
"Bram!" Bram menyebut namanya dengan suara lantang sambil menggenggam erat jemari perempuan cantik dihadapannya yang terasa begitu lembut dan mampu mengalihkan segala atensinya pada wanita itu.
"Leony," balas perempuan itu tersenyum sopan.
"Adik ipar, sekretarismu cantik sekali," bisik Bram ditelinga Reyn. Leony mendengarnya tapi ia pura-pura tidak mendengar.
Reyn menyunggingkan senyum diujung bibirnya, ini kali pertama Bram memanggilnya demikian, biasanya hanya menyebut nama seperti seorang teman.
"Naksir?" balas Reyn ikut berbisik sambil melirik Leony.
"M-maaf pak Bram, bisa kah tangan saya dilepas dulu?" Leony melirik tangannya yang masih digenggam erat oleh Bram.
"Oh maaf nona Leony. Pesona Anda membuat saya lupa diri," jujur Bram. Reyn ingin sekali tertawa, namun ia tetap menjaga image-nya sebagai bos disana. Ternyata kakak iparnya itu termasuk kategori pria hidung belang yang mudah tertarik pada wanita. Ia pernah mendengar dari Rose, kalau Bram kakaknya tidak bisa melihat perempuan yang lebih dewasa darinya dan tentunya juga harus cantik dan berbody aduhai.
Menanggapi ucapan Bram, Leony hanya tersenyum tipis. Dirinya sudah biasa mendapat pujian bahkan lebih dari apa yang dikatakan Bram padanya, dan ia termasuk perempuan yang tidak mudah terbuai dengan rayuan laki-laki.
"Jadi bagaimana Pak, apa pak Reyn berkenan menemui ibu Rahmad? Sudah dua hari ini wanita itu kekantor ini," terang Leony kemudian, melanjutkan ucapannya yang sempat terputus sebelumnya, saat atasannya itu baru tiba dikantor bersama Bram.
"Baiklah, suruh temui saya diruangan."
"Baik Pak."
Bram memandang kepergian Leony dengan lenggak-lenggok lemah gemulainya bak seorang model, sedikitpun ia tidak mampu mengalihkan pandangannya pada pesona sekretaris pribadi adik iparnya itu.
"Apa kau membayangkan dia mengenakan bikini seperti para gadis dirumah tadi?" goda Reyn sambil terkekeh. Kakak iparnya itu seperti seorang manusia gua yang lama tak pernah melihat perempuan cantik.
Bram menoleh, menemukan presisi Reyn masih menyunggingkan senyum padanya.
"Apa sekretarismu itu sudah punya pacar?" tanya Bram tanpa menggubris ucapan Reyn sebelumnya. Ia lebih tertarik pada informasi perempuan yang berhasil mengalihkan dunianya itu.
Reyn semakin tersenyum lebar, ia dapat memastikan bila sang kakak iparnya sudah terpikat pada sekretarisnya itu hanya dalam sekali pandang dan sekali pertemuan.
__ADS_1
"Kalau itu, aku tidak tahu kak Bram. Mungkin kau bisa cari tahu sendiri," Reyn masih tersenyum lebar diujung kalimatnya. Tapi Bram tidak perduli apapun yang dipikirkan adik iparnya itu, yang ia perdulikan saat ini bagaimana caranya ia bisa dekat dengan sang sekretaris cantik itu.
"Okey, tidak masalah, yang penting statusnya masih single. Demi perempuan secantik dia aku bisa melakukan apapun," gemanya dengan penuh semangat sambil tersenyum penuh arti.
"Tapi kak Bram, sekretaris Leony itu jauh lebih dewasa darimu. Dariku saja dia lebih tua 4 tahun. Bukannya kak Bram lebih mudah dariku 3 tahun?" Reyn sengaja mengatakannya, supaya kakak iparnya itu mempertimbangkan segala maksud hatinya.
Bram menghitung sejenak dalam hatinya.
"Kalau begitu, aku berusia 23 tahun, sekretaris Leony sekarang berusia 30 tahun. Kalau kami menikah 2 tahun lagi, sekretaris Leony akan berusia 32 tahun. Masih tidak masalah. Aku suka perempuan dewasa dan lebih tua dariku, pasti sangat mendebarkan!" Bram berhayal. Ia tersenyum penuh damba dan Reyn hanya bisa tertawa melihatnya, jadian saja belum tapi sudah sampai kesana mikirnya, Reyn membatin tak habis fikir.
"Ayo masuk, kita lanjutkan didalam saja," ajak Reyn. Ia bergerak menuju ruangannya, sementara Bram mengikutinya dari belakang tanpa berhenti memikirkan sekretaris Leony yang baru pertama kali ia temui siang itu.
...🍓🍓🍓...
Reyn membiarkan wanita yang berwajah lusuh tidak terawat itu menangis sesenggukan didepannya, ia dapat merasakan beban berat yang tengah dirasakan oleh wanita itu.
Bram yang juga duduk bersama mereka di sofa tamu hanya bisa terdiam dan menyimak dari setiap kalimat yang diutarakan oleh si wanita berumur itu. Hayalan tentang Leony akhirnya mampu menepi sejenak saat mendengarkan penuturan pilu tamu dari adik iparnya itu.
"Demi suami saya bisa di operasi dan sembuh. Saya terpaksa memasang wajah tidak tahu malu saya datang kemari. Tolong suami saya Pak, saya mohon."
Perempuan itu terus menghiba dengan suaranya yang terbata-bata seiring tangisnya yang terus berderai.
"Ibu Mutiara, beliau memarahi kami karena merasa terbebani biaya perobatan suami saya. Ini semua kwitansinya pak." ibu Rahmad menunjukan pada Reyn satu bandel kwitasi yang ia bawa.
"Kami dipaksa membayar semuanya. Nilai sebesar itu, bagaimana orang seperti saya bisa membayarnya? Saya hanya seorang buruh cuci, dan dua anak saya yang masih sekolah di SMU juga sering saya ajak untuk membantu pekerjaan saya itu. Tapi penghasilan kami sangat jauh dari nilai yang harus kami bayar itu," sambung ibu Rahmad yang masih sesenggukan.
Reyn meringis, melihat jejeran angka pada setiap kwitansi yang harus keluarga pak Rahmad bayar, hasil perawatan yang tidak sepenuhnya ditanggung oleh jaminan kesehatan karena telah melebihi budget dari jaminan sosial itu.
Di tambah lagi dengan penolakan dari ibu Mutiara yang tidak mau bertanggung jawab atas biaya rumah sakit yang seharusnya mereka tanggung karena kecelakaan yang diakibatkan Steven, putra mereka.
"Kapan operasi keduanya akan dilakukan?" Reyn menatap ibu Rahmad yang mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
__ADS_1
"Harusnya sudah dilakukan satu minggu yang lalu, tapi masih terbentur biaya. Bila dananya siap, barulah pihak rumah sakit mendatangkan dokter spesialis orthopaedi dan traumatologi. Begitu kata mereka Pak," terang ibu Rahmad.
"Bisa beritahu saya siapa nama dokter yang menangani pak Rahmad untuk saat ini?"
"Heum--, dokter Boni Wijaya pak," ucap ibu Rahmad cepat, begitu nama itu muncul.dikepalanya.
"Baiklah, saya coba membantu semampunya saya ya Bu," ucap Reyn, laki-laki itu lalu menuliskan nama dokter yang baru saja disebutkan oleh ibu Rahmad padanya, supaya ia bisa menghubunginya ke rumah sakit setelah pembicaraannya usai dengan wanita itu.
Raut kacau dan kusut ibu Rahmad seketika berbinar bahagia, mulutnya sedikit terbuka karena hampir tak percaya akan yang ia dengar. Hatinya penuh dengan rasa syukur karena perjuangannya mencari bantuan akhirnya dapat dipenuhi oleh uluran tangan majikan suaminya, padahal di perusahaan itu, suaminya hanya seorang buruh panggul harian saja.
Dalam satu minggu belakangan, ia memang sudah kesana-kemari, bertemu beberapa orang untuk meminta bantuan, termasuk ke departemen sosial. Tapi tetap saja tidak berujung manis, karena setiap yang ia temui selalu memberi alasan yang memang masuk akal, tidak adanya dana, karena sudah di alokasikan pada pihak yang sudah meminta bantuan jauh lebih dulu darinya.
"Terima kasih banyak Pak. Saya tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Bantuan Bapak sangat berarti, bagai hujan musim kemarau dalam keluarga kami." ungkap bu Rahmad penuh haru.
"Iya Bu, sama-sama. Tapi saya belum melakukan apapun," Reyn merasa tak enak, karena wanita itu terus mencium punggung tangannya.
Ibu Rahmad tertegun sesaat lalu tersenyum. "Iya pak, karena kita baru membicarakannya saat ini. Tapi saya yakin, pak Reyn akan melakukan seperti kesediaan yang telah Bapak nyatakan kepada saya," sahut ibu Rahmad percaya.
"Saya tahu pak Reyn ikhlas membantu kami, tapi saya punya kaki dan tangan untuk berkerja, begitu pula dengan kedua anak saya yang duduk di SMU. Kami sehat, kami bisa berkerja. Kami tidak ingin menerima bantuan secara cuma-cuma, suami saya pasti akan marah bila ia mengetahuinya." ungkapnya.
Perempuan itu kembali memberanikan diri menatap Reyn, walau sebenarnya ia sangat sungkan, merasa dirinya bukanlah siapa-siapa.
"Saya mohon, berilah kami pekerjaan se-level orang seperti kami Pak," pintanya penuh harap.
Melihatnya, Reyn kagum pada kegigihan perempuan itu.
"Begini saja ibu Rahmad," ucap Reyn setelah berfikir sejenak. Ia meraih pulpen di saku kemejanya, lalu mulai menulis sesuatu di kertas Memo diatas meja.
"Datang saja ke alamat ini, temui nama yang tertera disana. Mungkin beliau bisa memberikan pekerjaan di beberapa gerai jajanan yang ada di kota ini."
"Terima kasih banyak Pak," bu Rahmad semakin terlihat bersemangat, ia gegas berdiri dari duduknya untuk berpamitan.
__ADS_1
Bersambung...👉