My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
81. KUSUT


__ADS_3

"Kak Bram beneran suka sama sekretaris Leony?" Reyn memandang wajah Bram, pemuda itu nampak lahap, terlihat sangat kelaparan, begitu pula dengan Rose. Isterinya itu bahkan sangat fokus pada makanannya dibandingkan mendengar obrolan suami dan kakak sulungnya itu.


"Suka? Lebih tepatnya C-I-N-T-A, CINTA. Aku sudah jatuh cinta pada ayang Leony, sejak awal bertemu dengannya. Dia gadis yang aduhai, membuat panah cintaku melesat lurus, gak menyimpang kekiri ataupun kekanan, dan memancap tepat hanya dihati sang Bidadari-ku Leony." ungkapnya sambil menerawang lalu melanjutkan kembali makannya.


Reyn berusaha keras menahan tawanya, tapi senyum tipis itu tak urung tergambar juga diwajahnya yang ia paksa seserius mungkin, kala mendengar pertanyaan singkatnya dijawab dengan ulasan antusias dan sepanjang rel kereta api oleh sang kakak ipar.


"Cinta pertama?" Reyn sedikit meledek.


"Kok tahu?!" Bram menampilkan wajah serius dengan mulut penuh dan pipinya nampak mengembung.


Reyn akhirnya tergelak, sudah tidak mampu membendung tawanya yang sedari tadi ia tahan. Pantas saja sampai segitunya batinnya masih dalam mode tergelak.


"Kau berani mentertawai kakak iparmu, adik ipar?" Bram pura-pura tak terima. Reyn makin tergelak melihat wajah Bram yang nampak lucu dan terlihat sedikit mirip dengan Rose bila sedang memasang wajah serius seperti itu.


"Rose, apa kau tau?" Bram menggamit lengan Rose yang fokus pada makanannya.


"Tau apa Kak?" Rose melirik Bram sekilas, lalu kembali fokus pada makan siangnya.


"Ada seorang pria yang lebih parah dari pada Kakak-mu ini," Bram melihat ke arah Reyn yang masih mentertawainya dengan raut kesal.


"Benarkah?" Rose merespon perkataan kakaknya dengan acuh tak acuh.


"Ternyata sang pria itu pernah menyukai seorang bayi perempuan berumur dua tahun, saat ia berusia delapan tahun." Bram masih melihat ke arah Reyn.


Reyn yang mendengarnya memperbaiki duduknya dengan tawanya yang ikut mereda, perkataan Bram seolah menjurus padanya. Tapi bagaimana kakak iparnya itu bisa tahu? Tentu sumbernya dari Mama dan Papa angkat, batinnya.


"Lalu?" Rose masih bertanya acuh, sembari memasukan suapan demi suapan kedalam mulutnya, ia memang masih sangat lapar.


"Pria itu kemudian meminang saat bayi perempuan itu berusia 15 tahun dan akhirnya menikahinya kala usianya telah cukup." Rose mengalihkan atensinya dari makanan dihadapannya, memandang Bram yang telah menuntaskan ceritanya.

__ADS_1


"Apa itu nyata? Aku mau jadi gadis itu. Rasanya bahagia sekali, karena ada seseorang yang sebegitu dalamnya mencintai mulai dari bayi," angan Rose menerawang, membayangkan bila dirinya yang berada pada posisi gadis yang diceritakan oleh kakaknya itu.


Bram menoleh dengan raut sebel ke arah Reyn yang tersenyum lebar penuh kemenangan. Niat hati ingin membalas adik iparnya itu, malah Rose bersimpati pada ceritanya. "Kalah lagi." gerutunya.


"Kak Bram sudah mengenal keluarga Leony? Atau mungkin sudah pernah ke rumahnya?" tanya Reyn, kembali pada obrolan awal, setelah puas mentertawai kakak iparnya itu.


Bram menggeleng. "Belum." Pemuda itu meneguk air mineralnya yang sebelumnya telah diminum oleh Leony, lalu membereskan peralatan makannya.


"Dan jangan bilang kalau kak Bram tidak tahu bila Leony adalah salah satu keturunan bangsawan kota Tangga Arang ini, sama seperti ibu Mutiara." Reyn menatap intens wajah kakak iparnya itu.


Bram terhenyak. Ia sungguh tidak tahu. Bukan rahasia lagi, bila keluarga bangsawan di kota ini sangat kaku dalam hal memilih pasangan, harus dari kaum kerabat bangsawaan atau seorang konglomerat.


Haruskah dirinya mundur? Tapi cinta ini sudah terlanjur tumbuh dan bersemi begitu suburnya. Walau ia merasakannya hanya sepihak, tapi rasa itu terlalu manis untuk dienyahkan begitu saja. Oh Tuhan! Buat aku tetap berjodoh dengan Leony, hanya dia yang aku mau! Pekik Bram didalam hati dengan perasaan yang tiba-tiba saja kusut, dan sekusut-kusutnya.


Pemuda itu meneguk salivanya dengan susah payah. Kejadian ibundanya yang menerima hinaan dari isteri mantan kepala daerah yang berstatus darah biru itu masih membekas dalam ingatanya, dan rentetan kejadian besar yang telah di alami keluarganya akibat hubungan Rose dan Steven telah membuat hampir sebagian besar warga kota kelahirannya itu ikut merasakan dampaknya.


Rose memandang wajah kaget kakaknya, ada perasaan iba dihatinya. Keceriaan yang semula ia lihat kini telah berubah 180°.


...🍓🍓🍓...


Perempuan itu sedikit terusik atas perubahan tiba-tiba Bram, beberapa detik kemudian ia menepis segala rasa penasarannya, seiring lenyapnya Bram bersama pintu lift yang tertutup.


Leony mendesah lega.


"Ada yang kurang ya, sekretaris Leony?" Nainggolan bersuara. Sedari tadi ia memperhatikan Leony mengawasi Bram sampai laki-laki itu menghilang didalam lift.


"Berkas apa lagi Pak?" atensi Leony segera terpusat pada lawyer yang duduk didepan mejanya itu.


"Bukan berkasnya, sekretaris Leony. Tapi--, kakak ipar pak Reyn. Saya jadi tidak enak, mungkin dia cemburu pada saya yang ganteng ini," kelakar Nainggolan sambil terkekeh, berusaha menjauhkan kekakuan yang sempat tercifta, setelah dirinya dan Reyn menangkap basah Leony dan Bram saling berpangkuan, membuat perempuan itu terus gugup dan hilang konsentrasi saat menyiapkan berkas-berkas Reyn yang dibutuhkan oleh Nainggolan untuk pembelian rumah milik Farid.

__ADS_1


"Ah, pak Nainggolan bisa saja. Kami tidak ada hubungan apa-apa. Tadi hanya salah faham Pak." ucap Leony memberi klarifikasi. Tapi belahan pipinya sedikit memerah dan menghangat mendengar kelakar sang lawyer.


"Ada apa-apanya juga nggak pa-pa kok. Dia pemuda yang cukup tampan--, dan agresif. Cocok sekali dengan sekretaris Leony."


Bukan tanpa alasan pria itu berkata demikian. Sepuluh tahun menjadi lawyer perusahaan milik Reyn, membuat dirinya cukup mengenal sikap kaku, dan dingin sekretaris Leony yang kadang memaksakan diri terlihat ramah saat kedatangan tamu atasannya.


"Jangan membahas itu. Saya tidak suka," cetus Leony datar.


"Maaf, saya hanya senang melihat pemuda itu memperlakukan sekretaris Leony begitu romantis, mengingatkan saya ketika masih muda dulu saat berusaha meyakinkan gadis incaran saya yang kini menjadi isteri dan ibu dari anak-anak saya.


"Dan sayangnya--, saya tidak suka dengan cara pemuda bau kencur itu memperlakukan saya," sambut Leony masih dengan nada datarnya.


Nainggolan kembali terkekeh.


"Apa ucapan saya terdengar seperti seorang yang sedang melawak, sehingga pak Nainggolan tertawa begitu nikmatnya," sarkas Leony tak suka, ia mendelikan bola matanya seperti biasa bila sedang kesal.


"Kalau saya jadi wanita, saya tidak bisa menolak pesona kakak ipar pak Reyn," Nainggolan kembali terkekeh dan terkesan dibuat-buat, dan itu sangat menyebalkan hati Leony yang mendengarnya.


"Sekretaris Leony hanya belum menyadarinya saja." sambung Nainggolan masih terkekeh. "Tidak menyapa seperti biasa saja seperti tadi, langsung pergi dan menghilang didalam lift, sudah menyita perhatian Anda nona sekretatis. Apalagi menghilangnya sampai berhari-hari. Lihat saja," Nainggolan terus terkekeh seolah mengejek, membuat gadis itu membuang nafasnya kasar namun tidak berusaha menjawabnya lagi.


...🍓🍓🍓...


"Rose, kau tidak pulang? Besok masih ujian, jadi kau harus belajar dirumah." Reyn memandang Rose yang masih menatap kearah pintu yang terbuka, saat kakaknya pulang dan tidak menutup pintu.


"Mas lupa? Kalau hari ini ujianku sudah selesai? Aku mau disini saja menunggu Mas pulang." Rose mengalihkan pandangannya pada Reyn.


Reyn mengerjapkan matanya, ia memang lupa. Banyaknya pekerjaan, juga beberapa urusan diluar kantor memang cukup menyita perhatiannya, termasuk masalah yang ada kaitanya dengan Rose yang membuat kota mereka sedikit gonjang-ganjing hingga membuat sang kepala daerah mereka lengser.


Reyn duduk mendekat, sedikit merapat dan tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2