
Reyn meninggalkan ruang guru. Hanya dirinya saja yang tidak diperkenankan mengikuti rapat para guru siang itu. Suasana nampak lengang sepanjang koridor sekolah, tumben hari ini para siswa-siswi mulai kelas X sampai kelas XII tidak bising dan berkeliaran walau gurunya melakukan rapat dadakan di ruang guru berkenaan kasus dirinya dan Rose.
Reyn melirik sekilas ke arah pagar sekolah. Di luar pagar, tujuh armada petugas keamanan telah datang menepi, untuk mengamankan aksi masa yang membuat resah penghuni sekolah juga para warga sekitaran sekolah.
Suara keriuhan masa memang sangat mengganggu kegiatan belajar dan mengajar dihari itu. Hartanto dan Ruben turut serta menemui para aksi pendemo begitu pengamanan sudah tiba disana.
Rasa khawatirnya pada Rose, membawa langkah pasti Reyn menuju kelas XII IPA-AI. Wajah gadis manja dan cengeng itu selalu terbayang dan mengganggu fikirannya, ketika mengetahui tujuan utama demonstrasi masa yang tiba-tiba datang ke sekolah mereka sejak pagi tadi.
Di ambang pintu kelas, Reyn menghentikan langkahnya. Bukannya mengerjakan tugas, para siswa-siswi itu malah duduk bergerombol diatas meja bagian belakang menghadap dinding, dengan mulut menganga dan mata fokus ke satu titik layar laptop milik salah satu dari mereka.
"Apa yang kalian tonton?" tanya Reyn berdiri di belakang para siswa, dan ikut melihat layar.
Sontak seisi kelas kaget, dan menoleh.
"Pak Reyn? M-maaf pak." Seisi kelas terlihat gaguk. Reyn terkesiap. Kenapa adegan dirinya menggendong Rose kala di dealer beberapa bulan lalu bisa di videokan? Dan kenapa bisa tersebar? Lalu siapa pelakunya? Batinnya.
"Itu--, itu--, kami menonton kak Steven sedang menggendong Rose saat mereka sedang di dealer Pak." Rendy terlihat sedikit gugup tertangkap basah sedang menonton bersama teman-temannya. Tentu saja Reyn tercengang mendengarnya. Bagaimana bisa mereka menebak itu adalah Steven? Hatinya mendadak panas, juga kesal.
"Sepertinya--, video itu direkam saat kak Steven membelikan mobil LC mewah itu untuk Rose, Pak," lanjut Rendy menduga.
Reyn seketika mengacak rambut rapinya dengan kasar, mendadak kepalanya terasa pening mendengar ucapan Rendy sang ketua kelas yang tidak masuk akal menurutnya. Jelas-jelas punggung lebar laki-laki dalam video itu tidak ada mirip-miripnya dengan Steven yang berpunggung lebih kecil darinya.
"Kenapa kalian berifikir laki-laki yang hanya terlihat punggungnya itu adalah Steven?" tanya Reyn muram, jelas saja ia sangat jealous saat ini, ia tahu pasti bila laki-laki di video itu adalah dirinya.
"Bukannya selama ini Rose itu berpacaran sama Steven Pak, satu sekolah-pun tahu," Yira memberanikan diri ikut bicara.
__ADS_1
"Iya betul Pak," dukung Jarno mengangguk-angguk pasti.
"Nih Pak, lihat!" Rendy buru-buru searching lalu mengklik salah satu pilihan video yang tersebar saat Steven memasang helm di kepala Rose dengan tatapan mesrannya.
"Dan ini lagi, Pak!" dengan semangat Rendy kembali mengklik satu video lagi, saat Steven dan Rose keluar dari Restoran sambil menautkan jari jemari mereka satu sama lain dan Reyn menyusul keluar dari restoran.
Setelah berfikir sejenak, Reyn ingat, saat itu Steven baru saja mendeklarasikan dirinya adalah pacar Rose dihadapan ayah Rose dan teman-teman ayah mertuanya itu, karena saat itu ia sengaja menguntit Rose diam-diam ketika gadis itu di jemput Steven sepulang sekolah kala itu.
"Tau nggak, pak Reyn gangguin aja orang lagi pacaran, haish!!" cerocos Rendy seenaknya saat melihat adegan Reyn menghampiri kedua sejoli itu dan berbicara pada Steven.
Wajah Reyn memerah, rasanya ingin sekali ia memukul kepala Rendy yang mengatai dirinya seperti itu.
"Dimana Rose?" Reyn berusaha menahan diri dan tidak perduli pada kata-kata Rendy barusan, ia mengedarkan pandangannya, mencari wajah imut dan paling cantik diantara para siswinya, tapi nihil. Gadis itu tidak ada disana.
"Disitu?" tunjuk Norsa setengah berbisik. Reyn mengikuti arah telunjuk Norsa.
Reyn segera melangkah menuju daun pintu kelas yang merapat ke dinding, meninggalkan para siswa-siswinya yang kembali pokus pada video-video yang ada.
Mereka masih sangat penasaran akan cerita kesimpang siuran teman sekelas mereka yang di kabarkan sudah menikah itu. Sedangkan Rose, sumber berita yang ditanya tidak mau menjawab apapun sejak tadi pagi, gadis itu malah menyembunyikan diri dibelakang pintu.
Benar kata Norsa, begitu Reyn menarik daun pintu yang menempel pada dinding kelas, ia mendapatkan presisi Rose memunggunginya, gadis itu membekap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Rose," panggil Reyn pelan, menyentuh punggung gadis itu yang terlihat sedikit berguncang. Seperti dugaannya, isteri kecilnya itu memang sedang menangis, menyudut dibelakang pintu tanpa ada yang menemaninya disana.
"Jangan takut, aku ada di sini," Reyn menarik pelan tubuh ramping Rose, membawanya masuk dalam dekapan hangatnya.
__ADS_1
"Aku malu," lirih Rose dalam dekapan Reyn, isak halusnya sudah tidak terdengar, tapi suaranya masih terdengar bergetar.
"Aku mengerti. Aku tau apa yang kau rasakan saat ini. Ayo, kita pulang." ajak Reyn, ia mencium pucuk rambut Rose berkali-kali sambil mengusap lembut punggung isterinya itu.
"Pak Reyn nggak boleh jadi pebinor," kaget Rendy melihat Reyn memeluk Rose, spontan ia memberi tatapan tak bersahabat pada gurunya itu.
"Jangan cari kesempatan dalam kesempitan," sambungnya lagi. Ia curiga kenapa gurunya itu berlama-lama di balik pintu bersama Rose teman sekelasnya.
"Rendy, kamu nggak usah banyak cakap. Rose ini isteriku," Reyn balas menatap Rendy dengan raut sebel, dari tadi mulut muridnya itu bicara sesukanya saja.
"Apa?!" raung seisi kelas kaget, kecuali Norsa dan Rina. Mereka saling berpandangan, Rose memang hebat, batin mereka, digandrungi dua laki-laki favorite di sekolah itu. Satunya Steven, murid yang jadi idola di sekolah saat masih berstatus siswa di sekolah mereka. Satunya lagi guru, walau Reyn sering menunjukan sikap judes dan killernya, tapi pesonanya yang selalu tampil rapi, bersih, dan wangi, selalu menarik perhatian para siswinya.
Tanpa memberi jawaban lebih lanjut, Reyn menggandeng pundak Rose dan membawanya keluar, menerobos paksa tubuh Rendy yang menghalangi mereka di depan pintu.
"Tunggu Mas," Rose menghentikan langkahnya.
"M-Mas?" Rendy melongo, begitu juga teman-temannya yang lain ikut terpana, masih belum bisa menerima sepenuhnya bila pernyataan Reyn mengakui Rose sebagai isterinya itu adalah benar adanya.
"Apa lagi Sayang," Reyn tidak perduli pada ucapan Rendy. Ia malah semakin menjadi, sengaja membuat seisi kelas makin terperanjat mendengar panggilan yang di sematkannya pada isterinya itu, berharap salah faham mereka tentang Rose adalah isteri Steven luntur seketika.
Repleks, Rose merona. Tapi ia tidak terbawa perasaan, rasa malu luar biasanya masih mendominasi, pasalnya kekacauan di sekolah dari pagi hingga siang ini, pucuknya adalah dirinya, tentang pernikahan diam-diamnya beberapa bulan yang lalu, dan sialnya orang-orang menganggap laki-laki itu adalah Steven.
"Tas sekokahku masih di mejaku Mas," lirih Rose menunjuk mejanya.
"Eumm, so sweet..." gema seisi kelas, termasuk Norsa dan Rina, kecuali Rendy yang masih melongo tak percaya. Dengan rasa penuh kegemesan mereka menangkup kedua belah pipi mereka masing-masing.
__ADS_1
Bersambung...