My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
80. KAKAK-BERADIK SEBELAS-DUA BELAS


__ADS_3

Ting!


"Cepat minggir! Saya mau turun, pak Reyn datang!" Leony gelabakan mendengar suara lift terbuka. Sayangnya Bram tidak mau bergeser, ia seolah sengaja mempertontonkan segala kemesraan sepihaknya.


"Biar Arjuna yang bantuin Ayang bidadari turun. Takut lecet." disertai gerakan gesitnya, menggendong Leony turun.


BUG! BUG!


"Lepasin pak Bram! Lepasin!" pekik Leony kesal sambil terus meronta dan memukul punggung pemuda itu. Ia tidak menduga Bram bakal seberani ini melakukannya, apalagi didepan orang-orang yang sangat ia segani, ini sungguh memalukan.


BRUAK!


Mata Rose membola, seakan tak percaya bila tidak menyaksikan sendiri ke-lebay-an sang kakak yang dengan sengaja menjatuhkan dirinya sendiri pada kursi kerja Leony dibelakangnya, hingga mau tak mau Leony yang kaget memeluk erat takut terjatuh.


PLAK!

__ADS_1


"Aduh!" Bram meringis kesakitan. Ia mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa kebas dan memerah akibat pukulan Rose yang lumayan bertenaga.


Reyn dan Nainggolan terperanjat.


"Tangan mesum! Lepasin!" Marah Rose lagi dengan tatapan mendelik memandangi tangan nakal Bram yang tak sengaja mencengkram p@ha mulus Leony yang terduduk diatas pangkuan kakaknya itu.


"Ehem!" Reyn berdehem, melihat posisi intim sekretaris pribadinya dengan sang kakak iparnya.


Sepasang tangan Leony gegas melepas pelukan eratnya, mendorong asal pudak Bram agar dadanya tidak lagi menempel pada dada pemuda itu. Perempuan itu berdiri, merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan akibat ulah Bram yang sengaja membawanya jatuh bersama.


"M-maafkan kami Pak, kami tidak melakukan hal yang tidak senonoh di kantor Bapak," Leony berdiri, dengan wajah sedikit menunduk dan wajah yang memerah menahan malu, kedua tangan perempuan itu saling bertautan menggambarkan perasaan hatinya yang tidak nyaman saat atasannya memergoki dirinya tengah memeluk kakak ipar bosnya itu.


"Tolong siapkan apapun yang diminta pak Nainggolan." Reyn menatap datar pada Leony yang terlihat gugup berdiri disamping meja.


"B-baik Pak," sahut Leony masih menunduk. Perasaan malu masih menguasai hatinya.

__ADS_1


"Rose, ada apa kau kemari?" Reyn memandangi Rose yang baru saja beres memberi pelajaran pada kakak tersayangnya.


"Merindukanmu Mas," sahut Rose apa adanya, tanpa merasa malu sedikitpun, dan tidak lupa mengulas senyum terbaiknya.


Nainggolan mengulum senyum. Ia melirik wajah Reyn yang bersemu merah disebelahnya. "Ternyata kakak-beradik itu sebelas dua belas,"" bisiknya pelan.


"Dan aku menyukainya," bisik Reyn tak kalah pelan tapi tetap memasang wajah datarnya. Selain Nainggolan, ia tak mau ada yang mendengarnya termasuk Rose.


Rose mendekat, menautkan tangannya pada jari jemari suaminya, membuat hati Bram yang telah dilanda cinta asmara meronta-ronta ingin meniru apa yang dilakukan adiknya itu. Melihat wajah garang Leony, ia segera mengurungkan niatnya.


"Kak Bram, ikut kami," ajak Reyn sambil berlalu bersama Rose menuju ruangannya. Ia memang sedikit pusing memikirkan kakak iparnya itu kerap kali mendatangi sekretaris pribadinya walau hanya di jam istirahat makan siang.


"Oke!" Bram berdiri dari kursi kerja Leony, ia mendekati perempuan itu untuk membisikan sesuatu.


"Ayang bidadariku, kekasih tampanmu ini pamit dulu." Leony menoleh, ingin rasanya ia menjitak jidat pemuda yang berbicara lantang di telinganya. Ia malu sekali karena lawyer perusahaan mereka terkekeh mendengar ucapan Bram padanya.

__ADS_1


"Jangan mepet-mepet dengan pak Nainggolan. Dia sudah punya isteri dan anak yang segudang," peringat Bram. Nainggolan yang disinggung namanya akhirnya tertawa lepas. Ia memang pernah muda, tapi tidak seberani Bram dalam mendekati seorang gadis incarannya.


Bersambung...👉


__ADS_2