
Bram menepikan motor sportnya di bahu jalan, memberi ruang arak-arakan ramai para pelajar berseragam putih abu-abu yang tengah melakukan konvoi kelulusan mereka dengan begitu riuhnya memadati jalan utama kota Tangga Arang.
Ya, hari ini, seakan jalan utama itu hanya milik para pelajar yang tengah merayakan kelulusan mereka. Beruntungnya, para polisi lalu lintas dengan sigap turun tangan untuk mengatur para pelajar itu supaya tertib dijalan untuk tidak menimbulkan kericuhan, agar tidak terjadi kecelakaan lalu lintas.
Suasana euforia para pelajar semakin menjadi manakala para warga kota menyempatkan waktu untuk menonton selebrasi yang dilakukan oleh para pelajar yang meneriakan yel-yel mereka dijalan, seolah mereka baru saja lepas dari bui yang sudah sekian lama memenjarakan kebebasan mereka di sekolah.
Demikianlah sifat remaja yang selalu ingin diakui eksistensinya, ingin menunjukkan pada sekitarnya bahwa mereka adalah bagian dari orang-orang yang sukses melewati ujian maha tinggi, yaitu sekolah mereka. Sehingga, mereka melakukan konvoi beramai-ramai dan mencoret-coret seragam sebagai tanda kebebasan.
Sudah hampir dua jam motor Bram berjalan tersendat-sendat karena terjebak macet, hari itu dirinya berniat bertemu dosen pembimbingnya di kampus.
"Rose!" Bram memekik kaget ditengah keramaian, manakala sang adik dengan gaya noraknya tengah melintas didepannya bersama teman-teman sekelasnya.
"Reyn harus tahu ini." Bram buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu mendial nomor Reyn. Tidak menunggu lama, panggilan sudah tersambung.
📞"Hallo kak Bram. Ada apa?" terdengar suara Reyn dari ujung sambungan telepon.
📞"Kau pasti tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Rose, isteri bandelmu itu berani-beraninya dia ikut konvoi kelulusan bersama teman-temannya. Entah mobil bak terbuka siapa yang mereka pakai itu," Bram nampak antusias dengan aduannya, sambil memperhatikan pakaian bahkan rambut Rose yang sudah coreng-moreng tidak karuan, jarak adiknya itu sudah semakin menjauh mengikuti arus konvoi bersama teman-temannya.
📞"Aku percaya pada apa yang kak Bram lihat. Rose memang sudah meminta izin padaku untuk mengikuti konvoi bersama teman-temannya." sahut Reyn dari ujung sambungan tanpa nada kaget sedikitpun.
📞"APA?! Jadi Rose sampai ikut konvoi karena kau yang mengizinkannya. Apa kau lupa kalau adikku itu sedang mengandung anakmu?" Bram seketika emosi, bagaimana mungkin adik iparnya seceroboh itu mengizinkan adik perempuannya mengikuti konvoi kelulusan yang bisa membahayakan itu.
📞"Aku sudah mengirim orang-orangku disekitar Rose, juga sopirnya adalah pak Kasim. Aku juga sudah perintahkan pada mereka bila pukul 3 sore, mereka harus segera menarik diri dari rombongan konvoi. Aku hanya ingin Rose bisa menikmati masa remajanya seperti teman-temannya yang lain kak Bram." sahut Reyn, seolah mengerti kecemasan kakak iparnya itu. Awalnya ia juga tidak mengizinkan isterinya mengikuti kegiatan itu.
📞"Baiklah, aku mengerti." Bram nampak sedikit lega. "Aku tutup dulu, ada urusan penting," pemuda itu segera menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban Reyn ketika melihat Leony melintas didepannya, dibonceng seorang abang ojol.
Tanpa berpikir panjang, Bram menstarter motornya lalu mengejar disela-sela keramaian.
__ADS_1
"Bang! Abang Ojol!" teriak Bram sambil terus memepetin disamping sang ojol sampai laki-laki berseragam ojol itu menyadari panggilannya.
"Menepi Bang!" Teriak Bram lagi, Leony sempat terkaget melihat kehadiran Bram yang tiba-tiba.
"Ada apa Mas?" tanya abang ojol begitu dirinya berhenti dipinggir jalan.
"Turunin calon isteri saya ini. Biar saya yang antar." pinta Bram menatap sang abang ojol yang nampak kebingungan, begitu pula dengan Leony, perempuan itu terlihat kesal karena merasa Bram telah mengganggu perjalanannya.
"Tapi Mas--" abang ojol menatap Bram yang turun dari motornya juga pada Leony secara bergantian.
"Bram, apa-apaan sih kamu?" ucap Leony marah, ia menepis tangan Bram yang seenaknya menarik tangannya hingga ia meluncur turun dari jok belakang si abang ojol.
Bram tidak perduli, ia mengikatkan jaketnya pada pinggang Leony agar para pria hidung belang tidak melihat paha mulus perempuan itu lalu memasang helm cadangan yang biasa ia bawa di kepala Leony walau perempuan itu selalu menghindar.
"Ayang bidadari mau kemana? Babang Arjuna yang antar."
Bram hanya tersenyum kecil melihat sikap Leony yang masih saja anti pati padanya walau sekian minggu dirinya telah berusaha keras menahan diri untuk tidak bertemu dengan pujaan hatinya itu.
"Bang ini ongkosnya. Ma kasih udah anterin calon isteri saya sampai sini?" Bram beralih pada si abang ojol, menyodorkan selembar uang kertas pecahan seratus ribuan pada pria itu.
"Uang pas mas, cuma tiga puluh rebu doang. Saya belum ada kembaliannya, baru narik Mas." cengir sang abang ojol.
"Buat abang aja semua," sahut Bram yang tidak mau ambil pusing. Cukup sikap Leony saja yang sudah membuatnya pusing tujuh keliling, mencari cara bagaimana bisa menaklukan hati perempuan beranak satu itu.
"Ma kasih banyak Mas, semoga Mas-nya selalu dilimpahkan rejeki, selalu sehat dan bahagia." Walau merasa.tak enak, pria itu tetap menerimanya lalu segera berlalu.
"Ayo, buruan naik." Bram menunjuk dengan wajahnya pada boncengan dibelakangnya. Leony masih diam dengan wajah memberengut kesal.
__ADS_1
"Perhatian!! Biar lagi ngambek! Calon isteri saya cantik bagaikan bidadari kan?!" teriak Bram lantang ditengah keramaian warga kota dan seketika disambut berbagai respon, hingga membuat suasana panas terik siang itu semakin riuh.
Wajah Leony merah padam menahan malu yang luar biasa, ingin marah tapi sungkan disaksikan orang banyak, terpaksa ia menahannya sekuat tenaga didalam dadanya yang serasa ingin meledak. Beruntungnya sekarang ia masih bisa menyembunyikan wajahnya dibalik helm yang sudah dikenakan Bram padanya.
"Ayo Ayang bidadari, buruan naik. Panas nih," lanjut Bram disengaja.
Suara gelak riuh-rendah kembali terdengar ramai, tak tahan menyaksikan ke-alay-an Bram yang semakin menjadi.
Tidak ada pilihan lain, Leony terpaksa naik keboncengan belakang, walau sedikit kesulitan karena cukup tinggi.
"Buruan jalan!" ketus Leony tepat ditelinga Bram bagian kiri.
"Meluk yang erat Ayang bidadari, kau bisa tertinggal bila babang Arjuna melajukan motornya nanti," suruh Bram, ia masih belum mau menjalankan motornya.
"K-kau--" Leony menggertakan giginya sambil mengepalkan kedua tangannya disamping roknya.
"Mau cepetan jalan nggak? Teriak lagi nih ya," ancam Bram sambil nyengir didalam helmnya, tentu saja Leony tidak melihatnya.
"Hufh!" Bram kaget.
Pemuda itu menahan nafasnya hingga beberapa saat lamanya. Sepasang tangan Leony yang tiba-tiba melingkar tanpa aba-aba, dan mengunci erat lingkaran perut Bram membuat pemuda itu hampir pingsan saking senangnya.
"Buruan, aku bisa terlambat. Kepala sekolah Clara pasti sudah menungguku," sentak Leony, karena Bram masih juga belum menjalankan motornya.
"I-Iya," sahut Bram mendadak gugup. Lidahnya terasa kelu. Pelukan erat Leony seakan membuat dirinya merasakan sengatan listrik diseluruh simpul-simpul sarafnya.
Bersambung...👉
__ADS_1