My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
102. Serasa Ada Yang Hilang


__ADS_3

"Maafin Rose ya Mas, tadi pagi perginya nggak izin, ini karena maunya si jabang bayi didalam sini," tunjuk Rose pada perutnya, memberi alasan. Walau ia tahu Reyn tidak akan memarahinya tapi suaminya itu pasti tidak akan mengizinkannya bila ia pergi sendiri sejauh itu.


"Heum, tapi lain kali nggak boleh diulangin." Reyn menoleh sekilas pada Rose lalu kembali pokus pada lalu lintas didepannya.


"Kemana-mana harus izin dulu, takutnya kenapa-kenapa dijalan. Dan juga, sebagai ibunya kau juga harus mendidik anak kita dengan nilai-nilai kedisiplinan pada anak kita sejak dari dalam kandungan, Sayang. Kau pasti nggak mau 'kan kalau anak kita nanti bersikap sesukanya," nasihat Reyn, sambil melirik Rose yang menoleh kearahnya.


"Supaya nggak kaya Rose ya mas guru?"


Reyn seketika terkekeh, ia mengulurkan tangan kirinya dan mengusap lembut pucuk rambut isterinya itu, tidak ada niatan sama sekali dalam hatinya menyindir salah satu sipat Rose yang demikian.


"Kau tersinggung?"


"Nggak," Rose menggeleng lalu meringis saat pipinya yang semakin tembem itu dicubit gemas oleh suaminya.


"Sakit Mas."


Reyn hanya tertawa mendengarnya.


"Urusanmu di sekolah udah selesai?" tanya Reyn, kembali fokus pada kemudinya.


"Udah mas, hanya melengkapi akte kelahiran dan ijazah sekolah menengah pertama biar nggak salah saat sekokah melakukan penulisan ijazah SMU-nya." sahut Rose ikut fokus kedepan.


"Ini rumah siapa Mas? Bukannya kita mau ke rumah sakit menengok sekretaris Leony," Rose memperhatikan satu unit rumah dengan setelan ruko yang ada disisi kiri jalan dimana Reyn menepikan mobilnya.


"Kita singgah sebentar di rumah pak Nainggolan, Mas ingin mengantarkan berkas ini sekalian mengobrol sebentar, setelah itu baru kita ke rumah sakit." Reyn membuka sabuk pengamannya, lalu keluar dan bergegas membukakan pintu untuk Rose.


"Oh, pak Reyn," seorang wanita berumur, masih terlihat cantik keluar dari ruko saat melihat ada kendaraan yang singgah didepan rukonya, tidak lupa mengulas senyum ramahnya.


"Pak Nainggolan ada, Bu?" tanya Reyn setelah memperkenalkan Rose.


"Itu baru pulang Pak," tunjuk perempuan itu, ketika mobil berwarna putih melambat didepan rukonya lalu memasuki halaman samping rumah mereka.


Rose memperhatikan dua orang anak berseragam putih biru dan empat orang anak berseragam merah putih turun dari mobil lalu menghampiri ibu mereka untuk mencium punggung tangannya, dan melakukan hal yang sama padanya dan juga Reyn.


"Mereka anak-anak pak Nainggolan," ucap Reyn kala anak-anak itu berlalu memasuki rumah lewat halaman samping.

__ADS_1


"S-sebanyak itu?" Rose terpana. Ia bisa memperkirakan bila usia anak-anak itu hanya terpaut satu setengah tahun sampai dua tahun saja satu sama lainnya.


Mendengar keterkejutan Rose, bukannya tersinggung, isteri Nainggolan malah terkekeh, begitu pula dengan Reyn yang berdiri disebelahnya.


"Ibu Reyn bukan orang yang pertama kaget melihat banyaknya anak-anak kami," ucapnya masih tertawa. "Teman-teman suami saya juga begitu saat pertama kali mereka bertandang ke rumah kami," lanjutnya masih terus tertawa.


"Sudah lama pak Reyn?" Nainggolan menghampiri Reyn, setelah anak-anaknya itu masuk kerumah mereka.


"Baru saja pak Nainggolan. Hanya ingin mengantarkan ini," Reyn menyerahkan map berkas yang ia bawa dari kantor.


"Repot-repot. Saya bisa mengambilnya sendiri di kantor Pak," ucap Nainggolan sambil menerima berkas dari tangan Reyn.


"Tidak repot pak, sekalian lewat, mau membesuk sekretaris Leony di rumah sakit."


"Sekretaris Leony sakit apa pak?"


"Asam lambungnya naik karena kelelahan menjaga putrinya yang sedang sakit."


"Putrinya?" Nainggolan tersentak kaget, ia memandang serius pada Reyn, ia baru tahu kalau wanita itu sudah memiliki anak. Ada banyak pertanyaan dalam benaknya karena setahunya dari Reyn, wanita itu adalah calon kakak ipar bosnya itu.


"Kami pulang!"


Nainggolan seketika menepuk jidatnya sendiri saat melihat kedatangan kedua putranya itu.


"Kok jalan kaki Andre? Roger?" tanya Reyn, ketika dua remaja yang usianya sedikit lebih muda dari isterinya itu mencium punggung tangannya.


"Papa lupa jemput, ya terpaksa kami jalan kaki, Om," jujur salah satu dari remaja itu.


"Emang sekolahnya dekat?" tanya Reyn lagi, ia lumayan kebingungan mendengar dua remaja itu berjalan kaki.


"Hampir satu setengah kilo, Om," sahut yang lebih tua.


Reyn ternganga, begitu pula dengan Rose. Keduanya menatap Nainggolan yang tengah menggaruk ubun-ubunnya, yang rambutnya semakin menipis dengan gaya canggungnya.


"Kalau pak Nainggolan nggak sanggup antar jemput anak-anak ke sekolah seorang diri, kenapa nggak pake jasa sopir aja, kasihan 'kan anak-anak Bapak yang sudah kelelahan belajar di sekolah sepanjang hari dan harus pulang jalan kaki," Reyn memperhatikan kedua remaja laki-laki itu berlalu memasuki rumah, lalu mengalihkan atensinya menatap Nainggolan yang tersenyum canggung.

__ADS_1


"Itu memang tugas Papanya Pak," sela ibu Nainggolan cepat.


"Papanya ini selalu saja protes kalau saya menggunakan penunda kehamilan. Katanya kita harus bersyukur bila Tuhan mengizinkan kita punya banyak anak. Banyak anak, banyak rejeki. Ya, Papanya masih memegang cara pandang orang tua kami jaman dulu. Itu sebabnya, saya tidak mau kami menggunakan jasa sopir atau apapun itu, biar Papanya ini tahu bagaimana rasanya mengurus anak sebanyak ini," timpal perempuan itu terus terang.


"Kalau Mas guru mau punya anak sebanyak pak Nainggolan, Mas guru juga wajib mengantar jemput anak-anak kita seperti pak Nainggolan," ancam Rose.


Mendengarnya, Nainggolan dan isterinya ikut tertawa bersama Reyn dan Rose.


...🍓🍓🍓...


"Mami!" Clara berlari mendahului Jeny, gadis kecil itu menubruk Leony yang hendak naik kepembaringannya dan memeluk erat ibunya itu, hampir saja perempuan itu terjatuh kalau saja tidak berpegangan erat pada tepi ranjang pasiennya.


"Ah, Clara sayang, kamu mengagetkan Mami." Leony meraih tubuh mungil Clara lalu mendudukanya dipangkuannya, setelah ia duduk ditepi pembaringannya.


"Clara udah sehat?" Leony memperhatikan wajah ceria putrinya. Gadis kecil itu mengangguk semangat dengan senyum cerianya yang terus mengembang diwajahnya.


Merasa senang, Leony mencium pipi gembil Clara berkali-kali dengan gemasnya.


"Mami, telima kacih udah tepatin janji. Clala udah ketemu papi Blam tadi ciang," celotehnya sambil memeluk boneka kuda ponny barunya.


Leony termangu, ia bahkan belum sempat bertemu pemuda itu. Sekilas Leony melirik kearah ibunya yang mengambil tempat duduk di sofa lalu kembali mengalihkan atensinya pada putri kesayangannya itu.


"Jadi Om Bram udah temuin Clara tadi siang?" Leony memastikan.


"Udah. Ini boneka balu dali papi Blam. Kata Papi, Clala gak boleh cakit, halus cehat, cupaya bica jaga'in Mami." celotehnya dengan suara cadelnya.


"Terus--, om Bram dimana? Kok nggak ikut jengukin Mami?" tanya Leony dengan rasa penasarannya. Tingkahnya seketika canggung saat menyadari ibunya menatapnya.


"Udah pelgi lagi. Kelja, cali uang yang banyak buat Clala cekolah dan jalan-jalan."


"Buat Mami juga?" goda Leony, ia tidak peduli walau ibunya memperhatikan interaksinya dengan Clara.


Clara menggeleng. "Papi nggak ada bilang buat Mami, Papi hanya bilang buat Clala aja," polosnya


Mendengar ucapan putrinya, seharusnya Leony merasa senang, bukankah itu yang ia inginkan? Bukankah dirinya berniat ingin menumpahkan rasa kesalnya pada pemuda itu saat mereka bertemu karena telah berani memberikan potonya tanpa seizinnya pada orang lain.

__ADS_1


Tapi kenapa serasa ada yang hilang? Kenapa ada rasa hampa dihatinya saat pemuda itu tidak menanyakannya sama sekali.


Bersambung...👉


__ADS_2