
Reyn memandangi Rose yang duduk dihadapannya. Sedari tadi susu dan roti yang biasa disantap untuk sarapan pagi tidak disentuh sama sekali, dan sudah dua hari ini seperti itu.
Isterinya itu malah sibuk memakan sayuran dan buah, walau tidak terlalu banyak tapi lumayan membuat Reyn heran. Pasalnya, Rose bukan penyuka sayuran, kalau buah perempuan itu lebih menyukainya bila di olah dalam bentuk jus atau salad.
"Roti dan susunya kok nggak disentuh, Rose?" Reyn masih menatap isterinya.
Perempuan itu mengangkat kedua bahunya sembari menggeleng. "Bosen sarapan roti. Dan susunya sekarang bau amis! Huek!" sahut Rose dengan raut jijik.
"Kamu sakit?" Reyn gegas menempelkan punggung tangannya pada dahi Rose. Tidak panas, dan juga tidak dingin, normal saja, batin Reyn.
"Rose sehatkan?" gumam Rose disela-sela tangan Reyn yang masih menempel di dahinya. Reyn tidak menyahut tapi memberi anggukan sebagai jawaban.
"Kalau begitu, dagingnya dimakan." Reyn menusuk satu potongan daging dengan garpu ditangannya dan mendekatkan pada Rose.
"Nggak mau! Bau!" tolak Rose sembari membekap mulutnya sendiri lalu menjepit pucuk hidungnya supaya tidak mencium aroma daging yang disodorkan Reyn padanya.
Reyn terdiam sesaat. Daging kecap masakan mbok Dira adalah kesukaan Rose, tapi sekarang gadis itu menolaknya dengan alasan bau.
"Oke, kalau begitu ikan ini saja ya?" Reyn mengembalikan daging kecapnya kedalam piringnya sendiri lalu tangannya beralih mengambil ikan bakar untuk Rose.
"No-no-no! Rose nggak suka tampilannya! Hitam-jelek-dan jorok! Huek!" Rose kembali menunjukan raut jijiknya melihat ikan bakar hasil masakan mbok Dira yang tersaji didalam piring saji.
"Kalau begitu--" Reyn tak habis akal, ia menatap menu-menu diatas meja. "Makan telur rebus ini saja ya Rose, sumber proteinmu harus ada," Reyn bangkit dari duduknya mengambil telur yang ada ditengah-tengah meja.
"Nggak mau Mas, telur rebus itu juga bau amis. Rose jijik," tolak Rose lagi membuat Reyn seketika pusing atas penolakan isterinya itu untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
"Rose, nutrisi yang masuk ke tubuhmu harus seimbang supaya kau tidak gampang sakit," Reyn menghela napas, berusaha membujuk si isteri bocilnya yang tiba-tiba saja cerewet makan.
"Justru Rose bakalan sakit, kalau dipaksa makan yang Rose nggak mau. Nanti Rose muntah loh."
Reyn hanya bisa menatap Rose yang mendorong piring buahnya yang sudah kosong melompong ketengah meja, memandangi bibir mungil yang pagi ini hobi mendebat dirinya.
"Mas..." Rose balas menatap.
"Heum...." Reyn hanya bergumam, sesuatu tiba-tiba terlintas dibenaknya saat menyadari perubahan Rose dua hari belakaangan ini.
"Rose pengen telur dinosaurus." suara Rose memelan, terdengar begitu lirih tapi masih bisa ditangkap oleh pendengaran Reyn.
"Telur dinosaurus?" beo Reyn dengan raut bingung. Konsentrasinya terbagi karena memikirkan apa yang menjadi penyebab perubahan isterinya itu.
"Ssttt...."Rose menempelkan jari telunjuknya diujung bibirnya yang memancung, sambil menoleh kekiri dan kanan, lalu kebelakang. Ia gegas berdiri dari duduknya mendekati Reyn yang masih memasang raut bingungnya.
"Memang ada masalah kalau mereka dengar?"
"Ya adalah...." sahut Rose bertambah gemas. Ia lalu menempelkan bibirnya ditelinga Reyn, membisikan sesuatu disana begitu khidmatnya. Awalnya Reyn merasa geli, merasakan pergerakan bibir Rose pada permukaan daun telinga, tapi diujung kalimat isterinya, matanya tiba-tiba mendelik kaget.
"Rose, kita ini sudah bersiap berangkat. Kau ke sekolah, Mas ke kantor." Reyn berusaha bersikap tenang, walau dalam hatinya ia jadi berdebar setelah mendengar bisikan Rose yang masih terngiang-ngiang ditelinganya.
"Sebentar aja Mas, dua menit, janji nggak lebih, hanya mengusap. Please..." mohon Rose menghiba dengan raut memelasnya yang tentu saja tidak ketinggalan.
"Baiklah...." Reyn akhirnya pasrah. Walau ia tahu akibat dari mengabulkan permohonan isterinya itu akan berbuntut panjang, dan pastinya ia akan terlambat tiba dikantor.
__ADS_1
"Yes!!" Rose kegirangan. Perempuan itu segera beraksi, menjalankan apa yang menjadi permintaannya pada sang suami. Jari Rose mulai menurunkan resleting Reyn. Tanpa ragu, karena telah mengantongi izin suaminya, tangan nakal itu langsung menelusup masuk kedalamnya.
"Mbok Dira!" panggil Reyn nyaring. Napasnya mendadak terhenti sejenak merasakan jari-jari itu sudah berhasil menyentuh sepasang telur dinosaurusnya.
"Iya! Saya Pak!" sahut mbok Dira dari dapur. Namun dirinya masih belum beranjak dari sana karena sedang membereskan sesuatu.
"Jangan kemari dulu selama 2 menit! Agghh!" teriak Reyn lagi, dan suara desisan itu turut terdengar diujung kalimatnya.
"Iya! Baik Pak!" sahut mbok Dira patuh. Wanita paruh baya itu mendengarnya, tapi dia tetap harus berada didapur, diarea kerjanya, tidak berani melanggar apa kata sang majikan.
"ROSE...." wajah Reyn sudah memerah sepenuhnya, sementara Rose terlihat tenang dan menikmati aksinya gerilyanya.
"Kenapa belalainya ikut dipegang Rose... Hhhh!" Reyn mengerang frustrasi.
"Rose cuman nyingkirin belalainya aja Mas, abisnya ngehalangin jari Rose menggapai telur dinosaurusnya." jelas Rose jujur.
"Dan satu lagi. Manggilnya jangan Rose lagi. S-A-Y-A-NG! Oke!"
"Aghh!...." Reyn mendesah panjang sambil mendongakan wajahnya keatas. Remas@n tangan Rose membuat laki-laki itu seakan melayang ke awan-awan.
"Rose sudah puas ngusapnya Mas. Sekarang Rose berangkat dulu." Rose menarik tangannya dari dalam sana lalu menutup kembali resleting seperti semula.
"Tidak semudah itu, Rose. Kau tidak bisa pergi begitu saja setelah apa yang telah kau lakukan pada si belalai." Reyn gegas menarik tubuh Rose masuk dalam gendongannya.
Laki-laki itu tidak perduli dengan tubuh Rose yang terus meronta minta diturunkan dengan alasan akan terlambat kesekolah. Reyn buru-buru membawa isterinya itu pergi meninggalkan meja makan menuju lantai atas dimana kamar mereka berada.
__ADS_1
Bersambung...👉