
Rose mengerjap-ngerjapkan matanya, sinar matahari sore yang menembus tirai yang terbuka sangat menyilaukan matanya. Ia menyapu pandangannya sekeliling kamar, tidak ada Reyn disana, dimana suaminya itu batinnya.
Rose beranjak dari kasurnya, ketika melihat isi keranjang pakaian kotor meluber keluar. Walau tidak pandai mencuci pakaian, ia tidak pernah membiarkan siapapun lagi mencuci pakaiannya setelah diomelin habis-habisan oleh sang Bunda ketika kedapatan menyuruh asisten rumah tangganya mencuci ce*ana da*amnya yang kena noda ha*dnya saat itu.
Entah kenapa ia merasa jijik saja dengan ce*lana da*amnya sendiri, apalagi kalau dirinya sedang kedatangan tamu bulanannya, itu sebabnya kala itu ia selalu meminta asisten rumah tangganya yang mencucinya.
Dikamar mandi, Rose menuangkan semua pakaian kotor itu kedalam mesin cuci. Pandangannya sedikit terganggu saat melihat kain segitiga asing dengan corak papan catur yang menyita perhatiannya.
"Apa ini?" Rose menarik benda segitiga itu dengan ujung jari telunjuk dan ibu jarinya, dan mendekatkannya kewajahnya.
"Astagaahh!!" Rose melempar benda itu sembarang arah begitu menyadari benda kain segitiga itu adalah milik Reyn suaminya. Melihat benda itu, seketika Rose merasa pusing dan mual-mual, isi perutnya terasa teraduk-aduk didalam sana.
"Hueekk! Hueekk! Hueekk!" Rose memuntahkan semua makan siangnya saat di villa tadi.
"Rose! Kau kenapa Rose!" Reyn yang berada diruang kerjanya bergegas menghambur keluar menghampiri Rose yang masih memuntahkan apa yang masih tersisa dalam perutnya di kamar mandi. Sepeninggalnya siang tadi, isterinya itu tengah tertidur pulas karena kelelahan setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam.
__ADS_1
Dengan rasa panik, Reyn kembali kedalam kamar untuk mengambil segelas air dan minyak kayu putih untuk isterinya itu.
"Buruan diminum, mungkin kau masuk angin saat perjalanan pulang tadi," Reyn menyodorkan segelas air minum yang ia bawa. Rose segera meneguk air minum itu setengah dari isinya, sementara Reyn mengusap minyak kayu putih ditengkuk gadis itu, juga pada bagian belakang telinganya.
"Masih ingin muntah?" Reyn menatap wajah lemas Rose yang berkeringat.
Rose menggeleng pelan, "Sudah tidak." jawabnya dengan wajah sayu.
"Ayo, aku papah kedalam kamar." Reyn merangkul pundak Rose untuk membawanya kembali kekamar.
"Tapi muntahan ini bagaimana?" Rose menunjuk lantai hingga ke wastafel yang kotor dan menjijikan membuatnya ingin muntah lagi.
"Kenapa?" tanya Reyn ketika melihat Rose memalingkan wajahnya tiba-tiba.
"Ce*ana da*am itu--, yang sudah membuatku memuntahkan semua makan siangku," tunjuk Rose pada kain segitiiga yang teronggok tidak berdaya diambang pintu kamar mandi dengan wajah masih berpaling.
__ADS_1
Reyn menoleh kearah benda yang ditunjuk isterinya. Jiwa kelelakiannya sontak saja tersinggung begitu mengetahui penyebab Rose muntah-muntah bukannya karena mabuk perjalanan tapi pembungkus segitiga aset berharganya.
"Kau ingin tahu apa penangkal mujarab untuk rasa mual-mualmu itu?" Reyn mendudukan Rose ditepi tempat tidur.
"Apa itu?" Rose nampak penasaran.
"Benar kau ingin tahu?" Reyn menarik senyum diujung bibirnya yang jarang ia tampilkan itu. Dibalik sikap dingin dan datarnya, laki-laki itu memiliki otak yang lumayan usil.
"Heum," Rose mengangguk.
"Isi dari segitiga itu," Reyn mendadak memajukan tubuhnya, Rose merasa gugup dan memundurkan punggungnya hingga setengah berbaring, dengan kedua sikunya sebagai penopang.
"I-isinya? Apa maksud M-Mas?" Rose semakin gugup, seluruh tubuhnya mendadak menegang sedangkan Reyn semakin mendekatkan wajahnya padanya.
"Iya, isinya. Belalai gajah bersama dua telur dinosaurusnya yang menggantung menjuntai," ucap Reyn memperjelas.
__ADS_1
"Cukup! Aku tidak mau dengar! Menjauhlah!" Rose mendorong dada Reyn dengan sekuat tenaganya, tapi tubuh kokoh suaminya itu malah membuatnya terhempas kekasurnya hingga laki-laki itu mengungkungnya dibawahnya.
Bersambung...👉