
"Bibi Yaya, tolong siapkan pakaian Clara, aku akan membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan disana."
"Non Leony tidak kerja hari ini?" Bi Yaya menatap majikannya.
"Tidak, nanti saya minta izin pada pak Reyn. Saya ke kamar dulu untuk bersiap."
"Baik Non."
Sepeninggal.Leony, bibi Yaya bergegas membereskan dua gelas kotor diatas nakas juga baskom air untuk mengompres sang nona kecilnya, sebelum menyiapkan beberapa pakaian Clara sesuai perintah Leony.
Ia berhenti sejenak di sisi pembaringan, merasa penasaran ia menyentuh dahi Clara karena melihat bibir gadis kecil itu lebih pucat dari semalam.
"Waduh, panas bener." bibi Yaya buru-buru mengambil kain kompres, ia khawatir Clara akan mengalami kejang-kejang lagi seperti 1 tahun yang lalu, kala bocah itu berusia 3 tahun.
Di kamarnya, Leony yang begitu lelah memegang tepi ranjangnya, ia merasa seisi kamarnya berputar-putar membuat dirinya limbung lalu jatuh melorot kelantai dan tidak sadarkan diri.
...🍓🍓🍓...
Drrt. Drrt. Drrt.
Reyn menatap ponselnya yang terus bergetar di atas meja kerjanya. Walau sibuk, ia tetap mengangkatnya apalagi yang menelponnya adalah Bram.
📞"Hallo, ada apa kakak ipar?"
📞"Apa kau tidak merasa kehilangan isteri?" terdengar suara Bram dari seberang sana dengan irama cepat.
__ADS_1
📞"Tidak. Memangnya kenapa?" sahut Reyn santai.
📞"Oh ya ampun! Kau itu bener-bener ya. Aku rasa kau sengaja mengirim Rose kemari agar menggangguku. Kau tahu? Aku jadi tidak konsentrasi berkerja kalau begini caranya," gerutu Bram dari sambungan telepon.
Reyn mengerutkan kening pertanda bingung. Belum sempat ia menyampaikan niatnya untuk berbicara langsung dengan Rose. Pemuda itu telah lebih dulu mengubah panggilan suara ke panggilan video.
📞"ASTAGA!"
Reyn terpana sesaat melihat Rose tengah duduk diatas meja yang dia duga adalah meja kerja Bram, karena ada sederetan angka pada baris dan kolom yang terpampang dilayar laptop yang berada disebelah Rose duduk.
Perempuan itu duduk bersila dan masih mengenakan seragam putih abu-abunya sambil memakan gulali sebesar kepala Bram, dan masih ada beberapa gulali yang masih tersegel plastik menumpuk di atas meja Bram.
Sesaat kemudian Reyn terbahak, bukannya merasa prihatin pada nasib Bram yang pusing tujuh keliling pada ulah isterinya itu.
📞"Aku bingung saja, bukannya tadi pagi Rose pamit ke sekolah? Kenapa bisa ada di Samarinda? Berani juga dia nyetir sendiri kesana," Reyn masih tertawa melihat layar yang ditampilkan kakak iparnya itu.
📞"Pokoknya aku nggak mau tau! Cepat jemput Rose dan bawa dia dari sini! Kau tau, aku harus berkerja super keras untuk keluarga masa depanku." Bram menunjukan wajah kesalnya didepan layar, menatap tajam pada Reyn.
📞"Oh maaf, tidak bisa. 5 menit lagi ada meeting, pukul 10.00 wita. Leony tidak turun, jadi aku sangat sibuk," tolak Reyn memberi alasan. "Tolong urus dulu adikmu itu kakak ipar. Dan perlakukan dia dengan baik, karena dalam perutnya ada keponakanmu."
📞"Kenapa si bidadari itu tidak turun? Apa dia sakit?" suara bernada tinggi Bram berubah cemas.
📞"Leony dan putrinya sama-sama sakit. Kalau kakak ipar cemas, besuk saja mereka di rumah sakit umum Tangga Arang. Aku tutup dulu, meeting sebentar lagi akan dimulai." setelah berkata demikian Reyn menutup ponselnya.
Bram termenung sesaat menatap ponselnya. Perkataan Leony kembali terlintas dalam benaknya saat terakhir mereka bertemu, bila perempuan itu melarang keras dirinya mucul dihadapannya juga dihadapan Clara.
__ADS_1
Demi kebaikan, mau tak mau Bram terpaksa patuh. Ia juga melihat ada beberapa kali panggilan tidak terjawab perempuan itu, namun ia enggan untuk menelpon balik, belum siap bila perempuan itu akan mengomelinya lagi.
"Kak Bram ngelamun? Apa mas Reyn marahin Kakak?" Rose menatap Bram yang masih berdiri dibelakang kursi kerjanya.
Bram menggeleng pelan, ia memandang gemes wajah Rose, mirip seperti kelakuan Clara, sekitar area mulutnya pasti clemotan sana-sini, bila sedang makan. Semenjak hamil, adik kesayangannya itu memang sangat berantakan bila sedang makan.
"Rose, kamu itu udah besar, masa iya makan gulali saja sampai seberantakan ini?" omel Bram sambil membersihkan area mulut adiknya itu dengan tissue.
"Udah yuk, Kakak antar pulang." Bram menurunkan adiknya itu dari atas meja. Sejak kecil, ia sudah terbiasa mengurus Rose sehingga adiknya itu lebih manja padanya dibandingkan pada kedua orang tua mereka, apa yang diinginkan Rose selalu saja ia turuti.
"Rose pengen makan, lapar..." rengek Rose saat Bram menarik pergelangan tangannya keluar dari ruangan.
"Bukannya tadi kau sudah menghabiskan semangkuk puding dari tante Sarina?" Bram kaget, semenjak datang dikantor orang tua Reyn, mulut adiknya itu tidak henti-hentinya mengunyah.
"Masih laper Kak. Rose kepengen soto Makasar dan soto Betawi di restoran Makanan Nusantara, makanya Rose jauh-jauh nyetir ke Samarinda ini Kak," ucapnya dengan wajah memelas, minta diturutin.
Bram mendesah, rasa sayangnya pada adiknya itu akhirnya membuatnya mengalah, mengesampingkan dulu kesibukannya dalam berkerja dan kecemasannya pada Leony dan Clara yang dikabarkan sedang sakit dan dirawat di rumah sakit.
"Ayo buruan. Nanti kakak minta pemiliknya untuk buka cabang di kota Tangga Arang, biar kau tidak perlu jauh-jauh ke Samarinda sini. Jadi kau bisa sarapan pagi, makan siang, dan makan malam di resto itu," timpal Bram yang merasa gemas tapi tak tega pada adiknya.
"Nggak sampai segitunya juga kale Kak. Itu lebay namanya," Rose terkekeh, ia tahu kakaknya sedang kesal padanya karena sudah disibukan dengan dirinya sejak pagi. Tapi mau gimana lagi, selain Reyn, hanya kakaknya itu yang sangat dan sangat perduli pada permintaannya yang muluk-muluk.
Ayah dan Bundanya? Rose tidak tega merepotkan mereka. Harus cukup energi dan juga mental yang sehat untuk menuruti segala kemauannya.
Bersambung...👉
__ADS_1