My Dear TEACHER

My Dear TEACHER
64. KABUR KARENA BIKINI


__ADS_3

"Rose, ini rendang kok lengkuas semua! Mana dagingnya?!" protes Bram kesal dengan raut meringis setelah beberapa kali tak sengaja tergigit lengkuas yang disangkanya daging.


Reyn hanya terkekeh di samping Rose memandangi Bram dihadapannya yang sudah beberapa kali meneguk air putihnya, meredakan rasa pedas di lidahnya.


"Bukan Rose Kak, itu ulah Rina sama Norsa, mereka berdua yang masak rendangnya," tunjuk Rose pada Norsa dan Rina yang tergelak disamping Bram.


"Kak Bram itu harusnya bisa beda'in mana lengkuas mana daging, kan hobinya makan rendang dan udah biasa masak juga," ucap Rose masih terkekeh, ia mengusap bibirnya dengan tissue, perutnya sudah cukup kenyang dengan menghabiskan sepiring makan siangnya.


"Ya mana bisa tau Rose, daging sama lengkuasnya sama-sama dilumuri bumbu, ya mana kelihatan, sulit beda'in-nya." Bram kembali meneguk air putihnya hingga tandas segelas lagi.


"Ya sudah, ini Mbok bawakan special buat den Bram yang bebas lengkuas," dengan senyum semringahnya Mbok Dira muncul dari belakang, membawa sepiring masakan rendang kesukaan kakak nona majikannya itu dan meletakannya tepat dihadapan Bram.


"Bebas lengkuas? Heum, pasti nggak enak Mbok, bumbunya kurang kalau nggak pake lengkuas," protes Bram lagi, memandang aneh pada piring sajian dihadapannya.


"Udah-lah, nggak usah banyak protes kak Bram, buruan dimakan. Bumbunya nggak bebas lengkuas kok, tapi isiannya aja bebas lengkuas yang nipu jadi daging. Gitu 'kan maksudnya Mbok?" Norsa berdiri dari duduknya, ia juga terlihat sudah menyelesaikan makan siangnya seperti Rose.


"Iya non Norsa," sahut mbok Dira masih tersenyum, sedari tadi ia memang mendengar keluhan Bram yang beberapa kali tertipu akibat ulah Norsa dan Rina yang sengaja mengusilinya dengan menumpuk lengkuas di piringnya.


"Yuk buruan. Kita nonton dulu baru renang." ajak Rose sembari berdiri dari duduknya, setelah berpamitan dengan suami juga Bram kakaknya. Norsa dan Rina pun ikut beranjak, walau sedikit sungkan karena Reyn adalah guru mereka.


Begitulah cara ketiga sahabat itu menghabiskan hari liburan semesteran mereka di rumah Rose dan Reyn. Belajar masak, makan-makan, nonton bareng, tidur siang bertiga, renang, dan saling bertukar kisah yang menyenangkan juga yang menyedihkan, seperti yang telah dialami oleh Rina dan Norsa saat keduanya berniat membesuk Steven di rumah sakit beberapa waktu lalu.


"Setelah ini aku mau ke kantor. Kak Bram mau ikut?" tanya Reyn, ia masih setia menemani kakak iparnya yang belum menyelesaikan makan siangnya.


Bram tersenyum sendiri mendengar panggilan yang disematkan oleh Reyn padanya. Tidak salah memang, tapi lucu saja, pasalnya adik iparnya itu terpaut lebih tua 3 tahun dari usianya.

__ADS_1


"Aku mau ikut berenang saja disini bersama Rose , Norsa, dan Rina. Hari ini kau libur saja Reyn setengah hari, kita berenang sama-sama. Asik 'kan?" ajak Bram.


"Nggak boleh kak Bram?"


"Kenapa nggak boleh?" Bram mengerutkan keningnya, menatap serius wajah Reyn dihadapannya.


"Bahaya, mereka itu semuanya perempuan. Nanti kita tergoda melihat mereka pake bikini. Lebih baik kita kabur saja dulu dari rumah ini ke kantorku. Hitung-hitung kau bisa belajar juga disana," ujar Reyn jujur, sontak saja membuat Bram tertawa lebar mendengarnya.


"Oh jadi benar kabar burung yang ku dengar, kau dan adik manjaku itu belum kikuk-kikuk," Bram menekukan dua jari telunjuknya, serupa anak ayam yang saling mematuk satu sama lain.


"Sudah, nggak perlu dibahas," ucap Reyn menyudahi.


"Apa adikku tidak menarik?" tanya Bram penasaran, tetap ingin membahasnya. Walau ia belum menikah, tapi ia mengerti bila pasangan yang sudah menikah pasti membutuhkan hubungan yang lebih intim. Bila mereka tidak melakukannya tentu ada satu alasan.


"Bukan itu kak Bram. Aku hanya tidak ingin Rose hamil, dia masih sekolah. Masih 5 bulan lagi, baru ia dinyatakan lulus." terang Reyn agar kakak iparnya itu tidak salah-faham.


BUUM! BYUUR!


BUUM! BYUUR!


"Kak Bram dengar 'kan suara itu? Para gadis yang merasa menjadi bidadari dari khayangan itu sudah turun ke kolam renang yang ada disamping," ucap Reyn memasang telinganya baik-baik. Bram ikut menajamkan pendengarannya seperti yang di lakukan Reyn. Terdengar gemericik suara air dikolam renang sudah riuh.


"Mereka sudah beraksi. Ayo buruan, kita pergi dari sini." Bram ikut berdiri, meninggalkan meja makan dan mengekor Reyn di belakangnya.


"Jangan menoleh kearah kolam renang, mereka pasti ada disana." larang Reyn. Bram terpaksa patuh, mengikuti instruksi adik iparnya, memalingkan wajah berlawanan arah dari kolam renang yang mereka lewati.

__ADS_1


"Reyn, adikku itu tidak bisa berenang, nanti bahaya kalau nggak ditemani berenang." Bram menginterupsi.


"Rose udah bisa berenang Kak Bram, nanti ada mbok Dira dan pak Kasim yang akan mengawasi mereka bertiga bermain di kolam." sahut Reyn.


"Mas Reyn! Kak Bram!" Rose yang bersiap terjun ke kolam mengurungkan niatnya. Ia berlari menuju dua pria bergaya aneh yang berjalan miring membelakangi dirinya.


"Buruan!" Reyn menarik pergelangan tangan kakak iparnya dengan paksa membuat Bram hampir tersandung dengan kakinya sendiri.


"Ayo mau kemana?! Berhenti!" Rose dengan sigap menarik kuat ikat pinggang belakang Reyn dan Bram hingga keduanya tidak bisa bergerak lagi.


"Berbalik! Ayo berenang bareng!" paksa Rose.


Reyn dan Bram perlahan berbalik. Seketika mata keduanya mendelik menemukan presisi Rose, Norsa dan Rina yang berdiri dibelakang Rose dengan tubuh yang sudah basah kuyup setelah keluar dari kolam renang, menambah keseksian tubuh mereka.


Seperti kata Reyn sebelumnya, ketiga gadis itu mengenakan bikini mereka, dan dengan santainya menunjukan diri tanpa merasa risih sedikitpun apa lagi malu.


Tanpa aba-aba, keduanya spontan memejamkan mata sambil berbalik badan, dan mengambil langkah kaki seribu tanpa berucap sepatah katapun.


"Sekarang kak Bram mengerti 'kan kenapa kita berdua lebih baik menyingkir dulu dari rumah ini kalau mereka sedang bertiga," ucap Reyn terbata-bata, sambil mengatur napasnya setelah mengaambil jalan kabur dari kolam renang.


Bram ingin sekali tertawa melihat raut Reyn yang memerah setelah berlari, namun ia sendiripun merasa syok. Rose memang adiknya, tapi ia tidak pernah melihat adiknya mengenakan bikini seperti itu dihadapannya, apalagi Rina dan Norsa sepupunya.


"Para gadis memang terkadang bersikap gila saat mereka sedang berkumpul bersama. Kalau didepanku mungkin saja mereka tidak malu, aku 'kan Kakak mereka, tapi kau? Kau kan guru mereka? Masa tidak merasa malu atau risih sedikitpun?" Bram menggeleng-gelengkan kepalanya rusuh dengan raut lelah.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2