My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
59. TERLALU NAIF


__ADS_3

"Nggak, nggak. Nggak mungkin." Steven seketika menggeleng rusuh. Sebagai laki-laki, ia tidak mau ambruk begitu saja. Dia bukan laki-laki lemah dan bukan pula laki-laki yang mudah didustai seperti yang pernah Maminya lakukan dulu. Sekarang sudah tidak! Batinnya meronta.


Reyn hanya menatap datar, melihat respon yang ditunjukan oleh mantan siswanya itu. Ia sadar benar, memang bukan perkara mudah mendengar tentang sesorang yang dicintai tiba-tiba saja menikah dengan orang lain. Butuh kesiapan mental yang cukup. Demikian pula dengan pemuda dihadapannya sekarang.


"Pak Reyn pasti mengada-ada 'kan?" lanjutnya dengan raut masih menegang, menolak untuk percaya. "Rose masih sekolah, nggak mungkin orang tuanya mengizinkan putrinya menikah begitu saja."


"Terserah padamu saja Steven. Saya tidak bisa memaksamu untuk percaya. Saya hanya memberi jawaban sesuai apa yang ingin kau pastikan seperti penuturanmu diawal, supaya kunjunganmu kemari tidak sia-sia, tujuanmu mencari tau sudah ada jawabannya bukan?" tutur Reyn tak mau ambil pusing.


"Aku berharap ini adalah mimpi," batin Steven. Nalarnya sama sekali tak bisa menerima begitu saja. Tapi kenyataannya, dirinya dan Rina melihat sendiri Rose dengan mobil mewahnya masuk ke pekarangan rumah megah milik pengusaha yang bernama Reyn Hamdani, dan pengusaha itu sedang duduk berhadapan dengannya sekarang.


"Bisakah pak Reyn memberi bukti atas pernyataan pak Reyn ini?" Steven menatap wajah datar dihadapannya.


"Begini saja Steven," Reyn meraih pulpen yang tercantol disaku jas bagian dalamnya. Terlihat laki-laki itu menuliskan sesuatu di buku Memo yang ada diatas meja berlapis kaca dihadapannya.


"Kau bisa datang ke alamat itu," Steven menerima kertas Memo yang disodorkan Reyn padanya dengan tangan bergetar.


"Pak Pendeta yang menikahkan kami secara gereja akan memberi keterangan yang kau perlukan." lanjut Reyn sembari menyimpan pulpennya lagi kebalik jasnya.


"Setelah kesana, kau boleh datang juga ke Pencatatan Sipil , dekat kantor Papi-mu. Petugas disana akan memberikan keterangan bila Akta Pernikahan antara saya dan Rose sudah diterbitkan beberapa bulan yang lalu, dua minggu setelah pernikahan gereja kami."

__ADS_1


Tangan Steven masih bergetar, ia menggenggam kuat kertas Memo yang terlipat dalam kepalan tangannya. Dadanya semakin sesak saja, ingin rasanya ia berteriak menghadapi kenyataan yang ada.


Reyn pun dengan sabar tetap berada di posisi duduknya. Bisa saja ia mengusir pemuda itu dari sana, karena dirinya saat ini cukup sibuk dengan pekerjaannya yang masih menumpuk dan dikerjar deadline.


Tapi itu bukanlah dirinya, ia cukup mengerti kalau pemuda dihadapannya ini sedang tidak baik-baik saja. Ia perduli, karena pemuda itu adalah mantan siswanya.


"Kenapa harus Rose yang pak Reyn pilih untuk dinikahi?" suara itu terdengar sedikit bergetar dengan nada rendahnya.


"Bukankah di kota ini terlalu banyak gadis yang bisa pak Reyn pilih, kenapa harus Rose? Dan bukankah pak Reyn tahu kalau dia itu kekasihku. Kenapa pak Reyn merebutnya dengan cara langsung menikahinya? Pak Reyn curang. Saya yang lebih dulu dekat dengannya! Bukan pak Reyn!" sentak Steven, namun sebisa mungkin ia menahan diri, napasnya nampak tersengal menahan amarahnya.


"Aku bahkan sudah melamar Rose ketika di berusia 15 tahun." tutur Reyn datar.


"Kau benar Steven, aku bahkan menginginkan Rose sejak dia berusia 2 tahun," timpal Reyn, membuat Steven semakin gerah mendengar jawabannya.


"Stop! Hentikan omong kosong itu! Pak Reyn tidak mungkin kan seorang Pedofilia?" Steven kembali menyentak dengan berani.


"Steven, Steven. Kau terlalu naif." Reyn menggeleng sambil tersenyum miring. Ia juga mulai gerah pada Steven yang semakin menjadi.


"Sepupu Rose yang bernama.Shasa, tinggal bersebelahan dengan kedua orang tuaku di kota Samarinda, mereka tetangga. Dan Rose sering main kesana, saat mendiang pamannya, ayahnya Shasa masih hidup."

__ADS_1


"Kau boleh percaya atau tidak dengan ceritaku itu, namun aku tidak punya kewajiban untuk menceritakannya secara rinci padamu. Kau boleh mencari tahu kebenarannya sendiri."


"Bahkan, ketika kau menyatakan cintamu untuk pertama kali pada Rose saat ia menjadi siswi baru aku-pun mengetahuinya. Bahkan saat kau mengaku berpacaran pada ayah Rose dan teman-temannya, aku juga ada di restoran itu."


"Jadi sekarang kau tahu 'kan se-protektif apa aku menjaga Rose sebagai calon isteriku,heum? Dan aku sudah melakukannya sejak lama. Jauh sebelum kau mengenal Rose," lantang Reyn dengan sorot matanya yang menajam.


"Dan sebagai suami Rose, aku memperingatkanmu, jangan berusaha mendekatinya lagi. Kau tau akibatnya bila melanggar peringatanku." tambahnya dengan nada mengancam.


"Sebenarnya aku berencana menikahinya setelah ia menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi. Tapi berhubung adanya masalah antara keluarga Rose dengan Mami-mu yang kau sebut salah-faham itu, aku memajukan rencana itu, dua minggu setelah keluargamu mengadakan syukuran kelulusanmu."


Steven tercekat, ia membasahi kerongkongannya dengan salivanya. Ternyata dirinya lah yang menjadi penyebab gadis pujaannya cepat dinikahi. Ini sangat sulit dipercaya.


"Sekali lagi aku peringatkan, jangan coba-coba mendekati Rose lagi, dia isteriku. Dan aku tidak mau Mami-mu melakukan hal yang tidak-tidak pada Rose karena dirimu. Sampai di sini apa kau faham?"


Steven bergeming. Ia sudah tidak mampu berfikir lagi, apalagi membantah atau bahkan menyerang dengan kata-katanya. Kepalanya saat ini terasa penuh.


"Maaf, saya harus melanjutkan pekerjaan. Isteri saya Rose harus saya nafkahi dengan layak." Reyn berdiri, menuju meja kerjanya sebelumnya.


Steven cukup tahu diri. Secara halus, mantan guru yang berstatus suami dari gadis pujaan hatinya itu sudah mengusirnya dari sana.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2