
📞"Adik ipar, aku di luar pagar sekolah, tidak bisa masuk. Ayah memintaku kemari untuk memastikan keadaan Rose. Bunda sedang di rawat di rumah sakit." terdengar suara Bram di tengah hiruk-pikuk kebisingan di sela-sela para pendemo yang masih memadati depan sekolah.
📞"Rose baik-baik saja bersamaku kak Bram. Kak Bram duluan saja pulang ke rumah kami, begitu para pendemo bubar kami akan menyusul pulang. Aku titip Rose pada kak Bram, temani dia di rumah bersama mbok Dira dan pak Kasim, aku akan mengurus semuanya hari ini. Mungkin aku akan pulang terlambat nanti malam." ucap Reyn.
📞"Baiklah, kalau begitu aku duluan pulang ke rumah kalian," Bram lalu memutuskan sambungan teleponnya, ia segera meninggalkan tempat itu dengan motornya menuju kediaman Reyn dan Rose.
Reyn kembali menggulir ponselnya untuk menemukan nomor kontak sekretaris pribadinya.
📞"Hallo, selamat siang Pak," sapa Leony dari seberang sambungan telepon.
📞"Sekretaris Leony, tolong arahkan para wartawan yang ada di depan rumah sakit umum Tangga Arang itu ke kantor. Siapkan lobi lantai dua untuk jumpa pers. Aku tidak ingin para wartawan itu mengganggu ibu mertuaku yang tengah di rawat di rumah sakit itu. Dua jam lagi dari sekarang aku akan tiba di kantor."
📞"Baik Pak, sesuai yang Bapak inginkan," sahut Leony patuh.
...🍓🍓🍓...
"Ini ruang rawat inap siapa Pi?" Steven menoleh pada Farid ayahnya. Laki-laki itu menghentikan sejenak mendorong kursi roda putranya tepat di depan pintu ruang VIP rumah sakit.
"Mami-mu Stev." sahut Farid, sebelum mendorong pintu didepannya.
"Tadi siang, Mami-mu sempat tidak sadarkan diri di rumah setelah Papi menelpon, jadi Papi meminta para asisten rumah tangga kita mengantarkan Mami-mu kemari untuk di rawat. Jadi Papi bisa menjaga kalian berdua di sini," imbuh Farid.
__ADS_1
"Papi yang sabar ya," Steven mengusap punggung tangan ayahnya. Ia dapat melihat raut kelelahan diwajah ayahnya itu, karena sibuk mengurus tugasnya sebagai kepala daerah, juga tugasnya sebagai kepala keluarga yang akhir-akhir ini sangat menyita waktu istirahatnya.
"Maafkan Steven dan Mami ya, Pi. Banyak menyusahkan Papi," tulus Steven memandangi wajah lelah ayahnya.
Farid mengembangkan senyum tipisnya, menepuk punggung putranya pelan.
"Kita keluarga. Kau, Mami-mu, adalah tanggung jawab Papi. Ayo, kita masuk," Farid mendorong pelan pintu di depannya hingga terbuka lebar. Suasana didalam ruangan nampak lengang.
Dengan sabar Farid kembali mendorong kursi roda Steven memasuki ruangan. Samar-samar keduanya mendengar bunyi ponsel yang sedang memutar video dari arah kamar inap Mutiara.
Farid mengernyitkan dahinya menatap Mutiara yang sedikit menunduk dan tengah pokus menatap ponsel ditangannya, seingatnya para asisten rumah tangganya memberi laporan bila ponsel isterinya itu rusak siang tadi.
"Mami kok malah sibuk dengan ponsel, bukannya istirahat total. Ingat, Mami itu lagi sakit," Steven mendorong kursi rodanya sendiri, mendekati ibunya yang baru menyadari kehadiran suami dan anaknya itu.
"Kenapa kau tidak beritahu Mami, kalau suami gadis itu adalah pengusaha beras dan pupuk itu, Steven?" marah Mutiara.
"Apa pentingnya, dan apa ada pengaruhnya?" Steven menatap wajah garang ibunya.
"Tentu saja Steven. Pantas saja ibu gadis itu berani melawan Mami-mu ini, rupanya perempuan kasta rendahan itu sok jemawa memiliki menantu kaya!" geram Mutiara tidak terima. Konferensi pers Reyn yang ia tonton membuat hatinya sangat kesal. Ia masih belum bisa mempercayai akan berita terbaru itu.
"B-bagaimana mungkin seorang gadis biasa seperti Rose bisa menggaet pria kaya sekelas pak Reyn Hamdani. Kakakmu saja tidak di pandang sebelah mata sedikitpun oleh laki-laki konglomerat itu," tandas Mutiara masih merasa geram, karena nasib baik selalu saja tidak mau berpihak pada dirinya.
__ADS_1
Steven dan Farid tidak berkomentar apa-apa mendengarnya, keduanya juga telah menonton konferensi pers yang di lakukan oleh Reyn siang itu.
"Sebaiknya Mami beristirahat yang cukup malam ini untuk mendapatkan cukup energi menghadapi esok hari. Ku dengar, pak Reyn tidak akan tinggal diam bila dirinya nanti telah mengantongi nama orang yang telah mengusik isteri dan keluarganya." tandas Steven lagi memandangi ibu dan ayahnya bergantian.
Mutiara seketika tertawa mendengar ucapan putranya. Farid dan Steven hanya bisa saling pandang, hati keduanya serasa teriris melihat sikap wanita kesayangan mereka itu berubah begitu drastis, tidak seperti yang mereka kenal.
"Aku pamit dulu Pi." Steven mencium punggung tangan ayahnya.
"Papi antar," Farid menawarkan diri.
"Tidak perlu Pi, temani saja Mami disini. Steven bisa sendiri," tolak Steven.
"Aku ingin menyendiri di ruang rawat inapku, berdoa kepada Tuhan, semoga saja apa yang akan di tuai keluarga kita tidak seburuk apa yang aku fikirkan." Steven menekan tombol kursi rodanya, hingga kursi rodanya itu membawanya pergi dari hadapan kedua orang tuanya.
"Apa maksud perkataan anak itu? Apa dia mau menyumpahi Mami-nya?" Mutiara menatap kesal pada Steven yang menghilang dibalik pintu. "Apa yang Mami lakukan ini juga semua demi dia."
"Bukan demi Steven Mi." ralat Farid cepat. "Tapi demi ke-ego-an Mami sendiri. Apa yang Mami banggakan? Kekayaan? Kekuasaan Papi? Atau kasta bangsawan Mami?" Tatapan Farid yang sebelumnya tajam berubah sayu.
"Semua yang Mami banggakan itu sipatnya hanya sementara, bisa beralih dalam sekejap pada orang lain. Dan terus terang. Papi kecewa pada Mami, kenapa Mami melakukan semuanya itu? Apa Mami tahu akibatnya yang akan terjadi pada keluarga kita?"
"Perbuatan Mami kali ini benar-benar fatal. Mami benar-bemar salah langkah," di ujung kalimatnya, pria itu menarik napas dalam dan menghelanya perlahan.
__ADS_1
Mutiara mematung, wajah garangnya kini menunduk lesu, tidak berani menatap suaminya, untuk kesekian kalinya ia mendengar suaminya itu melontarkan rasa kecewa pada dirinya.
BERSAMBUNG...👉