My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
48. MEMPERINGATI RINA


__ADS_3

Rose melenggang melewati kursinya yang berada di deretan baris nomor dua. Tanpa meminta izin Yira terlebih dahulu, ia duduk dikursi temannya itu tepat dibelakang deretan kursinya.


"Rin, boleh aku tanya sesuatu?" Rose memiringkan duduknya, menghadap Rina yang duduk disebelah dinding, bergandengan dengan kursi Yira.


"Emang mau nanya apaan?" Rina balas bertanya. Suara super lembutnya masih jelas terdengar ditengah hiruk pikuk para siswa siswi lainnya yang memasuki kelas dan ada juga yang mengobrol kesana-kemari sebelum bel pelajaran dimulai.


Di kelas, Rina memang dikenal siswi terlembut dan memiliki sikap keibuan.


"Kamu--, suka sama kak Steven?" tanya Rose tanpa basa-basi.


Pergerakan tangan Rina yang tengah mengeluarkan buku dan pulpennya dari dalam tas seketika terhenti. Ia menoleh, memandang tatapan Rose yang menelisik seluruh raut wajahnya.


"Apaan sih Rose, kok nanya itu pagi-pagi," Rina berusaha bersikap tenang, namun jantung didalam dadanya berdetak lebih cepat dari biasanya mendengar pertanyaan sahabatnya.


"Tadi aku ngeliat kak Steven nganterin kamu saat ngelintas gerbang. Dan bukan pagi ini saja Rin, aku beberapa kali melihat kamu pulang dibonceng sama kak Steven. Itu sebabnya aku berfikir kalian punya hubungan," sahut Rose lugas.


Lidah Rina seketika serasa kelu, walaupun sebenarnya ia tahu, suatu saat nanti kedekatannya dengan Steven pasti diketahui oleh Rose sahabatnya itu. Lebih tepatnya, dirinyalah yang berusaha mendekati Steven.


"Rin?" panggil Rose pelan. Ia melihat sepasang mata Rina tidak benar-benar menatapnya, seakan sedang menerawang, menembus ruang dan waktu yang tak terbatas.


"RIN?" panggil Rose sekali lagi sembari menggoyang-goyang lengan Rina yang masih mematung memandang dirinya.


"I-iya," Rina tergagap.


"Kamu suka kak Steven? Apa kalian udah jadian?" berondong Rose lagi.


"Ng-ngak, aku cuman numpang aja kok Rose, kebetulan aja pas kak Steven ke kampusnya, kebetulan rumah kami juga searah. Kau tau itu kan Rose?" sahut Rina berkilah, berusaha bersikap tenang.


Bagaimanapun juga Steven adalah laki-laki yang pernah dekat dengan sahabat baiknya itu, tidak mungkin dirinya berterus terang apa yang ada didalam kepalanya saat ini, mengungkap segala rasa yang masih terpendam.


Rose mengangguk, ia juga tahu bila rumah sahabatnya itu searah dengan rumah dinas orang tua mantan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Rose, kau nggak keberatan kan kalau aku ikut nebeng sama kak Steven pulang?" ucap Rina hati-hati.


"Sama sekali nggak Rin, jangan khawatirkan itu. Aku juga sudah tidak punya hubungan dengannya," sahut Rose jujur.


"Kamu serius Rose? Tapi kenapa?" Rina tiba-tiba saja antusias. Ia memang tahu Rose sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan Steven dari Norsa, namun baru kali ini ia mendengar pengakuan langsung dari Rose.


Selama ini, Steven juga tidak pernah mengatakan bila hubungannya dengan Rose sudah berakhir. Bisa dekat dan bertemu dengan Steven saja cukup membuat dirinya senang.


"Aku serius. Ceritanya panjang Rin," wajah Rose terlihat sedikit berubah sendu. Ingatannya beberapa bulan yang lalu kembali melintas. Tanpa penyambung lidah, ia mendengar sendiri semua kata-kata menyakitkan itu keluar dari mulut Maminya Steven.


"Karena persahabatan kita, aku mengharapkan segala kebaikan akan selalu datang menghampirimu Rina. Kau boleh menyukai siapa saja, tapi berhati-hatilah bila kau mulai menyukai kak Steven, bukan berarti aku tidak rela kau bersamanya karena dia mantanku," Rose menatap dalam wajah Rina.


"Kenapa Rose? Apa ada sesuatu yang buruk telah terjadi?" Rina masih penasaran, jujur saja, apapun tentang sang idola kota kecilnya itu, ia berusaha ingin tahu dan mencari tahu.


"Sejauh yang aku tahu, kak Steven orang yang baik," Rose mendesah ringan, kenangannya bersama Steven memang masih terukir manis didalam hatinya. Untuk pertama kalinya laki-laki itu hadir membawa perhatian lebih, selain yang pernah ia terima dari ayah dan kakaknya.


"Tapi ibunya berbeda. Ia tidak menyukai seorang gadis biasa yang tidak sekelas dengan keluarganya. Hanya itu saja yang bisa aku katakan Rin," Rose menyentuh pundak Rina. Dirinya bukanlah tipe orang yang suka menjelekan mantan saat sudah tidak memiliki hubungan lagi.


"Yah, walaupun perkataanku ini tidak sesuai dengan tindakanku," Rose terkekeh sendiri, ucapannya seolah menghakimi dirinya sendiri.


Kring! Kring! Kring!


Bel tanda masuk bergema diatas plafon kelas masing-masing.


"Udah dulu ya, nanti kita sambung lagi." Rose buru-buru meraih tasnya diatas meja. Ia dan Yira segera bertukar tempat sebelum pelajaran dimulai.


Rina masih termenung, memikirkan apa yang dikatakan Rose barusan padanya.


"Ngomongin apa'an sih?" tanya Norsa, begitu Rose sudah duduk di sebelahnya.


"Kak Steven." sahut Rose sambil mengeluarkan buku mata pelajaran pertama dari dalam tas sekolahnya. "Aku hanya nggak mau Rina bernasib sama sepertiku dulu. Kau lihat kan dia dan kak Steven tadi terlihat begitu akrab?"

__ADS_1


Norsa mengangguk tanda mengerti, ia juga melihat Rina turun dari motor sport Steven dan berbicara akrab, "Semoga Rina ngerti ya Rose. Tapi kak Steven memang ganteng sih," aku Norsa. Tak ayal lagi, wajah tampan Steven melintas dalam kepalanya saat itu juga. Ia lalu terkekeh sendiri membayangkannya.


"Kenapa tertawa? Apa kau juga ikutan naksir?" ledek Rose dengan mimik seriusnya.


"Hahaa!!" tawa Norsa meledak, membuat seisi kelas melihat kearahnya. Nggak munafik, ia juga menyukai Steven yang ganteng, tapi hanya sekedar suka, nggak juga mau pacaran seperti Rose batinnya takut. Takut dinikahin paksa oleh kedua orang tuanya, seperti yang terjadi pada sepupunya itu.


"BAGUS!! Tertawa saja sesukamu, Norsa! Roh jahat pasti sedang merasukimu sekarang! Iya??" sentak suara itu.


Tawa Norsa seketika menguap pergi entah kemana, mulutnya dikatupnya rapat-rapat. Tatapan nyalang sang guru pendidikan Moral alias pak Ruben sontak membuatnya pucat pasi.


"Sejak kapan si jelmaan roh jahat itu ada disana?" Norsa membatin. Tangannya memegang ujung mejanya dengan erat.


"M-maaf Pak! Jangan hukum saya lagi. Saya lagi kurang enak badan," Norsa memohon dengan wajah memelas, sementara seisi kelas berusaha menahan tawa melihat tingkah Norsa yang ketakutan, kecual Rose. Gadis itu ikut merasa takut walau wajahnya tidak memucat seperti Norsa sepupunya. Pasalnya, obrolan mereka berdualah yang membuat Norsa sampai mendapatkan teguran dari pak Ruben.


"Baik! Kali ini Bapak ampuni!" Norsa seketika bernapas lega begitu pula dengan Rose.


"Sekarang persiapkan kertas kosong kalian. Kita ulangan. Diatas meja hanya boleh ada selembar kertas kosong dan pulpen. Mengerti?!"


"Mengerti Pak!!!" Serempak seiisi kelas menyahut.


"Rendy!"


"Iya Pak!" sahut Rendy cepat. Jantungnya tiba-tiba berpacu lebih cepat saat namanya disebut oleh sang guru wali kelasnya itu.


"Kau lupa pimpin do'a sebelum pelajaran dimulai?"


"I-iya, maaf Pak, saya lupa." Rendy cengengesan. Tentu saja ia lupa, gara-gara kaget saat melihat Norsa pagi-pagi membuat ulah.


Harusnya teman mereka itu mendapat hukuman seperti yang biasa diterapkan pak Ruben yang menjabat sebagai guru BK, wali kelas XII IPA-AI, dan mata pelajaran pendidikan moral. Tapi hari ini, pak Ruben sedikit berbeda, dan lebih bermurah hati, tidak melakukan hal yang biasa ia lakukan.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2