
"Pak Security, boleh ketemu mas Reyn yang berkerja sebagai kuli panggul beras disini?" Rose bertanya pada salah satu team keamanan yang berjumlah empat orang di pos jaga.
"Reyn?" Beo security itu sambil melihat pada ketiga temannya yang langsung mengedikan bahu, tanda merekapun tidak mengenal orang yang dicari oleh Rose itu.
"Reyn apa nama panjangnya Dek? Kakak apa pacarnya Adek," Security itu balik bertanya ramah, memperhatikan wajah imut Rose yang memerah karena terpapar sinar matahari dan masih mengenakan seragam olahraga sekolahnya.
Biasanya dirinya langsung mengatakan tidak ada nama itu, namun melihat Rose berpanas-panasan mencari nama yang mengaku-ngaku bekerja di perusahaan besar, setara dengan perusahaan daerah milik negara itu, ia merasa iba.
"Mas Reyn Hamdani Pak, dia Kakak saya," bohong Rose sambil memicingkan matanya yang silau tertimpa matahari terik, membuat dirinya terlihat semakin manis dan imut pada pemandangan keempat security itu.
"Wah nama Mas-nya adek sangat mirip dengan nama orang yang menggaji kami?" Security itu tersenyum geli, demikian pula ketiga temannya.
"Niat sekali laki-laki itu membodohi gadis itu," gumam salah salah satu dari mereka supaya tidak terdengar oleh Rose.
"Wajarlah, gadis kecil itu cantik, jadi orang itu sengaja memakai nama perusahaan ini supaya dapat memikat hatinya," sahut yang lainnya.
"Hush! Kakaknya, bukan pacarnya," tegur security yang berbicara dengan Rose. Rose mendengarnya, namun ia berpura-pura tidak mendengar.
"Maaf ya Adek manis, nama Reyn Hamdani yang berkerja sebagai kuli panggul beras di perusahaan ini tidak ada. Adek boleh cek di daftar ini," security pertama yang berbicara pada Rose menyodorkan satu buku besar yang ia ambil dari laci mejanya.
"Kuli panggul adalah pekerja harian di perusahaan ini, jadi mereka wajib absen setiap pagi saat masuk, dan absen sekali lagi saat pulang pukul 5 sore. Karena kuli panggul itu langsung dibayar sore harinya," terang sang security sambil membuka halaman demi halaman. Rose ikut melihat, dan memperhatikan satu persatu hingga mencapai nomot urut 70, tidak ada terdaftar nama Reyn yang ikut absen disana.
Rose termenung sesaat, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
"Pak, kemarin saya benar-benar kemari bersama mas Reyn, dan saya melihat sendiri dia sedang manggul beras digedung tinggi yang dekat parkiran itu, yang ada mobil Land Cruiser warna hitam itu," tunjuk Rose, ia berusaha menjelaskan supaya dirinya tidak dibilang mengada-ada.
__ADS_1
Keempat security itu kembali saling berpandangan sesaat. Jika di lihat dari raut Rose tidak mungkin gadis SMU itu berbohong, dan untuk masuk ke area perusahaan tidaklah mudah, harus mendapat izin khusus dari manager operasional bagi yang bukan pegawai.
"Apa mungkin itu Pak Reyn? Dan Adek ini kerabatnya? Tapi nggak mungkin kan pak Reyn manggul karung beras?" ucap security yang lebih tua, walau sebenarnya ia sedikit ragu, menimbang Reyn yang ia maksud adalah pemilik perusahaan dimana ia berkerja.
Mendengar ucapan temannya, security yang sejak tadi berbicara dengan Rose turut memikirkannya. Mereka memang tidak melihat Rose kemarin, karena mungkin saja Rose datang diatas pukul 3 sore, di jam tersebut, para security sudah beralih shift.
"Boleh liat poto Mas-nya Adek?" tanya sang security, setahunya pemilik perusahaan mereka adalah anak tunggal. Mereka juga tidak berani gegabah dalam bertindak, mungkin saja gadis SMU itu memang benar ada hubungan kekerabatan dengan pemilik perusahaan.
Rose gegas mengambil ponsel dalam tasnya. Seketika ia teringat, bila ia sama sekali tidak menyimpan poto Reyn diponselnya selain poto pemberkatan nikah mereka, itupun karena ibundanya yang mengirimkannya padanya.
"Kenapa Dek?" tanya security, begitu melihat Rose kembali memasukan ponselnya kedalam tas.
"Ng-nggak pa-pa kok Pak. Sepertinya saya tidak menyimpan poto mas Reyn di ponsel saya," bohong Rose lagi. Tidak mungkin dirinya memperlihatkan poto pernikahan mereka, bisa jadi para security itu tidak percaya mengingat dirinya saat ini masih berseragam olah raga SMU Negeri favorit di kota kecil mereka.
"Adek yakin?" security itu memastikan.
"Jangan Dek, bawa pulang aja untuk Adeknya di rumah," ucap security kembali merasa iba, ternyata gadis SMU itu datang kesana membawakan makanan untuk orang yang bernama Reyn itu.
"Adek telepon saja Mas-nya adek itu, biar makanannya untuk Mas-nya," lanjut security itu lagi.
"Sudah Pak, nggak diangkat, dan pesan saya juga nggak dibalas." Jujur Rose, wajahnya meringis menahan rasa nyeri pada perutnya yang sesekali datang sejak tiba di kantor perusahaan itu.
"Adek sakit?" security itu kembali bertanya, melihat wajah Rose yang sedikit memucat.
"Iya perut saya Pak, nyeri sekali. Sepertinya saya baru saja kedatangan tamu bulanan saya," jawab Rose yang kepolosannya kembali muncul.
__ADS_1
Keempat security itu saling berpandangan, ternyata gadis SMU yang cantik itu tidak sekedar imut saja, tapi polos juga batin mereka.
"Pak Kani, tolong antar gadis itu pulang kerumahnya dengan mobil itu," tunjuk security yang biasa berbincang dengan Rose, pada mobil dinas security yang memiliki bak terbuka.
"Tidak perlu Pak, saya naik.ojol saja," tolak Rose, gadis itu keluar dari pos jaga sambil memegang perut bawahnya yang semakin nyeri.
"Jangan, bahaya Dek. Takutnya Adek pingsan dijalan. Tenang saja, nggak bayar kok. Kami ikhlas membantu," ucap sang security bantu memapah Rose untuk naik ke mobil yang ada disamping pos jaga.
...🍓🍓🍓...
"Mbok Dira bilang kau sakit, nggak mau makan. Jadi Mas bawa sup ini kekamar untukmu. Ayo duduk, kau harus makan biar ada tenaga dan cepat pulih." ujar Reyn yang memasuki kamar dengan nampan ditangannya.
"Rose nggak sakit Mas, beneran." Gadis itu masih meringkuk didalam selimut.
"Sudah, jangan membantah. Kalau nggak sakit kenapa sore begini sudah masuk dalam selimut." Reyn meletakan mangkuk sup ke atas nakas lalu mendekati Rose yang masih betah dalam selimutnya.
Reyn membantu Rose duduk ditepi tempat tidur, lalu mulai menyuapi bayi besarnya itu dengan sabar, karena gadis itu terkadang menutup mulutnya menolak suapan yang ia berikan.
"Rose beneran nggak sakit Mas. Cuman sakit disni Mas, dan disini," gadis itu menyentuh bagian perut bawahnya, lalu turun ke area sensitifnya. Kepala Reyn seketika berdenyut, isterinya itu terlalu polos apa bagaimana? Atau sengaja menggodanya disaat sedang kedatangan tamu bulannya seperti ini?
Reyn menatap Rose, "Andai saja kau tidak sakit seperti katamu itu. Aku mungkin akan melupakan janjiku pada Pak kepala sekolah. Aku akan menerkammu! Dan mencabik-cabik! Lalu menelanmu hidup-hidup!" Reyn menggeram, diikuti gerakan tubuhnya serupa macan membuat Rose merasa ngeri melihatnya.
"Mas Reyn jangan menakut-nakutiku," Rose malah merapat, mencengkram lengan Reyn dengan erat karena takut.
"Rose, kau benar-benar membuatku gerah," keluh Reyn berusaha menahan gejolaknya. Ia memegang mangkuk sup Rose dengan erat supaya tidak terjatuh dari tangannya.
__ADS_1
Bersambung...👉