang sama-sama dari Korea." Della mengangguk kepalanya lagi. Pantas saja Reiki juga mirip dengan oppa oppa ternyata dia memiliki darah Korea dari sang ibu sama seperti Aiden rupanya.
"Tapi baju Della dirumah Ma," ucap Della.
"Masalah baju gampang besok. Yang penting sekarang kamu nginap di sini ya nemenin Mama yang lagi di tinggal Papa keluar kota," tutur Mama Yoona dramatis.
"Aiden kan ada Ma," timpal Aiden. Namun bukannya mendapat jawaban dari sang Mama ia malah mendapat pelototan tajam darinya.
Aiden menggaruk ujung hidung mancungnya.
__ADS_1
"Nginap disini ya please sekali aja," mohon Mama Yoona.
"Baiklah Ma. Aku nginap disini malam ini." Mama Yoona langsung memeluk tubuh Della.
"Ya udah kamu tidur di kamar mana?"
"Kamar Aiden aja Ma," ucap Aiden.
"Kamar Aiden mau? Biar Aiden nanti tidur di kamar Adiknya."
"Kata siapa Aiden pindah kamar. Orang aku juga mau tidur di kamar itu sama Della berdua," ucap Aiden santai yang langsung mendapat lemparan bantal sofa di mukanya oleh sang Mama.
"Sebelum kamu ngelakuin itu. Mama pastikan kamu habis di tangan Mama. Jangan macam-macam sebelum waktunya," ucap Mama Yoona tegas.
"Ck canda kali Ma," desis Aiden.
"Ya udah kamu anterin anak Mama ke kamar kamu. Awas jangan macem-macem." Aiden menganggukkan kepalanya sembari menghampiri Della dan membawa Della ke kamarnya.
"Cuci kaki dulu sebelum tidur," ucap Aiden sesudah mereka masuk kedalam kamar yang dominan dengan warna putih dan abu-abu tak lupa dengan harum lavender yang menyeruak masuk kedalam indra penciuman Della. Sungguh kamar yang nyaman, batin Della.
Della segera bergegas untuk mencuci kakinya dan membersihkan bagian tubuhnya yang lain. Dan tak membutuhkan waktu lama ia sudah keluar dari kamar mandi dan matanya mendapati Aiden yang sudah berbaring di kasurnya.
Della mendekati Aiden dan mendudukan tubuhnya di samping tubuh Aiden. Aiden memiringkan tubuhnya menghadap tubuh Della.
"Kamu yakin mau tidur pakai celana jeans gini?" Della menatap celananya. Ya kalau ia tak memakai celana ini terus dia harus ganti pakai apa sedangkan Della sedang berada dirumah Aiden sekarang.
"Pakai piyamaku aja, bentar aku ambilin." Aiden bergegas menuju ruang gantinya dan tak butuh lama Aiden kembali dengan membawa satu set piyama di tangannya.
"Ini pakai," ucap Aiden sembari menyerahkan piyama ke tangan Della.
Della mengambil piyama Aiden dan kembali lagi ke kamar mandi. Mengganti pakaiannya secepat kilat. Setelah ia selesai mengganti bajunya ia menatap dirinya di pantulan cermin didepannya.
"Ya ampun gue kayak orang-orangan sawah kalau pakai bajunya Aiden," ucap Della. Setelah puas menatap dirinya, ia pun segera keluar dari kamar mandi tersebut.
"Gede banget," ucap Della setelah ia berada di samping Aiden yang tengah menatap layar ponselnya.
Aiden mengalihkan pandangannya menatap Della yang tampak menggemaskan dengan piyama yang kebesaran untuk ukuran badannya.
"Lucu banget sih," ucap Aiden sembari menghampiri Della yang masih berdiri ditempat.
"Lucu apaan, kek orang-orangan sawah begini," tutur Della sembari mengerucutkan bibirnya.
"Beneran sayang kamu tuh lucu banget, jadi pengen cepet nikahin kamu aku tuh," ucap Aiden sembari memegang pipi Della dengan kedua tangan dan menekan pipi Della hingga bibir Della tambah manyun.
"Gemes," ujar Aiden yang terus memainkan pipi Della.
"Udah ih." Della memukul tangan Aiden yang masih menempel di pipinya.
"Hehehe, ya udah tidur gih udah malem," tutur Aiden setelah melepas tangannya.
Dan cup, Aiden mengecup pipi kanan Della dan setelah itu ia berlari menghindar dari Della.
"Kecupan penghantar tidur sayang," ucap Aiden yang sudah di ambang pintu.
"Hem alasan, sana pergi," usir Della.
"Good night My Queen," ucap Aiden sembari memberi flying kiss untuk Della.
"Good night too my future husband," balas Della yang seakan-akan menangkap flying kiss Aiden tadi.
Aiden menutup pintunya perlahan hingga benar benar tertutup sempurna. Della pun tersenyum dengan tingkah Aiden dan dirinya tadi, sangat menggelikan tapi juga sangat menyenangkan, batin Della. Ia pun segera membaringkan tubuhnya di kasur milik Aiden. Menghirup aroma tubuh Aiden yang menempel di kasur itu sebelum ia memejamkan matanya dan terlelap dalam tidur nyenyaknya.
πππππ
HAPPY READING GUYS π
Eps kali ini lumayan panjangπ€ author waktu nulis ini khilaf jadinya ya giniπ semoga kalian suka yaπ
Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE and VOTE, hadiah juga boleh author ikhlas π€ karena dengan adanya kalian memberi jejak di cerita absurd ini sama aja kalian mendorong author untuk semangat nulis π dan author ucapkan terimakasih untuk semua yang sudah meninggal jejak untuk author, sayang kalian banyak-banyak π
Peluk cium dari author absurd π€π See you next eps bye π
__ADS_1