My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
98. Terpaksa Menjilat Ludah Sendiri


__ADS_3

Leony menghempaskan bokongnya dibelakang kemudi. Hari ini ia begitu lelah, tugas yang diberikan Reyn juga belum sesesai karena gangguan internet mulai siang hingga sore harinya.


Drrt. Drrt. Drrt.


Dilayar ponsel, tertera panggilan dari rumahnya, Leony buru-buru mengunci sabuk pengamannya lalu mengangkat teleponnya.


📞"Hallo,"


📞"Selamat sore Non. M-maafkan, saya mengganggu Non," ucap bi Yaya terbata-bata dari seberang sambungan telepon.


📞"Tak mengapa Bi. Ada apa menelpon?" tanya Leony datar. Tak sabar berita apa yang akan disampaikan oleh sang bibi.


📞"Non kecil s-sakit, Non. Panasnya tinggi." gugupnya diseberang sana.


📞" Panggilin dokter dong Bi, cepet!" cemas Leony. Tanpa sengaja nada suaranya meninggi.


📞"S-sudah Non. T-tapi--"


📞"Tapi apa Bi? Buruan!" Bila sudah menyangkut Clara, Leony sudah super duper tak sabaran, tidak ingin gadis kecil kesayangannya itu bernasib sama seperti ibunya dulu.


📞"Ibu lagi temanin Non kecil, saya disuruh nelpon non Leony, kalau dari tadi Non kecil manggilin nama den B-Bram terus Non."


Leony terdiam. Ia membuang nafasnya kasar, kenapa harus nama pemuda itu yang disebut putrinya.


📞"Non, non Leony masih disana?" panggil bi Yaya, saat suara Leony lama tak terdengar olehnya.


📞"Ehem. Iya, Bi. Nanti saya pulang."


Leony memutuskan sambungan telepon setelah selesai bicara dengan asisten rumah tangganya itu, tapi tidak segera menyimpan ponselnya. Setelah beberapa detik berfikir, ia memutuskan untuk menelpon Bram.

__ADS_1


Lagi-lagi tidak diangkat.


"Sayang, demi kamu, Mami terpaksa menjilat ludah Mami sendiri." Tanpa buang waktu, Leony melajukan mobilnya meninggalkan gedung perkantoran tempatnya berkerja.


Berbekal informasi yang pernah ia dengar dari mulut Bram saat pemuda itu sering menyambanginya di jam istirahat makan siang, Leony kini sudah tiba di Percetakan Citra Agung, tempat Bram berkerja.


Suasana nampak ramai, area parkiran penuh sesak, hingga Leony terpaksa memarkirkan mobilnya ditepi jalan dengan meminta izin pada security.


"Ada yang bisa dibantu Kak?" seorang pegawai perempuan bermata sipit datang menghampiri dengan senyum manisnya.


"Eum, pak Bram ada? Boleh saya ketemu sebentar? Tanya Leony setelah melirik arloji tangannya sekilas, pria itu pasti ada batinnya karena hari masih menunjukan pukul 18.10 wita.


"Sudah buat janji?"


Leony melongo, emang siapa dirinya? Harus pake janji segala, lagaknya sok jadi bos besar, nyebelin! Cibir Leony didalam hati.


"P-pak Bram punya anak?" kaget pegawai itu.


"Iya, apa Pak Bram nggak pernah kasih tau kalau dia sudah punya anak?" ucap Leony menjadi.


"K-kalau itu--, "pegawai itu segera menghentikan ucapnnya, takut salah berucap. Bisa jadi perempuan didepan ini bukan pengunjung biasa, jadi ia langsung mengubah panggilannya.


"T-tunggu sebentar ya Bu, saya beritahu pak Bram dulu. Dan tolong duduk disana saja Bu," sebelum pergi, pegawai itu menunjuk satu set kursi lengkap meja tunggu disudut ruangan, berbeda dengan kursi tunggu yang diduduki para pengunjung yang menunggu pesanan percetakan mereka selesai.


Leony tersenyum sendiri, ada rasa penasaran didalam hatinya bagaimana ekspresi pemuda itu nantinya di depan semua rekan-rekan kerjanya.


Tidak menunggu lama, pegawai perempuan itu sudah kembali dengan seorang pria muda. Leony yang semula berwajah datar buru-buru mengubah ekspresinya dengan memaksakan senyum diwajahnya.


"Saya Bram. Ibu siapa ya?" pria itu mengulurkan tangannya lalu disambut Leony dengan raut kebingungan, dan tidak lupa turut berdiri dari duduknya sebagai bentuk kesopanan.

__ADS_1


"Saya Leony. M-maaf, saya sepertinya salah orang. Pak Bram yang saya maksud bukan Anda."


Leony menatap pria didepannya, ada perasaan tidak enak, ia bahkan merutuk kebodohannya yang sudah mengatakan tentang anak yang sakit dan lainnya pada pegawai perempuan yang masih berdiri dibelakang pria yang mengaku bernama Bram itu sebelumya. Bisa-bisanya dirinya seceroboh itu, batinya menyesal.


Pria bernama Bram dan pegawai perempuan itu saling berpandangan sesaat. Lalu kembali beralih pada Leony.


"Mungkin maksud ibu, Bram Sulistyo?" pria bernama Bram itu kembali bersuara.


"I-iya. Bram Sulistyo, dia masih kuliah di Universitas Tangga Arang, semester 6. Katanya, dia kerja disini paruh waktu, mulai pukul 3 sore sampai pukul 10 malam," jelas Leony cepat.


Pria bernama Bram itu menunjukan senyum tipisnya lagi.


"Oh...Kalau Bram yang itu, dia memang berkerja disini. Dan anak-anak sini terbiasa memanggilnya kak Bram, bukan Pak Bram. Karena yang bernama Bram disini ada dua Bu, saya dan pegawai saya itu," jelasnya masih dengan senyum tipisnya.


"Oh maaf, saya tidak tau." Leony masih merasa tidak enak. "Tapi, apa boleh saya bertemu dengan orang yang dipanggil kak Bram itu?" lanjut Leony, kembali ketujuan awalnya ia datang kesana.


"Sayang sekali Bu, pegawai saya yang bernama Bram itu sudah tidak berkerja disini lagi sejak 2 minggu yang lalu. Dia pindah kerja ke kota sebelah, Samarinda. Katanya ikut kerja dengan Om-nya. Memangnya Ibu tidak diberi tahu? Bukannya ibu calon isterinya Bram?" todong pria itu.


"B-bagaimana Bapak bisa tau?" Leony terkaget, pasalnya baru kali ini dirinya bertemu pria yang ia duga adalah pemilik percetakan ini.


"Alasan Bram pindah kerja karena ingin menikah, jadi saya sebagai pimpinan disini tidak keberatan dan menyetujuinya saja. Dan ini poto calon isterinya?" Pria itu membuka galeri pada ponselnya lalu memperlihatkanya pada Leony.


Merasa penasaran, Leony buru-buru melihat pada layar ponsel yang diperlihahkan pria itu padanya.


Seketika Leony menahan nafas melihat satu poto dirinya yang tengah melenggang dari ruangan pimpinan kembali kemejanya, sama persis dengan jas biru putih yang ia kenakan sekarang. Beberapa waktu lalu, ia memang pernah melihat Bram menjepret dirinya tanpa izin.


Leony semakin geram, bisa-bisanya Bram mengirimkan potonya pada bosnya. Apa maksudnya coba? Buat pamer kalau dia sudah punya calon isteri? Haduh, nyebelin-nyebelin, kesal Leony didalam hati.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2