My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
73. DEMI SI BUAH HATI DAN SI BUAH...


__ADS_3

Rendy dan Jarno menepikan sejenak kendaraan roda dua keduanya, memandang prihatin pada kantor Bupati yang tengah di padati pendemo dari berbagai kalangan yang menyerukan agar kepala daerah mereka diturunkan dan di non aktifkan dari jabatannya.


Dan lebih mirisnya lagi, putranya yang bernama Steven Jhon juga tidak luput, dituntut pula melepaskan gelar yang telah disandangnya sebagai Abang Budaya kota Tangga Arang selama dua tahun terakhir.


"Ngapain setop disini? Belum sampai tujuan kok," Norsa yang diantar ojek online turut meminta abang ojolnya menepikan kendaraan yang mengantarnya.


"Iya tau, Sa. Kami penasaran aja sama isi tuntutan para pendemo itu," Rendy menoleh pada Norsa yang nangkring disebelahnya, sementara Rina yang duduk diboncengan belakang Rendy hanya menyepi.


"Iya ya, kasian banget sama pak Farid dan kak Steven, harus menanggung perbuatan ibu Mutiara. Nggak nyangka aja, orang selembut ibu Mutiara yang memiliki sikap keibuan ternyata oh ternyata--" ucap Yira menggantung, tidak berani melanjutkan kalimatnya.


"BUSUK alias BONTOK!"


Rendy, Norsa, Jarno, dan Yira menoleh pada sumber suara, mereka kaget. Baru kali ini Rina berani berkata blak-blakan seperti itu.


"Udah yuk buruan. Panas nih!" Norsa mengajak kembali teman-temannya itu melanjutkan perjalanan menuju rumah Rose, meninggalkan keramaian hiruk-pikuk demonstrasi damai yang di gelar masyarakat kota yang beramai-ramai turun memenuhi halaman kantor kepala daerah dan jalan utama depan kantor itu.


"Bener ini rumahnya Rose?" Rendy menghentikan kendaraannya dibelakang kendaraan ojol online yang menepi. Ia memandang Norsa dan Rina bergantian, lalu beralih menatap takjub pada bangunan megah di hadapannya.


"Iya beneran. Nggak percaya?" Norsa turun dari ojol yang ia tumpang lalu membayar ongkos. Tanpa sungkan ia meraih gembok besar yang menggantung pada pagar bagian dalam, lalu mulai menghantamkannya ke pagar besi sambil berteriak keras memanggil-manggil nama pak Kasim.


"HAHAHA!" Rendy seketika tertawa geli, memperhatikan apa yang dilakukan Norsa yang terus berteriak seperti orang tak waras menurutnya.


"Udah gila ya?" Norsa mendelik tak senang, memandangi Rendy yang masih terpingkal-pingkal menatap kearahnya.


"Sa, Sa. Baru kali ini aku melihat cara aneh seorang tamu yang mau masuk ke rumah orang kaya pake tereak-tereak kaya orang gila," Rendy kembali terbahak setelah menyelesaikan kalimatnya.


"Huh! Gini nih. Aneh memang, ada orang gila yang ngatain orang waras gila." Norsa mencibir kesal, lalu kembali melanjutkan aksinya, kembali berteriak memanggil pak Kasim yang entah ada dimana didalam sana.


TUNG! TUNG! TUNG!

__ADS_1


"Udahlah, sesama orang gila jangan saling mendebat." tegur Yira menutup telinganya dengan kedua tangannya, tak tahan mendengar suara berisik tak seimbang keduanya.


"Mending panggilin mamang es yang lewat itu," Yira menyenggol lengan Jarno, menunjuk dengan bibirnya yang mencucu.


"Mang! Mang! Stop Mang! Mau es puternya dong!" Jarno melambaikan tangannya pada penjual es keliling yang akan melintas didekat mereka, sesuai permintaan Yira.


"Pesan berapa Den?" mamang es menepikan gerobak esnya.


"Lima Mang," Jarno menghitung teman-temannya.


"Yang dalam gedongan temennya ya, Den?" tanya mamang sambil menyendok es dalam wadah gerobaknya.


"Kok tahu?" Jarno mengulum es puternya yang disodorkan padanya.


"Kira-kira aja Den, soalnya Mamang pernah liat Non bidadari dalam gedongan itu pake seragam yang sama dengan yang Aden pake ini," sahut sang penjual es melirik sekilas pada Jarno dan teman-temannya yang mengenakan seragam batik.


"Kalo temen, ngapain repot-repot tereak kaya gitu Non. Telepon aja, kasian tenggorokannya sakit." himbau si mamang sambil menyodorkan es pesanan pada Norsa. "Lagian, mana denger Non, udah rumahnya gede, trus mungkin aja penghuninya pada sibuk di belakang.


Norsa seketika menepok jidadnya.


"Pinter juga si Mamang. Aku kok nggak kepikiran," Norsa buru-buru menarik resleting tas sekolahnya, meraih ponsel pada kantong tas depannya lalu mulai melakukan panggilan pada Rose.


"Ngapain sih, dari tadi cengar-cengir mulu. Awas lho ya beneran gila," Jarno memandang aneh pada Rendy yang tersenyum-senyum sendiri sambil memakan es putarnya dengan pandangan tak lepas dari gerobak sang penjual es.


"Baca tuh!" tunjuk Rendy terus nyengir. Rina yang sedari tadi tidak bersuara ikut mengarahkan pandangannya pada tulisan kapital yang ditunjuk Rendy di samping gerobak mamang si tukang es putar.


"Demi si BUAH HATI dan si BUAH DADA!" baca Jarno lantang, lalu tanpa sadar ia dan Rendy tergelak hingga es putar dalam mulut keduanya muncrat keluar.


"Dih! JOROK!" Yira memukul lengan Rendy dan Jarno gemas, muncratan es dari mulut keduanya mengenai seragam batiknya membuatnya merasa jijik.

__ADS_1


"Ya ampun Mang! Mang! Gitu amat si slogannya!" pekik Jarno masih tergelak tak tertahan, tak perduli pada kemarahan Yira karena telah mengotori seragam batik gadis itu.


Si Mamang ikut tergelak.


"Biasalah Den, biar nggak lupa kalo ditulis disitu. Itung-itung sebagai penyemangat! Biar kerja lebih keras demi menapkahi keluarga." guyon laki-laki itu masih ikut tergelak bersama Rendy dan Jarno.


"Maaf non Norsa dan semuanya, bapak tadi dibelakang jadi nggak denger," pak Kasim yang baru tiba buru-buru memasukan anak kunci kedalam gembok lalu membuka pintu pagar dengan lebar untuk tamu-tamu nona majikannya.


"Berapa semuanya Mang?"


"Dua puluh lima rebu, Den."


Jarno merogoh saku celananya lalu memberikan selembar pecahan uang seratus ribuan.


"Aduh Den, angsulannya nggak cukup, lima belas rebuan aja." tukang es putar itu mengeluarkan beberapa uang kertas dari kantung kain untuk kembalian.


"Berikan aja yang lima belas ribu itu Mang, nggak papa, untuk bahan bakar motor saya aja, lebihnya untuk Mamang aja,"


"Tapi Den--," tukang es itu terlihat tidak nyaman.


"Nggak papa, saya ikhlas Mang. Itung-itung bonus buat si BUAH HATI dan si BUAH DADA," potong Jarno seraya berbisk ditelinga si Mamang, membuat laki-laki itu kembali nyengir.


"Kalau begitu ma kasih banyak ya Den."


"Sama-sama Mang," Jarno segera membawa motornya masuk, menyusul teman-temannya yang sudah lebih duluan masuk.


Sebenarnya Jarno bisa saja memberikan semua kembaliannya pada bapak tukang es putar itu, tapi sayangmya ia lupa mengisi bahan bakar motornya yang sudah sekarat.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2